Haunted Doll'S

Haunted Doll'S
Chapter - 16



Mempersiapkan pernikahannya dengan Laura, nyatanya tak semudah yang Nathan pikirkan banyak kendala yang ia hadapi, mulai dari pihak WO yang tiba-tiba saja mencancell kerja sama mereka, cetakan undangan dan souvenier yang tiba-tiba saja berubah menjadi nama Yoseph, hingga restu dari orang tua keduanya yang tak kunjung mereka dapatkan, terutama dari orang tua Nathan yang terang-terangan menolak Laura untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Why you didn't just seek for another woman?" tanya Caroline, ibunda Nathan dengan nada tinggi, lewat sambungan telepon, ia meradang ketika Nathan meminta restu untuk menikahi Laura.


"Because I love her, mom" jawab Nathan tanpa ragu.


"Cheating and lying don’t just happen," sindir Caroline, ia menduga jika putra sulungnya ada main dengan Laura sebelum Yoseph meninggal dunia.


Bukan tanpa alasan Caroline memiliki dugaan seperti itu, pasalnya belum genap satu tahun kepergian Yoseph, Nathan dan Laura sudah berencana menikah, di tambah dengan kematian putra sulungnya yang terkesan mendadak dan Laura enggan mengusut tuntas penyebab kematian Yoseph membuat Caroline sangat mencuriga terhadap Laura. "I cannot bless yours" Caroline mematikan sambungan teleponnya.


"Mom.. please Mom..."


Nathan mencoba menghubungi Caroline kembali, namun Caroline justru memblokir nomor putra bungsunya.


"Mama belum memberikan restu untuk kita ya?" tanya Laura, yang secara tak sengaja mendengar percakapan Nathan.


"We will marry, with or without consent Mommy" Nathan menggenggam erat tangan Laura, kemudian menciumnya.


Sejak mengumumkan rencana pernikahannya, baik Laura dan Nathan tidak lagi menyembunyikan kemesraan mereka di depan anak-anak, mereka kerap kali berpelukan dan berciuman seperti layaknya dua insan yang tengah di mabuk cinta.


Ya mereka sangat bahagia karena tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi, untuk mengungkapkan rasa cintanya satu sama lain.


Dan setiap kali melihat kemesraan mommy dan unclenya, hati Latisha terasa sangat sakit, dadanya begitu sesak melihat mommynya bermesraan dengan pria lain. Ia masih tak menyangka jika mommynya bisa semudah dan secepat itu berpaling dari daddynya.


"Tisha, kamu sudah pulang?" Laura nampak terkejut dengan kedatangan Latisha, yang pulang dari sekolahnya lebih awal. "Bagaimana nilai try outmu?" tanyanya sambil melepaskan tangan Nathan yang menggenggam erat tangannya.


Latisha tak menjawab pertanyaan Laura, ia hanya memberikan kertas nilai hasil try out terakhirnya dari dalam tas gendongnya, Latisha menepati janjinya jika ia akan mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajarannya dan Latisha berharap dengan nilai-nilai terbaik yang ia berikan kepada mommynya, mommynya akan luluh dan mengijinkan dirinya untuk lampil di TV bersama Lilly setelah ujian nasional selesai.


"Aku permisi ke atas dulu." Latisha berlari menuju kamaranya dan mengunci pintu kamarnya.


Ia mengambil Lilly dari dalam laci meja belajarnya, kemudian memeluknya dengan erat, hanya bersama Lilly hatinya merasa lebih tenang. "Aku hanya punya kamu" bisiknya lirih. Di tengah kesedihannya, samar-samar ia mendengar suara keributan dari lantai bawah rumahnya, suara Sarah terdengar semakin kencang.


"Tunggu sebentar ya, aku mau mengecek ke dawah!" Latisha kembali menaruh Lilly ke dalam leci meja belajarnya, tak lupa ia menguncinya.


Latisha berlari keluar kamarnya, namun langkahnya terhenti di anak tangga ke dua, ia terkejut dengan apa yang di dengarnya.


Rupanya Sarah tengah marah besar dan sangat kecewa terhadap Nathan. Sarah sudah mengetahui, jika selama ini Nathan memberikan teman-temannya uang untuk membeli perhiasan manik-manik buatannya.


