
Hari yang sudah mulai beranjak siang, walau pun matahari sudah mulai meninggi, tapi udara di sekitarnya tetap sejuk karena awan yang menutupi panas teriknya matahari hari ini. Di suatu tempat sebuah mobil baru saja berhenti dan turunlah sepasang anak manusia, yang tak lain adalah Daiva dan Lovandra.
"Va, ini pemakaman? Apakah makam kedua orang tuamu di sini?" Tanya Daiva hati-hati, khawatir menyinggung perasaan Lova.
"Ya, kedua orang tuaku di makamkan disini tujuh tahun yang lalu. Papi Robert, ayahnya Siera yang memakamkan kedua orang tuaku. Aku sendiri tidak sempat melihat kedua orang tuaku di makamkan. Sejak aku tau kedua orang tuaku di makamkan di sini, sesekali aku suka berkunjung ke sini." Jelas Lova pada Daiva.
"Ayo kita masuk, El." Ajak Lova yang sudah beranjak memasuki area pemakaman.
Mereka berdua berjalan perlahan dan berhenti di salah satu makam yang cukup bersih dari pada makam lainnya. Terlihat bahwa kedua makam yang ada di hadapan ini terawat dengan baik.
"Siang Nona Lova, sudah lama sekali Nona tidak berkunjung ke sini." Sapa seorang pria paruh baya dengan sangat ramah dan bersahabat pada Lova.
"Siang Paman Sammy, apa kabar Paman? Iya paman, aku akhir-akhir ini sedikit sibuk dengan tugas kuliahku." Jawab Lova seraya menghampiri pria paruh baya yang di panggil dengan Paman Sammy itu.
"Kabar Paman baik, Nona. Nona jangan terlalu lelah dan tetap menjaga kesehatan Nona ya." Kata Paman Sammy lagi dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang terpancar dari sosok pria paruh baya itu.
"Iya Paman, tenang saja Lova pasti akan menjaga kesehatan Lova sebaik-baiknya. Dan Paman juga tidak boleh terlalu lelah ya. Oh iya Paman, terima kasih banyak sudah merawat dan menjaga makam Papa dan Mama." Kata Lova lagi seraya memeluk pria paruh baya itu yang ternyata adalah penjaga makam.
"Nona jangan sungkan, Nona sudah Paman anggap seperti anak sendiri. Kalau begitu Paman tinggal dulu ya. Silahkan melanjutkan lagi." Kata Paman Sammy seraya menganggukkan kepalanya permisi pada Lova dan pemuda yang bersama gadis itu.
Lova tersenyum lembut pada Paman Sammy dan kemudian gadis itu berbalik dan kembali memperhatikan makam kedua orang tuanya. Saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Daiva yang terlihat penasaran dengan sosok Paman Sammy, Lova hanya tersenyum dan mencoba menjelaskan tentang Paman Sammy.
Siang itu Lova menghabiskan waktu di makam kedua orang tuanya. Selesai mendoakan kedua orang tuanya. Lova masih duduk terdiam di antara kedua makam itu. Daiva pun hanya diam dan dengan sabar menemani Lova. Daiva tau bahwa Lova membutuhkan waktu sendiri untuk bersama orang tuanya, sehingga akhirnya Daiva berpamitan dan hendak menunggu di mobil saja.
"Lova.... Apa kamu baik-baik saja kalau aku tinggal ke mobil?" Tanya Daiva pelan.
"Kamu bosan di sini?" Tanya Lova balik.
"Oh tidak sama sekali, hanya saja aku pikir kamu butuh waktu untuk bersama kedua orang tuamu saat ini." Kata Daiva menjelaskan maksudnya.
"Baiklah, aku akan menyusulmu sebentar lagi." Kata Lova yang lagi-lagi memberikan senyuman lembutnya.
Daiva pun kembali ke mobil dan menunggu Lova di dalam mobil. Sepeninggalan Daiva, air mata yang sejak tadi di tahan oleh Lova pun akhirnya turun.
"Papa, Mama, Lova kangen kalian." Gumam Lova pelan.
Lova menghabiskan waktunya untuk bercerita, mengadu dan segala hal di makam kedua orang tuanya. Sedangkan Daiva yang sedang menunggu di dalam mobil dengan memejamkan matanya di kejutkan oleh ketukan pelan di jendela mobilnya. Tampak sosok pria paruh baya yang tadi Lova panggil dengan Paman Sammy di luar pintu mobilnya. Daiva bangun dari posisinya dan membuka pintu mobilnya. Akhirnya Daiva pun berbincang di temani oleh Paman Sammy.
