
Drrrt... Drrrt..
Satu panggilan masuk dari Nathan ke handphone Laura, saat Laura hendak bersiap pulang dari kantornya.
"Yess love," jawab Laura.
"Sayang, maaf malam ini aku tidak bisa ikut meeting dengan WO dan fitting pakaian pernikahan kita. Mendadak kantor cabang yang berada di wilayah Jawa Barat mengalami masalah yang cukup serius dan aku harus segera kesana hari ini juga untuk menyelesaikannya," ucap Nathan dari seberang telepon.
Laura menghembuskan nafas beratnya. "Ya sudahlah, nanti aku fitting sama anak-anak saja," jawab Laura dengan nada agak sedikit kecewa, karena Nathan masih belum juga mengajukan cuti padahal hari pernikahan mereka sudah tinggal menghitung hari.
"Terima kasih ya, aku janji setelah semuanya selesai aku pasti akan menyusul," janji Nathan.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Kabari aku jika kamu sudah sampai." Laura mematikan handphonenya.
Untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan dan menghemat energi, Laura menghubungi anak-anaknya, meminta mereka untuk datang ke butik tempat ia biasa memesan gaun pesta.
Pertama ia menghubungi Latisha.
'Kemana sih ini anak?' gumamnya. Sudah dua kali ia menghubungi Latisha namun Latisha tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
Rupanya saat itu Latisha tengah asik menunjukkan hasil latihannya bermain wayang di depan Mike, di taman yang tak jauh dari kediaman mereka, sementara handphone Latisha berada di dalam tas dengan kondisi mode silent.
"Ah ya sudahlah," gerutu Laura, ia kemudian menghubungi putri bungsunya.
Di deringan ke tiga Sarah mengangkat teleponnya. "Sar, apa kakakmu sudah pulang?" tanya Laura.
Sarah meloudspeaker handphonenya karena ia tengah sibuk mempacking perhiasan buatannya untuk ia kirim ke beberapa kota di pulau Jawa dan Sumatera. "Sepertinya belum Mom, mungkin ia sedang di taman atau ke toko buku bersama Mike. Ada apa Mom?" tanya Sarah.
"Apa malam ini kalian bisa datang ke butik?"
"Aku sedang sibuk Mom, bukankah kita berdua sudah sepakat untuk memakai gaun apa pun yang Mommy pilihkan untuk kita berdua?"
Sebenarnya ia bisa saja meluangkan waktunya untuk datang ke butik, namun rasanya ia sangat malas dengan pernikahan mommy dan unclenya.
"Ini fitting Sarah, Mommy tidak mau dengar alasan kalian lagi. Pokoknya jam 19.00 malam kalian sudah harus berada di butik." paksa Laura, kemudian ia mematikan teleponnya tak ingin mendengar penolakan dari putri bungsunya.
Sarah hanya bisa menghela nafas beratnya, ia kembali menyelesaikan pekerjaannya setelah itu ia membawa semua pesanan perhiasannya ke tempat jasa pengiriman terdekat.
Saat menuruni anak tangga kediamannya ia berpapasan dengan Latisha, ia menyampaikan kepada Latisha jika malam ini Mommynya menyuruhnya datang ke butik untuk fitting gaun yang akan mereka kenakan di pesta pernikahan mommynya.
"Ya sudah," jawab Latisha singkat, meski ia tak tertarik namun ia tak punya pilihan lain selain tetap menuruti permintaan mommynya.
"Oh ia satu hal lagi, tadi pagi aku dan Uncle Nathan berhasil membujuk Mommy untuk tidak menjual rumah ini. Walaupun kita tetap pindah, tapi setidaknya jika kita merindukan Daddy, kita bisa kapan pun datang kemari," ucap Sarah.
Latisha mengangguk lega, "Terima kasih banyak ya"
Suasana sepi dan sunyi menyelimuti kediamannya, Latisha berkeliling rumahnya melihat sebagian barang-barang di rumahnya mulai kosong karena mommy dan uclenya sudah memindahkan ke rumah baru mereka.
