
"You're still awake?" tanya Nathan, ia masuk ke dalam kamar tidur Laura dengan membawakan segelas susu coklat hangat untuk Laura.
"Aku lagi membuat materi bahan presentasi meeting besok, terima kasih ya sayang" Laura menerima susu coklat tersebut dan langsung meminumnya.
"Yоu wаnt mе tо hеlр?" Nathan duduk di sebelah Laura, kemudian mengambil laptop yang berada di pangkuan Laura, ia membantu Laura membuat grafik peningkatan pendapatan perusahaannya dari bulan-bulan sebelumnya, kemudian mengananalisanya sebagai bahan materi yang akan di sampaikan oleh Laura.
Laura nampak terkesima memandangi wajah serius Nathan saat menerangkan grafik tersebut, kharisma dan ketampanan Nathan tak pernah hilang sejak enam belas tahun yang lalu saat pertama kalinya ia jumpa dengan Nathan, namun sayangnya ia terlanjur mengikat janji suci dengan Yoseph.
Selama berpacaran dengan Yoseph, Laura sama sekali tak pernah melihat Nathan, bahkan ia sempat mengira bahwa Yoseph adalah anak tunggal. Namun rupanya saat itu Nathan memilih sekolah di Amerika bersama saudara sepupu dari ayahnya, setelah lulus barulah Nathan kembali ke UK. Di saat Nathan kembali itulah Laura dan dan Yoseph mengikat janji sucinya, di altar pernikahannya bersama Yoseph, Laura bertemu dengan Nathan.
Kala itu Nathan ikut mengantarkan Yoseph menuju altar, mata Laura tak hentinya memandang ke arah Nathan, begitu pula dengan Nathan yang memandangi wajah cantik Laura, sambil tersenyum ke arahnya dan keduanya langsung jatuh hati.
Laura selalu berfikir seandainya ia lebih dahulu jumpa dengan Nathan, mungkin ia akan lebih memilih Nathan di banding dengan Yoseph.
"Is something suddenly funny?" tanya Nathan, ia melihat Laura memandanginya sambil senyum-senyum, hingga membuat Nathan menjadi salah tingkah.
"You're so handsome, baby" Laura mendekatkan wajahnya ke wajah Nathan, hampir saja bibirnya menyatu dengan bibir Nathan, namun tiba-tiba saja secara tak sengaja ia melihat seperti ada bayangan hitam melintas dengan cepat dari luar kaca jendela kamarnya.
Seketika Laura menjauh dari wajah Nathan, "Sebentar!" ucap Laura, ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju jendela kamarnya.
"Ada apa?" tanya Nathan heran, bercampur kecewa karena ciuman panasnya tertunda.
"Tadi aku seperti melihat ada sesuatu yang lewat di luar jendela," jawab Laura, ia memeriksa sekeliling jendela kamarnya, nampak sepi tak ada siapa-siapa di luar, hanya ada pohon mangga yang bergerak-gerak tertiup angin malam.
"Maybe just your imagination, or maybe you're just tired honey" Nathan meminta Laura untuk kembali duduk di sampingnya dan melanjutkan kembali cumbuan yang sempat tertunda tadi. "Can you kiss me more?" Nathan menatap Laura dengan tatapan menggoda sambil menaruh laptop Laura di meja samping tempat tidur agar ia dan Laura lebih leluasa.
Laura tersenyum "Tentu saja sayang," ia menutup jendela dan gorden kamarnya, kemudian setengah berlari menghampiri Nathan, dan duduk di pangkuan Nathan.
Laura melu*at bibir Nathan dengan penuh gairah, seolah tak mau kalah Nathan pun membalasnya lebih dalam sambil meremas dada Laura dengan lembut.
"Aaarrghhh..." erangan dan ******* mulai keluar dari mulut Laura ketika Nathan mencumbui tubuh indahnya.
Meski telah memesuki usia tiga puluh tujuh tahun, namun tubuh Laura masih tampak sangat sexy dan mempesona, hal itu di karenakan ia selalu menjaga pola makan dan rutin berolah raga bersama dengan Nathan. Sementara Nathan sendiri kini usianya memasuki usia tiga puluh lima tahun, dua tahun lebih muda di banding dengan Laura, meski demikian tak menghalangi rasa cintanya terhadap Laura, sehingga ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan kakak iparnya sendiri saat Yoseph masih hidup.
