
Saat makan malam, Latisha menceritakan semuanya kepada mommy dan juga unclenya.
"Di pentas seni nanti, aku tampil dua kali dan aku akan satu panggung dengan Mrs.Susan yang terkenal itu," ucap Latisha dengan riang gembira.
"Benarkah?" tanya Laura, sambil menyendokan nasi serta lauk pauk ke dalam piring kemudian memberikannya kepada Nathan "Mau supnya?" tanya Laura.
"Thanks" Nathan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Latisha beranjak dari tempat duduknya, ia melompat penuh semangat di udara dan bersorak. "Lilly dan aku akan satu panggung dengan Mrs. Susan dan kita akan masuk majalah lokal. Bukankah itu luar biasa Uncle?"
"Congrats ya," ucap Nathan, memberikan ucapan selamat kepada Latisha.
"Tapi kamu jangan lupa belajar, sebentar lagi kamu akan mengahadapi ujian nasional," Laura mengingatkan putri sulungnya untuk tidak terlena pada popularitas yang di perolehnya dan tetap memprioritaskan pendidikannya.
"Siap Mommy, aku akan tetap mempertahankan juara satuku, Mommy tidak perlu khawatir" ucap Latisha dengan penuh keyakinan.
Sarah menatap raut wajah kegembiraan saudarinya, dengan tatapan kecemburuan. "Aku sudah selesai!" Sarah beranjak dari tempat duduknya dan membawa piring makannya ke dapur.
"Aaaarrgh!" Sarah tak bisa menahannya, ia mengeluarkan seruan amarahnya sambil menggosok piring makannya di dalam wastafel.
"Mengapa dari dulu segala sesuatu yang baik terjadi pada Latisha?" teriak Sarah dengan lantang. "Mengapa selalu dia yang selalu menjadi pusat perhatian di sekolah dan di rumah?"
Dalam amarahnya, ia mengangkat piring yang di tengah di cucinya tinggi-tinggi di atas kepalanya dan hendak membantingnya, namun dengan cepat Nathan menahannya. "Stop!!"
Nathan meminta Sarah untuk membersihkan tangannya dan kemudian ia mengajak Sarah mengobrol di halaman belakang sambil bermain dengan Milo.
"Come here, Milo" Nathan menyodorkan snack anjing kesukaan Milo di tangannya.
Sarah mengelus Milo dengan lembut yang tengah makan snack anjing dari tangan Nathan.
"I know the feeling," ucap Nathan kepada Sarah "I'm jealous of my brother," lanjutnya.
"Benarkah?" tanya Sarah tak percaya. "Uncle pernah cemburu pada Daddy? kenapa?" tanya Sarah kembali.
"He always get what he wants" Nathan mengelap tangannya kemudian ia mengambil bola kecil milik Milo dan melempar bola tersebut ke sembarang arah agar Milo mengejarnya.
"Misalnya?" tanya Sarah semakin penasaran.
"Semuanya, termasuk...." Nathan menghentikan kalimatnya, banyak hal yang tidak bisa ia ceritakan pada Sarah "let's take a rest," ajak Nathan.
"Ayolah, ceritakan padaku apa yang membuat Uncle cemburu pada Daddy. Bukankah Uncle lebih tampan dan pintar dari Daddy?" tanyanya sambil tertawa.
Nathan hany tersenyum, menggelengkan kepalanya "Next time I will continue the story."
"Ih Uncle enggak seru, membuatku penasaran saja" protes Sarah.
Nathan merangkul pundak Sarah dan tetap mengajaknya untuk beristirahat, ia mengantar Sarah hingga masuk ke dalam kamarnya. "Good night, Uncle" Sarah menutup pintu kamarnya.
Di dalam kamarnya ia melirik sekilas ke arah Latisha yang tengah berlatih bersama Lilly di depan cermin.
"Hei Sarah, apa kamu mau mendengar leluconku dengan Lilly?" tanya Latisha menoleh ke arah adiknya.
