Girl & Boy Mafia

Girl & Boy Mafia
Eps 17



" Ayo kita kedalam, kakak akan mendaftarkan mu di kampus ini. Selain lengkap dan terjamin, kampus ini juga kampus internasional dan banyak pembelajarannya. Cocok untukmu yang selalu bolos, lagipula kampus ini dekat dengan perusahaan jadi aku bisa mengawasimu jika bolos. " ucap Livian menyeringai.


" Huhhh... baiklah. " jawab William pasrah.


Sesampainya di kelas, banyak pasang mata yang menatap Anis dengan intens. Entah takut atau heran dengan sikap Anis yang berbeda saat diparkiran tadi. Sedangkan Anis hanya cuek dan berjalan santai menuju tempat duduknya.


" Jadi bagaimana pak? " tanya Livian pada direktur kampus.


" Persyaratan adik tuan sudah lengkap, saya akan menentukan kelas yang sesuai dengan keahlian adik tuan. " ucap direktur tersebut.


" Baik terima kasih banyak pak, saya mohon didik adik saya dengan baik. Dan saya minta tolong jangan biarkan dia bolos sehari pun kecuali atas izin dari saya. " ucap Livian serius.


William yang mendengar ucapan Livian hendak protes tapi ia urungkan karena melihat tatapan dari Livian yang menyeramkan.


" Sesuai dengan permintaan tuan, kami akan menjaga dan mengawasi William dengan ketat. " ucap pak direktur.


" Terima kasih sekali lagi pak." ucap Livian sambil berjabat tangan.


" Terima kasih kembali tuan, semoga William betah di kampus ini. " ucap pak direktur.


" Tentu pak. Kalau begitu saya permisi karena masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani. " ucap Livian sedikit membungkuk.


" Baik tuan Livian." jawab pak direktur.


Livian meninggalkan area kampus dan kembali menuju perusahaannya. Ia terus tersenyum karena bisa tahu kalau gadis yang ia sukai berada satu kampus dengan adik sepupunya.


" Permisi anak - anak. " ucap pak direktur saat memasuki kelas.


" Disini kalian memiliki teman baru, silahkan perkenalkan diri anda. " lanjut pak direktur.


" Saya William, salam kenal untuk kalian semua. " ucap William singkat dan datar.


" Oohhh sangat tampan. "


" Yaampun pangeran darimana ini. "


" Astaga bening banget ini mah. "


Banyak para gadis memuji ketampanan William, tapi William hanya diam dengan wajah judesnya. Ia melihat sekeliling kelas dan menemukan sosok gadis yang ja lihat saat diparkiran tadi dengan Livian.


Ia tersenyum dengan gaya coolnya, banyak gadis yang melihat senyuman mematikan dari William hingga ricuh.


" Sudah tenang semua. " ucapan sang direktur membuat suasana kembali hening.


" Baiklah William kamu boleh duduk di sebelah Anis. Anis tolong angkat tanganmu. " ucap pak direktur.


Anis melotot pada pak direktur kampusnya ini, beraninya ia menyuruh seorang pria duduk bersebelahan dengannya. Sedangkan pak direktur hanya menelan ludahnya kasar, entah apa yang akan terjadi padanya nanti.


Anis mengangkat tangannya, William yang memang tidak tahu dengan nama Anis terkejut karena bisa duduk bersebelahan dengan gadis yang disukai kakaknya. Ia memiliki ide gila untuk mengelabui kakak sepupunya itu nanti. William berjalan dan duduk disebelah Anis, tanpa menyapa dan melirik sedikitpun. Sedangkan Anis hanya diam dan santai, itulah Anis ia tidak akan bertanya kalau tidak ditanya duluan.


Sedangkan di mansion megah yang menjulang tinggi, nampak suasana sedang tegang. Ana dan Audrey tidak bisa berkutik bahkan sudah mengeluarkan keringat dingin saat melihat tatapan Bisma dan uncle Gio.


" Ganti baju kalian sekarang dan turun kebawah !! Kakak akan meminta izin untuk libur kalian hari ini. " ucap Bisma berlalu dengan tatapan mengintimidasi.


" Ikuti kata kakak kalian, sekarang ganti baju dulu ok? " ucap uncle Gio lembut.


" Baik uncle. " jawab Ana dan Audrey bersamaan.


Ana dan Audrey berjalan menuju kamar mereka masing - masing. Untunglah ada uncle Gio di mansion kalau tidak habislah mereka dilahap oleh Bisma. Setelah 30 menit membersihkan diri dan berganti pakaian mereka turun dan menghampiri Bisma dan uncle Gio.


