
"Pergi kau boneka sial" Laura melempar Lilly di gudang belakang kediamannya, kemudian ia menggembok pintu gudang dan pergi dari gudang tersebut.
Dari pintu belakang, Nathan melipat kedua tangannya memandang ke arah Laura "What was it? Why did you hate her so much?" tanya Nathan.
"Aku sudah lelah di ganggu terus olehnya, lagi pula bukan hanya aku yang di ganggu dengan boneka sialan itu, tapi Sarah pun sering di ganggu olehnya,"
Mimpi buruknya semalam membuat Laura meyakini ada kerkaitan antara Yoseph dengan Lilly dan ia pun mulai mempercayai semua ucapan Sarah, jika selama ini Lilly telah mengganggunya.
"Come on Laura, it's just a doll," ucap Nathan, "As a parent you have to support her, Latisha can be a star."
Meski ia tahu jika seandainya Latisha masuk ke acara TV bersama dengan Mrs. Susan, tentu akan membuat Sarah cemburu, namun Nathan sudah terlanjur janji kepada Latisha untuk bicara dan membujuk Laura agar mengembalikan Lilly serta mengizinkan Latisha untuk tampil.
"Setelah ujian nasional nanti aku akan membelikan Latisha boneka baru dengan menggunakan uang asuransi Yoseph."
Laura berlalu meninggalkan Nathan dan pergi menghampiri Latisha di kamarnya. "Boleh Mommy masuk?" tanya Laura dari balik pintu.
"Tentu saja Mommy, masuklah!!" ucap Sarah.
Laura mendekat ke arah Latisha yang tengah menangis di atas tempat tidurnya. "Setelah ujian nasional nanti, Mommy akan membelikan boneka baru untukmu dan juga untuk Sarah," ucap Laura sambil mengelus kepala Latisha dengan lembut.
"Maaf Mom, aku sudah tidak tertarik. Perhiasan manik-maniku jauh lebih berharga" sambung Sarah.
"Oke, berarti hanya untuk Latisha. Dan kamu bisa kembali pentas di mana pun kamu mau, Mommy akan bicara dengan Mrs. Susan"
"No Mom, aku hanya ingin pentas bersama Lilly bukan dengan boneka lainnya hiks.." ucap Latisha sambil menahan tangisnya "Aku masih bisa mengerti jika Mommy melarangku untuk tampil karena alasan ujian nasional, tapi kenapa Mommy juga mengambil Lilly? please Mom kembalikan Lilly padaku, jangan buang Lilly!!" air mata Latisha kian mengalir deras jatuh ke pipinya.
"Sudahlah Latisha, nanti Mommy akan belikan boneka yang jauh lebih bagus dari Lilly," Laura beranjak dari tempat tidur Latisha. Namun dengan cepat Latisha menahan Laura untuk pergi "Please Mom kembalikan Lilly, aku sangat menyayanginya." Latisha terus memohon kepada Mommynya.
"Sudahlah Latisha, kamu bukan anak kecil lagi, jadi berhentilah merengek!!" Laura menyingkirkan tangan Latisha, kemudian ia beranjak dari tempat tidur Latisha dan keluar dari kamar putrinya.
Ada perasaan sedih melihat Latisha terus menangisi Lilly, namun di satu sisi Sarah sungguh bahagia karena boneka yang ia anggap menakutkan dan sering mengganggunya itu kini sudah tidak ada dan ia merasa hidupnya kembali normal seperti sebelum adanya Lilly.
"Kau ini benar-benar seperti bayi," ucap Sarah sambil menggali manik-manik dari kotak perhiasan miliknya, kemudian ia mulai membuat sebuah gelang dari mani-manik tersebut. "Lihatlah, koleksiku yang sering kau anggap sampah ternyata lebih berharga dari boneka bodoh dan mengerikan itu," Sarah tertawa bahagia atas kepergian Lilly dari kamarnya.
"Lilly tidak bodoh!!!" Latisha membanting pintu kamarnya dan pergi menuju taman belakang kediamannya untuk bermain dengan Milo.
Sarah menepati janjinya, malam itu ia memesan banyak pizza untuk makan malam bersama keluarganya. Ia terus bercerita betapa teman-temannya sangat mengagumi gelang dan kalung-kalung buatannya dan beberapa di antara mereka ada yang kembali memesan lebih dari satu.
Latisha menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat keadaan sekitar kemudian ia mengendap-endap masuk ke dalam kamar mommynya. Rasanya sudah lama ia tak masuk ke dalam kamar mommynya, Latisha sudah tak menemukan foto-foto Alm.Daddynya terpajang di kamar mommynya, bahkan buku-buku bacaan daddynya pun sudah tidak ada berikut dengan rak dan kursi baca milik daddynya.
Laura sudah benar-benar merombak kamarnya dan memindahkan semua barang-barang Yoseph ke dalam gudang.
Secara perlahan Latisha membuka laci meja rias mommynya, ia nampak sangat terkejut melihat foto kebersamaan mommynya dengan unclenya yang dinilainya begitu sangat mesra, dimana Nathan memeluk Laura dari belakang.
'Apa Mommy dan Uncle....?'
Latisha lansung membuang pikiran negatifnya dan memasukan kembali foto tersebut, begitu ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya, dan benar saja.
"Mau apa kamu di kamar Mommy?" tanya Laura sambil melipat tangannya dan menatap tajam ke arah Latisha "Mencari Lilly?" tanyanya. "Lilly tidak ada di sini, Mommy sudah membuang Lilly."
"Mommy jahat!!"
Latisha berlari keluar kamar, menuju kotak sampah di depan rumahnya untuk mencari keberadaan Lilly. Ia tak menyangka jika mommynya tega terhadapnya, padahal awalnya ia mengira jika mommynya hanya menyita Lilly bukan membuangnya.
Di tengah rintik hujan Latisha mengorek-ngorek kotak sampah, mencari keberadaan Lilly. "Lilly, dimana kamu?" ucapnya lirih, ia terus mengaduk-aduk sampah sambil melempar-lemparkan sampah di hadapannya.
"Latisha, kau jorok sekali!!" teriak Sarah dari pintu rumah. "Ayo cepat masuk, hujan semakin deras!!"
Latisha hanya melirik sesaat ke arah Sarah, namun kemudian ia kembali mengaduk-aduk sampah untuk mencari keberadaan Lilly. Lama ia berjongkok di kotak sampah mencari keberadaan Lilly, hingga tubuhnya basah kuyup, ia pun beranjak dari kotak sampah tersebut dan masuk ke dalam.
"Ihhh jorok sekali" Sarah menutup hidungnya ketika Latisha berjalan melewatinya.
Latisha tak memperdulikan Sarah, ia kembali menghampiri Laura "Dimana mommy membuang Lilly?" tanyanya dengan deraian air matanya.
"Latisha, bersihkan tubuhmu dan beristirahatlah!!"
"Di mana Mommy membuang Lilly?" tanyanya sekali lagi.
"Latisha...!!!"
Laura mengangkat tangannya hendak menapar Latisha, namun dengan sigap Nathan menahannya "Laura"
Latisha hanya menatap, kemudian ia berlari pergi ke kamarnya dan masuknke dalam kamar mandi membersihkan diri sambil menangisi kepergian Lilly. Dari sekian banyak boneka yang ia miliki hanya Lilly yang membuatnya nyaman, sehingga kehilangan Lilly rasanya seperti ia kehilangan daddynya enam bulan yang lalu.
"Lilly, please come back hiks.." tangisnya dalam guyuran air shower yang membasahi tubuhnya.