"Nak, mengapa diam di dalam mobil saja?" Tanya Paman Sammy pada Daiva.
"Aku hanya ingin memberi ruang pada temanku, jadi aku menunggu di sini saja Paman." Jawab Daiva sopan.
"Siapa namamu Nak?" Tanya Paman Sammy lagi.
"Oh iya, nama saya Daiva, Paman." Jawab Daiva dan mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
"Nama Paman adalah Samuel, tapi Nona Lova senang memanggil Paman dengan panggilan Paman Sammy." Kata Paman Sammy seraya membalas uluran tangan pemuda yang bersamanya.
"Tujuh tahun yang lalu Nona Lova sempat datang sendiri ke makam ini dan menangis tanpa henti di bawah derasnya hujan yang mengguyur sampai akhirnya Nona jatuh pingsan dan Paman menemukan Nona dengan keadaan yang sangat lemah sekali. Paman sangat kasihan melihat Nona yang saat itu terlihat begitu rapuh. Seandainya putri paman masih hidup, mungkin putri paman pasti sudah sebesar Nona Lova." Cerita Paman Sammy tiba-tiba.
"Apa Paman masih memiliki anak lainnya?" Tanya Daiva hati-hati.
"Tidak ada nak, itu mengapa saat melihat Nona Lova, Paman begitu menyayangi gadis itu dan menganggap gadis itu seperti putri Paman sendiri. Nona Lova sangat cantik dan baik hati. Nona juga sosok gadis yang lembut dan sopan. Sungguh malang nasib anak itu yang harus di tinggal kedua orang tuanya di usianya yang masih sangat muda saat itu." Jelas Paman Sammy lagi.
"Nak, sepertinya hari terlihat mau hujan, sebaiknya Nak Daiva menjemput Nona dan mengajak Nona untuk pulang." Kata Paman Sammy mengingatkan akan cuaca yang berubah menjadi sangat mendung.
"Akh, Paman benar. Baiklah, saya tinggal ke dalam dulu Paman." Kata Daiva mengiyakan dan beranjak menyusul Lova di dalam area pemakaman.
"Hati-hati saat pulang nanti ya Nak, Paman juga mau pulang ke rumah Paman." Kata Paman Sammy lagi sebelum Daiva menjauh.
"Baiklah Paman, hati-hati juga di jalan ya Paman." Balas Daiva seraya melambaikan tangannya.
Daiva segera menyusul Lova, dan ketika sudah hampir dekat dengan Lova, Daiva menghentikan langkahnya. Pendengaran wolf yang tajam dapat mendengarkan setiap kata-kata yang terucap pelan dari bibir manis gadis itu. Berjalan dengan sangat pelan, akhirnya Daiva pun mendekati Lova dan berjongkok di sisi gadis itu. Perlahan tanpa niat mengagetkan Lova, Daiva menepuk pelan pundak Lova.
"Lova, hari kelihatannya mau hujan, kita pulang yuk." Kata Daiva lembut.
Lova tersentak dan segera menghapus sisa air matanya. Kemudian gadis itu menoleh dan kembali memberikan senyumannya yang memberitahukan kalau dirinya baik-baik saja.
"Iya, baiklah. Maaf ya El, aku merepotkanmu." Kata Lova setelah merasa lebih baik.
" Santai saja, aku sama sekali tidak merasa di repotkan olehmu." Kata Daiva seraya membantu Lova bangkit dari duduknya.
Mereka pun akhirnya kembali ke mobil dan meninggalkan area pemakaman.
"Kamu belum makan siang, gimana kalau kita mampir makan siang dulu di dekat sini?" Tawar Daiva pada Lova.
"Iya, ayo kita cari tempat makan dulu. Aku juga sudah mulai lapar." Sahut Lova mengiyakan ajakan Daiva.
Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak jauh dari area pemakaman. Setibanya mereka di restoran, mereka langsung memesan makanan. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka berdua mengobrol hal-hal yang ringan sejenak.
Pesanan mereka pun akhirnya datang, dan mereka makan dalam diam. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka. Selesai makan, mereka tidak langsung pulang, mereka masih menikmati suasana restoran yang terasa nyaman bagi keduanya.
"Ya, kamu mau bertanya tentang apa?" Jawab Lova dengan santainya.
