Haunted Doll'S

Haunted Doll'S
Chapter - 17



Sudah lebih dari dua minggu sejak pertengkaran Sarah dan Nathan terjadi, Latisha dan Sarah lebih banyak menggabiskan waktunya di kamar. Latisha di sibukan dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang kini tengah di jalaninya, dan juga persiapan pentas drama wayangnya di layar kaca.


Sedangkan Sarah sendiri di sibukan dengan penjualan perhiasan manik-manik dan persiapan ulangan kenaikan kelasnya.


Keduanya enggan membantu dan mengurusi pesta pernikahan mommy dan unclenya yang sudah tinggal menghitung hari.


"Latisha, nih untukmu." Sarah memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Latisha, hasil penjualan perhiasan manik-maniknya.


Ya, sejak ia memasarkan perhiasan manik-maniknya di marketplace dan mengubah konsep pembuatan perhiasan manik-maniknya, mengikuti anjuran Latisha. Kini perhiasan manik-manik yang di buat Sarah laku keras, ia tidak perlu menjual hasil kerajinannya pada teman-tema yang sering mengolok-oloknya.


"Terima kasih ya, ini semua berkatmu," ucap Sarah, ia sangat berterima kasih pada Latisha yang telah banyak membantunya.


"Kau simpan saja untukmu, aku sangat senang dengan pencapaianmu," tolak Latisha dengan halus, ia menutup bukunya kemudian memandang Sarah dengan intens "Sarah, apa kamu menyayangi Daddy?" tanya Latisha.


Sarah terdiam sejenak, dalam benaknya ia teramat menyayangi Yoseph meski ia tahu jika Yoseph bukanlah ayah kandungnya, namun di satu sisi ia sendiri merasa sangat bersalah pada Yoseph. "Ya tentu saja, aku sangat menyayangi Daddy." ucap Sarah sambil tersenyum. "Ada apa?" tanya Sarah balik.


"Tidak, aku hanya sedang merindukan Daddy" ucap Latisha, ia kembali pada buku pelajarannya.


"Ya, aku pun merindukannya" Sarah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, ia memandangi langit-langit sambil mengingat kebersamaannya dengan Yoseph.


Yoseph yang selalu membacakan dongeng sebagai pengantar tidur mereka berdua, Yoseph yang selalu membantu mereka berdua mengerjakan PR dan Yoseph yang selalu punya cara untuk menengahi mereka berdua ketika bertengkar, diantara memory-memory indah yang ia ingat tiba-tiba saja muncul bayangan Lilly yang tengah memegang gunting sambil tersenyum ke arahnya.


Sontak saja Sarah langsung terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


"Sarah, are you okay?" tanya Latisha, menyadarkan Sarah dari lamunannya.


"Ah, iya. Ada apa Tisha?"


"Bolpoinku habis, boleh aku pinjam punyamu?" tanya Latisha.


"Ambil lah, di tempat pensilku. Aku lelah sekali mau istirahat." Sarah membalikan tubuhnya kemudian ia menarik selimutnya hingga ke dada.


Sedangkan Latisha masih membuka buku IPAnya setelah, ia mengambil bolpoin dari tempat pensil Sarah. Besok adalah hari terakhirnya UNBK, sehingga ia belajar lebih giat agar bisa lulus dengan nilai terbaiknya.



Pagi harinya Latisha dan Sarah di kejutkan dengan banyaknya tumpukan kerdus dan koper-koper yang berbaris rapih di lantai dasar kediamannya.


"Ada apa ini Mom?" tanya Latisha bingung.


"Oh ia, Mommy hampir saja lupa memberi tahu kalian. Minggu depan kita akan tinggal di Pondok Indah, Uncle sudah membeli rumah yang jauh lebih besar dari rumah kita ini, bahkan di sana ada kolam renangnya" ucap Laura dengan gembira. "Kalian jangan lupa kemasi barang-barang kalian ya," pinta Laura.


"Hah? Pindah?" Latisha menggelengkan kepalanya. Ia tak rela meninggalkan rumah yang telah banyak memberikannya kenangan indahnya bersama daddynya.


