
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Aku bergegas mengemasi buku-buku ku dan memasukkan nya ke dalam tas. Aku berpamitan kepada dua sahabatku untuk pulang lebih dulu.
Di depan sekolah pak Johan sudah menunggu ku. Aku masuk ke dalam mobil dan meminta pak Johan untuk segera menjalankan mobilnya.
"pak, apa om Chris ada di rumah?" tanyaku penasaran.
"tidak nona. Siang tadi tuan Chris pergi" jawab pak Johan.
Aku langsung lemas mendengarnya. Padahal aku ingin cepat-cepat menemuinya. Tapi kemudian aku teringat dengan pesan Gleen pagi tadi.
"pak kita gak jadi pulang. Kita ke kantor om Chris saja"
"baik non"
Setengah jam kemudian aku sampai di kantor milik om Chris. Aku keluar dari mobil dan menatap kemegahan gedung itu dengan takjub. Selera om Chris memang sangat bagus, dulu dia bahkan sampai menyewa seorang desain interior dari Prancis untuk mendesain kantor milik nya ini.
Saat aku masuk, aku di sambut oleh resepsionis yang menyapaku ramah. Dulu sebelum hubungan ku dan om Chris renggang, aku selalu datang ke kantornya setiap hari. Entah hanya untuk makan siang bersama atau aku hanya sekedar duduk diam dan memperhatikan nya bekerja.
"selamat siang nona Vania"
"selamat siang mba, apa om Chris ada?"
"ada nona, beliau baru datang beberapa jam yang lalu"
"baiklah, aku ke ruangan nya lebih dulu"
Aku menaiki lift khusus untuk sampai di lantai teratas gedung ini. Setelah sampai aku melihat tidak ada siapapun di depan ruangan om Chris. Biasanya akan ada dua sekertaris dan satu asisten pribadi om Chris yang selalu standby di depan ruangan nya.
Pintu ruangan om Chris tertutup rapat. Tanganku terasa gemetar saat akan mengetuknya. Entah kenapa aku teringat dengan momen saat terakhir kali aku datang ke kantor ini. Yakni saat om Chris menolak cintaku dan kemudian melecehkanku.
Tapi kali ini aku benar-benar ingin mendengar penjelasan darinya. Akhirnya aku memberanikan diri mengetuk pintu ruangan nya.
tok tok tok
"masuk"
Jantungku langsung berdebar saat mendengar suaranya. Perlahan aku membuka pintu dan ku lihat om Chris tengah duduk di kursi kebesaranya. Dia terlihat sibuk memeriksan beberapa dokumen di hadapan nya.
"om"
Dia mendongak begitu aku memanggilnya. Dia seperti terkejut melihatku, ya memang siapa yang menyangka aku akan kembali menginjakan kaki di rungan ini setelah memiliki trauma yang buruk dengan ruangan yang megah ini.
"ada apa?"
Nada nya terdengar dingin seolah tidak menginginkan kehadiranku.
"aku ingin membicarakan sesuatu"
"katakan apa yang ingin kau bicarakan?" om Chris bersandar di kursinya dan menatapku lekat.
Aku meremas kedua tanganku. Keringat terasa membanjiri tubuhku saat ini.
"apa om ingat apa yang semalam om katakan padaku?"
Di kursinya om Chris masih tampak tenang, dia membuat mimik wajah seolah tengah berfikir. Lalu kemudian dia menggeleng.
"memang apa yang aku katakan?"
Kakiku langsung lemas begitu mendengarnya. Benarkah dia tidak ingat atau hanya pura-pura tidak ingat.
"aku mencintaimiu, sejak dulu aku mencintaimu. Bahkan cintaku semakin berkembang hingga membuatku ingin memilikimu. Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu Vania Rosalie" aku mengulang apa yang semalam dia ucapkan padaku.
"lalu apa kau percaya pada kata-kata orang yang sedang mabuk?" tanya om Chris.
Hatiku mencelos. Kenapa lagi-lagi dia berhasil mempermainkan perasaanku.
Aku berjalan mendekati om Chris. Dan saat tepat berdiri di hadapan nya, aku pun menatap kedua mata nya. "aku percaya"
"sepertinya kau salah paham. Om sedang mabuk, jadi om pasti mengira bahwa kau adalah kekasih om".
"tidak. Aku yakin om tidak menganggapku orang lain"
"oh ya kenapa kau begitu percaya diri sekali?"
"karena dengan jelas om menyebut namaku"
Om Chris berdiri dari kursinya dan mendekatiku. Dia menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan. "apa kau begitu mencintai ku, sampai-sampai kata-kata ku saat sedang tidak sadar pun kau pedulikan?"
Aku tersenyum puas saat melihat wajahnya menunjukan raut wajah salah tingkah seperti itu. Aku masih ingat saat om Chris baru saja bercerai dari tante Clara, dia pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara meracau tidak jelas. Dan ke esokan harinya aku bertanya kenapa dia selalu mengoceh saat mabuk, kemudian om Chris menjawab jika ucapan orang mabuk adalah sebuah kejujuran dan pasti mengutarakan isi hati yang sebenarnya.
Dan itulah salah satu alasan yang membuat ku berani meminta penjelasan darinya.
