
Keesokan harinya, saat pulang dari sekolah usai berlatih paduan suara untuk acara pentas seni sekolah, mereka sedikit heran melihat mobil uncle dan mommynya sudah berada di garasi.
"Uncle dan Mommy tumben pulang cepat!" seru Sarah, menghampiri uncle dan mommynya di dapur, ia melihat Nathan tengah membantu mommynya menyiapkan makan malam.
"I would get out of town, tomorrow" terang Nathan sambil mengupas bawang dengan pisau pengupas kecil. "I came home early today," lanjutnya.
"Mommy sengaja pulang setengah hari karena tadi Mommy mengurus asuransi Alm.Daddy," ucap Laura.
"Malam ini Mommy masak apa?" tanya Latisha.
"Roasted chicken," jawab Laura," itu pun jika uncle kalian bisa mengupas bawang," Laura melihat ke arah Nathan yang sedari tadi terlihat kesulitan mengupas bawang.
"Ayolah uncle, masa mengupas bawang saja tidak bisa. Bagaimana jika nanti uncle menikah?" tanya Latisha.
"Menikah? aku tidak ingin uncle menikah," ucap Sarah pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Sarah melemparkan ranselnya ke meja belajar, kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Oh, tidak!" Seruan terkejut keluar dari bibirnya, saat matanya tertuju ke arah Lilly yang sedang bersandar di kursi di depan jendela sambil menyeringai dengan tatapan tanjam ke arahnya, seolah ingin menerkamnya.
"Jangan ganggu aku boneka bodoh," teriak Sarah keras, ia beranjak dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar.
Sarah
Mendengar teriakan Sarah dari arah kamar, Laura dan Nathan berlari menghampiri Sarah, di ikuti oleh Latisha dari belakang, namun ia berjalan agak lebih santai.
Begitu Sarah membuka pintu kamarnya, di hadapannya sudah ada Mommy dan unclenya. "Are you okay?" tanya Nathan.
"Di-dia terus menatapku dengan tatapan tajam" ucap Sarah sambil menujuk ke arah jendela dengan tangannya, namun matanya tak mau melihat ke arah Lilly.
"Siapa Sarah?" tanya Laura.
"Siapa lagi kalau bukan boneka bodoh milik Latisha," ucapnya.
"Lilly?" tanya Nathan kembali.
"Dasar bayi cengeng," ucap Latisha, sambil mengelus Lilly yang berada di gendongan lengannya.
Sarah sangat terkejut melihat Lilly berada di gendongan Latisha "Ba-bagaimana boneka itu ada di tangan Tisha?" Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sangat yakin jika tadi Lilly berada di depan jendela dan menatapnya tajam.
"Hei, apa kamu lupa jika tadi pagi aku hampir saja membawanya?" Latisha merotasikan matanya memandang ke arah Sarah.
Ya, tadi pagi Latisha hampir saja membawanya, namu karena teringat jika dirinya ada ulangan harian matematika maka ia tak jadi membawanya, ia ingin berkonsentrasi pada ulangan hariannya, sehingga ia menaruh Lilly di ruang keluarga kediamannya
"Sudahlah, kamu istirahatlah. Pasti hari ini kamu lelah sekali" Laura meminta Sarah untuk mengganti pakaiannya dan beristirahat, kemudian ia dan Nathan kembali ke bawah melanjutkan kegiatan mereka.
"Itu tandanya Lilly tidak mau bermain denganmu" Latisha tertawa meledek Sarah, dan berlalu meninggalnya.
Malam hari setelah makan malam, Latisha memperlihatkan kebolehannya dalam mendongeng di depan mommy dan unclenya.
Sentara Sarah sudah tidak tertarik lagi pada Lilly, ia merasa ada yang tidak beres dengan Lilly.
"Wait" bisik Nathan pada Laura, ia beranjak dari tempat duduknya menghampiri Sarah yang duduk di dekat anak tangga sambil bermain dengan Milo yang menyalak gembira, melompat - lompat di hadapan Sarah, namun sesekali Milo menggonggong ke arah Lilly.
"Bermain saja bersamaku, jangan pedulikan boneka bodoh itu" Sarah kembali memalingkan wajah Milo agar hanya berfokus pada dirinya.
"I have something for you," Nathan duduk di samping Sarah dan memberikan sekotak hadiah kepada keponakannya.
"Apa ini uncle?" tanya penasaran, sambil membuka kotak hadiah pemberian unclenya. Sarah terkejut sekaligus senang dengan hadiah sekotak Manik Meronce Gelang keluaran terbaru.
"So thank you uncle" Sarah memeluk dan mencium pipi unclenya.
"It was nothing! how was your choir practice?" tanya Nathan, ia mulai membuka obrolannya dengan Sarah karena ia tahu jika Sarah kesepian.
"Membosankan," keluh Sarah, melempar sebuah bola ke sembarang arah, agar Milo mengejar bola tersebut.
"Ya. Kita terus mengulang-ulang menyanyikan lagu yang sudah kita hafal di luar kepala," ucap Sarah. "Apa uncle akan menikah?" Sarah menatap mata Nathan.
"Yess of course," jawab Nathan. "If you're ready" Nathan tersenyum sambil mengelus kepala Sarah, ia mengerti akan kekhawatiran keponakannya yang baru saja kehilangan sosok ayahnya.
"Apa kau menyukai hadiah pemberian unclemu?" Laura mendekat ke arah Sarah.
"Ya, aku sangat menyukainya" teriak Sarah girang, kemudian menoleh ke arah Nathan "Thank you uncle," ucapnya sekali lagi.
"Jadilah dirimu sendiri, Mommy yakin kamu akan hebat di jalanmu sendiri"
"Aku akan mulai berlatih membuat manik-manik yang indah, hingga mengalahkan pamornya di sekolahnya" matanya tertuju pada Latisha.
"Sarah!" omel Laura. "Ini bukan kompetisi, mengerti!"
"Aku telah memiliki pekerjaan dengan Lilly," kata Latisha dengan mencibir unggul. "Dan kau baru saja mulai. Kau hanya pemula."
"Manik-maniku jauh lebih bagus dari pada boneka bodohmu yang menakutkan itu," Sarah membalas cibiran kakaknya.
"Girls, please stop!" Nathan menengahi keributan antara kakak beradik tersebut.
"Aku akan ke atas untuk melatih penampilanku dengan Lilly untuk pesta ulang tahun pada hari Sabtu ini," Latisha pergi meninggalakan ruang keluarga menuju kamarnya.