Haunted Doll'S

Haunted Doll'S
Chapter - 08



Teng teng teng ...


Suara jam tua di ruang keluarga berdentang panjang. Suaranya khas jam tahun 80an. 12 kali berdentang, sudah menunjukan waktu tengah malam. Suasana sepi, karena anak-anaknya sudah istirahat di kamarnya.


Sementara Laura masih duduk lesehan di bawah sofa memandangi laptopnya, ia berusaha keras menyelesaikan dateline pekerjaan kantor yang ia harus email malam itu juga.


Sebenarnya bukan hal yang baru baginya, jika setiap akhir bulan ia membuat laporan tutup buku dan terkadang ia membawa pekerjaannya ke rumah, namun untuk laporan bulanan, bulan ini agaknya Laura mengalami sedikit kendala. 'Ah sial' gerutu Laura, beberapa kali ia mencoba mengirimkan laporan pekerjaan namun selalu gagal karena cuaca buruk malam itu mengakibatkan signal terputus.


'Come on, please' ia mencobanya sekali lagi berharap email laporannyanya bisa terkirim dan ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan laporannya.


Ia menurunkan tangangannya ke lantai, sambil mengotak atik handphonenya, ia mencoba menyambungkan jaringan internet dari handphonenya ke laptopnya, berharap signal di handphonenya lebih baik dari pada jaringan wifi rumahnya yang tadi ia gunakan.


Deg!


Ditengah keseriusannya, ia merasakan ada sebuah bola kecil yang menggelinding ke arahnya kemudian bola tersebut mengenai tangannya. Ia mengalihkan pandangannya, matanya bergerilya mencari tahu siapa yang melempar bola tersebut sambil mengambil bola kecil itu "Milo" panggilnya, sambil menoleh ke belakang kediamannya yang dimana arah tersebut merupakan arah letak kandang Milo.


Laura tahu persis jika bola tersebut adalah milik Milo, anjing peliharaannya. "Milo.." panggilnya kembali, beberapa kali Laura memanggil Milo, namun tak ada sahutan gonggongan atau tanda-tanda kedatangan dari Milo.


JEGAAARRRR!...


Tiba-tiba saja dentuman petir dan halilintar, terdengar semakin keras dan saling bersahutan, membuat Laura sangat terkejut dan sedikit takut oleh suara halilintar yang menyambar, dan di tambah dengan matinya listrik di kediamannya membuat malam semakin mencekam.


Ia mengabaikan bola kecil tadi dan kembali menatap layar laptopnya "Sepertinya aku memang belum bisa untuk mengirimkan laporan malam ini" pikirnya. Cuaca yang tak bersahabat di tambah lampu rumahnya yang padam, membuatnya terpakasa menunda pengiriman laporannya. Ia berharap atasannya tak marah kepadanya karena keterlambatan pengiriman laporan pekerjaannya.


Laura bergegas menutup semua aplikasi pada layar laptopnya, kemudian mematikannya. Baru setengah ia menutup layar laptopnya, matanya tertuju pada sudut ruang keluarganya, di antara cahaya kilatan-kilatan petir yang menyambar ia melihat Lilly sedang duduk di sudut ruangan.


Lilly duduk sambil menatap ke arahnya dengan mata biru bulatnya yang menyala.


'Apa mungkin Latisha lupa membawanya ke kamar?' batinnya. Rasanya agak terlalu aneh jika putri sulungnya meletakan boneka ke sayangannya secara sembarangan, kemudia ia berfikir mungkin Sarahlah yang melakukannnya karena ia masih sedikit cemburu pada Lilly.


Brug..


Seseorang menabrak tubuhnya hingga Laura dan handphonenya terjatuh. "Sarah, kau mengagetkan Mommy saja!!!" bentaknya, cahaya kilat yang menyambar dari jendela membuatnya dapat melihat dengan jelas wajah putrinya yang nampak gemetar dan ketakutan.


"Ada apa Sarah?" tanya Laura panik, ia merangkum wajah ketakutan putrinya.


"Li- Lilly, menggangguku lagi Mom..." ucapnya tebata-bata. "Tolong aku Mom, Lilly seringkali menggangguku, aku sudah tidak tahannya dengannya" Sarah mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Lilly?" tanya Laura "Bagaimana ia bisa mengganggungmu, Lilly saja sedang berada di sin-" ia menghentikan kalimatnya karena saat ia menoleh ke arah Lilly rupanya Lilly tidak ada di tempat tersebut padahal ia sangat yakin sekali jika tadi Lilly ada di sudut ruang keluarganya.


"Tadi Mommy melihat Lilly ada di sini," ucap Laura. ia menghela nafas sambil memegang keningnya "Ah sudahlah sepertinya mommy sangat kelelahan hari ini"


"Mom please beritahu Latisha, suruh ia membuang boneka bodohnya itu" rengek Sarah, masih dengan wajah pucatnya.


"Sudahlah, ini malam, ayo kita istirahat" Laura mengelus rambut putri bungsunya, kemudian ia mengambil handphonenya yang tadi terjatuh.


"Tidak Mom, aku tidak ingin satu kamar dengan boneka bodoh itu" Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baiklah, untuk malam ini kamu boleh tidur dengan Mommy" Laura mengajak putrinya menuju kamarnya.


Sambil berjalan menuju kamar, Sarah terus merengek agar mommynya mau membantunya menyingkirkan Lilly. "Mom, tadi Lilly masuk ke dalam mimpiku. Ia hampir saja membunuhku dengan membawa gunting di tangannya"


"Sarah, itu hanya mimpi. Lilly hanya sebuah boneka, mana mugkin ia bisa membunuhmu. Mommy tahu kamu sedang cemburu dan iri pada pada kakakmu, tapi percayalah Nak, suatu saat kamu juga akan menemukan jalanmu"


"Mom ini bukan lagi soal iri atau pun cemburu, ini soal Lilly yang menakutkan!!" protes Sarah.


"Ssst..." Laura menaruh jari telunjuknya di bibir putrinya, menghentikan perdebatannya tentang Lilly. "Ini sudah malam sebaiknya kita istirahat, cup" Laura mengecup kening putrinya kemudian ia menarik selimut hingga ke dada putrinya dan memeluknya hingga ia pun ikut tertidur bersama Sarah.