
Sinar matahari sabtu sore baru saja mulai menurunkan dirinya di langit, yang cerah dan biru. Sarah duduk di meja rias miliknya dan juga milik Latisha. Sarah mengaduk-aduk kotak perhiasan dan mengeluarkan untaian manik-manik berwarna cerah yang lain. Dia menyelipkannya ke kepalanya dan menguraikannya dari tiga untai manik-manik lain yang dipakainya.
Lalu ia menatap dirinya di cermin, menggelengkan kepalanya untuk melihat lebih baik, anting-anting panjang yang berjuntai.
'Aku suka koleksi perhiasan sampahku,' batinnya, ia kembali menggali ke dalam kotak perhiasan kayu untuk melihat harta lain apa yang bisa ia tarik keluar, termasuk kotak yang manik-manik yang unclenya berikan kepadanya.
Latisha mengerutkan keningnya ketika ia melihat Sarah nampak asik dengan koleksi perhiasan manik-maniknya, ia sama sekali tak tertarik pada barang-barang yang terlihatnya seperti sampah itu.
Namun Sarah bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencoba manik-manik, memainkan jarinya ke puluhan perhiasan kecil (pada kalung atau gelang), menggerakkan jari-jarinya di atas gelang-gelang plastik, menggemerincingkan anting-anting. Koleksi perhiasannya selalu membuatnya gembira, ia menggelengkan kepalanya lagi, membuat anting-anting bergemerincing lama.
Latisha melihat jam di pergelangan tangannya. "Oh, tidak! Pestaku! Terlambat!" Ia menggelengkan kepalanya. "Sarah, apa kamu mau menonton pentas perdanaku?" tanya Latisha.
"Tidak!!" jawab sarah tanpa menoleh ke arah Latisha, ia masih terus menggali kotak perhiasan manik-maniknya.
"Okay, kalau begitu sampai jumpa" Latisha bergegas pergi meninggalkan kediamannya.
"Latisha-" panggil Sarah.
Pintu kamarnya terbanting oleh Latisha.
'Ah ya sudahlah' gumam Sarah, padahal ia baru saja akan memberikan satu koleksi kalung terbaiknya untuk mempercantik penampilan perdanya, walau pun ia tak tertarik untuk menonton pertunjukannya.
Sarah berayun pelan-pelan, bersandar dan mengangkat kakinya ke udara. Bunyi berserit di setiap ayunannya berayun. Ayunan tua di halaman belakang, setemgah ditutupi dengan karat yang sudah jarang sekali di gunakan sejak beberapa tahun terakhir.
Matahari sore itu turun di belakang rumah, di iringi aroma ayam panggang melayang keluar dari jendela dapur. Sarah bisa dengan jelas mendengar Ibundanya di dapur menyiapkan makan malam.
Milo tiba-tiba saja menyalak di bawahnya yang tengah asik berayun, membuat Sarah seketika menjatuhkan kakinya ke tanah dan menghentikan ayunan untuk menghindari benturannya. "Milo jangan di situ, nanti kau bisa terluka!" serunya.
Sarah mendongak untuk melihat Latisha yang datang berlari masuk ke dalam kediamannya, dengan menggendong Lilly bawah lengannya. Dari senyum di wajah Latisha, Sarah tahu seketika bahwa pesta ulang tahun itu sukses. Tapi bagaimanapun juga dia harus bertanya. "Bagaimana?"
"Ini sangat mengagumkan!" seru Latisha. "Lilly dan aku sangat hebat!"
Sarah menarik dirinya dari ayunan dan memaksakan senyum di wajahnya. "Itu bagus," ucapnya singkat.
"Anak-anak menganggap kami lucu!" ucap Latisha, ia menoleh ke arah Lilly. "Bukan begitu, Lilly?"
"Mereka semua sangat menyukai kita berdua!" ucap Lilly dalam suara bernada tinggi Latisha itu.
Sarah memaksakan diri untuk tertawa. "Aku senang mendengar acaramu berjalan lancar," ucapnya, berusaha keras untuk jadi sportif.
"Aku dan Lilly bernyanyi bersama, dan acara itu berjalan dengan sangat baik. Lalu Lilly mendongengkan cerita si kancil. Pokoknya sukses sekali!" ucap Latisha dengan perasaan tak terkendali saking bahagianya.
'Dia berlebihan sekali', gumam Sarah, pahit. Sarah tak bisa menahan perasaan cemburunya.
"Semua anak menginginkan untuk berbicara dengan Lilly," lanjut Latisha. "Bukan begitu, Lilly?" "Semua orang mencintaiku," ia membuat boneka itu berbicara.
