
Bbrraakkk....
Seseorang menggebrak meja Anis, Ana dan Audrey terlonjak kaget saat melihat seorang wanita menggebrak meja Anis.
Anis hanya diam dan masih memejamkan matanya membuat gadis yg menggebrak meja itu marah dan kesal.
" Ehh lo gausah keganjenan ya jadi cewek, lo itu anak baru gausah songong. " bentak gadis itu.
Anis, Ana dan Audrey hanya diam tak merespon ucapan para gadis yg tak jelas itu.
" Ehh lo tuli ya gak denger apa temen gue ngomong. " bentak temannya.
" Ahh yaa palingan orang tuanya gak ngajarin sopan santun ke anaknya. " ucap gadis yg menggebrak meja tadi.
" Punya mulut itu dijaga dikit!! Gak usah urusin atau gangguin hidup orang. Tenang aja kita bertiga gak nyaingin kalian, karena memang lebih cantikkan kami. " ucap Audrey santai tanpa menoleh ke para gadis tersebut.
" Hahahaha kalian semua gak pernah ngaca ? muka burik kek kalian jadi saingan kita? hahahahah
" tawa gadis itu bertiga.
" Hahaha benerkan kalian pada nggak diajarin sopan santun oleh orang tua kalian, makanya anaknya juga nurunin sifat orang tuanya. " ucap temannya .
" Kalian tu yg gak punya sopan santun!! nyelonong masuk kelas orang trus main gebrak meja. " ucap Ana santai memainkan ponselnya.
" Dasar gadis murahan, gatau diri. " bentak temannya.
" Ohh mungkin nyokapnya seorang jalang makanya anaknya murahan. " ucap gadis yg menggebrak meja tadi.
Mendengar perkataan 3 gadis itu sontak membuat Anis marah, apa masalah gadis ini dengannya hingga menyangkut orang tuanya. Saat Anis membuka mata ia kaget melihat gadis di depannya, gadis yg ia tunggu - tunggu dan menjadi targetnya datang sendiri menghampirinya. Audrey dan Ana melihat sejenak ke arah gadis tadi lalu beralih menatap Anis dengan tersenyum menyeringai.
Yaa, yg menggebrak meja Anis tadi adalah Mellia Daraffian serta kedua temannya Reina Guetta dan Lia Agnesia Hazie.
Mellia mengambil minuman di bangku sebelah dan hendak menyiramkan pada Anis, tapi segera ditepis oleh Anis.
" Jangan buat gue marah, sebelum kalian bertiga babak belur disini!! " tegas Anis.
Mellia dkk yg diperlakukan seperti itu merasa geram hingga dia menarik rambut Anis secara kasar.
" Woii lo apaan hahh. " bentak Ana hendak menghampiri Anis tapi dicegah oleh Reina.
" Awas dan jangan ngehalangin jalan gue. " ucap Audrey hendak keluar meja tapi dicegah oleh Lia.
" Lepas tangan kotor lo dari rambut gue atau lo gak akan bisa keluar dari kelas ini. " ucap Anis menatap tajam Mellia dkk.
Mellia yg ditatap seperti itu gugup tapi ia malah menguatkan tarikan rambut Anis.
Anis yg sudah geram memelintir tangan Mellia hingga ia kesakitan.
" Aakhhh dasar wanita sialan lepasin tangan gue. " teriak Mellia.
Reina dan Lia segera berlari menghampiri Mellia tapi dicegah oleh Ana dan Audrey.
" Makanya jangan cari masalah sama kita. " ucap Ana tajam pada Reina dan Lia.
" Tadi gue nyuruh lo lepasin rambut gue tapi lo malah narik rambut gue lagi, dan sekarang lo minta gue lepasin tangan lo? Hahh jangan ngarep. " ucap Anis menendang punggung Mellia hingga tersungkur ke lantai.
" Aakkhh dasar jalang." teriak Mellia hendak menarik rambut Anis, tapi sudah ditendang oleh Anis hingga Mellia terbentur ke bangku siswa.
Reina dan Lia berlari ke arah Mellia membantu memapahnya menuju UKS. Sedangkan Anis, Ana dan Audrey kembali ke bangkunya melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.
Para siswa dan siswi yang menyaksikan itu melongo, bagaimana mereka bisa setenang itu setelah berkelahi. Mereka semua tidak ada yg berani berbicara dan kelaspun kembali hening, membuat Anis bisa tidur dengan tenang.