"berhentilah mengganggu om, pergi lah, om banyak kerjaan. Lagi pula selamanya kau akan tetap menjadi keponakan om. Dan berhenti membahas tentang cinta karena om tidak pernah mencintaimu"
Aku masih bergeming di tempatku. Bukan ini jawaban yang ingin aku dengar dari nya. Aku yakin bahwa om Chris juga mencintaiku. Semalam dia mengatakan nya dengan nada yang bergitu terluka.
"kenapa masih belum pergi juga? Vani dengarlah, berhentilah bersikap seperti wanita yang tidak memiliki harga diri dengan mengemis cinta dariku seperti ini. Ini sangat memalukan. Keluarga Danta tidak pernah mengemis cinta pada siapapun"
Apa katanya? mengemis? dia menganggapku sedang mengemis cinta padanya?
Air mata ku langsung mengalir tanpa peringatan Dan aku langsung menghapus nya dengan kasar.
"baiklah, maaf karena sudah mengganggu waktu om. Tidak apa-apa jika om tidak mau mengakui nya. Maka kita akan lihat siapa yang akan mengemis nantinya" ucap ku dan berlalu pergi dari ruangan nya.
Aku membanting pintu ruang kerjanya hingga menimbulkan bunyi berdebam yang cukup keras. Sekretaris om Chris menatapku dengan raut wajah kasihan. Aku megabaikan nya dan melanjutkan langkahku.
Karena kurang hati-hati aku menabrak seseorang. Hampir saja aku terjatuh jika orang itu tidak menangkapku.
"maaf, dan terimakasih" ucapku dengan menundukkan wajahku. Aku tidak ingin orang lain melihatku yang sedang menangis.
"Vani..."
Aku mendongak saat namaku di sebut. Ternyata orang yang aku tabrak adalah Glen, teman om Chris yang semalam menghubungiku.
"om Glen"
"kau masih mengingatku rupanya" ucap Glen dengan ceria. "sedang apa kau disini, apa kau datang untuk menemui Chris?"
"ya, tapi sekarang aku sudah mau pulang. Permisi"
Aku berniat meninggalkan nya dan segera pergi dari tempat itu, tapi Glen justru menarik tanganku.
"tunggu, apa kau menangis?"
"tidak, aku hanya kelilipan" sanggahku dan langsung mengusap air mataku.
"apa kau menangis karena Chris?" tanya Glen masih tidak menyerah.
"ini bukan urusanmu, tolong biarkan aku pergi"
Kali ini aku berharap Glen membiarkan aku pergi, tapi sayang nya tidak. Dia justru menarik tanganku menyuruhku untuk mengikutinya.
Glen membawaku ke sebuah ruangan dan mempersilahkan aku untuk duduk di sofa.
"apa hubungan kalian sebenarnya?"
"tidak ada hubuhgan apapun, aku hanya keponakan nya" jawabku.
Ku dengar Glen menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar. "dia menolak mengakui perasaan nya padamu bukan?"
Aku langsung menoleh mendengar ucapan nya. "apa maksudmu?"
"Chris adalah orang yang tertutup, dia tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada siapapun termasuk padaku meski kami sudah bersahabat cukup lama. Semalam Chris terlihat sangat kacau, dan aku tidak pernah melihatnya sekacau itu sebelum nya"
Aku mendengar cerita Glen dengan seksama. Entah kenapa aku merasa sesak mendengar semua yang Glen katakan.
"semalam dia terus saja minum meski aku sudah memintanya untuk berhenti. Berkali-kali dia memukul dadanya sendiri dan mengatakan jika bagian itu terasa sangat sakit. Awalnya aku mengira dia sakit parah, tapi kemudian saat aku bertanya apa yang terjadi dia mengatakan jika dadanya terasa sesak karena perasaan nya. Awalnya aku tidak faham, tapi dalam ketidak sadaran nya dia bercerita bahwa dia sangat mencintai seseorang sampai rasanya ingin mati".
Jantungku berdegup kencang. Aku merasa takut mendengar cerita Glen selanjutnya tapi aku juga penasaran. Akhirnya aku memilih tetap diam.
"Ros, dia mengatakan jika wanita yang dia cintai bernama Ros. Dan saat aku ingin bertanya lebih lanjut, Chris sudah lebih dulu tak sadarkan diri" lanjut Glen.
Dan sekarang dadaku terasa lebih sesak dari sebelumnya. Cinta om Chris sepertinya telah di miliki sepenuh nya oleh seseorang yang bernama Ros. Air mataku mengalir deras tanpa peringatan hingga membuatku terisak.
"kenapa kau menangis?" tanya Glen bingung melihatku yang terus saja menangis. "berhentilah menangis Vani, aku belum selesai bicara"
Fakta menyakitkan apalagi yang harus aku dengar, apakah semua kesakitan ini masih belum cukup?.
"saat aku melihat Chris tidak sadar, aku mengambil ponselnya dan menekan angka satu untuk panggilan tercepat karena aku tidak tahu siapa yang harus aku hubungi. Aku terkejut saat melihat nama Ros, ditambah ada emoticon hati. Dan aku lebih terkejut lagi saat tahu ternyata itu adalah nomermu, ditambah lagi fakta bahwa kau adalah keponakan nya benar-benar sulit ku percaya".
Hahh!!
Sekian.....