Haunted Doll'S

Haunted Doll'S
Chapter - 11



Lagi dan lagi, Yoseph kembali mendatangi Laura dalam mimpi buruknya. Ia mendekat ke arah Laura dengan memegang gunting di sebelah kanannya dan Lilly di sebelah kirinya.


Jantung Laura berdegup kencang, melihat kilatan gunting dalam genggaman Yoseph di tambah dengan tatapan tajamnya membuat keringat dingin mulai bercucuran di kening dan tubuhnya.


"No Yoseph, No..." Laura mengigau memanggil-manggil nama Yoseph, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kemudian seketika ia terjaga dari mimpi buruknya, Laura melihat Nathan tengah memandanginya dengan tatapan penuh kecemburuan. "You still miss him right?" Nathan tersenyum sinis sambil membuang mukanya.


Kemudian ia beranjak dari tempat tidur Laura dan mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan di lantai usai bercinta dengan Laura.


Laura yang masih tak mengenakan pakaiannya pun ikut turun dari tempat tidurnya. "No Nathan, Yoseph justru datang ke dalam mimpiku dengan membawa gunting di tangannya dan ia mengancamku," Laura menggegam tangan Nathan dengan erat, mencegahnya untuk keluar dari kamarnya.


"He's dead, Laura!!" ucap Nathan, ia menghempaskan tangan Laura kemudian keluar dari kamar.


Saat keluar dari kamar Laura, secara tak sengaja Nathan berpapasan dengan Sarah yang hendak ke dapur untuk mengambil minum.


"Uncle?"


"Uncle sedang apa keluar dari kamar Mommy?" tanya Sarah.


"Mmm... Mommy isn't feeling well, I'm makes tea for her," ucapnya dengan gugup.


"Mommy sakit?" Sarah menjadi sangat panik dan ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mommynya.


Nathan berusaha mencegahnya karena ia tak ingin Sarah curiga melihat Laura tidak menggunakan pakaiannya. "Sarah… let your Mommy rest," cegah Nathan.


"Tapi besok aku akan pentas, aku tidak ingin Mommy sakit agar Mommy bisa melihat penampilanku" protes Sarah, ia hendak menerobos tubuh Nathan yang menghalanginya.


"Tapi Sarah..."


Tiba-tiba saja Laura keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian tidur lengkapnya "Mommy sudah lebih baik, kita istirahat yuk!!" ajak Laura, ia menggandeng tangan Sarah masuk ke dalam kamarnya dan tidur bersama putri bungsunya.


Nathan bernafas lega dan ia pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.



"Before we leave this room today, please take a moment to compliment people who sit beside you and see that everyone is perfect in their ways," ucapa Nathan mengakhiri meetingnya.


Ia melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 10.30, sudah saatnya ia harus ke sekolah Latisha dan Sarah untuk menepati janjinya menghadiri acara pentas seni.


Sebenarnya ia ingin sekali datang bersama dengan Laura, namun ada meeting pagi yang tidak bisa ia tinggalkan, sehingga terpaksa ia datang menyusul.



Tepuk tangan gemuruh mengiringi akhir pementasan Latisha dan Mrs. Susan. Nathan mencari keberadaan Laura di tengah suasana ramai pentas seni yang di gelar di sekolah.


"Kamu lama sekali sih?" bisik Laura ketika Nathan duduk di sampingnya "Anak-anak sudah selesai pentas."


"Sorry, There was traffic ," ucap Nathan dengan rasa bersalah, karena ia tak bisa datang tepat waktu.  "Where's my daughter?" tanya Nathan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Sarah.


Ia sangat khawatir jika Sarah akan kembali cemburu pada Latisha, yang tengah sibuk di wawancari oleh beberapa orang dari wartawan majalah lokal yang takjub dengan penampilan Latisha.


"Di belakang panggung bersama Alice dan teman-temannya. Alice dan teman-temannya memesan banyak perhiasan manik-manik lagi. Kamu masih membayar Alice untuk membeli perhiasan manik-manik Sarah?" tanya Laura.


