I Love You OM

I Love You OM
sembilan belas



Perlu waktu beberapa menit untuk otak ku mampu memahami kata-kata Glen.


"jangan memasang wajah bodoh seperti itu Vani. Seharusnya kau bahagia mendengarnya, bukan?" ucap Glen saat aku tak juga bersuara dalam waktu yang lama. "melihat reaksimu aku jadi beranggapan bahwa kau juga mencintainya"


Tanpa ku sadari aku menganggukkan kepalaku, mengakui bahwa yang Glen katakan adalah fakta.


Glen mengusap janggutnya dan mengangguk seolah mengerti bagaimana jalan cinta mereka yang ia yakini pasti sangat rumit.


"om, ceritakan secara rinci padaku apa yang om Chris ceritakan tentang Ros" pintaku karena aku masih berfikir jika mungkin saja Glen salah.


Kemudian om Glen pun menuruti, dia menceritakan semua yang om Chris katakan denga rinci bahkan sampai hal yang paling detail sekalipun.


Aku merasa terbang sampai ke awan mendengar cerita dari om Glen. Apakah sekarang aku sedang bermimpi? benarkah semua ini nyata?.


"terimakasih om, berkat om aku jadi tahu bahwa selama ini ternyata diam-diam om Chris mencintaiku. Ternyata dia selalu memendam perasaan nya, bertindak seolah tidak peduli padahal dia menginginkanku"


"sahabatku itu memang bodoh. Untuk apa dia menyembunyikan nya jika itu jelas-jelas membuatnya terluka" ucap Glen tak mengerti dengan pola pikir Chris.


Aku pun setuju dengan apa yang om Glen katakan. Tapi bukankah selama ini aku sudah berbuat jahat padanya, selalu marah atas semua yang dia ucapkan demi untuk menutupi perasaan nya yang sebenarnya.


"aku permisi om, aku ingin menemui manusia bodoh itu"


Om Glen hanya mengangguk sambil tersenyum melihatku yang terburu-buru ingin menemui om Chris.


Beruntung saat ini aku masih berada di kantornya hingga aku tidak perlu jauh-jauh untuk menemuinya lagi. Dengan tidak sabar aku kembali ke ruangan nya, tapi aku di buat kecewa saat sekretaris om Chris mengatakan bahwa om Chris baru saja keluar dari ruangan nya beberapa menit yang lalu.


Aku putuskan untuk menyusulnya, berharap aku belum terlambat dan masih sempat mengejarnya. Aku kembali menaiki lift khusus untuk turun ke basment. Saat lift terbuka aku melihat om Chris sedang bejalan menuju mobilnya. Dengan berlari aku berusaha menyusulnya, dan aku semakin menaikan kecepatanku berlariku saat om Chris sudah masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa permisi aku langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping om Chris. Sontak om Chris terkejut melihatku yang masuk mobil nya dengan tiba-tiba. Mungkin karena om Chris berfikir aku sudah pulang.


Deru nafasku memburu, aku merasa sudah kehabisan asupan oksigen. Tenggorokan ku pun terasa kering. Dan saat aku melihat ada sebotol air mineral di depan om Chris aku langsung meminumnya. Setelah air membasahi tenggorokan ku kini aku merasa lebih baik.


"pak sopir, bisa tolong bapak keluar dulu" pintaku pada sopir om Chris.


Ku lihat supir itu tampak ragu, tapi setelah mendengar om Chris mengijinkan nya dia pun langsung keluar dari mobil.


"om mencintaiku bukan?" cecarku begitu kami hanya berdua saja di dalam mobil.


"apa pembahasan ini masih belum berakhir?" om Chris mendesah lelah.


"apa-apaan ini Vania" desis om Chris mencoba menghindari sentuhan Vania pada tubuhnya.


