Girl & Boy Mafia

Girl & Boy Mafia
Eps 8



Ana yg melihat ekspresi kesedihan di mata Anis menjadi iba. Ia memeluk Anis dan memberikan sedikit ketenangan, ia mengelus lembut punggung Anis hingga merasa sedikit baikkan.


" Apa aku tidak merepotkan mu Nis? Aku rasa cukup kebaikan mu tadi sudah menolong ku dan meluangkan waktumu utk mau mendengarkan keluh kesahku. " ucap Ana.


" Jangan bicara seperti itu, aku merasa senang kau menemani ku. Aku jadi punya saudari lagi. " ucap Anis senang.


" Hmm.. terima kasih telah menolong ku dan maaf tadi aku sempat memarahi mu. " ucap Ana menggenggam tangan Anis.


" Tidak apa aku juga minta maaf karena telah membentak mu tadi. " ucap Anis tersenyum.


" Tidak masalah, ahh ya berapa usia mu Nis? " tanya Ana menatap Anis.


" Aku baru berusia 18 tahun 1 bulan yg lalu. " jawab Anis.


" Wahh kukira kita seumuran ternyata tidak." ucap Ana.


" Lalu berapa usia mu? " tanya Anis.


" Hmm usia ku sudah 20 tahun hahaha... " ucap Ana sambil tertawa.


" Wahh berarti aku harus memanggil mu kakak mulai sekarang. " jelas Anis.


" Tidak usah Nis, senyaman kau saja bagaimana memanggil ku. " ucap Ana mengelus rambut Anis.


" Baiklah kak. " ucap Anis tersenyum.


Ana yg dipanggil kakak oleh Anis membuatnya terharu, Ana langsung memeluk Anis dan tanpa sadar mencium kilas kening Anis.


Anis yang dilakukan lembut seperti itu merasa nyaman. Ia memilih tidur di bahu Ana yg sekarang sudah menjadi kakak nya.


Selama perjalanan menuju mansion Anis selalu menempel dengan Ana, tak terasa 2 jam perjalanan telah dilalui kini mereka sudah sampai di mansion yg megah.


Anis menarik tangan Ana masuk ke mansion, ia tak sabar ingin memperkenalkan Ana pada uncle Gio, Bisma serta Diah yg telah sampai duluan di mansion. Anis melihat mereka ( Gio, Bisma, Diah) istirahat di ruang tamu segera menuju kesana tak lupa menarik tangan Ana. Mereka mengernyit heran dengan sosok wanita yg Anis bawa, semua menatap Anis utk meminta penjelasan siapa wanita yg ia bawa. Ana yg dipandang seperti itu menunduk karena malu, Anis yg melihat itu mengajak Ana duduk di sofa sebelahnya.


" Ekhemm kenalkan ini Ana, aku tadi melihatnya di... " ucap Anis menggantung dan menatap Ana tak enak.


Ana seolah mengerti dengan tatapan Anis yg tidak enak mengatakan bahwa Anis tadi melihatnya hendak terjun ke sungai. Ana menarik nafas dalam mentetralkan kegugupannya, ia mulai menjelaskan identitas nya dan kejadian yg keluarganya alami serta kejadian dimana ia hendak terjun ke sungai utk mengakhiri hidupnya.


Gio, Bisma serta Diah yg mendengar penjelasan Ana merasa kasihan. Ia tak menyangka masih ada orang yg bersikap kasar seperti keluarga bibi Ana. Diah yg melihat Ana menangis berdiri menghampiri Ana dan memeluknya memberikan Ana ketenangan dan menumpahkan segala kesedihan yg ia alami selama ini.


" Hikss... hikss maafkan Ana, Ana janji akan bekerja disini menjadi apapun utk membalas kebaikan kalian. " ucap Ana menangis.


" Heyy kau tidak perlu seperti itu anggaplah kami keluarga mu sekarang. " ucap Diah.


" Hmm kak Diah benar, kita sekarang keluarga, jangan pernah merasa bahwa kau sendirian lagi. " ucap Anis memeluk Ana.


" Terima kasih. " jawab Ana terisak.


" Ana kemarilah!! " ucap Gio.