"Yup, Mommy sudah memasang iklan penjualan rumah ini." Laura tersenyum sumringah sambil menepuk tangannya 'Selamat tinggal Yoseph, aku akan memulai hidup baru bersama Nathan' batinnya.


"Tidak Mom, aku mohon jangan jual rumah ini" rengek Latisha memohon kepada Mommynya. "Aku tidak ingin pindah dari sini," ucap Latisha menahan tangisnya, matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Latisha, Daddymu yang baru sudah membelikan rumah untuk kita, jadi kita semua harus pindah!!!" Laura menatap tajam ke arah Latisha.


"Latisha, kau ini selalu saja membantah perkataan Mommy!!" teriak Laura yang mulai geram dengan putri sulungnya.


"Terserah, tapi aku tidak akan pernah pindah dari sini!!!" ucap Latisha. "Dan satu hal lagi, aku akan tetap memanggil Uncle Nathan karena Daddyku tidak akan pernah tergantiksn oleh siapa pun!!!" Latisha berlari keluar ruamahnya, ia mengambil sepeda miliknya yang terparkir dari garasi.


Sambil menangis ia menggoes ke menuju sekolahnya, sudah beberapa hari ini ia memilih untuk menggunakan sepedanya sebagai alat transportasinya ke sekolah, ia sudah mau lagi di antar oleh mommynya.


Air matanya semakin deras mengalir di wajah cantiknya, ia tak bisa membayangkan jika harus kehilangan rumah peninggalan Daddynya, yang setiap sudutnya menyimpan sejuta kenangan indahnya bersama Daddynya.


Latisha terus menambah kecepatannya, ia mengeluarkan semua energi kemarahan, kekecewaan dan kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Ciiiiiit....


Latisha mengerem dan menurunkan kakinya ketika sepeda yang di kendarai Mike menyalip dan berhenti di hadapannya.


"Mike, hampir saja!!!" erang Latisha. Ia hampir saja terjatuh dari sepedanya.


Mike tersenyum sambil memberikan sebotol air minum untuk Latisha "Are you okay?" tanyanya Mike. "Dari tadi memanggilmu, namun kau sama sekali tak menoleh. Apa kamu sedang ada masalah?"


Latisha menganggukan kepalanya, kemudian ia meminum minuman pemberian Mike.


"Nanti siang aku akan mentraktirmu ice cream favoritmu di taman, sekarang kita fokus pada ujian terakhir kita"


Mike kembali menggoes sepedanya, mereka berjalan beriringan menikmati udara dan cerahnya matahari pagi, sambil sesekali Mike membuat lelucon agar sahabatnya kembali tersenyum.


Sebagai seorang sahabat yang baik, setiap pagi Mike selalu menemani Latisha bersepeda hingga ke sekolah, ia meminta kepada orang tuanya untuk tidak mengantar dan menjemput dirinya.



Siang hari setelah pulang sekolah mike menepati janjinya, mengajak Latisha ke taman yang tak jauh dari komplek kediamannya.


"Es krim rasa cokelat, penghilang rasa galau," ucap Mike sambil memberikan es krim cokelat kepada Latisha.


"Bisa saja kamu, terima kasih ya" Latisha langsung menikmati es krim pemberian Mike.


"Apa ada masalah lagi dengan Lilly?" tanya Mike membuka obrolannya, seingatnya Latisha menangis seperti ini karena Mommynya tak mengzinkannya lagi pentas bersam Lilly.


Latisha menggelengkan kepalanya "Aku dan keluargaku akan pindah ke Pondok Indah, dan Mommy berencana menjual rumah ini" ucap Latisha.


"Lalu?"


"Aku tak rela meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan indah bersama Daddyku, kamu tahu kan betapa aku sangat menyayangi Daddy?"


Mike menganggukan kepalanya, ia mendengarkan setiap keluh kesah yang Latisha bagi kepadanya, meski ia sadar jika dirinya tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu masalah yang tengah di hadapi oleh Latisha.