I Love You OM

I Love You OM
Chapter 8 : Rencana Salsa



Lexa langsung pergi dari kantin diikuti Bianca yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan teman barunya ini.


Kini seluruh kantin menertawakan Salsa and the Gank. Membuat ketiga gadis itu kesal setengah mati.


"Aarrgghh!!! Lexa..!!! Awas saja kau...!!!!" teriak Salsa marah.


...**...**...


"Lex. Kok kamu berani banget sih sama Salsa dan kedua temannya." tanya Bianca heran. Kini mereka masih berjalan menyusuri koridor menuju kelas.


"Kenapa?!"


"Emang kamu gak tahu ya..??! Ayah Lexa kan pimpinan di Williams Group. Kamu gak takut dia ngadu?! Bisa jadi ayahnya nanti mempersulitmu dengan kekuasaannya?!" jelas Bianca.


Lexa menatap Bianca penuh arti, sepertinya temannya ini belum mengetahui siapa sebenarnya Salsa dan dirinya.


"Emang dia bisa apa?!" tanya Lexa cuek.


Lexa yakin, semarah apapun keluarga Pamannya. Mereka tak akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya, jika mereka tidak ingin kehilangan semua warisan keluarga William.


"Kamu gak takut?! Kenapa kamu santai banget sih?!!" nada bicara Bianca mulai meninggi. Dapat dirasakan Lexa, ketakutan dan kecemasan dalam nada bicaranya.


"Kamu takut sama mereka?!" tanya Lexa memastikan. Tapi Bianca menggeleng, membuat Lexa menatapnya heran.


'Jika tidak takut lalu apa?!' batin Lexa menerka.


"Aku cuma khawatir sama kamu. Kamu kan anak baru, gimana nanti kalau Salsa balas dendam?!"


Mendengar ucapan Bianca membuat Lexa seketika menatapnya lekat, tapi dari manik mata Bianca tak ada sedikitpun kebohongan. Ucapannya benar - benar tulus. Membuat Lexa tersenyum menanggapinya.


"Kamu gak usah khawatir. Gak akan terjadi apapun padaku." tegasnya.


***


Kelas Salsa dkk.


Terlihat Salsa menggigiti jarinya tanpa sedikitpun konsentrasi akan pembelajaran yang diterangkan gurunya. Dia benar - benar murka karena kelakuan Lexa dan karena itu dia bertekad untuk membalasnya bagaimana pun caranya.


'Shit!! Aku harus berpikir bagaimana mengerjai si ****** Sialan itu!!' batinnya frustasi.


Dan tiba - tiba, senyum licik tersungging dari bibir mungilnya, menandakan rencana jahat yang mulai tersusun rapi di otaknya. Dia mengalihkan pandangannya pada Luna yang duduk sebangku dengannya.


"Luna. Ntar aku pura - pura sakit, jadi kamu sama Bella antar aku ke UKS. Oke!" bisik Salsa pelan pada Luna agar tak menarik perhatian.


"Emang kenapa Sal?!" Tanya Luna mulai kepo.


"Husstt!! Diam! Nanti aku jelasin."


"Oke!"


Salsa pun mulai berpura - pura sakit perut.


"Arrgghh!! Perutku sakit banget??!" rintihnya dengan suara agak keras, berharap mampu menarik perhatian guru dan teman - temannya.


"Luna. Salsa kenapa?!" tanya guru Bahasa yang sedang mengajar.


"Eh?? Anu Pak. Perut Salsa sakit."


Mendengar perkataan Luna, Pak Guru pun berjalan menghampiri meja Salsa.


"Kamu kenapa Sal?!" tanya Guru Bahasa mulai khawatir.


"Perut saya sakit Pak. Mungkin Maag saya kambuh." jawab Salsa dengan suara lirihnya yang dibuat - buat.


"Yaudah. Lun, antar Salsa ke UKS sekarang!" titah Pak Guru mengalihkan pandangan pada Luna.