Di perusahaan Livian dan Layri telah selesai metting, kini mereka sedang duduk di sofa ruang kerja milik Livian.
" Ahh maaf tentang itu Liv, semua data tentang gadis itu sangat ditutup rapat dan aku saja tidak bisa menyelidiki nya. " jawab Layri.
" Hmm benarkah ? siapa kau sebenarnya gadis manis. " gumam Livian yg masih bisa didengar Layri.
" Apa kau suka dengannya ? " tanya Layri.
" Entahlah aku hanya penasaran. " ucap Livian santai.
" Benarkah ? kalau kau tidak suka biar aku saja yg - " belum selesai Layri mengucapkan katanya tapi Livian sudah memotongnya.
" Jangan berani lo menyentuhnya sedikitpun. " ucap Livian menatap tajam Layri.
" Kau menyukainya bukan ? saya bisa lihat dari sikap mu tuan muda. " ucap Layri penuh penekanan.
" Terserah kau saja. " ucap Livian berlalu.
" Hahaha gue seneng liat muka lo marah gitu Liv. " ucap Layri menyusul Livian.
Sedangkan di markas Black Devil Diah sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruangan. Sungguh ia masih memikirkan perkataan Bisma tempo lalu, ia beranjak pergi ke kamarnya dan membersihkan diri agar terasa lebih fresh.
" Huhh kenapa gue jadi baper gini sama cowok tengil itu hahhh. " ucap Diah mengusap wajahnya kasar.
" Udahlah gue mandi ajaa biar lebih tenang. " ucap Diah berlalu ke kamar mandi.
Sedangkan Bisma ia masih bingung, sebenarnya ia ingin minta maaf pada Diah tapi entah ia merasa gengsi.
" Huhh gue harus gimana sama Diah, gue juga gak mau di diemin Anis kek tadi. " ucap Bisma.
" Apa omongan gue terlalu kasar tempo lalu sama Diah sampek buat dia nangis kek kemarin. " ucapnya lagi.
" Aahhh bodo amat sama gengsi, gue susul aja ke markas. " ucap Bisma berlalu.
Diperjalanan Bisma terus memikirkan perasaannya pada Diah, apa benar ia menyukai Diah fikirnya. Saat sampai di depan markas Bisma langsung berjalan ke kamar Diah tanpa membalas sapaan mafioso.
Saat sampai di kamar Diah ia tak melihat keberadaan Diah tapi saat hendak pergi dia mendengar percikkan air di kamar mandi.
" Hmm mungkin lagi mandi, gue tunggu aja disini. " gumam Bisma duduk di sisi ranjang Diah.
5 menit telah berlalu Diah tak kunjung keluar, Bisma berbaring di kasur Diah merebahkan tubuhnya. Tak berselang lama Bisma mendengar suara pintu terbuka.
Ceklek..
Bisma mendongakkan kepalanya menatap asal suara tersebut, betapa terkejutnya ia melihat Diah yg hanya memakai handuk pendek sepaha yg melilit di tubuhnya.
Diah masih belum sadar dengan keberadaan Bisma, ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian serta **********. Diah melepas handuknya dan memakai dalaman serta pakaiannya, Bisma yg melihat tubuh polos milik Diah menegang. Ia berusaha memalingkan wajahnya tapi apalah daya jika pemandangan di depannya yg menggiurkan itu membuatnya kaku dan menatap lekat Diah dari atas hingga bawah.
Bisma bangun dari kasur dan berdiri di belakang Diah, saat Diah berbalik hendak menaruh handuk ia terkejut dengan Bisma yg sudah berada dibelakangnya.
" Aaakkkhhhh mmppp " teriak Diah tapi mulutnya sudah dibungkam Bisma.
Bisma mencium bibir Diah dengan lembut, dirasa Diah tidak memberontak ia mulai ******* lembut bibir Diah. Diah diam membeku entah kenapa ia juga tidak memberontak saat seperti ini otaknya tidak berfungsi.
Bisma menggigit bibir bawah Diah agar sedikit terbuka dan mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Diah. Diah mulai terbuai dengan permainan Bisma, ia merespon dan mulai memainkan lidah mereka.
Dirasa Diah sudah kehabisan nafas, Bisma melepaskan pangutannya dan mulai menatap Diah.
" Maaf. " ucap Bisma lirih memeluk Diah.
Bersambung....