Latisha terdiam dengan mulut yang menganga, ia tak menyangka jika unclenya melakukan hal yang sejauh itu demi agar Sarah bahagia.


"Apa uncle tahu, jika di belakangku ternyata teman-temanku justru mencemooh hasil karyaku? mereka mengatakan jika perhiasanku lebih terlihat seperti sampah di banding dengan aksesoris, bahkan mereka tidak sudi untuk mengenakannya??" teriak Sarah dengan lantang.


"Mereka semua membeli perhiasan manik-manikku demi keuntungan yang di tawarkan oleh Uncle." Sarah semakin meninggikan nada bicaranya.


"Uncle jahat, uncle sudah menipuku," Sarah menatap Nathan dengan tatapan tajam, kemudian ia berlari pergi meninggalkan Nathan.


"Sarah... Please listen to my explanation," Nathan berusaha mengejar Sarah namun dengan cepat Laura menahannya. "Biar aku nanti aku yang akan bicara dengannya," ucap Laura, menenangkan hati Nathan, ia tahu persis akan sulit untuk mengajak Sarah bicara di saat emosinya sedang tidak stabil.


"Tapi aku tidak bisa melihat putriku bersedih, dia membenciku Laura."


Latisha membelakalakan matanya, lagi-lagi ia hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya "Putri? Jadi Sarah adalah anak uncle Nathan" ucapnya pelan. Latisha semakin penasaran dengan teka-teki misteri yang di sembunyikan oleh mommy dan unclenya. "Ada hubungan apa Mommy dengan Uncle?" ia mencoba menyambungkan dengan foto kemesraan mommy dan unclenya yang pernah di lihat olehnya.


"Jangan-jangan..." Latisha menggelengkan kepalanya. "Aku harus mencari tahu semua kebenarannya," Latisha beranjak menyusul Sarah ke kamarnya, meski sekarang ia mengetahui jika Sarah bukan adik kandungnya, namun ia akan berusaha untuk menghibur Sarah.



"Sebenarnya, ini bukan tidak bagus. Hanya saja warna dan motifnya kurang cocok," ucap Latisha. Ia mengambil satu gelang manik-manik Sarah dari atas meja belajar sarah, kemudian ia menggunting tali gelang manik-manik tersebut.


"Latisha, apa yang kamu lakukan?" Sarah membukatkan matanya melihat Latisha merusak gelang buatannya.


Latisha tak menghiraukan protes Sarah, ia mebuka kotak- kotak koleksi manik-manik Sarah kemudian ia memilih ornamen yang akan dipakai untuk merangkai gelang itu kembali.


Latisha menyesuaikan warna rantainya dengan kait dan oranamen yang akan ia gunakan. Warna hitam, warna yang di pilih oleh Latisha, kemudian ia mencari rantai dengan warna yang senada.


Sentuhan terakhir untuk memberikan kesan mewah Latisha memberi ornamen gold. "Selesai," Latisha menunjukan gelang buatannya kepada Sarah.



"Wow bagus sekali, Tisha" puji Sarah, ia mengambil gelang tersebut dari tangan Latisha kemudian mengenakannya di tangannya.


"Kau jual lah jual di marketplace, agar handphonemu bisa lebih berguna," ucap Latisha sambil tertawa. "Maksudku agar lebih luas jangkauannya, dan siapa pun bisa membelinya" lanjut Latisha.


Sarah menganggukan kepalanya, ia bergegas mengambil handphonenya kemudian ia mulai mendaftarkan diri di beberapa marketplace.


"Kau buat dulu yang banyak, baru kau posting sekalian," saran Latisha.


"Nanti kau berikan komentar ya jika perhiasanku sudah jadi."


"Hmmmm..."


Latisha beralih ke meja belajarnya, ia membuka-buka buku pelajarannya untuk mempersiapkan diri menjalani ujian nasionalnya.


Di tengah keseriusannya membaca, ia melirik ke arah Sarah yang sedang asik mengorek-ngorek kotak manik-maniknya. 'Apakah ia tahu jika uncle Nathan adalah ayah kandungnya? apa aku perlu berkerja sama untuk menguak misteri ini?" gumamnya dalam hati.