
Banyak pasang mata yg menatap mereka dengan penuh kekaguman. Mereka yg ditatap hanya cuek dan acuh karena sudah terbiasa. Setibanya di depan bandara banyak mobil yg berhenti di depan mereka, banyak pria berjas hitam dan memakai kacamata menghampiri mereka dan membukakan pintu. Lagi² perhatian orang di bandara berdecak kagum melihat itu, tak hanya cantik dan tampan tapi juga mapan dan tajir pikir mereka.
Kini mereka tengah berada di dalam mobil, perjalanan menuju mansion membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Saat di perjalanan melewati jalanan sepi nampak Anis memperhatikan sosok perempuan yg berdiri di sisi jalan. Ia memegang erat tiang pembatas jalan sambil menangis.
" Pelankan langkah mobilnya. " suruh Anis pada mafioso yg mengemudi.
" Baik nona. " jawab mafioso itu.
" Berhenti sekarang. " perintah Anis.
Mafioso itu berhenti mendadak sampai mobil yg berada di belakang mereka protes. Anis keluar dari dalam mobil dan segera berlari menuju arah gadis itu. Dan tiba² ...
Haapp...
Anis memegang tangan gadis itu agar tidak terjatuh ke sungai, gadis itu meronta agar Anis melepaskan pegangan tangannya.
Mafioso cepat² turun dari mobil ketika sudah meminggirkan mobilnya. Ia beralih melihat sekeliling jalan dimana tadi nona mudanya berlari, mata mafioso itu membulat ketika melihat Anis hendak jatuh dari sisi jembatan pembatas jalan. Mafioso itu terkejut dan segera berlari menuju tempat nonanya. Ia membantu nonanya dan menarik tangan wanita yg hendak terjun ke sungai itu, Anis langsung membentak gadis itu dan memberi kata²kasar karena sengaja ingin terjun ke sungai yg dalam itu.
" Apa kau gila hahh? kau mau mati dengan terjun ke sungai? " bentak Anis pada gadis itu.
" Apa peduli mu hahh? lagian aku tidak mengenal mu!! kau menghalangi jalanku menemui semua keluarga ku hikss...hikss" tangis gadis itu pecah.
" Huhh...." Anis membuang nafasnya kasar sambil menatap kembali gadis tadi.
" Apa yg terjadi hingga kau seperti ini ? " tanya Anis .
" Hikss... hikss ma.. mama hikss... papa dan kak Ina hikss... " gadis itu tak kuasa menahan tangis.
Anis menarik gadis itu ke dalam pelukannya untuk menenangkan suasana hati gadis itu.
Gadis itu mengeratkan pelukannya dan menumpahkan segala kesedihannya di bahu Anis. Cukup lama ia menangis sampai akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya pada Anis. Anis menarik tangan gadis itu membawanya masuk ke mobil.
" Ayo ikut aku. " ucap Anis menarik tangan gadis itu.
Gadis itu hanya menundukkan kepalanya dan menuruti langkah kaki Anis. Sampai di mobil Anis menatap manik mata gadis itu, tersirat rasa kesedihan di matanya. Melihat mata gadis itu bengkak,hidung memerah dan tubuh penuh luka.
" Lanjutkan perjalanan ! " perintah Anis pada mafioso.
" Baik nona. " jawab mafioso.
Anis mengambil kotak P3K yg ada dalam mobil dan mulai mengobati luka gadis itu. Ia sedikit meringis kesakitan karena Anis sedikit menekan lukanya. Anis melihat gadis tersebut yg sedikit lebih dewasa darinya, gadis itu diam dan menundukkan kepala ditatap seperti itu oleh Anis.
" Apa yg terjadi dengan mu? kenapa kau hendak melompat tadi? kau tau perbuatan mu itu sangat menjijikkan!! jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin jgn mengambil tindakan gegabah seperti tadi. Apa kau tidak kasihan dengan keluarga yg menyayangi mu selama ini? " tanya Anis panjang lebar.
