
"Aku harus pergi!" ucap Latisha, melangkahkan kakinya keluar dari kediamannya, namun dengan cepat Sarah menahannya, ia memegang tangan Latisha dengan erat "Tunggu dulu!!" ucap Sarah "Aku punya sebuah rahasia yang selama ini aku simpan dan sangat mengganggu pikiranku. Aku rasa sekarang sudah waktunya aku menceritakannya padamu." ucap Sarah.
Latisha menatap Sarah penasaran dengan rahasia yang Sarah simpan, Latisha menganggukan kepalanya dan mengajak Sarah duduk di sofa ruang tamu kediaman mereka.
"Ada apa?" tanya Latisha.
Sarah terdiam sesaat, mengumpulkan keberanian untuk bicara terus terang kepada Latisha, ia juga menyiapkan diri untuk menerima semua resiko atas apa yang telah ia lakukan.
"Cepat katakan Sarah!!" Latisha sudah tak sabar mendengar rahasia pa yang di sembunyikan oleh Sarah.
Sarah menghembuskan nafasnya pelan. "Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sesaat sebelum Daddy meninggal dunia...." Sarah memulai ceritanya.
Falasback on
Pagi itu tak seperti biasanya Sarah bangun lebih awal, ia sengaja bangun lebih awal untuk menyelinap masuk kedalam garasi rumahnya dan menyembunyikan papan skateboard milik Latisha yang kemarin sore ia rusak.
Sarah takut Latisha marah kepadanya karena meminjam barangnya tanpa izin dan kemudian merusaknya.
'Hari ini kamu sungguh beruntung Sarah' batinnya, ia tersenyum melihat garasi mobilnya sudah sedikit terbuka, pasalnya butuh tenaga extra untuk membuka pintu garasi rumahnya.
Tanpa ragu Sarah masuk ke dalam garasi dan menyembunyikan papan skateboard milik Latisha di sela-sela lemari dan buffet meja tempat menyimpan perkakas mobil, jaket, helm dan barang-barang lainnya milik mommy dan daddynya.
"Semoga Latisha tidak mengetahuinya, sampai aku berhasil memperbaikinya" ucap Sarah, ia membalikan tubuhnya dan bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya. Namun langkah Sarah terhenti ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri mommynya tengah menyabotase mobil antik kesayangan daddynya.
"Sarah!!" Laura pun tak kalah terkejutnya ketika melihat putri bungsunya berada di hadapannya dan melihat apa yang telah ia lakukan terhadap mobil Yoseph.
"Apa yang kamu lakuan di sini?" bentak Laura.
"Harusnya aku yang bertanya apa yang Mommy lakukan terhadap mobil Daddy?" tanya Sarah meninggikan nada bicaranya.
"Tutup mulutmu Sarah!! Jangan katakan apa pun kepada siapa pun!!" bentak Laura kembali.
"Tidak Mom, aku akan mengatakannya kepada Daddy, aku tidak akan membiarkan Mommy mencelakai Daddy," ucap Sarah tak ingin kalah.
Plak...
Laura menapar pipi mulus putri bungsunya, kemudian mendorong Sarah hingga tubuh Sarah mepet di sudut tembok garasi rumahnya.
Brug..
"Dia bukan Daddymu!!" ucap Laura dengan tatapan tajamnya "Apa kamu mau melihat Mommy mendekam di penjara karena mulut kotormu itu?" tanya Luara.
Seketika tubuh Sarah gemetar ketakutan, ia sangat syok atas ancaman dan perbuatan kasar yang terimanya, Mommy yang ia kenal sangat lembut seketika berubah menjadi monster yang menakutkan, yang siap menerkam dirinya.
"Da-daddy?" tanya Sarah terbata-bata. Ia sangat terkejut mendengar jika Yoseph bukanlah ayah kandungnya.
"Ya, dia bukan Daddymu" Laura mencengkaram lengan Sarah dengan kencang sambil menyodorkan gunting di wajahnya dengan tatapan membunuh.
"Ooh rupanya anak daddy ada di sini" seru Yoseph masuk ke dalam garasi.
"Tumben putri Daddy yang satu ini sudah bangun," Yoseph berjalan menghampiri Sarah. "Tadi Daddy mencarimu di atas, tapi hanya ada kakakmu."