"Bisa gak Pak, Bella bantuin saya. Takutnya saya gak kuat bawa Salsa sendiri."


"Yaudah. Cepetan sana!!"


"Baik Pak." jawab Luna dan Bella serentak. Mereka mulai menuntun Salsa keluar kelas menuju UKS Sekolah. Dirasa jarak kelas mereka sudah cukup jauh, mereka pun berhenti.


""Kamu ngapain sih Sal?!" tanya Bella heran.


"Hah?! Buat apaan??!" tanya Luna penasaran.


"Udah. Gak usah banyak tanya, ntar keburu bel pulang bunyi!!"


Bella dan Luna langsung pergi menjalankan perintah Salsa yang menurut mereka cukup aneh, tak berapa lama mereka pun kembali sembari membawa penyedot air yang diminta Salsa.


"Nih udah. Trus kita ngapain?!" tanya Bella.


"Aku akan nemuin sopir Papa, sebelum aku panggil, kalian harus tetep sembunyi disini!!" Jelas Salsa singkat dan berlalu pergi begitu saja.


"Pak Bowo?!" panggil Salsa pada sopir Papanya yang ditugaskan antar jemput Lexa.


"Eh. Non Salsa. Ada apa Non?!" tanya Pak Bowo sopan.


"Tolong beliin ice cream di kantin ya Pak!"


"Tapi Non. Bentar lagi Non Alexa keluar."


"Udah ah cepet. Jam sekolah kan masih 10 menit lagi." paksa Salsa.


"Baik Non. Bentar ya."


Tak ingin kena marah anak majikannya, Pak Bowo pun bergegas ke kantin membelikan Ice Cream pesanan Salsa. Dan setelah Pak Bowo pergi, Salsa memanggil teman - temannya.


"Ini mau buat apa Sal?!" Tanya Bella.


"Lun, buka kap mobil sana! Kalian sedot air radiator di mobil Lexa, tapi jangan semua. Sisakan sedikit. Aku mau liat dia jalan kaki sampe rumah..!!" perintah Salsa dengan senyum liciknya.


"Ternyata ini rencanamu. Dengan senang hati kita lakukan."


Bella dan Luna pun mulai menyedot air radiator mobil hingga menyisakan sedikit.


"Salsa cantik. Kita udah selesai." ucap Bella.


"Kalian kosongkan tangki penyedotnya. Terserah mau dibuang kemana. Yang penting jangan tinggalin jejak." perintah Salsa.


"Siap Boss!!"


Salsa berlalu pergi meninggalkan kedua temannya menuju kantin dan bertemu Pak Bowo di lorong sekolah.


"Loh. Non Salsa?! Kenapa kesini?!" tanya Pak Bowo heran.


"Pak Bowo kelamaan. Mana ice cream ku?!"


"Anu Non. Ice Creamnya habis." jawab Pak Bowo takut.


"Yaudah. Eh ya Pak. Jangan kasih tahu Lexa ya kalau Bapak aku suruh beli Ice Cream. Ntar dia marah lagi."


"Iya Non."


Pak Bowo pun pergi meninggalkan Salsa kembali ke parkiran sekolah. Dilihatnya Lexa sudah menunggu di depan mobil.


"Pak Bowo dari mana?!" tanya Lexa.


"Anu Non. Saya dari toilet." jawab Pak Bowo berbohong.


"Oh."


Lexa masuk ke dalam mobil diikuti oleh Pak Bowo. Mobil mereka pun mulai keluar meninggalkan lingkungan sekolah.


"Selamat menikmati jalan kaki nya sepupuku." gumam Salsa yang memperhatikan Lexa dari kejauhan.


Perjalanan pulang Lexa berjalan seperti biasanya, sampai ketika mobil mulai melewati tol. Mobil tiba - tiba saja berhenti dan mengeluarkan asap.


"Kenapa Pak." Tanya Lexa.



Laluna Vienzha Wirawan