
"Latisha, cepatlah!! Kita sudah siang..." teriak Sarah dari bawah anak tangga yang menuju kamarnya "Latisha...." teriaknya kembali.
"Sudahlah Sarah nanti juga kakakmu turun, ayo sini kamu makan saja duluan" ucap Laura kepada putri bungsunya.
"Iya Mom," Sarah berjalan ke arah ruang makan kemudian menarik kursi dan sarapan bersama mommy dan unclenya.
"Kau aman di sini, tunggu aku pulang ya mmmuah.." Latisha mengecup Lilly, kemudian menaruhnya di laci bawah meja belajarnya, tak lupa ia menguncinya agar Sarah dan Mommynya tak mengetahui ke keberadaan Lilly, ia tak ingin Mommynya kembali menyita atau membuang Lilly.
Latisha berlari turun ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya "Iya sebentar, cerewet sekali sih kamu," ucap Latisha, sambil menarik kursi. Ia menoleh ka arah Nathan "Thank you ya uncle," Latisha tersenyum sumringah kepada Nathan.
Dengan wajah bingungnya Nathan pun ikut tersenyum meski ia tidak tahu ucapan terima kasih apa yang Latisha maksud, namun ia sedikit lega melihat wajah ceria Latisha 'Setidaknya sudah tidak ada lagi keributan di rumah ini' batinnya.
"Mom, mulai hari ini aku ada les tambahan untuk persiapan ujian nasionalku, jadi aku pulang sore," ucap Latisha, ia mengoleskan selai coklat di atas roti tawarnya. "Nanti aku akan pulang bersama Mike," lanjutnya.
"Okay, semangat ya belajarnya. Beri nilai terbaikmu di ujian nasional tahun ini," ucap Laura, ia menuangkan susu ke dalam gelas Latisha. "Hari ini kalian berangkat sama uncle ya, Mommy berangkat agak siang."
Latisha dan Sarah kompak menganggukan kepalanya, "Okay, tapi ke mini market dulu ya uncle, permen karetku habis," pinta Sarah.
"Tadi kau bilang kita sudah siang dan hampir terlambat," gerutu Latisha, menghabiskan sarapannya.
"Kenapa sih kalian ini pagi-pagi sudah ribut?" ucap Laura sambil menghela napas beratnya.
"Girls!! I think it's time for us to go!" Nathan melihat jam di di tangan kirinya, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya mengajak Latisha dan Sarah berangkat bersamanya. "Aku pergi dulu ya," ucap Nathan sebelum ia meninggalkan Laura di ruang makan.
"Mom, berangkat dulu ya," Sarah dan Latisha bergantian mencium tangan dan pipi Laura kemudian mereka berjalan mengikuti Nathan dari belakang menuju garasi.
"Bye.." Laura melambaikan tangannya sambil memastikan ke dua anak-anaknya pergi, kemudian ia bergegas menghampiri Lilly di gudang belakang kediamannya.
'Aku harus membuang boneka sialan itu' gumam Laura, membuka kunci gembok pintu gudangnya, dengan sekuat tenaganya ia membuka pintu gudang tua tersebut.
"Huh"
Laura berhasil membukanya dan mencari keberadaan Lilly di tengah udara pengap gudang yang tak memiliki fentilasi udara. "Dimana boneka sialan itu?" seingatnya ia menaruh Lilly diatas tumpukan kardus yang berisi barang-barang Yoseph.
Buk...
Secara tak sengaja Laura menyenggol salah satu dus kecil yang terletak di atas tumpukan dus-dus besar, dus itu terjatuh hingga beberapa isinya keluar berantakan. Laura berjongkok mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru yang ikut terjatuh, perlahan ia membukanya
Ada secarik kertas bertiliskan "Happy wedding anniversary my beautiful wife" dan sebuah kalung berlian Cuban Chain Lariat with Pave Diamond Clasps and Emerald Cut Diamond Mendallion, dengan kisaran harga mencapai Rp130juta.
Laura memandangi kalung berlian tersebut, nampak tidak asing dalam ingatannya, ia mengerutkan keningnya teringat saat ia pernah meminta kalung tersebut pada Yoseph, namun saat itu Yoseph hanya tersenyum tak mengatakan apa pun.
"Tidak" Laura buru-buru menutup kotak beludru di tangannya dan merapihkan semua barang-barang yang terjatuh ke tempat semula.
Saat menutup kardus yang terjatuh tadi, mata Laura tertuju pada lemari tua yang terdapat di sudut gudang. Lilly duduk di atas lemari tersebut sambil tersenyum lebar dan mengedipkan matanya.
"Tidak... tidak mungkin.."
Laura menggelengkan kepalanya, keringat dingin mulai bercucuran keluar dari tubuhnya dan jantungnya berdegup dengan kencang ketika Lilly memanggil namanya "L-A-U-R-A"
Dengan panik Laura mudur dan berlari keluar dari gudang, ia terus berlari hingga keluar dari pekarangan kediamannya.
Tiiiiiiin.......
Sebuah mobil tua milik tetangganya hampir saja menabrak Laura, Laura berteriak histeris sambil memegang telinganya.
Pemilik mobil tersebut langsung turun dan menghampiri Laura "Ny. Laura apa kamu baik-baik saja?" tanya Aaron, pria paruh baya yang tinggal di sebelah rumah Laura.
Laura semakin berteriak melihat mobil Mercedes Benz 280SE milik Aaron yang mirip sekali dengan mobil milik Yoseph yang di gunakaannya saat kecelakaan yang menimpanya.
"Pergi.....!" teriak Laura.
"Aku sudah membeli rumah di kawasan pondok indah, bulan depan setelah Latisha menyelesaikan ujian nasionalnya, kita semua akan pindah ke sana dan aku akan menikahimu," ucap Nathan, sambil memberikan segelas teh hangat kepada Laura yang masih terlihat pucat dan syok.
"Menikah???"
"Ya, lupakan uang asuransi Yoseph. Aku masih sangat mampu untuk menafkahimu dan anak-anak, kita buka lembaran baru kita di sana." Nathan mentapa mata Laura, ia sudah sangat jengah dengan situasi yang tidak kondusif yang belakangan terjadi pada Sarah dan Laura, menurutnya ini benar-benar tidak masuk akal.
"Nanti malam aku akan bicara dengan anak-anak, kemudian aku akan ke Depok mengunjungi keluargamu, meminta restu kepada kedua orang tuamu."
Nathan merangkum wajah Laura "Love me truly and completely all the time," pintanya dengan serius.
Laura menganggukan kepala ia memeluk Nathan dengan erat "Aku sangat mencintaimu Nathan" bisiknya dalam dekapan hangat Nathan.
Nathan melihat pergelangan tangannya, jam sudah menunjukan pukul 11.30. "Are you still in or not?" tanya Nathan.
"Tidak, aku lelah sekali hari ini"
"I shall accompany you," Nathan membiarkan Laura terus berada dalam pelukannya, sementara dirinya melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena salah seorang tetangganya mengabarinya jika Laura terus berteriak histeris di rumah sehingga terpaksa ia kembali pulang.