
Dua Tahun Kemudian.
"Falicia, tolong kosongkan jadwalku untuk satu minggu kedepan," pinta Latisha kepada manajernya.
Falicia merupakan kakak tingkat Latisha sewaktu mereka SMA, keduanya terbilang cukup dekat setelah mereka sama-sama mengerjakan Indonesian Science Project Olympians (ISPO) Tingkat Nasional.
Namun kini Falicia sudah melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi, semester tiga. Falicia membantu Latisha menyusun jadwal syuting dan lebih jauh dari itu, Falicia pun membantu Latisha bernegosiasi, branding agar nama Latisha tetap bertahan dan sukses di dunia hiburan, serta membantu Latisha mengelola keuangannya.
"Kamu mau liburan ke mana Tisha? biar nanti aku carikan travel untukmu" tanya Falicia, ia sudah hafal benar jika saat musim liburan sekolah biasanya Latisha akan pergi berlibur bersama Mike dan teman-teman lainnya.
"Tidak usah Falicia, aku hanya ingin ke UK. Tolong pesankan saja tiket untukku," pinta Latisha.
"Okay, nanti aku siapkan semuanya"
"Terima kasih ya" Latisha kembali on stage, memandu program acaranya.
Latisha melangkahkan kakinya di tanah kelahiran daddynya, di Britania Raya. Sejak kepergian daddynya, Latisha belum pernah lagi menginjakan kakinya di Britania Raya, padahal sebelum kepergian Yoseph, ia dan keluarganya selalu menghabiskan waktu liburan sekolah mereka di Eropa.
Latisha menaiki taxi untuk sampai di Cottesmore Gardens, tempat tinggal Grandmanya.
Mendekatin kediaman Grandmanya, dari kejauhan Latisha melihat sebuah mobil berhenti di depan kediaman Grandmanya, lalu seorang gadis dengan tampilan feminin dan elegan keluar dari mobil tersebut.
"Sarah?"
Latisha terkejut melihat penampilan Sarah yang kini terlihat jauh lebih cantik dan modis dari sebelumnya, Latisha meminta sang supir taxi untuk menepikan mobilnya di depan rumah Grandmanya.
Ia keluar dari taxinya dan mengeluarkan sebuah koper kecil yang ia bawa. "Sarah..." panggil Latisha.
Seketika Sarah menoleh ke arah Latisha, "Latisha.." Sarah berhambur ke pelukan Latisha, ia sangat merindukan Latisha sampai-sampai tak terasa ia menitikan air matanya. "I really miss you," ucap Sarah.
Mengetahui adiknya menangis, mulutnya terasa gatal bila tak meledeknya "Kau ini masih saja seperti bayi," ledeknya.
"Tisha, kau ini dari dulu memang sangat menyebalkan" Sarah melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Ya sudah masuk yuk!" ajak Sarah.
Latisha mengangguk, ia menarik kopernya mengikuti Sarah dari belakang. "Kok sepi, Grandma mana?" tanya Latisha.
"Lagi charity bersama teman-temannya, tuh tadi baru saja supirnya mau menjemput Grandma," ucap Sarah sambil menunjuk mobil yang tadi mengantarnya pulang.
Sarah mengantarkan Latisha ke kamar yang biasa di tempatinya saat berkunjung di rumah neneknya. "Tisha, apa kamu masih marah padaku?" tanya Sarah sambil menundukan kepalanya, ia sangat memaklumi jika Latisha marah padanya karena ia tak mencegah daddynya pergi menggunakan mobil yang telah di sabotase oleh mommynya, dan Sarah juga memaklumi perubahan sikap Latisha karena ia bukan saudara kandungnya.
"Ya tentu saja aku akan terus marah padamu, jika kamu tak mau ikut pulang denganku ke Jakarta," ucap Latisha.
"Maksudmu?"
"Aku mau kita berkumpul lagi seperti dulu," Latisha menatap Sarah "Kau satu-satunya saudari yang ku punya, dan aku tak ingin kita terpisah lagi."
"Tapi aku sudah membiarkan Daddy mengendarai mobil itu, dan aku hanya lah anak hasil perselingkuhan Mommy, bukan adik kandungmu" Sarah tak berani menatap Latisha.
Latisha meraih tangan Sarah, kemudian menggenggamnya erat. "Itu semua bukan salahmu, jika aku di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama." Latisha memeluk Sarah dengan erat. "Dari Daddy yang sama atau tidak, bagiku kau tetap saudariku," ucap Latisha. " Maaf ya, kemarin saat kau tertekan karena masalah ini aku sama sekali tak memberikan suport padamu, karena saat itu aku pun sangat syok" lanjutnya.
"Tidak apa-apa Tisha, aku mengerti," ucap Sarah.
"Jadi kamu mau kan kembali ke Jakarta bersamaku?" tanya Latisha kembali.