" Duduk dan sarapan ! " ucap Bisma tanpa menatap Ana dan Audrey.


Uncle Gio yang melihat tatapan memelas dari kedua remaja tersebut mengangguk. Ia mengerti dengan kedua gadis remaja tersebut takut akan kemarahan putranya Bisma. Mereka melakukan sarapan dengan hening hanya terdengar dentingan sendok. Ana dan Audrey saling menatap seakan memiliki ikatan batin mereka menggelengkan kepala bersamaan. Uncle Gio yang melihat tingkah kedua gadis remaja itu menahan tawanya. Sungguh ia merasa seperti memiliki anak perempuan yang kepergok maling.


Kini Ana, Audrey, Bisma dan uncle Gio sedang berada di ruang keluarga. Tidak ada yang memulai percakapan, suasana di ruang keluarga sungguh hening.


" Dimana adik kalian? " tanya uncle Gio memecah keheningan.


" Di kampus uncle. " jawab Ana dan Audrey bersamaan.


" Lalu kalian? " kali ini Bisma yang mulai angkat bicara.


Ana dan Audrey menunduk sungguh saat ini mereka merasa takut. Melihat sorot mata Bisma yang menahan amarah membuat mereka tidak berani menatap kakak mereka Bisma.


" Kenapa pakaian kalian basah? " tanya Bisma lagi.


Audrey memberanikan diri untuk menatap Bisma, ia bisa melihat Bisma yang sedang marah saat ini.


" Kami disiram oleh beberapa siswi di kampus kak. " jawab Audrey menunduk menahan buliran air agar tidak jatuh.


" Apa?? " teriak Bisma hingga membuat Ana, Audrey dan dady nya Gio terkejut.


" Kenapa bisa hah? " tanyanya dengan raut wajah menahan kesal.


Lalu Ana dan Audrey mulai menjelaskan perkara yang terjadi sejak mereka sampai di kampus dan mengapa bisa terjadi keributan. Bisma dan uncle Gio yang mendengarkan cerita mereka kesal dan marah. Hingga mereka terkejut saat dimana Anis mulai menembak tangan salah satu rivalnya di depan banyak orang.


Bisma menghela nafasnya panjang, Anis keponakan yang telah ia anggap adik sejak kecil sudah mulai berubah kejam. Sejak orang tuanya meninggal ia mulai memainkan senjata pada orang yang mencari masalah dengannya. Sebelum orang tuanya meninggal Anis selalu menurut dan jarang untuk membunuh.


Jam pelajaran sudah selesai, Anis hendak beranjak dari duduknya tapi ditahan oleh William.


" Lo mau kemana? " tanya William pada Anis.


" Balik. " jawab Anis dingin.


" Tunggu ada yang mau gue omongin. " ucap William.


" Apakah lama? gue ada urusan diluar. " ucap Anis.


" 5 menit. " jawab William santai.


Anis menurut saja hingga menunggu kelas sampai sepi. Ia menatap William yang sedang memainkan pena ditangannya. William yang mengerti dengan tatapan Anis mulai pembicaraannya.


" Mulai sekarang kita temenan, gue tau lo mafia jadi jangan sungkan sama gue. " ucap William to the point.


Anis tersenyum menampilkan smirknya, ia menatap William dengan intens. Dan mengulurkan tangannya, William yang melihat uluran tangan dari Anis langsung menyambutnya dan saling melemparkan senyum.


" Ok, kita teman. Jadi sekarang gue mau balik karena ada urusan penting. " ucap Anis beranjak dari duduknya.


" Hati - hati di jalan dan besok kenalin gue sama kedua temen lo. " ucap William memasukkan bukunya.


" Ok. Byee. " jawab Anis berlalu dari kelas.


William mengambil ponselnya dan menghubungi Livian. Ia menceritakan jika ia sekelas dengan wanita yang kakak sepupunya itu sukai. Tentu saja Livian kaget bagaimana bisa ia kalah cepat dengan adik sepupunya. Ia terburu - buru menuju kampus untuk meminta penjelasan lebih lanjut dari adik laknatnya itu.


Author udah update guyss... maaf updatenya selarut gini karna besok author ada upacara. **Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung karya saya 🙏


Jangan lupa like dan comment agar author semakin semangat untuk membuat karya.


Ingat vote dan favoritkan novel ini Okee💜


I Love You Reader's 😘💜**