" Mereka sudah tiada. " jawab gadis itu menundukkan.
" Maaf... " ucap Anis menundukkan kepala.
" Tidak apa. " jawab gadis itu tersenyum.
" Siapa nama mu ? " tanya Anis mengulurkan tangannya.
" Aku Anis. " jawab Anis singkat.
" Kalau boleh aku tahu kenapa kau hendak terjun ke sungai? " tanya Anis.
" Hikss... aku.. aku hidup sendirian hikss kedua org tuaku serta kakak ku meninggalkan ku hikss... " jelas Ana.
" Berhentilah menangis kau gadis lemah, lalu dimana rekan keluarga mu? " tanya Anis lagi.
" Mereka tidak mempedulikan keberadaan ku hikss... mereka tidak mau menerima kehadiran ku di keluarga mereka hikss.. bahkan mereka mengusirku dari rumah mereka. " jelas Ana.
" Kau harus kuat!! kau pasti bisa menghadapi semua ini. " ucap Anis mengelus bahu Ana.
" Terima kasih. " jawab Ana memeluk Anis.
" Bisa kau ceritakan kenapa org tuamu meninggal ? aku tidak bermaksud mengungkit hal ini. Tapi kalau tidak mau cerita juga tidak masalah. " ucap Anis.
" Tidak apa Nis, aku akan menceritakannya. Aku juga ingin mencurahkan isi benakku selama ini tapi tidak pernah ada yg mau mendengarkan. " ucap Ana sedih.
" Aku akan menjadi tempat mu untuk mencurahkan isi hati mu mulai saat ini. " ucap Anis tersenyum.
" Jadi waktu itu...
* Flashback on.
Matahari telah terbit dari ufuk timur cahaya sang mentari mulai menembus kaca penghalang kamar seorang gadis, gadis itu adalah Ana Laurent. Hari ini adalah hari kelulusannya di di kampus AN'S FABFEL ( kampus milik Anis di New York) karena kepintarannya dan kejeniusannya ia bisa mendapatkan beasiswa penuh dari pihak kampus. Gelar S1 sudah ia selesaikan hari ini, ia segera bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Selesai mandi ia mengambil pakaiannya dan memakainya, berjalan menuju meja riasnya dan mulai memoleskan bedak dan liptint di bibirnya. Selesai merias diri ia mulai turun ke bawah dan memulai sarapan paginya. Seluruh anggota keluarga tersenyum bahagia melihat Ana akan lulus hari ini, keluarga Ana akan datang agak siang karena para keluarga siswi diwajibkan datang pukul 9 pagi.
" Selamat sayang kau telah membanggakan mama dan papa, semoga kau sukses dalam berkarier. " ucap Mama sambil mengecup kening Ana.
" Selamat juga ya sayang, maaf papa tidak bisa memberikan hadiah yg mewah. Semoga rejeki mu selalu lancar. " ucap sang papa.
" Makasi maa... paa" ucap Ana mencium pipi mama dan papanya.
" Selamat yaa dekk... semoga bisa cepet dapat pacar hahaha. " ucap Ina tertawa terbahak - bahak.
" Hmm makasi kak, iishhh apaan si kak, kakak tuhh duluan harus nyari pacar. " jawab Ana cemberut.
" Yaudah Ana mau berangkat ingat harus datang ya pa, ma, kak !! " ucap Ana menatap mereka bergantian.
" Pasti sayang kami semua akan datang. " jawab mama sambil tersenyum.
" Daahh semua. " teriak Ana diambang pintu keluar rumah.
Sesampainya di kampus Ana menghampiri Ruby sahabatnya. Mereka menuju ke aula kampus karena semua siswa dan siswi sudah berkumpul disana.
Entah kenapa perasaan Ana tiba²merasa tak enak, hatinya terus gelisah entah karena apa. Tiba² handphone nya berdering terlihat nama " Papa ", Ana segera mengangkat telfonnya.
Deg...
Bersambung....