
"Selamat datang Presdir. Mereka sudah menunggu anda di dalam." ucap karyawan perempuan itu sembari membungkuk hormat.
...**...**...
Dapat diketahui jika perempuan itu bernama Sarah yang tak lain Sekretaris Presdir dari name tagg di baju kerjanya. Sedangkan Bryan hanya mengangguk menanggapi dan berlalu masuk menuju pintu ruangan yang sebelumnya telah dibuka Remond.
Sedangkan Lexa terdiam, berdiri di tempatnya saat menyadari ruangan itu adalah Ruang Kerja Presdir. Dia ragu untuk ikut memasukinya, apalagi saat kedua manik matanya menatap dua orang pria 40 an sudah duduk di depan meja Presdir dan melayangkan tatapan ke arah mereka yang akan memasuki ruangan.
Menyadari gadis yang sedari tadi setia mengikutinya tiba - tiba berhenti, membuat Bryan seketika menoleh ke arah Lexa, menyadari jika gadis itu berdiri termenung di tempatnya. Senyum kecil terukir di garis wajahnya, membuat Remond yang melihatnya terdiam tak percaya.
"Masuklah!" ucap Bryan lembut sembari menarik tangan Lexa memasuki ruangannya, dia langsung mendudukan gadis itu di sofa tak jauh dari meja kerja miliknya.
"Tunggu sebentar disini." perintahnya yang ditanggapi anggukan oleh Lexa, melihat tanggapan gadis di depannya itu membuat Bryan tanpa sadar mengacak rambutnya, membuat setiap pasang mata yang melihatnya dibuat kembali terbengong - bengong.
*'Siapa gadis itu?! Kenapa Presdir memperlakukannya begitu spesial?!'
'Sepertinya dia bukan gadis sembarangan?!'*
Seperti itulah apa yang ada di benak para bawahannya, mereka mencoba untuk mengingat wajah gadis yang dibawa Presdir mereka itu. Setidaknya mereka dapat bersikap sopan dan hormat nantinya jika tanpa sadar mereka bertemu ataupun berpapasan.
Bryan kembali ke kursi singgasananya, ekspresi wajahnya pun berubah serius dan tegas.
"Berikan laporannya!" perintahnya tegas pada kedua bawahannya dan kini mereka pun mulai membahas beberapa hal penting menyangkut permasalahan perusahaan.
10 menit berlalu. Lexa yang sedari tadi mencoba menghabiskan waktunya dengan bermain handphone miliknya mulai terlihat gusar dan beberapa kali melirik ke arah Bryan yang terlihat sangatlah serius dalam berdiskusi. Menyadari tatapan Lexa, Bryan menoleh ke arahnya sedangkan Lexa yang telah mengalihkan pandangannya tak menyadari tatapan itu. Lexa menggembungkan pipinya cemberut sembari berkomat - kamit dengan bibir mungilnya, merasa jenuh dengan situasinya sekarang.
'Lucunya..' batin Bryan sembari tersenyum hangat.
Sedangkan para bawahan yang melihatnya membulatkan matanya tak percaya karena Bryan dikenal sebagai Presdir yang tegas, disiplin dan perfeksionis. Hal itulah yang membuat bawahannya jarang melihatnya tersenyum, kecuali dengan seseorang istimewa yang sudah lama tidak mereka temui.
Menyadari perbuatannya, Bryan kembali menatap kedua bawahannya dengan wajah seriusnya.
"Kita selesaikan sampai disini!" perintahnya.
"Baik Presdir. Kami undur diri dulu." pamit mereka berdua.
Setelah kepergian kedua karyawannya, Bryan berjalan menghampiri Lexa yang kini telah menatapnya.
"Sudah selesai Om?!" tanya Lexa datar.
"Hm. Maaf lama, ayo pergi." ucap Bryan.
Sedangkan Lexa tak menjawabnya dan hanya berdiri mulai jalan mengikuti langkah Bryan.
"Kamu urus sisanya! Aku akan langsung pulang." titahnya pada Remond yang hanya ditanggapi dengan anggukan.
Di Mobil
"Maaf. Kamu pasti bosan?!" ucap Bryan mengawali pembicaraan disela dia mengemudikan mobil.
"Ehm. Gak masalah Om, aku udah terbiasa kok."
"Terbiasa?!"