"Enggak gini caranya Natahan!!!"


"You take care of your girl and I will handle mine," Nathan beranjak dari tempat duduknya dan mencari keberadaan Sarah di belakang panggung.


Ia menanyakan keberadaan Sarah ke beberapa anak yang berada di belakang panggung, salah seorang anak laki-laki menunjuk ke arah sebuah ruangan yang tak jauh dari panggung "Tadi aku lihat Sarah ada di sana Om," ucap anak laki-laki tersebut.


"Terima kasih"


Tanpa membuang waktu, Nathan langsung menghampiri Sarah di ruangan tersebut. Benar saja, Nathan melihat Sarah sedang menghitung uang di sudut ruangan.


"Yeee... Aku punya banyak uang," teriaknya girang sambi melompat-lompat ke udara.


Nathan tersenyum mendekat ke arah Sarah "What makes you happy?" tanya Nathan, sambil memberikan sebuket mawar putih untuk Sarah.


"Eh Uncle," Sarah sedikit terkejut dengan kedatangan Nathan "Thank you, Uncle. Tapi Latisha sedang tampil di depan" ucapnya, ia menduga jika bunga yang di berikan oleh Nathan untuk Latisha.


"I'm here for you,"


"Benarkah?" Sarah tersenyum lebar sambil mencium bunga pemberian Nathan, dengan penuh semangat Sarah menceritakan jika perhiasan manik-manik buatannya laku terjual seluruhnya dan ia memamerkan uang yang di perolehnya "Malam ini aku akan traktir pizza untuk makan malam kita," ucapnya.


"Wow, thank you sweety" Nathan mengelus kepala Sarah dengan lembut.


Sarah langsung terdiam mengdengar Nathan memanggilnya dengan sebutan 'Sweety' pasalanya itu adalah panggilan kesayangan daddynya kepadanya, sudah lama sekali rasanya ia tak mendengar panggilan itu.


"Are you okay?" tanya Nathan membuyarkan lamunan Sarah.


"Aku rindu Daddy" Sarah menundukan kepalanya.


"Pretend I'm your Daddy," Nathan memeluk Sarah dengan hangat.


"Thank you Uncle," Sarah tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


Kemudian Nathan mengajak Sarah ke depan untuk berkumpul bersma Laura dan juga Latisha. Dari kejauhan keduanya melihat Latisha dan Laura bertengkar hebat.


"Mommy ini kesempatan emasku untuk bisa tampil di layar kaca, kenapa Mommy justru menolak tawaran itu?" tanya Latisha dengan wajah sedih, ia berusaha untuk menahan air matanya.


"Sebentar lagi kamu ujian, kamu harus fokus belajar" ucap Laura dengan nada serius.


"Tapi nilai-nilaiku baik-baik saja Mom," protes Latisha.


Melihat perdebatan yang semakin memanas hingga menarik perhatian banyak orang, Nathan pun mencoba menengahi keduanya dan mengajak keduanya untuk kembali pulang.


Untuk menghindari perdebatan lagi, Nathan meminta Sarah untuk pulang bersama dengan Laura, sedangkan Latisha pulang bersama dirinya.


Di sepanjang perjalanan Latisha mengungkapkan kesedihannya atas sikap mommynya yang langsung menolak mentah-mentah tawaran Mrs. Susan untuk tampil di layar kaca bersamanya.


"Don't be sad, I will talk to your mother later" Nathan mengelus kepala Latisha dengan lembut, menenangkannya agar tak bersedih.


"Thank you uncle," Latisha sedikit lega, ia mengapus air matanya.


Tiba di kediamannya, Laura langsung menghampiri mobil Nathan yang baru saja parkir di belakang mobilnya, ia membuka pintu mobil Latisha dan mengambil Lilly dari pangkuan Latisha "Tugasmu sekarang hanya belajar, sudah bukan waktunya untuk bermain-main lagi, Mommy sudah membatalkan pertunjukanmu di ulang tahun Evans," ucapnya dengan tegas.