
Sedangkan di kamar Anis masih sibuk mengotak - atik komputernya. Ia merencanakan akan membangun perusahaan miliknya sendiri walaupun dia masih memiliki beberapa perusahaan milik dady nya. Saat tengah fokus pada komputer tiba - tiba handphone miliknya berdering.
Ddrtt... Ddrrttt...
" π Hmm. " ucap Anis.
" π Aiishhh berhentilah bersikap dingin padaku, kapan kau akan ke markas semua sudah selesai. " ucap pria tersebut.
" π Hmm besok aku akan kesana, dan aku ada tugas untuk mu akan ku jelaskan besok. " ucap Anis.
"π Baiklah, besok kau janji akan kesini ? " tanya pria tersebut memastikan.
"π Aishh kenapa kau bawel sekali Justin, aku bahkan sudah di New York sejak kemarin. " ucap Anis.
"π Lalu kenapa kau tak memberi tahu ku hahh ? kau tau selama 3 tahun aku tidak pernah melihat wajahmu secara langsung dan selama itu aku hanya melihat mu lewat ponsel. Bahkan para mafioso lainnya ingin melihat mu. " jelas Justin.
"π Baiklah - baiklah besok aku akan kesana setelah pulang kampus. " ucap Anis.
"π Kenapa kau ke kampus ? bukankah kau sudah lulus S-3 di Bali ? " tanya Justin.
"π Besok akan ku jelaskan. " ucap Anis mematikan telfonnya.
" Dasar kauu awas saja besok akan ku cincang karna mematikan ponselmu sebelum aku menjawab huhh. " ucap Justin kesal.
Keesokan harinya Anis, Ana serta Audrey sudah bersiap ke kampus baru mereka lebih tepatnya kampus milik Anis. Kemarin Anis sudah menjelaskan pada Ana dan Audrey bahwa mereka akan memulai rencana dan memastikan dalang pembunuhan keluarga Anis. Ana serta Audrey mengerti serta melanjutkan pendidikan mereka disana tentu atas paksaan Anis, karena Anis ingin mereka belajar dan menuntaskan pendidikan mereka seperti dirinya.
" Ahh hari pertama dimulai, semoga hari ini aku bisa tenang sampai di kampus tanpa gangguan orang bodoh. " ucap Anis.
Anis bergegas turun ke meja makan, saat menuruni tangga ia berpapasan dengan Ana dan Audrey. Mereka turun beriringan bertiga dengan candaan di pagi hari, saat sampai di meja makan mereka ditatap oleh semua penghuni mansion.
" Kenapa dengan kalian semua, apa ada yg salah dengan kita ? " tanya Anis.
" Ahh tidak, kakak seneng bisa liat kamu bahagia seperti sekarang dek." ucap Bisma.
" Hmm uncle juga, jika diperhatikan kalian agak mirip. Sungguh seperti saudara kandung. " ucap Gio.
" Benarkah ? " tanya Anis memastikan.
Gio, Bisma dan Diah mengangguk bersamaan, mereka mulai ritual makan dengan hening.
" Triple A uncle sudah menyiapkan mobil baru untuk kalian pakai hari ini. " ucap Gio.
Anis, Ana, Audrey mengernyit heran, apa maksud dari Triple A. Gio yg mengerti kebingungan mereka mulai menjelaskannya.
" Triple A itu nama awalan kalian, jadi agar mempersingkatnya uncle memanggil kalian dengan sebutan Triple A saja. " jelas Gio
Triple A mengangguk tanda mengerti.
" Tidak perlu uncle itu sangat berlebihan." ucap Audrey.
" Yaa Audrey benar uncle kita bisa diantar saja oleh supir, kita sudah berterima kasih sudah diizinkan tinggal disini. " ucap Ana menimpali.
" Tidak !! Kalian akan membawa mobil masing - masing. Aku tidak mau jika 3 adik perempuan ku diantar supir dan aku juga paham dengan anak remaja. " ucap Bisma.
" Iya bawalah mobil masing - masing agar kalian terbiasa. " ucap Gio.
" Baiklah terima kasih banyak uncle, kak Bisma. " ucap Ana dan Audrey.
Sedangkan Anis serta Diah hanya menyimak obrolan mereka tanpa ikut bicara.
" Baiklah ayo kita berangkat. " ucap Anis.
" Ayoo...." teriak Ana dan Audrey.
" Bye uncle, kak Bisma, kak Diah. " ucap Anis berlalu pergi.
" Kami duluan, dahh semua. " teriak Ana dan Audrey.
Saat mereka sudah meninggalkan mansion Gio menatap Diah dan Bisma bergiliran.
" Baiklah lanjutkan pekerjaan mu, dan kau yakin akan tinggal disana lagi? " tanya Gio memastikan.
