Girl & Boy Mafia

Girl & Boy Mafia
Eps 7



Sesampainya di kampus Ana menghampiri Ruby sahabatnya. Mereka menuju ke aula kampus karena semua siswa dan siswi sudah berkumpul disana.


Entah kenapa perasaan Ana tiba²merasa tak enak, hatinya terus gelisah entah karena apa. Tiba² handphone nya berdering terlihat nama " Papa ", Ana segera mengangkat telfonnya.


Deg...


Ia kaget karena yg bicara di hp papa nya bukanlah suara papa melainkan suara perempuan.


" Selamat siang ." sapa seorang perempuan disebrang telefon.


" Iya selamat siang mbak, maaf anda siapa kenapa bisa memakai ponsel papa saya. " tanya Ana pada wanita itu.


" Maaf nona saya dari pihak rumah sakit ingin memberi kabar bahwa keluarga anda sedang berada di FELA HOSTPITAL. " jelas wanita itu.


" Haahhh... rumah sakit, tapi bagaimana bisa ? " tanya Ana pada wanita itu.


" Keluarga anda mengalami kecelakaan nona, jika sudah saya akan menutup telfonnya karena masih ada pekerjaan lainnya. " jelas wanita itu


" Baik terima kasih. " jawab Ana.


Yaa... yg menelfon Ana tadi adalah salah satu suster yg bekerja di FELA Hospital, salah satu rumah sakit yg dimiliki keluarga Felix.


Ana langsung meminta izin pada pihak kampus utk segera berangkat ke rumah sakit. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada keluarganya. Sesampainya di rumah sakit Ana langsung berlari ke meja resepsionis utk menanyakan dimana keluarganya. Ana buru² berlari ke ruang IGD menggeser semua tirai yg ada di ruang itu tapi tidak menemukan keberadaan keluarganya.


Degg...


" Dimana keluarga ku " gumamnya.


Srekk


Sreekkk


Srekkk


Ia menggeser semua tirai di ruang itu secara kasar tapi tidak menemukan keluarga nya. Ia berlari menuju dokter dan menanyakan keluarganya.


" Dok dimana keluarga saya ? " tanya Ana pada salah satu dokter.


" Apakah anda keluarga dari Andre Laurent? " tanya Dokter itu.


" Yahh saya keluarganya dimana mereka sekarang dok ? " tanya Ana panik.


" Semua keluarga anda sedang berada di ruang operasi. " jelas dokter itu berlalu pergi.


Ana segera berlari ke ruang operasi dilihatnya lampu ruang tersebut masih berwarna merah. Ana menangis di depan ruang operasi, kakinya terasa lemas dan tidak kuat menahan tubuhnya utk berdiri. Ia jatuh ambruk ke lantai menangis sesenggukkan sambil menopang kepalanya di kedua lututnya.


3 jam sudah berlalu tapi ruang operasi masih belum terbuka, Ana masih terduduk lemas di lantai. Sampai terdengar suara pintu terbuka


TING...


Tanda pintu ruang operasi terbuka. Ana langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan keluarganya.


" Dok bagaimana keadaan keluarga saya? apa mereka baik²saja? apa luka mereka parah? " tanya Ana beruntun.


" Uhh... maaf nona kami sudah berusaha sekuat tenaga membantu operasi ini. Tapi Tuhan berkehendak lain, mungkin Tuhan lebih menyayangi keluarga nona." jelas dokter pria itu.


" Tidakk dok.. tidak mungkin kau pasti bergurau. " racau Ana tidak percaya.


" Ini benar nona, kecelakaan yg dialami keluarga nona sangat parah. Hingga membuat beberapa tulang ayah nona patah, serta ibu nona yg terhimpit di dalam mobil membuatnya meninggal di tempat kejadian sedangkan saudara nona terluka tidak terlalu parah tapi karena saat pemeriksaan tadi kami menemukan bahwa saudari nona memiliki riwayat penyakit jantung jadi saudari nona meninggal karena merasa syok berat . " jelas dokter lagi.


" Hikss... kenapa semua seperti ini hikss... " tangis Ana.


Kini Ana sedang berada di makam keluarganya sendirian tanpa ditemani sanak saudara. Ana diam berdiri sambil menatap makam keluarganya, ia menangis pilu sendirian. Awan yg tadinya cerah kini berubah menjadi mendung dan turunlah hujan yg mulai jatuh membasahi tubuh Ana seolah alam merasakan kesedihan yg dialami Ana. Ana menangis sesegukkan di makam keluarganya.