"Dulu, aku sering ikut Papa dan Mama waktu kerja. Bosan sih, tapi dengan begitu, aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka."
"Oh. Memangnya sekarang sudah gak pernah ya?!"
"Udah gak bisa lagi. Mereka sudah pergi.." balas Lexa singkat, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Samar - samar terlihat pantulan wajah Lexa yang terlihat sendu. Kini mereka terdiam, tak ada lagi pembicaraan yang terjadi.
Bryan menyadari jika gadis di sampingnya ini sedang sedih. Entah apa yang dipikirkannya.. Bryan mencoba untuk tak mengganggu dan memilih bergelut dengan segala kemungkinan yang ada di pikirannya.
"Kenapa kita berhenti disini Om?!" tanya Lexa heran.
"Kita makan siang dulu. Sudah hampir jam 2." jawab Bryan.
Lexa yang memang sedari tadi lapar dalam diam dia mengikuti Bryan sampai masuk ke dalam restoran dan mencari salah satu meja untuk mereka.
"Pesanlah apa yang kamu suka." ucap Bryan ketika pelayan Restoran datang menghampiri mereka.
Tak lama pesanan mereka pun datang dan sudah tersaji rapi di atas meja. Mereka mulai menikmati makanan pesanan mereka dalam diam tanpa ada satupun yang memulai pembicaraan. Tapi sesekali Bryan melirik ke arah Lexa, memandangi keterdiaman gadis itu. Entah mengapa, berbagai macam pikiran kembali bergelayut manja di otaknya.
***
"Terimakasih Om, atas hari ini." ucap Lexa saat mereka sudah sampai di depan rumah kediaman William.
"Hm. Seharusnya aku minta maaf karena membuatmu pulang terlambat." ucap Bryan menimpali.
"Tak masalah. Lexa masuk dulu ya Om!! Byee..!!" pamit Lexa sembari berlalu pergi dan melambaikan tangan.
Sedangkan Bryan yang melihatnya hanya tersenyum simpul dan membalas lambaian tangan Lexa, mobil yang dikendarai nya kini mulai meninggalkan kediaman William.
Ceklek. (Suara pintu dibuka)
"Dari mana saja kamu?!" tanya Bibinya Monica yang sedang berdiri di hadapan Lexa sembari melipat tangannya.
Lexa yang mendengarnya sangat jengah dan berlalu pergi menghiraukan pertanyaan Bibinya.
"Alexa!! Bibi sedang bertanya padamu!!" suara Bibinya yang mulai menggelegar membuat langkah kakinya berhenti di tengah tangga. Dia pun menoleh memandang ke arah Bibinya dan beralih pada sepupunya Salsa yang baru saja datang.
"Tanya saja pada anak kesayangan Bibi itu!! Dia lebih tahu dari siapapun!!" jawab Lexa dengan penuh penekanan dan kembali melenggang pergi meninggalkan mereka.
'Sial!! Apa dia tahu aku yang mengerjainya?!' batin Salsa.
"Sal... "
Belum sempat ibunya membuka percakapan, Salsa berbalik dan pergi menuju kamarnya, membuat ibunya hanya mampu menahan kekesalannya.
Brakk!!
Doni yang sedang sibuk menelepon di ruang kerjanya dikejutkan dengan kedatangan istrinya yang membanting pintu dengan ekspresi penuh kekesalan.
'Segera laksanakan!! Usahakan semua berjalan lancar!!' perintah Doni lalu mengakhiri percakapannya di telepon.
"Ada apa sayang?! Kenapa kau terlihat kesal?!" tanya Doni lembut pada istrinya Monica.
"Ini semua gara - gara keponakan mu yang tak tau diuntung!! Dasar anak tak tahu sopan santun!!" omelnya marah.
"Memang, apa lagi yang dilakukannya?!"
"Apa lagi yang bisa dilakukannya?! Dia selalu mengacuhkanku dan tak pernah menganggapku!!"
"Tenang saja sayang. Tak lama dia tidak akan berkutik lagi." ucap Doni yang membuat istrinya mengernyit heran dengan maksud ucapannya.
"Maksudmu?!"
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Doni mengambil beberapa lembar foto dan memperlihatkan pada istrinya. Menyadari maksud suaminya, Monica tersenyum licik diikuti suaminya itu.
'Tunggu saja bocah nakal!! Kau yang akan menangis akhirnya!!'
Bryan Bennedict