Haunted Doll'S

Haunted Doll'S
Chapter - 21



"Tidak, semuanya sudah berlalu Yoseph. Kamu sudah meninggal, jangan ganggu aku!!" teriak Laura histeris.


Lilly terus melangkah mendekat ke arah Laura sambil mengakat tangannya yang menggengam sebuah gunting, ia hendak menancapkan gunting tersebut di tubuh Laura. "Kau harus ikut denganku Laura" ucap Lilly sambil tersenyum.


"Tidak Yoseph, jangan lakukan itu!!" Laura menggeleng-gelengkan kepalanya, ia terus mundur ke belakang menjauh dari Lilly, sambil melepar benda-benda yang ada di sekelilingnya, berharap Lilly menjauh dari dirinya, namun ternyata Lilly tetap berdiri tegak dan berjalan terus ke arahnya.


Saat melangkah mundur kaki Laura tersangkut di ekor gaun yang di kenakannya, ia pun langsung terjatuh. "Aku mohon Yoseph jangan lakukan itu," Laura semakin panik, ia terus berusaha mundur hingga tubuhnya menempel pada dinding ruangan.


"Ikutlah dengaku sayang," Lilly mengangkat tangannya semakin tinggi, mengarahkan gunting tersebut ke tubuh Laura, sementara Laura sudah pasrah, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tinggal beberapa centi lagi gunting itu menancap di leher Laura, Lilly menghentikan aksinya ketika ia mendengar suara Latisha berada di belakangannya.


"DADDY, PLEASE STOP!!!" teriak Latisha, mendobrak pintu butik dan kemudian ia masuk ke dalam untuk menyelamatkan mommynya.


Latisha berjalan mendekat ke arah Lilly dan mommynya. "Aku tahu, Mommy sudah menyakiti Daddy. Tapi dia adalah Mommyku, wanita yang sudah mengandung, melahirkanku dan mengurusku hingga saat ini. Sekarang hanya dia satu-satunya yang aku punya saat ini hiks.." ucap Latisha dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.


"Please Dad, jangan lakukan itu!! Aku sudah sangat terluka dengan kehilangan Daddy, dan sekarang aku tidak ingin kehilangan Mommy. Aku akan terus mendoakan Daddy, agar Daddy tenang bersama Tuhan di dalam Firdaus."


Perlahan Lilly menurunkan tangannya dan menjauh dari Laura, dan tak lama kemudian lampu ruangan kembali kembali menyala, lalu Lilly tergeletak di lantai layaknya boneka biasa.


Latisha menghembuskan nafas leganya 'Thank you Dad' batinnya. "Mommy..." ia berhambur ke pelukuan Laura.


Laura memeluk Latisha dengan erat "Maafkan Mommy, Nak. Maafkan Mommy," keduanya menangis sambil berpelukan.


"Mom..." Sarah yang sedari tadi berdiri di belakang Latisha, perlahan berjalan mendekat ke arah Laura dan Latisha.


"Sini sayang," Laura merentangkan tangannya memeluk ke dua putrinya secara bersamaan "Maafkan Mommy ya" ucap Laura, ia menciumi kedua putrinya secara bergantian.


"Maafin Mommy" Laura menggenggam erat tangan Sarah sambil menatapnya dengan tatapan rasa bersalahnya.


Tak lama kemudian Caroline datang bersama pihak kepolisian, ia sudah melaporkan perbuatan Laura dan menyerahkan bukti-bukti terkait kasus pembunuhan putra sulungnya.


Latisha dan Sarah hanya bisa pasrah dan menangis ketika polisi membawa pergi Laura.


"Mommy..." Latisha dan Sarah mencoba meraih tangan Laura, namun Laura tetap di bawa oleh tiga orang polisi yang membawanya


"Grandma, will take care of you both," Caroline memeluk dan menenangkan keduanya secara bersamaan. Caroline sangat mengerti kesedihan yang Latisha dan Sarah rasakan, namun sebagai orang tua ia tatap harus menegakakn ke adilan untuk putra sulungnya.



Sementara itu di tempat berbeda Nathan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera tiba di Jakarta, ia sudah tidak sabar menjajal pakaian yang akan ia kenakan saat pernikahannya dengan Laura, dan membantu Laura menyelesaikan tahap akhir pesta pernikahannya.


Begitu melintasi jalanan yang cukup berbahaya lantaran kontur jalan yang menurun dan berkelok di wilayah Jalan Raya Nagreg yang menghubungkan Kabupaten Bandung dengan Tasikmalaya dan Garut. Tiba-tiba saja Nathan di kejutkan dengan sosok Lilly yang melintas di tengah turunan nagreg, dengan reflek Nathan langsung membanting setir ke kiri untuk menghindari Lilly.


Naas, mobil yang di kendarai oleh Nathan lepas kendali hingga menabrak sebuah pohon sebelum akhirnya terguling dan terperosok jatuh ke jurang.


Suasana malam itu sangat sunyi, tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Nathan masih tersadar dan berupaya untuk keluar dari mobil dan menyelamatkan diri, namun di tengah usahanya untuk mengeluarkan diri, tiba-tiba saja Lilly berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


Flashback on


Saat melintas di Km 90 Tol Cipularang Yoseph mulai menyadari jika ada seseorang yang membuntuti dirinya dari belakang, ia menambah kecepatan kendaraannya untuk menghindari orang tersebut.


Yoseph semakin panik ketika rem kendaraannya tak berfungsi dengan baik, untuk menghindari kendaran yang berada di depannya, Yoseph membanting stir hingga ia menabrak pembatas jalan di sebelah kiri yang terbuat dari beton. Akibatnya, kendaraanmiliknya tersebut terpelanting dan berhenti di jalur cepat dengan posisi terbalik.


Nathan yang berada di belakang kendaraan kakaknya turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah Yoseph. "She will be mine!" ucap Nathan sambil tertawa sinis di hadapan Yoseph yang tengah berjuang menyelamatkan dirinya.


Nathan berjalan kembali menuju kendaraannya sambil melempar puntung rokok ke arah kendaraan kakaknya hingga membuat kendaraan Yoseph terbakar.


Nathan langsung pergi dari tempat kejadian dan membuang semua barang bukti yang ia gunakan, ia langsung terbang ke Singapore untuk membuat alibi seolah ia masih berada di sana menyelesaikan pekerjaannya.


Flashback off


"Please don't do not do it!!" ucap Nathan, ia terlihat sangat panik ketika Lilly mengangkat tangannya yang membawa putung rokok p, ia hendak melakukan hal yang sama dengan yang pernah Nathan lakukan terhadap Yoseph.


"Please..." Nathan terus memohon sambil terus berusaha keluar dari kendaraannya, kakinya yang terjepit membuatnya sulit untuk keluar.


"Ha-ha-ha" Lilly tertawa kemudian ia melempar putung rokok tersebut hingga mobil yang di kendarai Nathan terbakar berama dengan Nathan yang masih berada di dalamnya.


Tak lama kemudian polisi datang untuk mengevakuasi jenazah Nathan, sebenarnya polisi sempat mencari Nathan di kantornya untuk menangkap Nathan terkait palaporan Caroline terhadap putra bungsunya terkait kasus kecelakaan yang menimpa Yoseph.


Dari detektif yang Caroline sewa, ia mendapatkan bukti-bukti keterlibatan Nathan dalam kasus kecelakaan Yoseph. Caroline tak peduli, meski Nathan adalah putranya, ia tetap melaporkan dan menginginkan Nathan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.