
Flasback On...
Tujuh tahun yang lalu saat itu Siera dan Lova berada di Sekolah Menengah Pertama. Mereka telah menjadi sahabat sejak kelas empat SD.
Perkenalan mereka berawal saat Lova yang sebagai murid pindahan selalu menyendiri, tidak ada teman yang menyapanya. Sampai suatu hari Siera menghampiri Lova, mengajaknya berkenalan dan sejak saat itu mereka menjalin persahabatan dengan sangat baik. Dimana ada Lova di situ juga ada Siera. Kebersamaan mereka kadang membuat beberapa teman menjadi iri karena mereka terlihat sudah seperti saudara.
Persahabatan kedua anak itu pun tidak hanya sebatas anak-anak saja, bahkan kedua orang tua mereka pun menjadi sahabat dan mereka sudah seperti keluarga.
Keluarga Lova adalah keluarga tunggal, Ayah dan Ibu Lova keduanya tidak memiliki saudara lain lagi. Bahkan Lova sendiri adalah anak tunggal di keluarga itu. Ayah Lova bukan hanya sekedar pebisnis saja, di samping kesibukannya dalam dunia bisnis, Ayah Lova juga seorang peneliti yang kerap kali sering bepergian menjelajah hutan bersama rekan-rekan team penelitinya. Tak ayal saat Ayah Lova berpergian, Ibu Lova juga selalu ikut bersama ayahnya dan Lova sering kali menghabiskan waktu dengan menginap di rumah Siera. Seperti malam na'as itu, dimana saat Lova menginap di rumah Siera karena kedua orang tuanya pergi menjelajah hutan untuk melanjutkan penelitian yang sedang di kerjakan oleh Ayah Lova.
"Si... Malam ini aku nginep di rumahmu ya. Papa sama Mama ada acara kantor dan mereka harus menginap. Aku sendirian di rumah." Kata Lova saat pulang sekolah.
"Ya udah kamu di rumahku aja. Papi sama Mami pasti senang banget kalau kamu nginep. lagian kamu juga dah lama gak nginep di rumahku." Sahut Siera begitu senangnya.
Kedua gadis remaja itu pun berjalan beriringan dengan cerianya menuju mobil Papi Siera yang telah menjemput mereka. Setibanya mereka di rumah Siera, Lova di sambut hangat oleh Riany, Mami Siera yang telah menganggap Lova seperti putrinya sendiri.
"Ya ampun cantik, kemana aja. Mami sampai kangen dah lama kamu gak ain kesini." Sapa hangat Riany saat melihat Lova dan memeluk gadis itu untuk melepaskan rasa kangennya pada gadis itu.
"Apa kataku tadi, benar khan." Bisik Siera sambil menaik turunkan alisnya.
"Maaf Mi, Lova jarang main kesini akhir-akhir ini. Tapi malam ini Lova mau ijin untuk menginap di sini karena Papa dan Mama ada acara kantor di luar kota dan mereka harus menginap di sana. Boleh khan Lova menginap malam ini?" Jawab Lova seraya meminta ijin pada Riany.
"Tentu saja boleh donk sayang, Mami senang banget malahan. Ya sudah kalian ganti baju dulu setelah itu kita makan siang bareng yuk." Sahut Riany dengan antusiasnya.
Kedua gadis itu pun mengangguk mengiyakan dan segera berlalu menuju kamar Siera yang berada di lantai dua.
Kedekatan mereka tidak membuat Siera mau pun Lova iri saat melihat kedua orang tua mereka memberikan perhatian pada sahabatnya. Seperti hari itu saat Riany memberikan perhatian yang berlebih pada Lova, Siera sedikit pun tidak merasa iri. Karena mereka telah lama bersama sehingga mereka benar-benar merasakan kedekatan layaknya saudara kandung.
Siera dan Lova yang sama-sama sebagai anak tunggal di keluarga mereka masing-masing pun merasa bersyukur dengan adanya persahabatan mereka dan para orang tua yang akhirnya membuat mereka dapat merasakan memiliki saudara.
Begitu pun dengan para orang tua, mereka tidak mau di panggil "Om atau Tante" oleh sahabat putri mereka.
Saat makan malam baru saja usai di kediaman Robert yang tak lain adalah Papi Siera, telepon di ruang tengah berdering dengan nyaringnya. Seorang pelayan menjawab panggilan telepon itu dan setelahnya bergegas ke ruang makan untuk memberi tahukan tuannya.
"Maaf Tuan, ada telepon dari Rumah Sakit." Kata pelayan itu memberitahukan pada mereka yang saat itu masih berada di ruang makan.
"Rumah Sakit?" Tanya Robert keheranan sambil melihat ke arah istrinya.
"Coba jawab dulu telponnya, Pi." Kata Riany yang juga penasaran ada hal apa yang telah terjadi.
Sepasang suami istri itu pun bergegas meninggalkan ruang makan untuk mengangkat panggilan telepon itu. Sedangkan kedua gadis remaja yang masih tetap duduk di tempatnya masing-masing hanya bisa saling bertukar pandang seolah bertanya satu sama lain.