"Tapi, kamu tidak harus menjawabnya bila kamu tak ingin memberitahukan hal itu kepadaku." Kata Daiva lagi.
Lova pun hanya mengangguk kecil dan memberikan senyumannya yang menandakan bahwa dia akan baik-baik saja.
"Mengenai kedua orang tuamu, aku telah mendengar sebagian cerita dari Siera, apakah kamu sudah mengetahui siapa yang mencelakai kedua orang tuamu?" Tanya Daiva hati-hati seraya memperhatikan perubahan sikap mate-nya itu.
Lova yang mendengar pertanyaan itu, spontan saja menundukkan kepalanya dan diam termenung. Tak lama kemudian gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, tak mampu menjawab pertanyaan Daiva dengan kata-kata.
"Hmm.... Perlahan kita akan mencari pelaku yang telah mencelakai kedua orang tuamu, aku bersedia membantumu." Kata Daiva lagi saat melihat reaksi Lova yang kembali sedih.
Lova yang mendengar perkataan Daiva langsung menaikkan wajahnya dan memandangi Daiva dalam diam. Entah harus berkata apa untuk merespon kata-kata yang Daiva ucapkan.
"Aku tidak sempat melihat kedua orang tuaku di saat terakhir mereka akan di makamkan. Lebih tepatnya Papi Robert tidak mengijinkan aku untuk melihat mereka." Kata Lova pelan, dan berusaha setegar mungkin untuk menceritakan sedikit tentang kedua orang tuanya.
"Dua tahun yang lalu, Mami Riany menceritakan kepadaku tentang kondisi kedua orang tuaku di saat terakhir mereka. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang telah di ceritakan oleh Mami saat itu. Tapi bila itu memang kenyataannya, aku bersumpah akan terus mencari mereka yang telah menyakiti dan menghancurkan kedua orang tuaku." Kata Lova lagi yang kini tersirat kebencian dan kemarahan di matanya.
"Kamu tenanglah, suatu hari kita akan dapat menemukan mereka." Kata Daiva yang mencoba menenangkan Lova sembari menggenggam tangan Lova yang berada di atas meja.
"Sebaiknya kita pulang sekarang." Kata Daiva lagi seraya berdiri hendak meninggalkan restoran itu.
Lova pun berusaha untuk menenangkan dirinya kembali dan ikut berdiri untuk meninggalkan restoran itu. Mereka berdua berjalan bersisian ke arah mobil yang terparkir di depan restoran. Setelah di mobil dan keduanya sudah memasang seatbelt, Daiva segera melajukan mobilnya menuju ke arah mansion Lova.
Empat puluh lima menit perjalanan kembali menuju mansion hanya terisi dengan keheningan dari keduanya. Setibanya mereka di mansion , mereka langsung di sambut oleh Siera yang sudah memanyunkan bibirnya karena di tinggal sangat lama oleh teman-temannya.
"Kalian kemana saja, mengapa pergi begitu lama , bahkan hampir seharian." Sambut Siera dengan wajahnya yang sudah bertekuk kesal.
"Salah kamu sendiri yang tidak mau ikut tadi." Celetuk Daiva yang menggoda Siera.
"Kami habis dari pemakaman tadi, Si." Jawab Lova dengan senyumannya.
"Ya ampun, maafkan aku. Kamu tidak apa-apa khan Lova?" Kata Siera yang langsung menghampiri dan membolak-balikkan tubuh Lova karena khawatir Lova kenapa-napa.
"Si, aku baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir seperti ini." Kata Lova yang tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya.
"Kalian sudah makan?" Tanya Siera lagi.
"Ya, kami sudah makan tadi." Sahut Daiva seraya beranjak masuk ke dalam mansion.
"Lova, kamu segera bersihkan dirimu dan setelah itu beristirahatlah. Aku mau pulang ya. Besok kita ketemu lagi di kampus." Kata Siera yang berencana akan pulang ke rumahnya malam itu.
"Kamu ga nginep lagi aja malam ini?" Tanya Lova saat mengetahui kalau sahabatnya berniat pulang malam itu.
"Kau mau pulang kapan?" Kata Daiva yang berbalik dan kembali menghampiri kedua sahabat itu.
"Aku mau pulang sekarang, Mami tadi menelpon dan menyuruh aku pulang, karena sepupuku baru saja tiba tadi sore." Jawab Siera.
