I Love You OM

I Love You OM
Chapter 6 : Pertemuan Pertama II



"Selamat datang Tuan. Ada yang bisa saya bantu?!" sapa Manager toko ramah.


...**...**...


"Hm. Bawa gadis ini dan pilihkan beberapa pakaian yang cocok untuknya!!" perintah pria itu tegas yang ditanggapi anggukan dari sang Manager.


"Eh?! Om. Tidak usah. Saya bisa beli sendiri!" tolak Lexa sopan.


"Aku tidak suka dibantah. Ikut saja bersamanya." balasnya tegas.


Lexa pun hanya menghela nafas kasar dan hanya mampu menuruti perkataan pria yang menabraknya ini. Entah mengapa Lexa mudah saja menurut tanpa sedikitpun menolak seperti seharusnya, mengingat bagaimana sifatnya.


Lexa hanya mengikuti Manager itu memilih beberapa baju dan membawanya ke fitting room untuk dia coba. Beberapa menit kemudian dia keluar mengenakan sebuah dress yang cukup ketat hingga menonjolkan lekuk tubuhnya.



"Om. Bagaimana?!" tanya Lexa meminta persetujuan dari pria di hadapannya, Pria itu yang sedang memilah beberapa pakaian pun menoleh ke arahnya. Terlihat jelas wajah terkejutnya melihat penampilan Lexa, tapi tak berapa lama raut wajahnya kembali normal.


"Ekhem. Gantilah dengan ini!" perintahnya sembari mengulurkan dress yang sudah dia pegang itu.


"Hah!!" dengan helaan nafas, Lexa kembali masuk ke fitting room.


5 menit kemudian dia kembali keluar dan melihat pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya memandanginya dari atas hingga bawah. Entah mengapa perlakuan pria itu membuatnya tak nyaman dan semakin gugup, rasa yang baru kali ini dirasakannya.



"Bagus." ucap pria itu datar.


"Aku ambil ini dan ini semua." lanjutnya menunjuk dress yang dikenakan Lexa dan menyerahkan beberapa pakaian yang dibawanya. Dia lalu memberikan sebuah kartu hitam pada Manager toko itu. Manager itu pun segera pergi menuju kasir meninggalkan mereka berdua.


"Terimakasih Om.....?!"


"Bryan. Nama saya Bryan." ucap pria itu memperkenalkan diri.


"Iya Om Bryan. Terimakasih. Nama saya Lexa." balas Lexa memperkenalkan diri.


"Tuan. Ini belanjaan Tuan Bryan." ucap Manager toko sembari memberikan beberapa handy bag.


"Biar saya saja." ucap Bryan langsung ketika Lexa hendak mengambil handy bag yang diserahkan Manager toko.


"Biar saya saja Om. Karena saya mau langsung pulang." sergah Lexa.


"Saya akan mengantarmu!" ucapan Bryan tentu saja membuat Lexa terkejut.


"Eh?!"


Tanpa menunggu jawaban, Bryan sudah melangkah pergi bersama beberapa belanjaan Lexa yang dibawanya. Akhirnya Lexa pun terpaksa mengikuti langkah pria di hadapannya ini hingga sampailah mereka di basemant parkiran Mall. Mereka pun berhenti tepat di depan sebuah mobil BMW silver.


Bryan mulai memasukkan belanjaan ke bagasi mobil dan membukakan pintu depan penumpang untuk Lexa.


"Masuklah!" perintahnya dengan suara beratnya.


Tanpa mengucapkan apapun Lexa masuk dan duduk diam di kursi penumpang dan diam - diam memperhatikan Bryan yang sudah duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya keluar basemant Mall. Beberapa saat tak ada pembicaraan diantara mereka, hingga pertanyaan Bryan memecah keheningan yang ada.


"Itu.. Komplek Perumahan Gardenia."


Mendengar jawaban Lexa, seketika Bryan menautkan kedua alisnya seakan memikirkan sesuatu.


"Dimananya?!"


"Om bisa menurunkanku di depan komplek saja."


"Dimananya?!!" Bryan kembali mengulang pertanyaannya. Dapat dipastikan sifatnya lebih keras kepala dari Lexa sampai Lexa saja tak berani melawannya. Suara, tatapan, dan pembawaannya benar - benar mampu mengintimidasi lawan bicaranya.


"Rumah Utama William Om." jawab Lexa akhirnya.


Komplek Perumahan Gardenia adalah Komplek Perumahan yang sangatlah mewah dan hanya beberapa orang kaya yang benar - benar kaya saja mampu memiliki rumah di lingkungan ini. Bahkan harga terendah rumah di komplek ini mencapai 83 Milyar. Sungguh harga yang fantastis. Tapi harga itu sepadan dengan kondisi rumah dan lingkungan yang sangatlah baik. Komplek ini memiliki taman besar lengkap dengan arena bermain dan olahraga yang lengkap, sistem pengamanan yang ketat dan super canggih, serta fasilitas setiap rumah yang super lengkap. Meskipun berada di jantung Ibukota tapi komplek perumahan ini terlihat sangatlah asri, tenang dengan udara yang menyejukkan.


15 menit berlalu begitu saja dalam keheningan diantara mereka berdua, tak terasa kini mereka sudah berada tepat di depan Kediaman William.


"Ini kartu namaku. Jika kau butuh sesuatu, jangan ragu menghubungiku." ucap Bryan sembari memberikan kartu namanya.


Tanpa menunggu jawaban Lexa, Bryan sudah keluar dari mobil dan mulai mengeluarkan barang belanjaan milik Lexa yang ditaruhnya di bagasi mobil. Lexa ikut turun dan mendekat ke arah Bryan.


"Sekali lagi, terimakasih banyak Om." ucapnya saat Bryan mengulurkan handy bag yang dibawanya. Lexa pun langsung mengambilnya dan berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


Rumah Utama William.


Salsa memasuki kamar Orangtuanya dengan amarah yang meluap - luap.


"Papa..!! Mama..!!"


Kedua orangtuanya yang sedang bersantai itupun terkejut dengan kedatangan anaknya yang tiba - tiba dan dengan raut wajah penuh amarah.


"Salsa sayang, ada apa?!" tanya Mamanya lembut.


"Mama tau gak apa yang dilakukan Lexa di sekolah..!!!"


"Memang apa yang dilakukannya?!" Timpal Papanya penasaran.


"Dia mempermalukan Salsa di hadapan seluruh murid di sekolah..!!! Dia bilang jika Salsa hanya menumpang di rumahnya saja dan keluarga kita gak tahu malu menumpang kekayaannya..!! Dia bahkan menuduh Salsa mencuri barangnya..!! Padahal Salsa kan cuma minjem. Salsa malu Pa, Ma... "


Cerca Salsa mendramatisir suasana.


"Sialan bocah itu..!! Beraninya mempermalukan anakku..!! Liat saja apa yang akan kulakukan padanya..!!" umpat Mamanya penuh amarah.


"Tenang sayang. Kehadirannya masih penting untuk kita. Tunggu sampai kita menguasai semuanya baru setelah itu kita akan bermain dengannya..!!!"


"Tapi sayang.. Kamu mau membiarkan gadis brengsek itu terus menindas Salsa..,??!!" balas Mamanya tak terima.


"Siapa bilang..?! Cukup kita bersabar sebentar lagi, dan setelah itu terserah kalian mau memperlakukan nya seperti apa..?!" terang Papanya dengan senyum liciknya.


"Kau benar sayang.." balas istrinya.


Sedangkan Salsa hanya tersenyum sinis saat membayangkan apa saja yang akan dilakukannya pada Sepupu tercintanya itu.