
Internasional High School.
Sebuah mobil sedan hitam memasuki pelataran parkir sebuah sekolah, tak lama turunlah seorang gadis cantik dari dalam mobil itu. Sudah 2 tahun dia tak menginjakkan kaki di Negeri asalnya ini. Saat orangtuanya meninggal dalam kecelakaan, ia dan adiknya memilih untuk tinggal dan bersekolah di luar negeri. Tapi sebulan yang lalu gadis itu memutuskan untuk kembali meskipun tanpa adiknya.
Melihat kedatangan sosok asing membuat beberapa siswa dan siswi mulai heboh dan penasaran, apalagi ketika melihat sosok itu gadis yang sangatlah cantik.
*"Wow!!! Siapa tuh cewek!! Gila.. Cantik banget..!!"
"Lihat tuh body nya..!! Kayak gitar spanyol, Man!!"
"Kayaknya anak baru tuh. Moga aja kita sekelas ntar!!"*
Seperti itulah obrolan para siswa laki - laki melihat sosok Alexandria, tapi berbeda dengan para siswi perempuan yang melihatnya dengan tatapan sinis dan tak suka. Bahkan di setiap langkahnya tak jarang banyak siswa yang menggoda nya.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Masuk!" Perintah sebuah suara dari dalam ruangan.
Ceklek.
"Pagi Pak. Saya Alexa, murid baru disini." ucap Alexa memperkenalkan diri pada sosok pria paruh baya di hadapannya yang merupakan Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah itu sejenak menatap Lexa dan tersenyum ramah, dicarinya sebuah berkas di tumpukan beberapa kertas di mejanya.
"Pagi. Nama Alexandria Kimberly William. Nilai rata - rata 9,8. Memenangkan beberapa Olimpiade Beladiri, Akademis dan Olahraga. Pindahan New York High School." ucap Kepala Sekolah sembari membaca data siswa di lembar kertas yang di pegangnya.
"Benar Pak."
"Baiklah. Melihat nilai akademis mu yang sangat bagus. Saya akan memasukanmu di kelas unggulan XII IPA 1. Kamu bisa langsung ke kantor guru dan bertemu dengan Ibu Lia. Dia Wali Kelasmu sekaligus guru IPA." jelas Kepala Sekolah.
"Baik Pak. Terimakasih." Alexa pun berlalu pergi dari Ruang Kepala Sekolah.
Kelas unggulan jauh berbeda dengan kelas lainnya, kelas ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap, seperti White Board Digital, AC, Peredam suara, Meja layar digital yang dilengkapi komputer di dalam setiap meja ( lapisan luar meja merupakan layar digital yang memiliki fungsi internet dan buku tulis digital, kita bisa menulis langsung di layar ini dengan pensil khusus dimana hasil tulisannya dapat langsung di save di flash disk. Dan ketika layar digital di meja itu digeser ke atas, dibawahnya terdapat komputer dimana dapat dinaikkan ke atas meja dan dapat langsung digunakan. )
Sistem absensi di sekolah sudah menggunakan ID Card. Jumlah siswa di kelas ini tak lebih dari 25 orang yang selalu ikut serta dalam setiap olimpiade baik Nasional maupun Internasional. Sedangkan untuk kelas biasa, jumlah siswanya bisa mencapai 45 orang.
Mereka bebas melakukan apapun asal nilai mereka tetap stabil, apalagi sebagian besar dari mereka merupakan keluarga kaya. Sifat mereka pun beraneka ragam. Intinya mereka tak terikat aturan apapun di sekolah, itu adalah salah satu keuntungan dari kelas unggulan.
Jika tidak ada peraturan, bagaimana jika mereka bertindak di luar batas?! Seperti membully sesama siswa?! Oh ayolah. Bahkan di sekolah paling biasa pun selalu ada pembullian. Seakan hal itu sudah menjadi tradisi di setiap sekolah. Tapi bagi kelas unggulan mereka tak mau repot mengurusi orang lain apalagi ikut campur urusan orang, mereka lebih senang berbaur dalam ruang lingkup mereka sendiri dan hidup sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Tapi jika ada orang yang mengganggu mereka, sama halnya dengan mencoba membuka pintu neraka, akan menerima ganjaran berkali lipat lebih mengerikan.
Kelas XII IPA 1
Tak berapa lama Bu Lia datang bersama Alexa dimana kedatangannya langsung menyita perhatian seluruh kelas.
"Anak - anak. Hari ini kalian kedatangan siswi baru pindahan dari New York High School. Silahkan perkenalkan dirimu." ucap Bu Lia sembari menoleh ke arah Alexa.
"Namaku Alexandria Kimberly William. Kalian cukup memanggilku Lexa."
Beberapa siswa siswi masih terdiam berharap masih ada lanjutan perkenalan dari siswi baru itu. Tapi ucapan Bu Lia menyadarkan mereka jika sesi perkenalan diri itu hanya berjalan singkat.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan lagi Lexa?!" tanya Bu Lia.
"Tidak." jawab Lexa acuh.
"Baiklah. Kau bisa duduk di kursi kosong itu." lanjut Bu Lia.
Lexa hanya berlalu dan berjalan dalam diam menuju kursi kosong yang ditunjukan Wali Kelasnya. Sayup - sayup terdengar beberapa siswa siswi yang menghela nafas menyadari bertambahnya satu siswi dalam daftar sifat dingin di kelas mereka.
***
Sepulang sekolah Lexa di jemput sopir dari Pamannya dan berhenti tepat di depan Rumah Utama Keluarga William. Rumah yang dulunya ditinggali Lexa bersama Orangtua dan adiknya yang kini beralih ditinggali oleh keluarga Pamannya.
"Hah!" beberapa kali ia menghela nafas kasar sebelum memasuki rumah megah itu.
"Selamat datang Princess Alexa!" sapa para pelayan yang berada di dalam rumah.
Sejenak Alexa tersenyum getir mendengar panggilan Tuan Putrinya itu membuatnya mengingat kedua Orangtua nya.
Tak berapa lama Paman dan Bibinya menghampirinya.
"Selamat datang kembali Alexa." sapa Bibinya, Monica.
"Selamat datang Lex." Sapa Paman nya, Doni.
Sedangkan Lexa hanya tersenyum kecut menanggapinya. Meskipun wajah mereka berdua terlihat ramah, tapi Lexa tahu apa yang ada di otak licik mereka.
"Terimakasih Paman, Bibi. Lexa ke kamar dulu." jawabnya singkat dan melangkah hendak menaiki tangga menuju kamarnya. Tapi langkahnya mendadak berhenti saat mendengar ucapan Paman nya.
"Lex, kamarmu di sisi kiri tangga."