"Jadi, kau dapat bayaran tiga ratus ribu?" tanya Sarah, sabil menendang batu kerikil yang berada di taman belakang rumahnya.
"Empat ratus ribu," jawab Latisha. "Mommynya Marsha mengatakan jika aku begitu sangat menakjubkan sehingga ia memberikan bayaran yang lebih. Oh..... Dan tebak apa lagi? Kau tahu Mommynya Evans? tetangga kita yang di ujung jalan? Dia memintaku untuk melakukannya di pesta Evans, minggu depan. Dia akan membayarku lima ratus ribu!!!"
'Wow. Lima ratus ribu' gumam Sarah, menggelengkan kepalanya.
Laura tak dapat menahan rasa harunya "kamu pegang saja ya Nak," Laura mengelus kepala Latisha dengan lembut.
"No, Mom. Sejak awal aku menerima pekerjaan ini memang untukmu" Latisha memaksa memberikan uang tersebut kepada ibundanya.
"Terima kasih ya Nak" Laura menerimanya, namun ia berniat untuk menyimpan uang tersebut sebagai tabungan putrinya. "Maafin Mommy karena pada awalnya Mommy pikir agak terlalu aneh jika kamu menjadi seorang pendongeng, namu kini Mommy harus akui, kamu hebat" ucap Laura.
"Ya aku memang berbakat," Latisha berseri-seri menerima pujian dari ibundanya.
"Kau harusnya tadi melihat penampilan saudaramu," ucap Laura pada Sarah, "Maksud Mommy, kalian bisa saling support."
"Mungkin," jawab Sarah, mencoba untuk menyembunyikan betapa jengkelnya dia.
Ditengah obrolannya, Laura mendapatkan video call dari Nathan yang sedang berada di luar kota, dan mereka semua berbicara dengannya.
Tentu saja Latisha bercerita tentang keberhasilannya dengan Lilly di pesta ulang tahun. Sedangkan Sarah bercerita jika ia telah menyelesaikan manik-manik yang indah untuk ia jual di sekolah besok senin.
"Uncle kapan pulang?" tanya Sarah, ia merasakan kesepian tanpa adanya Nathan di rumah.
"Secepatnya," ucap Nathan sambil tersenyum.
"Wah uncle sudah mulai mau menggunakan bahasa Indonesia," Sarah bersorak.
"I had no other choice" ucapnya, ia menceritakan jika mitra perusahaan yang akan kerja sama dengannya tidak begitu fasih berbahasa Inggris sehingga dirinyalah yang harus bisa menyesuaikan.
"Ayolah uncle, aku yakin uncle bisa" Sarah memberikan semangat kepada unclenya.
"Mr. Nathan, sudah waktunya kita kembali meeting lagi" ucap salah seorang wanita dari belakang Nathan.
"Okay… Wait a minute," ucap Nathan menoleh ke arah wanita itu. "Mmm... maksud saya, sebentar lagi" Nathan langsung menerjemahkannya.
Seketika raut wajah Sarah menjadi murung melihat wanita cantik yang berada di belakang Nathan.
"She's just a friend, bye" Nathan mengakhiri video callnya dan kembali pada pekerjaannya.
Sementara Laura dan anak-anaknya menikmati makan malam, kemudian Sarah dan Latisha kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sarah menyalakan lampu kamar, sementara Latisha di belakangnya mengikutinya masuk.
Latisha menaruh Lilly di kursi di dekat jendela, kemudian ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Jangan lama-lama!!" Sarah memberikan peringatan kepada Latisha agar tak berlama-lama di kamar mandi karena ia pun ingin membersihkan diri.
Sambil menunggu Latisha, Sarah menyisihkan kalung dan gelang manik-manik buatannya yang akan ia jual kepada teman-temannya.
"Oh, tidak!" teriak Latisha, "Apa yang kamu lakukan terhadap Lilly?" Sebelumnya Lilly berada di kursi dekat jendela, namun setelah ia keluar dari kamar mandi Lilly berada tergeletak di bawah.
"Aku tidak menyentuhnya, mungkin saja ia jatuh sendiri tertiup angin dari jendela. Entahlah!!" elak Sarah.
Latisha membungkukan badannya, mengambil Lilly dari lantai. "Aku tahu kau iri dengan Lilly dan juga denganku" ia kembali membenarkan posisi Lilly kemudian merebahkan tubuh ya di atas tempat tidur, Latisha tak ingin mendengarkan pembelaan dari Sarah.