" Hmm... lagipula disana ada Jino dan Lisa." ucap Diah.
" Hmm baiklah berkemaslah dan jika ada sesuatu yg kau perlukan bilang pada uncle. " ucap Gio.
" Baik uncle, Aku ke kamar dan bersiap. " ucap Diah berlalu ke kamar.
" Ada apa ? " tanya Gio pada Bisma.
" Maksud dady ? " tanya Bisma.
" Kalian bertengkar bukan, apa masalahnya belum selesai? " tanya Gio.
" Hhuuhhh... aku belum bicara dengannya dad begitu juga Anis, dia masih kesal dengan ku karena belum meminta maaf dengan Diah. " jelas Bisma.
" Selesaikanlah masalah kalian tanpa bertengkar, dady tau kalian saling menyukai hanya saja masih gengsi mengungkapkan. " jelas Gio.
" Sudahlah dad, aku akan ke kamar. " ucap Gio berlalu pergi.
Sedangkan di perusahaan terlihat 2 pria tampan sedang duduk di sofa, Livian sedang memeriksa berkas yg akan dibawa meeting sedangkan sekretarisnya itu senyumΒ² tak jelas sejak kemarin. Entahlah apa penyebabnya hingga dia seperti itu, Livian yg merasa aneh dengan tingkah sekretaris nya yg senyum - senyum sendiri bergidik ngeri. Ia berfikir apakah temannya ini sedang kerasukan.
" Apa lo mau gaji serta bonus lo bulan ini gak cair ? " tanya Livian.
Layri yg mendengar itu terkejut dan langsung tersadar, ia menatap teman sekaligus atasannya itu dengan tajam.
" Jangan natap gue kek gitu, lo kenapa sejak kemarin senyam - senyum kek orang kerasukan setan. " tanya Livian.
" Lo tau Li, kemarin pas lo nyuruh gue ke club milik si tua bangka itu gue gak sengaja liat cewek yg dijual sama nyokap tirinya. Gue main - main dikit sama si tua itu. " jelas Layri.
" Ohh. " jawab Livian singkat.
" Lalu bagaimana misinya apa sudah berhasil ? " tanya Livian lagi.
" Hmm berhasil flashdisk nya gue taruh di markas dan gue udah naruh beberapa mafioso disana buat mata-matain si tua itu. " jawab Layri.
" Hmm baiklah. " ucap Livian.
" Rapat akan segera dimulai ayo kita segera kesana. " ucap Layri.
Mereka berjalan menuju ruang rapat, beberapa karyawan wanita yg melihat 2 sosok pria tampan itu hanya bisa mengagumi dalam diam. Karena jika mereka menyentuh sedikit saja bagian tubuh dari 2 pria itu maka nyawa mereka yg akan jadi taruhannya.
Sedangkan di kampus Triple A sudah sampai di parkiran kampus, banyak yg memandang kagum pada mereka bertiga. Ana turun dari mobil sport warna biru miliknya, begitupun Audrey ia turun dari mobil sport berwarna merah. Banyak pria yg mengagumi mereka tapi mereka penasaran dengan sosok yg berada dalam mobil sport berwarna hitam. Ana dan Audrey menghampiri Anis yg masih belum turun dari mobilnya.
" Dek ayo turun biar gk nambah rame. " ucap Ana mengetuk kaca mobil Anis.
Anis pun membuka pintu mobil dan turun perlahan, para pria semakin terkejut melihat sosok gadis yg baru turun dari mobil sport hitam cantik, putih, manis itu yg mereka lihat.
Anis, Ana dan Audrey mengacuhkan tatapan semua orang, mereka berjalan dengan gaya dingin mereka menuju ke ruang kelas mereka. Kemarin Anis sudah memberi tahu mafioso yg bekerja sebagai dosen sekaligus direktur kampus miliknya. Ia meminta Ana serta Audrey sekelas dengannya.
" Ihh risih gue dipandang terus sama mereka. " ucap Ana.
" Iyaa Audrey juga. " jawab Audrey.
" Dek kita bertiga sekelas ya? " tanya Audrey.
" Hmm iya kak. " jawab Anis seadanya.
Saat mereka sampai dikelas banyak pasang mata yg menatap mereka kagum tapi mereka acuh dan tidak mempedulikannya. Mereka duduk di salah satu kursi yg kosong dibelakang, Ana dan Audrey duduk berdua di depan Anis sedangkan Anis duduk sendirian di belakang.
Ana asik memainkan ponselnya, Audrey asik dengan bukunya sedangkan Anis tidur menyandarkan kepalanya ke belakang kursi.
Saat keadaan hening tiba - tiba seseorang datang menghampiri meja milik Triple A.
Bbrraakkk....
Bersambung...