Latisha memutar kembali memory kebersamaannya bersama Daddynya di setiap sudut ruangan. Bayangan-bayangan kebahagiaan ketika mereka bercanda dan tertawa bersama Yoseph seakan nyata. 'Aku sangat merindukanmu' batinnya, Latisha kembali menitikan air matanya, ingin sekali rasanya ia kembali ke masa itu.
Kreeek...
Suara pintu kamar Laura yang terbuka dengan sendirinya, membuyarkan lamunan Latisha. Ia berbalik ke arah kamar mommynya, dengan perlahan ia memberanikan diri untuk menyelinap masuk ke dalam kamar mommynya.
Rasa penasaran akan hubungan mommynya dengan unclenya kian membuncah, banyak tanda tanya dalam pikirannya tentang bagaimana bisa Sarah, adik yang hanya beda satu tahun darinya merupakan anak kandung unclenya.
Brugg...
Latisha di kejutkan dengan jatuhnya sebuah kotak yang tak sengaja tersenggol oleh lengannya, dokumen-dokumen yang berada dalam kotak tersebut berserakan di lantai.
Latisha berjongkok merapihkannya, ia membulatkan matanya dan mulutnya terbuka lebar ketika melihat isi dari dokumen-dokumen tersebut yang merupakan surat pengajuan gugatan perceraian Yoseph kepada Laura berserta bukti-bukti perselingkuhan antara Laura dengan Nathan.
Tangan Latisha gemetar melihat dokumen berisi hasil tes DNA yang meyatakan jika Nathan merupakan ayah biologis Sarah. Bukan hanya itu, Latisha juga menemukan banyaknya foto-foto kebersamaan, serta printout yang berisi percakapan chat antara Nathan dan Laura.
Ia tak menyangka jika mommynya tega menghianati Daddynya yang selama ini begitu mencintai dan selalu membaganggakan mommynya.
Dada Latisha terasa sangat sesak, hatinya begitu hancur membaca satu persatu chat percakapan mommynya dengan Nathan. Bahkan yang lebih mengerikan hingga bulu kuduk Latisha berdiri, ada percakapan Nathan yang meminta Laura untuk menyingkirkan Yoseph agar mereka bisa bersatu.
"Tidak, ini tidak mungkin" Latisha menggelengkan kepalanya, ia menyeka air matanya kemudian merapihkan seluruh dokumen tersebut dan membawanya keluar dari kamar mommynya.
Ia sudah tidak sabar lagi meminta penjelasan dari mommynya, Latisha berniat menghampiri Laura di butik dan menghentikan rencana pernikahannya dengan Nathan, ia tidak sudi memiliki ayah sambung sejahat Nathan.
Dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya, ia bergegas keluar dari rumahnya, namun saat ia hendak keluar dari pintu depan rumahnya, secara tak sengaja Latisha menabrak Sarah yang baru saja kembali dari jasa pengiriman.
Dokmen yang ia bawa terjatuh dari genggamannya, dan berserakan di mana-mana.
Sarah hanya terdiam melihat lembaran foto-foto kemesraan mommynya dengan unclenya berserakan di lantai, ia berjongkok mengambil sebuah lembaran berisi hasil tes DNA yang jatuh tepat di hadapannya.
Sarah menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka jika Nathan merupakan ayah kandungnya.
"Maaf Sarah, meski uncle Nathan merupakan ayah kandungmu, aku tidak sudi dia menjadi ayah sambungku," ucap Latisha dengan tegas sambil menatap Sarah.
Sarah yang masih syok hanya bisa terdiam, ia sendiri bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Aku ingin menggagalkan rencana pernikahan mommy dengan uncle Nathan," Latisha memungut kembali dokumen-dokumen yang berserakan di lantai dan memasukannya ke dalam kotak.
"Aku harus pergi!" ucap Latisha, melangkahkan kakinya keluar dari kediamannya, namun dengan cepat Sarah menahannya, ia memegang tangan Latisha dengan erat "Tunggu dulu!!" ucap Sarah "Aku punya sebuah rahasia yang selama ini aku simpan dan sangat mengganggu pikiranku. Aku rasa sekarang sudah waktunya aku menceritakannya padamu." ucap Sarah.