
Flashback on
Malam itu terasa sangat sunyi dan gelap, hanya ada cahaya bulan perak pucat yang menyinari langit, menciptakan bayangan panjang tubuh Sarah yang berdiri di sebuah atap gedung tinggi.
"Hah?"
Sarah nampak bingung dengan situasi sekitar, mengapa ia bisa berada di atap gedung tersebut. Samar-samar ia melihat seseorang bergerak dalam kegelapan menuju ke arahnya, derap langkahnya terdengar begitu sangat jelas.
"Hei! siapa itu?" tanya Sarah ketakutan.
Sosok itu tak menjawab, ia terus berjalan ke arah Sarah dengan membawa sebuah gunting bercahaya yang menyilaukan tangannya.
"Lilly?"
Sarah menyipitkan matanya untuk memastikan jika benar boneka itu yang mendekat ke arahnya. "Mau apa kamu Lilly?" tanyanya dengan tubuh yang mulai gemetar, jantungnya berdebar dengan begitu hebatnya dan keringat dingin yang mulai keluar dari tubuhnya.
"Katakanlah Sarah!!" seru Lilly dalam suara seorang pria, yang tak asing di telinga Sarah.
Sarah menggelengkan kepalanya, perlahan ia mulai mundur menjauh dari Lilly "A-apa? aku tidak mengerti apa yang kamu maksud" ucapnya dengan terbata-bata.
"Katakan, semua yang pernah kamu lihat!!!" Lilly mengangkat tangannya, mengarahkan gunting yang ia pegang ke arah Sarah, sambil terus berjalan mendekat ke arah Sarah.
"Stop Lilly, jangan mendekat!!" Sarah semakin panik, karena ia sudah berada di ujung atap gedung. Sarah sudah tidak bisa lagi mundur kebelakang, satu langkah saja ia mundur maka ia akan jatuh dari gedung tersebut.
Sarah kembali menoleh ke arah belakang, melihat jarak gedung yang begitu tinggi membuatnya sangat panik dan ketakutan. "Please stop Lilly, please!!!" Sarah terus memohon agar Lilly tidak mendekat kepadanya.
"Katakanlah!!" mata besar Lilly yang berkilauan dalam cahaya rembulan terus menatap tajam ke arah Sarah, serta rambut cokelatnya yang berkibar tertiup hembusan angin. Ia terus berjalan semakin mendekat ke arah Sarah.
"Lilly, tidak. Lilly...... Lilly....."
Brug...
Sarah terjatuh dari tempat tidurnya dan terbangun dari mimpi buruknya di iringi oleh dentuman petir dan halilintar, terdengar sangat keras.
"Awww..." Sarah meringis kesakitan ketika tubuhnya menghantam lantai kamarnya, namun rasa sakitnya ia abaikan ketika ia membuka matanyanya, Lilly sudah berada di hadapannya dengan tatapan tajamnya menatap wajah Sarah.
Ia menoleh ke arah Latisha yang tertidur dengan pulas, ongin sekali ia membangunkan Latisha, tapi baginya percuma, Latisha pasti akan mengolok-oloknya.
"Pergi kau boneka bodoh, jangan menggangguku lagi" Sarah mundur beberapa langkah, ia berusaha bangkit dan berlari keluar dari kamarnya.
Ia membuka pintu kamarnya, kemudian berlari menuju kamar mommynya, namun ketika melewati ruang keluarga, tanpa sengaja Sarah justru menabrak Laura.
Flashback off
"I'm home," ucap Nathan sambil tersenyum, ia datang dari arah ruang tamu, berjalan menuju ruang makan kediaman Laura.
"Uncle..." Sarah dan Latisha menyambut kedatangan Nathan dengan gembira.
"The Jakarta flight's delayed due to bad weather," terang Nathan sambil menarik kursi meja makan. Ia menceritakan jika seharusnya ia pulang kemarin malam, numun karena cuaca buruk, penerbangannya terpaksa di tunda.
"How're you doing?" Nathan sangat mencemaskan keadaan kedua keponakannya di tengah cuaca buruk yang akhir-akhir ini sering terjadi.
"Kami baik-baik saja uncle, justru kami yang mencemaskan Uncle" ucap Latisha, sambil menghabiskan suapan terakhirnya.
"I will be all right. Don't worry," ucap Nathan, ia beralih kepada Sarah yang sedari tadi terlihat lebih banyak diam. "And how is it with you?" tanya Nathan.
"Baik," jawab Sarah singkat.
"Lalu?" Nathan ingin Sarah jawaban yang lebih dari itu.
" Ya, seperti yang aku pernah ceritakan kemarin, jika hari ini aku akan membawa manik-manik kalung dan gelangku ke sekolah," Sarah memperlihatkan sekotak manik-manik perhiasananya yang akan ia bawa ke sekolah. "Semua teman-temanku pasti menyukainnya dan mereka semua pasti akan membelinya," ucap Sarah dengan semangat. "Aku akan mendapatkan uang!!"
"Sarah, sekali lagi Mommy katakan. ini bukan kompetisi!!! Tugas kalian adalah belajar, Mommy masih sanggup untuk membiayai sekolah kalian" ucap Laura, menatap kedua anak-anaknya. "Jika kalian terus seperti ini, Mommy akan menyita Lilly dan perhiasan manik-manikmu!!" ancam Laura, yang sudah sangat gerah dengan kompetisi kedua anaknya.
"Baik Mom," ucap keduanya kompak. Baik sarah dan Latisha tidak ingin manik-manik dan Lillyndi sita oleh mommynya.
Selesai menghabiskan sarapannya Sarah dan Latisha, berpamitan kepada unclenya.
"Oh ia, uncle bisa datang kan ke acara pentas seni sekolah kami? ini adalah pertunjukan paduan suaraku yang terakhir sebelum aku mengikuti ujian nasional dan lulus dari sekolah menengah pertamaku," ucap Latisha, sebelum ia pergi ke sekolah.
"Ya, I will surely come," janji Nathan.
"Okay thank you, Uncle" Latisha mencium tangan Nathan bergantian, dengan Sarah yang mengikutinya dari belakang.
"Aku pergi dulu ya, bye" ucap Laura, pergi meninggalkan Nathan.
Keduanya berangkat ke sekolah di antar oleh Laura, yang juga hendak berangkat ke kantornya.
Jam istirahat tiba, Sarah membawa manik-manik perhiasannya ke kantin sekolahnya dan memperlihatkannya kepada teman-temannya namun sayangnya tak ada satu pun dari teman-temannya yang menoleh ke arahnya.
Mereka semua justru nampak berkumpul mengelilingi Latisha, karena Latisha baru saja di panggil oleh guru seni di sekolahnya, beliau meminta Latisha untuk tampil dalam acara pentas seni sekolahnya bersama Lilly. Bukan hanya itu, pada penampilannya tersebut Latisha dan Lilly akan tampil bersama komedian ternama yang di undang sebagai bintang tamu dalam acara tersebut.
"Jadi nanti kau akan tampil dua kali, Tisha?" tanya Alice, sahabat baik Latisha yang nampak sangatbterkagum pada Latisha. "Wah kamu beruntung sekali bisa berduet dengan Mrs.Susan," sambung Miko.
Latisha menganggukan kepalanya sambil menghabiskan segelas jus mangga favoritnya 'Aku harus berlatih lebih giat, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini' batinnya.
Sarah hanya bisa memandangi Latisha dengan penuh rasa cemburu atas kesempatan yang di peroleh oleh Latisha.