"No, thanks!" Sarah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Ayolah Sarah, kali ini saja" paksa Latisha.
"No Latisha, aku sudah mengantuk" Sarah mencoba memejamkan matanya dan berharap Lilly tidak datang lagi ke dalam mimpinya.
"Pergi Yoseph... Pergi...." teriak Laura, kemudian ia terjaga dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah dan keringat dingin yang bercucuran.
Laura merotasikan matanya melihat ke sekelilingnya, ia menghela nafas leganya ketika menyadari jika apa yang tadi di alaminya hanyalah mimpi buruknya.
'Itu hanya mimpi' Ia mulai mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya, tak lama setelah itu ia merasakan sakit di tenggorokannya setelah tadi ia berteriak, Laura pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil minum yang berada di meja kamarnya.
Sayangnya gelas tersebut sudah kosong, padahal ia merasa belum sama sekali meminumnya 'Kok habis?' gumamnya, ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Laura membuka kulkasnya dan mengambil sebotol air minum, kemudian menuangkannya ke dalam gelasnya.
"Hah?" jantung Laura kembali berdegup kencang ketika ia mendengar langkah kaki dan gerak seseorang "Si-siapa di situ?" tanya Laura dengan gugup dan ketakutan.
Sosok itu terdengar kian mendekat ke arah Laura "Aku," terdengar jawaban berbisik.
"Nathan?"
"Ya, I just got back from Alice's house," jawab Nathan sambil membawa Lilly di tangan kanannya.
"Alice? Alice temannya Sarah dan Latisha di sekolah?"
Nathan menganggukan kepalanya, membenarkan jika dirinya baru saja mengunjungi salah satu teman Sarah dan Latisha.
"Untuk apa kamu ke sana?" tanya Laura heran.
Nathan duduk di hadapan Laura sambil menaruh Lilly di atas mini bar dapur, ia menjelaskan jika ia memberikan Alice uang untuk membeli perhiasan manik-manik Sarah, ia tidak ingin melihat Sarah bersedih lagi.
"Nathan ini bukan kompetisi, seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal itu!" ucap Laura dengan nada serius.
"I hate seeing my child so sad," tatap Nathan kepada Laura.
Laura hanya terdiam tak menjawab pernyataan Nathan, karena ia sadar Nathan punya hak yang sama terhadap Sarah.
"So, when we get married?" tanya Nathan, masih terus menatap Laura.
"Sabarlah Nathan, aku belum selesai mengurus asuransi Yoseph. Lagi pula keluarga kita pasti akan curiga jika kita menikah secepat ini."
"I have been waiting you so long," Nathan beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Laura, ia membelai lembut wajah cantik Laura. "I need you to be my wife," Nathan mendekatkan wajahnya ke wajah Laura, kurang dari beberapa inci lagi bibirnya menyatu dengan bibir Laura.
Prang...
Sebuah gelas yang Laura taruh di mini bar dapur kediamannya terjatuh begitu saja, seketika Laura dan Nathan menoleh ke arah gelas tersebut. Keduanya nampak heran karena di mini bar tersebut hanya ada Lilly yang tengah menatap keduanya.
"Mengapa Lilly bisa ada padamu?" tanya Laura, sambil mengelus lengan dan lehernya yang tiba-tiba saja bulu kudungnya berdiri.
"Oh I found it outside," jawab Nathan, menunjuk ke arah depan rumah.
"Tidak mungkin, Latisha tidak mungkin meninggalkan boneka kesayangannya di luar begitu saja" ucap Laura.
"Are you accusing me?" tanya Nathan menaikan nada bicaranya.
"Bu-bukan begitu, bisa saja Sarah yang melakukannya, sebab ia iri karena sebentar lagi Latisha dan Lilly akan tampil bersama Mrs. Susan di acara pentas seni sekolahnya"
"Stop accusing my daughter!!!" Nathan menatap tajam ke arah Laura, kemudian ia pergi meninggalkan Laura.