"Kamu juga harus pulang sekarang, aku tidak mau membiarkan kamu berdua di sini bersama Lova. Nanti kamu macam-macam lagi sama Lova." Kata Siera lagi sembari berkacak pinggang.
"Ya ampun Siera, di sini tuh banyak orang, ada para pelayan di sini, jadi aku tidak akan bisa macam-macam di sini." Sahut Daiva sembari memutar bola matanya malas.
"Pokoknya aku gak mau tau, kamu juga pulang sekarang. Ayo antar aku pulang, setelah itu kamu pulanglah ke rumahmu." Kata Siera seraya menarik tangan Daiva untuk membawanya keluar dari mansion sahabatnya itu.
"Lova kami pulang dulu ya, kamu beristirahatlah. Sampai ketemu besok di kampus. Apakah besok kamu mau aku jemput?" Pamit dan tanya Daiva sebelum mereka pergi dari mansion itu.
"Tidak usah, terimakasih. Kalian hati-hatilah di jalan, kabari bila sudah sampai nanti ya. Sampai ketemu besok di kampus." Jawab Lova dengan tertawa kecil karena melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Bye... Va..." Kata Daiva lagi.
"Kita pulang ya, Va. Bye...." Sambung Siera juga sembari mencium kedua pipi sahabatnya.
Lova mengantarkan keduanya menuju halaman parkir mansionnya. Sepeninggalan kedua sahabatnya, Lova pun beranjak masuk mansion dan langsung menuju kamarnya. Usai membersihkan dirinya, Lova mengambil wine dan gelas dari mini bar yang berada di kamarnya, kemudian dia melangkah menuju balkon kamarnya. Lova duduk di teras balkon kamarnya sembari menikmati malam hari dan wine-nya.
Pandangan gadis itu tertuju pada langit malam yang tampak cerah malam itu. Gadis itu hanya duduk diam sambil sesekali menyeruput wine yang berada di tangannya. Tiba-tiba bulir-bulir bening meluncur sendiri, membasahi wajah cantik gadis itu. Entah apa yang saat itu tengah di pikirkan oleh gadis itu.
Lova masih terdiam di teras balkon kamarnya. Gadis itu masih setia memandangi langit. Tangan mungilnya sesekali menghapus buliran air mata yang turun sendiri membasahi wajah cantiknya. Salah satu tangannya menggenggam bandul kalung yang dia kenakan. Udara malam yang dingin tidak berarti bagi gadis itu.
Semilir angin malam yang berhembus, pikiran, perasaan dan tubuh yang lelah akhirnya membuat gadis itu jatuh tertidur di kursi yang berada di teras balkon kamarnya. Tanpa ada yang mengetahui kalau gadis itu telah tertidur di luar kamar dengan udara malam yang mulai menusuk.
Di sisi lain berdiri sosok pemuda di balkon kamarnya, memandang ke arah sosok gadis yang berada di balkon dari mansion sebelah. Sesaat kemudian pemuda itu melompat turun dari balkon kamarnya dan melesat cepat ke arah balkon kamar mansion tetangganya.
Pemuda yang tak lain adalah Kenzo begitu tiba di halaman mansion milik keluarga Elvarette, dia segera melompat ke atas balkon kamar yang di tempati oleh Lova.
Setibanya Kenzo di balkon kamar Lova, perlahan dia menghampiri Lova yang sudah jatuh terlelap. Kenzo memandangi wajah damai yang cantik yang sedang terlelap itu. Tak lama kemudian, Kenzo mendekati Lova yang masih terlelap dan perlahan Kenzo menggendong Lova dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Perlahan Kenzo membaringkan Lova di ranjangnya dan menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada. Setelahnya Kenzo masih terdiam dan memandangi wajah damai lieve-nya dan tangannya perlahan merapikan anak rambut Lova yang sedikit berantakan.
Setelah puas memandangi wanitanya, Kenzo pun akhirnya meninggalkan kamar Lova dan kembali ke kediamannya dengan cara semula saat dia datang tadi. Sekembalinya Kenzo ke kamarnya, dia pun memilih untuk beristirahat juga. Sesuai dengan janjinya Pada Lova tadi pagi, maka malam ini dia menyuruh semua teman-temannya untuk kembali pulang saat mereka datang seperti hari-hari sebelumnya.
Di sisi lain yang tak jauh dari kediaman itu beberapa pasang mata setia mengawasi kediaman keluarga Elvarette. Tak lama kemudian beberapa pasang mata itu pun bergerak menjauh dan meninggalkan lokasi mereka.