
" Huh... dasar kekanakan. " ucap Gio sambil menggelengkan kepala.
" Kapan mereka akan dewasa ? " ucap Anis menatap Bisma dan Audrey dengan malas.
" Huhh... selalu saja rempong setiap pagi. " keluh Ana menatap Bisma dan Ana yang saling kejar seperti serial Tom&Jerry di televisi.
Akhirnya Anis, Ana dan Audrey berangkat menuju kampus setelah perdebatan antara Bisma dan Audrey. Mereka berangkat bersama dengan mengendarai mobil sport masing - masing. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka tiba di kampus. Banyak pasang mata yang menatap kagum deretan 3 mobil sport mewah di area parkir. Ana dan Audrey turun dari mobil dengan gaya anggunnya. Riuh para pria yang melihat mereka, banyak yang berteriak memanggil mereka dan menatap mereka. Banyak juga para senior gadis yang iri dengan mereka berdua.
Tiba - tiba suasana menjadi lebih riuh ketika Mellia dkk tiba di area parkir kampus. Dengan gaya centilnya mereka turun dari mobil sportnya menghampiri Ana dan Audrey. Mellia dkk adalah most wanted di kampus sebelum kehadiran Anis dkk. Dan kini mereka merasa tersaingi dengan hadirnya Anis dkk.
" Na ayoo kita susul Anis biar para cabe itu gak cari masalah. " ucap Audrey.
" Hmm ayo gue males liat muka ganjen mereka bertiga. " jawab Ana.
Sebelum Ana dan Audrey pergi menuju mobil Anis, Mellia dkk sudah menghalangi jalan mereka.
" Eitsss... mau kemana ? " tanya Mellia.
" Bukan urusan lo. " jawab Ana judes.
" Gausah buru - buru gitu dong lo berdua. " ucap Reina.
" Ooo atau mungkin lo berdua takut sama kita ? " ucap Lia tertawa.
Ana dan Audrey kesal karena Mellia dkk menghalangi jalan mereka. Ana dan Audrey heran kenapa ketiga cabe kriting ini suka sekali menggangu mereka. Ana dan Audrey menatap malas pada Mellia dkk dan melanjutkan langkahnya. Tapi Mellia sudah mencengkram tangan Ana dengan kuat hingga Ana tersentak kaget.
" Lo apa - apaan hahh ? " bentak Audrey.
" Lepasin tangan gue. " ucap Ana sinis.
Tapi Mellia tak kunjung melepaskan tangan Ana, ia malah memelintir tangan Ana kebelakang hingga Ana meringis.
" Aawww..." ringis Ana.
" Ehh lo ngapain tiba - tiba nongol ngalangin jalan kita hahh?? lepasin tangan adek gue !! " bentak Audrey sambil mendorong kasar badan Mellia hingga tersungkur ke tanah.
Para siswa dan sisiwi yang melihat kejadian itu tertawa terbahak - bahak hingga membuat Mellia dan kedua temannya geram. Tiba - tiba Lia mendorong badan Audrey hingga tersungkur sedangkan Reina menginjak tangan Audrey. Ana yang melihat Audrey dipermalukan segera membantu Audrey untuk bangkit. Tapi terlambat, Mellia tiba - tiba mengambil air minum yang berada dalam tasnya dan menyiram mereka.
" Rasain lo jalang sialan !! " ucap Mellia dengan nada tinggi.
" Kalian disini anak baru jadi gausah sok cantik! " ucap Lia.
" Hahahaha sungguh malang. " ucap Reina sambil tertawa.
Para siswa lainnya yang melihat kejadian itu mulai bising, bahkan ada yg melempari Ana dan Audrey kertas dari atas gedung.
" Lain kali gausah nyari perkara sama gue !! kalian cuma sampah yang gak ada gunanya !! " ucap Mellia sambil tertawa.
Saat Mellia dkk hendak menyiram Ana dan Audrey dengan air lagi tiba - tiba terdengar suara tembakan.
Doorrrr.....
Doorrrr....
Suasana yang tadinya riuh pikuk kini hening seketika, air yang berada dalam genggaman Mellia jatuh karena terkena tembakan.
Takk... takk... takk...