"Yoseph"
Tiba-tiba saja Laura menghentikan aktivitasnya bersama Nathan, ketika ia melihat di balik jendela ada bayangan Yoseph membawa sebuah gunting di tangan kanannya dan Lilly di tangan kirinya. Sama persis yang berada dalam mimpi buruknya kemarin malam, Laura begitu ketakutan melihat bayangan Alm.suaminya.
"Aku bukan Yoseph" Nathan mendorong tubuh Laura menjauh darinya, ia sangat benci mendengar nama kakaknya di sebut oleh wanita yang ia cintai. "you're still in love with him." tuduh Nathan.
Seketika bayangan itu menghilang dari jendela kamarnya. "Bu-bukan itu maksudku Nathan" ucap Laura terbata-bata, ia berlari mengejar Nathan yang pergi keluar dari kamarnya. "Nathan please dengarkan penjelasanku," pintanya.
Nathan tak memperdulikan ucapan Laura, ia terus melangkah pergi menuju kamar tidurnya, mood untuk bercinta dengan Laura seketika menghikang mendengar Laura menyebut nama Yoseph.
Saat mengejar Nathan tanpa sengaja Laura bertabrakan dengan Sarah yang tengah berlari menuju kamarnya.
"Kamu kenapa Sarah?" tanya Laura, ia melihat wajah purtinya nampak pucat dan ketakutan.
"Mom, Dad-Daddy..." ucapnya terbata-bata.
Laura menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada Latisha di sekitarnya, kemudian ia menarik putrinya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa Sarah?" tanya Laura penasaran sambil merangkum wajah ketakutan putri bungsunya.
"Ta-tadi Daddy kembali mendatangiku, ia memintaku untuk mengatakannya kepada Latisha dan kepada semua orang..."
Belum selesai Sarah menyelesaikan kalimatnya, Laura langsung memotongnya "Cukup Sarah! kamu jangan mengatakan apa pun kepada siapa pun termasuk Latisha!" ancam Laura sambil mencekram lengan Sarah dengan erat dan menatap mata putrinya dengan tatapan tajam
"Tapi Mommy, Daddy selalu..."
"DIA BUKAN DADDYMU!!! APA KAMU MAU MELIHAT MOMMY MASUK PENJARA DAN KAMU TIDAK PUNYA SIAPA-SIAPA?" bentak Laura kepada Sarah, hingga membuat gadis kecil itunsemakin ketakutan.
"La-lalu siapa Daddyku?" Sarah merintih ketakutan dengan ancaman mommynya dan juga Yoseph yang selalu menghantui dirinya. Tubunya gemetar dan air matanya mulai menetes di pipinya karena tekanan yang di terimanya.
"Sebentar lagi kamu akan tahu, bersabarlah. Percayalah semuanya akan baik-baik saja jika kamu menjaga rahasia ini dan menurut pada Mommy" Laura mulai menurunkan nada bicaranya dan mengelus kepala Sarah sengan lembut menenangkan agar Sarah berhenti menangis.
"Tapi aku takut Mom..."
"Ada Mommy, sayang. Mommy akan menjagamu " Laura memeluk putri bungsunya dengan hangat "Percayalah Mommy, semuanya akan baik-baik saja," ucapnya.
"Setelah uang asuransi Daddynya Latisha cair, kita akan pindah rumah dan kamu akan tahu siapa Daddymu yang sebenarnya" bisik Laura mengelus punggung Sarah.
Sementara itu di kamarnya, Latisha terbangun oleh suara pintu yang baru saja tertutup, manun karwna suasana gelap kamar tidurnya sehingga ia tidak dapat melihat siapa yang menutup pintu kamarnya.
Latisha menggeser posisinya sedikit, ada sesuatu yang menggajal di tubunya, ia meraba-raba tempat tidurnya, merasakan ada rambut dan wajah yang ia pegang di tangannya.
'Lilly?' gumamnya sambil tersenyum.
Ya benar saja Lilly berada tepat di samping Latisha, Latisha langsung memeluk dan menyembunyikan Lilly dalam selimutnya "Aku merindukanmu Lilly" bisiknya.
'Thank you uncle' batinnya, Latisha mengira jika tadi Nathanlah yang membawakan Lilly untuknya, padahal Nathan tengah beristirahat di kamarnya.