Haunted Doll'S

Haunted Doll'S
Chapter - 22



Setelah terungkapnya kasus pembunuhan Yoseph, Laura di adili di Pengadilan Negeri Jakarta. Dengan di dampingi oleh psikolog, Sarah menjadi salah satu saksi dalam pengadilan tersebut.


Berkali-kali Sarah menangis dalam persidangan itu, sulit bagi Sarah menceritakan kembali kejadian itu. Di satu sisi ia tak ingin mommynya mendekam di penjara, tapi di sisi lain ia juga ingin daddynya mendapatkan keadilan.


"It's okay honey, katakanlah! Mommy baik-baik saja. Mommy tidak akan lagi marah padamu," ucap Laura dari kursi terdakwah.


Melihat wajah putri bungsunya yang begitu tertekan, membuat Laura sadar apa yang telah di lakukannya menimbulkan trauma yang mendalam bagi Sarah. Ingin sekali rasanya ia memeluk putrinya, untuk menenangkan hatinya, namun hakim di pengadilan tersebut tak memperbolehkannya. 'Maafkan Mommy, Nak. Selama ini Mommy hanya mengedepankan ego dan nafsu sesaat, tanpa pernah memikirkan kalian' batinnya.


Ia juga mulai menyadari dan menyesali telah menyia-yiakan suaminya yang begitu baik dan mencintai dirinya. Tapi penyesalan sudah tidak ada guna, Yoseph telah pergi untuk selama-lamanya, dan ia juga telah menggoreskan luka batin di diri anak-anaknya, terutama Sarah yang begitu trauma dan tertekan karena perbuatannya.


Melihat kondisi cucunya yang semakin tertekan karena masalah ini, Caroline berniat membawa Latisha dan Sarah untuk tinggal bersamanya di UK, namun pihak keluarga Laura melarang Caroline membawa kedua cucunya, di tambah Latisha pun masih enggan untuk tinggal bersama Sarah, ia memilih untuk tetap tinggal di Indonesia bersama keluarga mommynya dan mengejar karir serta pendidikannya di Indonesia.



Begitu selesai mengurus perpindahan Sarah dan selesai proses persidangan, Laura di jatuhi pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun 7 (tujuh) bulan. Caroline membawa Sarah untuk tinggal bersamanya di UK. "Call me if something comes up." ucap Caroline, kepada Latisha saat ia hendak ke bandara bersama Sarah.


Latisha hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya, ia hanya sekilas melihat ke arah Sarah kemudian ia masuk ke dalam mobil Cindy, adik kandung Laura yang di percayakan oleh keluarganya yang akan mengasuh dan menjadi wali Latisha, selama Laura di penjara.


Sepanjang perjalanan Latisha memikirkan nasib keluarganya yang dulu terasa sangat hangat dan harmonis, mengapa sekarang berubah seperti ini. Belum hilang duka kepergian daddynya, kini ia harus menerima kenyataan jika mommynya sendiri yang membunuh daddynya.


"Aunty, aku ingin pulang saja ke rumahku." pinta Latisha, rasanya terlalu canggung jika ia harus tinggal bersama Cindy dan keluarganya.


"Loh, kenapa Latisha?" tanya Cindy.


"Aku ingin sendiri dulu Aunty, boleh ya"


"Boleh, sayang. Jika ada apa-apa cepat kabari Aunty, besok pagi Aunty akan ke rumahmu" ucap Cindy, ia pun mengantarkan Latisha ke rumahnya.


Latisha menganggukan kepalanya, ia kembali pada lamunannya sambil melihat ke arah kaca jendelan mobil, hingga Cindy menepikan kendaraannya di depan kediamannya.


"Terima kasih Aunty, aku turun dulu." Latisha membuka sabuk pengamannya, kemudian ia mencium tangan Cindya dan keluar dari mobil.


Setelah turun dari mobil Cindy, Latisha masuk ke dalam rumahnya, langkahnya terhenti sejenak di pintu pagar kediamannya, ia menghembuskan nafas beratnya 'Semangat Latisha' batinnya.