" Hikss... hiksss pa, ma, kak kalian sudah janji tadi akan hadir di acara wisuda ku tapi kenapa kalian mengingkarinya? hikss.. kalian semua jahat!! kalian tega meninggalkan ku sendirian hikss... " ucap Ana terisak.


" Aku sudah membayangkan jika kita akan hidup bersama selamanya, bahagia dengan keluarga kecil kita hikss... " ucap Ana.


Saat sedang menangis di makam keluarganya tiba² terdengar suara wanita yg berteriak memanggilnya.


" Heyy apa kau mau sakit disana hahh? Apa kau juga mau menghabiskan uang ku utk membiaya pengobatan mu? " teriak bibinya.


" Kenapa tidak sekalian kau mati saja!! menyusahkan ku saja. " teriaknya kembali.


Mendengar teriakan bibinya seperti itu membuat Ana sedih, kehadirannya disini sangat tidak diharapkan. Ia mulai melangkah mengikuti bibinya utk pulang ke rumah.


*******************************************


Keesokan harinya Ana bangun pagi lalu berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya setelah selesai dia memakai pakaiannya dan berlalu turun kebawah utk sarapan. Tapi sangat disayangkan, baru saja Ana hendak duduk di kursi bibinya berteriak.


" Heyy apa yg kau lakukan anak sialan!! lancang sekali kau duduk di meja makan hahh!! " marah bibinya.


" Bi aku hanya ingin sarapan sedikit apa aku salah? " tanya Ana menundukkan kepalanya.


" Kau pikir dirimu itu siapa? Pergi sana cari pekerjaan dan rumah sendiri!! jangan pernah menginjakkan kaki mu itu ke rumah ku. Kau hanya benalu di keluarga ku menyusahkan saja. " ucap bibinya sambil menyeret tubuh Ana secara kasar.


Ia melempar Ana keluar dari rumahnya dan membanting pintu secara kasar dan keras. Ana yg mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa menangis. Ia pergi dari rumah bibinya berjalan entah kemana. Entah kemana tujuannnya hingga dia sampai pada jembatan jalan raya yg ramai dilintasi banyak orang, dibawah jembatan jalan ia menunduk dan berfikir.


" Hikss... jika kehadiranku memang tidak diinginkan di dunia ini, maka aku lebih baik bersama kalian disana. Mungkin dengan cara ini aku bisa merasakan bahagia bersama kalian semua disana hikss...


Ma, Pa, Kak... Ana akan menyusul kalian semua hikss... " ucap Ana melompat dari jembatan.


* Flashback off.


Mendengar cerita Ana, Anis menjadi iba dengan nasib Ana. Ternyata dia masih beruntung bisa memiliki sanak saudara tidak seperti Ana yg hampir membunuh dirinya - sendiri.


Anis memeluk erat Ana, memberikan Ana sandaran utk menumpahkan semua kesedihannya. Serasa sudak cukup tenang Ana melepas pelukannya dan memandang wajah Anis.


" Maaf aku merepotkan mu Nis. " ucap Ana tak enak.


" Hmm.. tak apa sekarang anggaplah aku sebagai saudari mu. Aku juga hidup sendiri tanpa keluarga hanya ditemani oleh uncle, kak Bisma, kak Diah dan beberapa bawahan lainnya. " ucap Anis tersenyum.


" Kenapa? kemana keluarga mu? " tanya Ana.


Anis mulai menjelaskan kejadian saat keluarganya yg kecelakaan di pesawat yg secara disengaja, sampai dia menemukan pelakunya di kota New York. Ia juga menceritakan latar belakang keluarga nya pada Ana bahwa dia seorang putri mafia. Hingga membuat Ana terkejut.


" Benarkah kau anak dari tuan Felix? " tanya Ana memastikan.


" Emm.. benar dan aku saat ini sedang menyusun rencana utk membalas dendam utk kematian keluarga ku. " jawab Anis menundukkan kepala.


Ana yg melihat ekspresi kesedihan di mata Anis menjadi iba. Ia memeluk Anis dan memberikan sedikit ketenangan, ia mengelus lembut punggung Anis hingga merasa sedikit baikkan.


" Apa aku tidak merepotkan mu Nis? Aku rasa cukup kebaikan mu tadi sudah menolong ku dan meluangkan waktumu utk mau mendengarkan keluh kesahku. " ucap Diah.


" Jangan bicara seperti itu, aku merasa senang kau menemani ku. Aku jadi punya saudari lagi. " ucap Anis senang.


Mendengar ucapan Anis, Ana menjadi bahagia. Ia akan berjanji utk melindungi Anis dan menyayanginya seperti saudarinya.


Bersambung...