"A-aku sedang mencari papan skateboard Latisha" jawabnya gugup.
"Are you okay, Sweety?" Yoseph merasa ada sesuatu yang terjadi pada Sarah, sehingga wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya,
Sarah menganggukan kepalanya, "Ya, I'm good"
"Mungkin dia masih mengantuk karena tak biasa bangun sepagi ini," Laura mendekat ke arah Yoseph merapihkan pakaiannya "Kamu jadi berangkat sepagi ini?" tanya Laura.
Pagi itu Yoseph ada meeting pagi di Bandung bersama mitra kerjanya, sehingga ia harus berangkat sebelum subuh agar ia bisa tiba tepat waktu.
Yoseph menganggukan kepalanya, sambil melepaskan tangan Laura dari tubuhnya, saat itu ia telah mengetahui perselingkuhan Laura dengan Nathan, dan ia pun sudah berencana mengajukan gugatan perceraiannya terhadap Laura.
Namun ia berusaha tetap bersikap wajar di depan anak-anak agar anak-anak tak terluka atas perceraian dirinya dengan Laura "Daddy pergi dulu ya." Yoseph mencium kening Sarah kemudian ia membuka pintu mobilnya.
"Dad-" Sarah ingin mencegah Yoseph untuk tidak masuk ke dalam mobilnya,namun Laura memelototi sambil mencubit pinggang belakang Sarah dengan sangat kencang, hingga membuat Sarah ketakutan.
"Yes sweety" Yoseph berbalik ke arah Sarah.
"Dad-Daddy pasti pulang kan?" tanya Sarah, ia membatalkan niatnya untuk memberitahu Yoseph.
"Tentu saja, kita akan makan malam bersama. Daddy sudah menyiapkan hadiah kecil untukmu dan juga kakakmu, tunggu Daddy pulang ya" Yoseph mengelus lengan Sarah dengan lembut kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan kediamannya.
Yoseph telah menyiapkan sebuah boneka cantik untuk Latisha dan papan skateboard untuk Sarah sebagai hadiah juara kelas karena Latisha dan Sarah berhasil mendapatkan peringkat pertama dalam ulangan semester ganjil di sekolahnya.
Begitu Yoseph meninggalkan kediamannya, lagi -lagi Laura kembali mengancam putrinya agar menjaga rahasia ini dengan baik.
Falasback off
Sarah berlutut di hadapan Latisha "Maafkan aku Tisha, harusnya saat itu aku bisa mencegah Daddy untuk tidak pergi hiks..." buliran-buliran bening jatuh di pipinya, rasa penyesalan terus menghantui dirinya sejak kejadian itu.
"Aku tahu ia bukan ayah kandungku tapi percayalah aku sangat menyayanginya, aku akan terima apa pun hukuman atas ketidak jujuranku selama ini huhuhu..."
Latisha hanya terdiam, air matanya mengalir deras di pipinya mendapati fakta bahwa mommynya bukan hanya mengkhianati Daddynya tapi juga membunuh Daddynya.
Perlahan Latisha mengambil surat pengajuan gugatan perceraian daddynya dari dalam kotak yang ia pegang kemudian memberikan surat tersebut pada Sarah.
"Bahkan di saat Daddy tahu jika kamu bukan anaknya dia tetap menyayangi dan memperlakukanmu seperti biasanya" Latisha ingat betul saat itu dirinya pernah menjahili Sarah, kemudian Daddynya langsung membela dan melindungi Sarah dari kejahilan dirinya.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang terus mengalir di pipinya, Sarah membaca isi surat tersebut, terdapat tanggal di buatnya surat tersebut, tepat satu minggu sebelum kecelakaan maut yang menimpa Yoseph dan juga alasan di ajukannya surat permohonan perceraiaan tersebut yang salah satu poinnya adalah Laura berselingkuh hingga memiliki seorang anak dari hasil perselingkuhannya.
"Latisha, maafkan aku hiks..." Sarah benar-benar merasa sangat bersalah dan menyesal tak berani mencegah daddynya pergi.
"Selama ini aku selalu di hantui oleh rasa bersalah karena telah menutupi kebenaran...." Sarah menutup wajahnya dengan kedua tepak tangannya