"aku sedang mencari barang bukti jika om memang mencintaiku" sahutku dan yes, aku menemukan ponsel nya di saku jas sebelah kanan nya. Tanpa meminta ijin aku langsung mengambilnya dan menekan angka satu sebagai panggilan tercepat.


Dan tak lama ponselku berdering. Seperti apa yang Glen katakan, tertera nama Ros dengan emoticon love pada ponsel om Chris. Aku terharu dan mataku langsung berkaca-kaca.


"lihatlah, om sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang"


Om Chris terlihat terkejut dan berusaha mengambil ponsel nya dari tanganku. Tapi dengan sigap aku menyembunyikan ponsel om Chris di belakang tubuhku.


"saat ini percuma saja om mengelak karena aku sudah tahu semuanya. Aku tahu bahwa sudah sejak lama om mencintaiku, selama ini om berusaha mentupinya bukan? kenapa om, katakan kenapa selama ini om membuatku berfikir bahwa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan?"


Om Chris masih diam membisu. Mungkin dia tidak menyangla bahwa sekarang aku tahu tentang rahasia yang selama ini coba dia sembunyikan dari semua orang.


"kenapa selama ini om lebih memilih diam dan memendam cinta itu sendirian. Kenapa om lebih memilih terluka dari pada bahagia bersamaku? Katakan padaku apa alasan om melakukan semua ini?. Cepat katakan om jangan diam saja.!!"


"KARENA KAU ADALAH KEPONAKANKU!!" sahut om Chris keras.


Aku tercekat karena seolah dia telah membentak ku. Ku lihat mata nya memerah dan nafas nya memburu, seolah dia telah berusaha memendam emosinya.


"sejak aku menggendong mu untuk pertama kali saat kau bayi, entah kenapa aku langsung jatuh hati padamu. Kau begitu manis dan menggemaskan. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu, karena sebelum nya aku tidak pernah menyukai anak kecil. Tapi saat melihatmu, semua terasa berbeda. Ada perasaan sayang dan ingin memiliki yang tumbuh dalam hatiku tanpa ku sadari. Seiring usia mu bertambah, perasaan itu juga semakin berkembang. Aku merasa frustasi karena aku menganggap diriku seperti pedofil karena menyukai anak-anak. Di tambah lagi saat kau mengungkapkan perasaan mu padaku, sungguh aku merasa bahagia luar biasa. Tapi kemudian kenyataan menamparku bahwa aku tidak mungkin bisa memilikimu. Kau adalah keponakanku, kau keluargaku. Dan hubungan keluarga tidak akan pernah bisa berubah menjadi sebuah hubunga asmara".


"apa karena itu om melecehkanku? om berusaha membuat ku membenci om?"


"mau bagaimana lagi, om harus melakukan itu agar kau bisa melupakan perasaan itu. Karena itu om memutuskan untuk pergi ke luar negri sebagai usaha untuk melupakan mu juga"


Hahh. hubungan kami miris sekali. Hati saling cinta tapi tidak bisa bersama karena terikat hubungan keluarga.


"aku menyadari jika sampai kita menjalin hubungan maka seluruh dunia pasti akan menentangnya. Orang-orang akan membicarakan kita, dan mereka juga akan mengatakan hal-hal yang buruk. Aku tidak mau mereka menjelek-jelekkan mu. Aku tidak bisa mendengar wanita yang ku cintai di cemooh oleh banyak orang. Karena itu aku berfikir diam akan lebih baik. Aku tidak keberatan meski harus memendam perasaanku asalkan kau bisa hidup dengan nyaman".


Aku langsung memeluk om Chris. Tangis ku pecah di pundaknya. Dia begitu mencintaiku hingga tidak ingin aku terluka. Oh tuhan, ketakutan nya memang benar, lalu apa yang harus kami lakukan? Kami sama-sama saling mencintai, tapi kenapa kami seolah tidak di takdirkan untuk bersama.


Kenapa jalan cintaku harus serumit ini tuhan...?


Selesai.....