Ia meneruskan kembali langkahnya, namun tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


"Kau sudah pulang Latisha?" tanya Mike. "Ibuku menyuruhku mengantarkan ayam bakar madu ini untukmu," Mike memberikannya kepada Latisha.


"Terima kasih" Latisha menerimanya, kemudian ia membuka pintu rumahnya dan menyuruh Mike masuk.


"Hei Tisha, bukankah besok syuting perdanamu?" tanya Mike kembali, ia mengikuti Latisha masuk ke dalam kediamannya. "Apa kamu tak ingin berlatih? aku tidak keberatan untuk menjadi penontonmu" ucap Mike.


"Baiklah kalau begitu akan membayarnya, tapi nanti jika aku sudah bekerja."


Latisha tersenyum mendengar ucapan Mike.


Mike merasa lega, melihat Latisha tersenyum kembali setelah sekian lama ia tak melihat Latisha tersenyum "Tersenyumlah dulu, sebelum kau membuat orang lain tersenyum" Mike duduk di sofa ruang keluarga di temani Milo yang juga ingin menyaksikan Latisha berlatih.



Sukses pada penampilan pertama dan keduanya, Latisha kembali memperpanjang kontrak kerja samanya, tentu saja di bawah pengawasan Cindy selaku wali dari Latisha. Cindy mendukung penuh semua kegiatan positif yang di lakukan oleh keponakannya.


Hari-harinya di isi dengan kegiatan sekolahnya yang kini sudah memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas dan syuting untuk dua program acara yang ia bawakan.


Di sela-sela kesibukannya, Latisha masih menyempatkan diri untuk mengunjungi Laura di lapas, ia selalu menceritakan semua kegiatan yang tengah di jalaninya dan tak lupa Latisha memberikan dukungan kepada mommynya agar semangat menjalani hari-harinya di lapas.


"Maafkan, mommy yang tak bisa mendampingimu" ucap Laura menundukan kepalanya.


"Mom, aku tidak ingin Mommy terus menerus terlarut dalam penyesalan. Aku ingin Mommy bisa bangkit dan menjadi Mommy yang lebih baik lagi," ucap Latisha sambil menghapus air mata yang menetes di pipi Laura.


Latisha mengambil sebuah Alkitab dan buku kosong dari dalam tasnya, "Mommy bisa membaca Alkitab ini agar lebih dekat dengan Tuhan, atau Mommy bisa menulis lagi, aku rindu dengan tulisan-tulisan Mommy. Nanti aku akan bawakan tulisan-tulisan Mommy ini pada program acaraku," ucap Latisha.


Laura menganggukan kepalanya, "Terima kasih ya Nak" Laura memeluk Latisha dengan erat, ia merasa sangat bersyukur memiliki anak seperti Latisha. Awalnya ia mengira jika Latisha akan meninggalkan dan menghakimi dirinya, namun ternyata Latisha justru selalu mensuportnya.


"Tisha, bagaimana dengan Sarah? Apa kamu dan dia..."


"Kabar Sarah baik-baik saja Mom, kemarin sebelum syuting ia sempat menghubungiku dan bercerita jika ia sudah mulai masuk sekolah." ucap Latisha.


Laura tak memaksakan Latisha untuk kembali dekat dengan Sarah, namun ia yakin jika suatu hari ke duanya akan kembali seperti dulu.


"Jika nanti Sarah menghubungimu kembali, sampaikan salam Mommy padanya" pinta Laura.


"Baik Mom."


Mereka berbincang hingga waktu kunjungan habis, "Kamu ke sini sama siapa?" tanya Laura.


"Sama Mike, ia menunggu di depan," jawab Latisha.


"Ya sudah kamu hati-hati ya, sampaikan salam Mommy padanya"


Latisha menganggukan kepalanya, kemudian ia keluar dari ruang kunjungan lapas. Selain rutin mengunjungi mommynya, ia juga rutin mengujungi makam daddynya untuk mendoakan agar daddynya tenang dan di tempatkan di tempat yang terindah.