Sarah tersenyum menganggukan kepalanya "Iya aku mau," ucap Sarah.
Latisha memegang kalung yang di kenakan Sarah, "Apakah ini koleksi sampahmu itu?" tanya Latisha. "Mengapa sekarang karyamu begitu indah?"
Sarah menarik tangan Latisha, menuju kamarnya. Ia memperlihatkan koleksi yang selama dua tahun ini ia buat "Aku membuatkan banyak untukmu, setiap kali aku menonton acaramu di youtube, aku selalu berharap suatu saat nanti kau akan memakainya," ucap Sarah.
Latisha memandangi Sarah dari atas ke bawah, kemudian mengulanginya lagi dari bawah ke atas "Mulai sekarang kau akan jadi fashion stylistku," ucap Latisha.
"Haha..." Sarah tertawa terbahak-bahak "Akhirnya kau mengakui seleraku memang yang terbaik."
Jakarta.
Sarah kembali menapak di tanah kelahirannya tercinta, ia sudah tidak sabar dengan sekolah barunya, pekerjaan barunya menjadi fashion stylist, dan juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mommynya.
"Besok aku ada syuting talk show, jangan lupa siapkan pakaian yang akan aku kenakan. Kau bisa tanyakan jadwal syutingku pada Falicia, untuk mempermudah pekerjaanmu" ucap Latisha.
"Siap"
Keesokan harinya Sarah memulai pekerjaan barunya, Latisha nampak puas dengan pekerjaan Sarah. Sarah membuat penampilan Latisha lebih terlihat trendy dan fresh, di tambah dengan sentuhan aksesoris buatannya yang mempercantik penampilan Latisha.
"Kau tunggu di sini sebentar ya, aku syuting dulu." Latisha berjalan menuju stage meninggalkan Sarah di ruang ganti yang tengah asik mencari referensi pakaian yang akan di gunakan Latisha pada acara berikutnya.
"Bagus juga" ucap Latisha sambil tersenyum, lalu mendadak dia menusuk gelembung itu sampai pecah.
"HEI!" Sarah memekik ketika gelembung permen karet biru muda itu meletus di kedua pipi dan dagunya.
Latisha tertawa. "Hahaha... lagian serius banget sih kamu"
Sambil cemberut Sarah berusaha menarik permen karet biru muda di wajahnya. "Aku sedang mencari gaun untukmu menghadiri acara award minggu depan" ucapnya dengan kesal sambil terus menarik permen karet di dagunya yang sedari tadi tidak mau lepas.
"Sudah yuk, katanya mau ke lapas." ajak Latisha.
Sarah mengikuti Latisha keluar dari studio tempatnya syuting sambil menarik permen karet yang menempel di wajahnya, bahkan hingga sampai di lapas wajah Sarah belum bersih total.
"Kamu masih suka ngisengin adikmu?" tanya Laura.
"Cuma bercanda Mom," Latisha beralih ke Sarah. "Iya kan Sarah?" tanyanya.
"Ah sudah biasa dari dulu Tisha selalu jahil" gerutunya.
"Sini Mommy bantu membersihkannya" Laura meminta Sarah untuk duduk di sampingnya.
Sambil membersihkan permen karet yang menempel di pipi Sarah, ketiganya mengobrol dengan hangat, Laura melepas rindunya bersama kedua buah hatinya terutama dengan Sarah yang sudah dua tahun tak bertemu.
Laura sangat bersyukur melihat senyum terlukis kembali di wajah kedua anak-anaknya, dan ia pun bersyukur karena baik Latisha dan Sarah mau memaafkan dan menerimanya kembali secara utuh. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan menjadi ibu yang terbaik untuk kedua putrinya.
Sebelum Latisha dan Sarah pergi meninggalkan lapas, Laura memeluk keduanya dengan hangat. "Mommy sayang kalian," ucapnya.
"Kami juga sayang Mommy," ucap Latisha dan Sarah secara bersamaan sambil mencium pipi Laura, Sarah mencium pipi kanan Laura dan Latisha mencium pipi kiri Laura.
Lilly yang sedari tadi berada di atas meja pun ikut tersenyum melihat keakraban ketiganya.
The End
Dear Readers
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga novel horror perdanaku. Terima kasih banyak atas supportnya. Like👍, Komen💬, Gift 🎁, dan Rate dari teman-teman semua, karena hal tersebut merupakan semangat untuk aku terus menulis.
Mohon maaf bila dalam novel ini masih banyak terdapat banyak kekurangan, karena aku sendiri masih sangat amatiran dalam menulis cerita horror. Semoga novel ini bisa menghibur dan menerikan pembelajaran untuk kita semua.
Aku tunggu reviewnya ya😊
Sekali lagi terima kasih
Love you all ❤
Irma