Ana berdiri dan duduk di sebelah Gio, entah kenapa Ana menjadi gugup dan takut melihat ekspresi Gio yg garang. Ana menundukkan kepalanya tanpa menatap Gio. Gio terkekeh melihat Ana yg ketakutan dan gemetar.


" Ana kau sekarang akan menjadi keluarga kami jadi tidak usah sungkan dan malu serta jangan takut dengan uncle. " ucap Gio mengelus rambut Ana.


" Terima kasih tuan telah menerima saya disini. " ucap Ana berkaca - kaca.


" Baik uncle. " jawab Ana memeluk Gio.


" Jadi Ana kau telah menjadi bagian dari keluarga kami, kau tau kan keluarga mu sekarang bukan orang sembarangan?? " tanya Gio.


" Iya uncle aku tau, Anis sudah menjelaskan semuanya di mobil tadi. " ucap Ana.


" Jadi apa kau takut emm? " tanya Gio lembut.


" Tidak uncle, mafia belum tentu jahat di dunia ini. Hanya orang bodoh yg menyalah gunakan kekuasaan yg membuat beberapa dari kita tidak percaya akan mafia. Bahkan aku ingin bergabung di mafia uncle utk menjaga diriku dari orang jahat. " jelas Ana.


" Baiklah jika begitu kau harua belajar ilmu bela diri dulu, besok kau akan dilatih oleh anak uncle. " Jelas Gio menatap Bisma.


" Hayy aku Bisma mulai sekarang kau akan menjadi adik ku juga, kuharap kau tidak seperti adik ku yg satunya ia sering sekali marah seperti singa. " ucap Bisma sambil berbisik.


" Apa dia Anis kak? " tanya Ana berbisik pada Bisma.


" Yahh kau benar, kau baru saja bergabung tapi sudah tau sifat adik mu itu. " jelas Bisma masih berbisik.


" Apa yg kalian bisikkan? " tanya Anis.


" Tidak ada. " jawab Ana dan Bisma serempak.


" Uncle harap kalian bisa kompak terus dan saling melindungi, jangan pernah menyakiti atau saling memusuhi karna kita keluarga. " jelas Gio.


" Tentu uncle / dad. " jawab Bisma, Diah, Anis dan Ana.


" Baiklah lebih baik kalian istirahat pasti kalian kelelahan. " ucap Gio.


" Ayo kak akan kutunjukkan kamar mu. " ucap Anis menarik tangan Ana.


Anis dan Ana berdiri berlalu ke kamar disusul dengan Bisma dan Diah sedangkan Gio masih duduk dan berbincang dengan temannya di anggota Black Devil membahas tentang Anis yg akan memimpin pasukan mafia ayahnya.


Disisi lain seorang pria tampan dengan postur tubuh yg tinggi dan ekspresi wajahnya yg datar nan dingin sedang berkutit dengan setumpuk kertas di meja kebesarannya.


" Tuan bagaimana pengajuan kerja sama dengan FEL'S Company ? Apa kita akan membatalkannya? " tanya Layri.


" Haiss Lay sudah ku bilang jangan memanggil ku seperti itu jika kita sedang berdua. " ucap Livian.


" Hahaha baiklah² aku sangat menggoda mu, melihat wajah kesal mu itu. " ucap Liyran sambil tertawa.


" Sudahlah kita bahas yg tadi saja tentang perusahaan FEL'S Company ku dengar tuan Felix sudah tiada lalu siapa yg menjalankan perusahaan nya? " tanya Livian.


" Emm mungkin tuan Gio yg menghandle nya utk sementara. " ucap Liyran.


" Tapi kudengar Tuan Felix masih memiliki putri yg ia sembunyikan sejak dulu dan sekarang gadis itu sedang diincar oleh mafia Blue Dragon. " jelas Livian.


" Yaahh kudengar begitu gadis itu menjadi misteri karena tidak pernah muncul disini bahkan lokasi persembunyiannya saja tidak diketahui oleh siapapun. " jelas Liyran.


" Tapi mengapa Blue Dragon mengincar putri dari tuan Felix ? Apa kematian keluarga Felix ada kaitannya dengan Blue Dragon. " pikir Livian.


" Hmm mungkin....


Bersambung...