Terdengar langkah kaki seseorang sambil bersenandung ceria, semua orang menatap asal suara tersebut. Terlihat sosok perempuan cantik dan mungil sedang berjalan sambil memutar pistol yang ia bawa di tangan kanannya. Tangan kirinya dipenuhi dengan seember air kotor, entah darimana ia mendapatkannya. Ia berdiri dihadapan Mellia dkk, ia menatap Ana dan Audrey yang pakaiannya basah akibat ulah Mellia dan temannya.
" Kak kalian pulanglah dan ganti seragam dulu agar tidak sakit karena kedinginan. " ucap Anis lembut sambil tersenyum manis.
Ana dan Audrey mengangguk lalu pergi ke menuju mobil, belum sempat mereka menggapai pintu mobil terdengar suara teriakan dari belakang.
" Aaaaa...... jangan... "
Suara teriakan Mellia menggema di halaman parkir, semua orang diam tidak ada yang berkutik. Ana dan Audrey mengurungkan niatnya untuk menuju mobil dan kembali menatap Anis.
" Apa kau gila!!! " bentak Mellia pada Anis.
" Kau ingin membunuh kami bertiga dengan pistol tipuanmu itu ? " ucap Lia sambil tertawa.
" Sungguh kau membuat semua orang di kampus ini menahan tawa. " ucap Reina tertawa.
Semua seisi gedung tertawa karena mereka kira Anis membawa pistol mainan. Anis mengambil benda yang seukuran biji rambutan dari kantung celananya lalu memasukkannya ke dalam pistol.
Dorr....
Satu tembakan berhasil dilayangkan pada tangan Lia, ia terkejut melihat tangannya mengeluarkan darah. Semua orang diam dan berhenti tertawa. Anis menatap seisi gedung yang menertawainya tadi lalu melayangkan satu tembakan lagi ke atas langit.
Doorrr....
" Kalian kira aku bercanda ? " tanya Anis tepat didepan wajah Mellia.
" Aku bisa saja membunuh kalian disini sekarang tapi aku sangat malas melakukannya. " ucap Anis sambil memainkan pistolnya di wajah Mellia dan teman - temannya.
" Kalian semua yang berada disini !! " teriak Anis menggema di area parkir.
" Mulai detik ini siapa yang berani mengusik kedua kakak ku akan ku beri kalian sedikit hadiah yang tak akan pernah kalian lupakan. " ucap Anis tersenyum menyeringai.
" Kau bawa teman mu ke rumah sakit sebelum dia mati kehabisan darah. " ucap Anis menatap Reina.
Reina mengangguk dan segera membopong tubuh Lia. Membawanya ke UKS untuk menahan darah di tangannya sambil menunggu ambulans datang menjemput. Sedangkan Mellia tidak bisa berkutik karena Anis menodongkan pistolnya tepat di kepalanya. Seluruh badannya bergetar dan keringat terus merambat membasahi wajahnya.
" Dan kau !! " tunjuk Anis menggunakan ujung pistolnya dan menekannya keras hingga Mellia ambruk ke tanah.
" Kau telah menghina kakak ku, kau juga menyiram kakak ku dengan air sisa minum mu, kau juga menarik rambut kakakku dan menertawainya di depan semua orang. " ucap Anis sambil mencengkram dagu Mellia.
" Kemarin aku sudah mematahkan tangan mu dan sekarang apa kau ingin aku memisahkan kepala mu dari tubuhmu emm ? " ucap Anis tersenyum sambil menarik rambut Mellia.
" Aaaww... sakitt !! " rintih Mellia.
" Apa ? aku tidak mendengar mu tolong katakan lagi !! " ucap Anis dengan suara tinggi.
" Lepaskan brengsek !! " bentak Mellia tepat dihadapan wajah Anis.
Bukannya melepaskan Anis malah menguatkan tarikan rambut Mellia, hingga Mellia merintih kesakitan. Ana dan Audrey menghampiri Anis untuk mencegahnya agar tidak berlebihan.
" Stop !! " ucap Anis memandang Ana dan Audrey.
Dia melepaskan tarikan rambut Mellia dan berdiri menghampiri kedua kakaknya sambil tersenyum.
" Kakak sebaiknya kalian pulang dan ganti pakaian kalian. Aku tidak ingin kalian sakit karena memakai pakaian basah. " ucap Anis lembut sambil tersenyum.
Semua orang melongo melihat nada bicara lembut Anis pada kedua kakaknya sangat berbeda dengan sifatnya yang garang tadi.
" Anis sudah jangan berlebihan, nanti jika kak Bisma mengetahui ini pasti akan marah. " ucap Audrey lembut.
" Iya kak, aku tidak akan berlebihan. Sebaiknya kakak pulang biarkan kak Ana yang menyetir karena tangan kakak sakit. " ucap Anis sambil tersenyum manis.
" Yasudah kamu jangan berlebihan, kontrol emosi mu okey ? " ucap Ana membelai rambut Anis.
" Emm tentu kak, kakak hati - hati mengemudi ya. " ucap Anis.
Ana dan Audrey mengangguk lalu berbalik menuju mobil. Anis menunggu sampai mobil milik kakaknya keluar dari area kampus. Setelah ia tidak melihat mobil kakaknya ia berbalik dan memandang semua orang, suasana di area parkir masih hening. Mellia juga masih meringkuk di atas tanah sambil menahan takut. Anis berjalan menuju hadapan Mellia sambil menenteng ember yang sudah ia isi dengan air kotor. Mungkin itu air bekas petugas kebersihan mengepel lantai, tanpa aba - aba Anis langsung menyiram Mellia dengan air itu.
Banyak orang yang merinding melihat kemarahan Anis. Mellia terkejut karena Anis menyiramnya di tengah area parkir dan dihadapan semua pelajar.
" Lain kali jangan mencari masalah dengan kehidupan dan orang terdekat ku. Ini baru permulaan, jika kau masih ingin mencari masalah akan kuhabisi kau detik itu juga. " ucap Anis lalu berlalu dari area parkir.
Anis berjalan santai sambil membuka permennya menuju kelas dengan santai. Semua orang pergi dan meninggalkan Mellia sendirian. Banyak siswa yang menghina Mellia dan memojokinya di lapangan. Hingga bel pertanda kelas akan dimulai memecah kerumunan mereka. Semua bubar dan menuju kelasnya masing - masing.
" Awas kau gadis sialan, aku akan memberi kau balasan yang setimpal. " geram Mellia lalu pergi dari area parkir.
Tak jauh dari sana nampak sosok pria tampan yang sedang diam di depan sekolah, siapa lagi kalau bukan Livian. Ia menyaksikan semua yang Anis lakukan dari dalam mobilnya. Ia tersenyum dan terus memperhatikan Anis yang berlalu dengan santai setelah kejadian tadi. Sungguh wanita tangguh pikirnya.
" Kak apa kakak menyukai gadis tadi ? " tanya sosok lelaki yg tak lain adalah William.
" Tidak. " jawabnya datar.
" Lalu kenapa kakak terus tersenyum ? " tanyanya penuh selidik.
" Sudahlah kau masih kecil, fokus saja belajar. " ucap Livian sambil memasukkan mobilnya ke area parkir.
" Apa aku akan kuliah disini kak ? " tanya William.
" Ya. " jawabnya datar.
" Haizzz pantas saja jomblo terus, semua wanita pasti menjauhi kakak karena sifat dingin mu. " ucap William meledak sambil menahan tawanya.
" Kau !! " geram Livian.
" Bercanda kak hehe. " ucapnya nyengir kuda.
" Ayo kita kedalam, kakak akan mendaftarkan mu di kampus ini. Selain lengkap dan terjamin, kampus ini juga kampus internasional dan banyak pembelajarannya. Cocok untukmu yang selalu bolos, lagipula kampus ini dekat dengan perusahaan jadi aku bisa mengawasimu jika bolos. " ucap Livian menyeringai.
" Huhhh... baiklah. " jawab William pasrah.
*Sedikit info mengenai William.
William adalah adik sepupu Livian yang tinggal di London. Kedua orang tua William meninggal dan sekarang William diasuh oleh keluarga Livian.
**Jangan lupa :
- Like
- Comment
- Vote
- Fav 💜
Terima kasih semua sudah mampir ke karya saya, semoga dapat menghibur para pembaca. 🙏
Karya ini diciptakan melalui pikiran dan halusinasi dari author yaa 😁
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penyebutan kata**.