"Apaa..." Baiklah saya akan segera kesana. Tolong lakukan yang terbaik, terima kasih." Panik Robert dan segera mengakhiri panggilan itu.
"Mami mau ikut ke Rumah Sakit?" Tanya Robert pada istrinya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Siapa yang sakit sih Pi? Mami ikut deh." Tanya Riany yang juga ikutan panik.
"Nanti Papi ceritain di jalan, sekarang kita cepat bersiap-siap dan pergi ke Rumah Sakit." Kata Robert seraya membimbing istrinya ke kamar untuk mereka bersiap-siap.
Percakapan sepasang suami istri itu pun terdengar juga oleh kedua gadis remaja yang baru saja masuk ke ruang tengah.
"Kira-kira siapa yang sakit ya? Apa ada saudaramu yang sedang sakit, Si?" Tanya Lova yang sedikit penasaran, namun perasaan gadis itu juga mendadak tidak nyaman saat itu.
"Kayaknya gak ada deh, Va. Saudaraku khan di luar negeri semua ga ada yang di dekat sini." Jawab Siera yang sama penasarannya.
Saat kedua remaja itu melihat orang tua Siera yang baru keluar kamar, mereka segera menghampiri orang tua Siera hendak bertanya pada mereka.
"Pi, Mi, siapa yang sakit? Kog Papi panik gitu sih?" Tanya Siera yang sudah sangat penasaran.
"Si, kamu sama Lova tidur saja duluan ya. Tidak usah menunggu Papi sama Mami pulang. Besok khan kalian libur, jadi besok Papi ceritain ya." Kata Robert yang berusaha tenang dan memberi pengertian kepada kedua gadis remajanya.
"Ya sudah kalau begitu, Papi sama Mami hati-hati di jalan ya." Kata Siera lagi seraya mengantarkan kedua orang tuanya sampai pintu depan bersama dengan Lova yang selalu mengekori Siera.
Setelah kepergian sepasang suami istri itu, kedua gadis remaja itu pun memasuki kamar Siera dan mereka membaringkan tubuh mereka di ranjang queen size di kamar itu. Perasaan Lova masih tetap tak nyaman, sehingga gadis itu hanya diam dan gelisah di tempat tidur.
Karena mereka sudah lelah dengan aktifitas mereka hari itu, mereka pun akhirnya tertidur juga.
Di Rumah Sakit
Sepasang suami istri melangkah tergesa-gesa menuju meja resepsionis Rumah Sakit dengan perasaan yang sulit di artikan. Riany telah mendengar cerita dari suaminya tentang siapa yang saat ini hendak mereka kunjungi di Rumah Sakit ini.
"Maaf, saya mendapat panggilan dari rumah sakit ini tadi. Saya ingin bertanya dimana ruang perawatan keluarga Elvarette?" Tanya Robert setibanya di depan meja resepsionis.
Belum sempat suster menjawab pertanyaan dari Robert, seorang pria dengan snelli yang belum di lepasnya menghampiri pasangan suami istri itu.
"Tuan Robert?" Tanya pria itu begitu tiba di depan pasangan suami istri itu.
"Iya, benar saya Robert." Jawab Robert seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pada pria itu.
"Perkenalkan saya Dokter Andreas yang menangani Tuan dan Nyonya Elvarette." Sapa Dokter Andre yang menyambut uluran tangan Robert.
"Mari ikut saya Tuan." Kata Dokter Andre lagi.
"Maaf kalau saya boleh tahu apakah Anda adalah saudara pasien?" Tanya Dokter Andre sambil terus mengarahkan jalannya.
"Kami kerabat dekat dari pasien." Jawab Robert singkat.
"Bagaimana dengan kondisi mereka sebenarnya, dok?" Tanya Robert pada dokter Andre karena sudah sangat penasaran.
Dokter Andre pun menghentikan langkahnya di depan ruangan ICU dan berbalik menatap Robert sejenak sebelum dia menjelaskan kondisi pasiennya pada Robert.
"Sebelumnya saya mewakili team dokter yang menangani pasien, meminta maaf. Kami telah berusaha sebaik mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain." Kata Dokter Andre menjelaskan sedikit tentang apa yang telah terjadi.
Riany yang mendengar kalimat Dokter yang masih menggantung itu pun sudah mulai menangis karena membayangkan hal buruk yang terjadi pada sahabatnya. Robert segera merengkuh istrinya ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan istrinya, walau hatinya pun merasa sangat sedih mendengarkan penjelasan Dokter Andre.
"Nyonya Elvarette meninggal sesaat kami baru saja menangani beliau, sedangkan Tuan Elvarette saat ini kondisinya masih sangat lemah. Tuan Elvarette telah sadar dan meminta kami untuk segera menghubungi anda." Lanjut Dokter Andre lagi, menjelaskan tentang seluruh kondisi pasien yang di tanganinya.
"Oh... Chintya..... Itu tidak mungkin. Apa yang telah terjadi pada kalian sebenarnya?" Jerit histeris Riany setelah mendengarkan penjelasan Dokter Andre.
"Ini ruangannya, silahkan Tuan, Nyonya." Kata Dokter Andre mempersilahkan dan membukakan pintu ruangan ICU itu untuk pasangan suami istri yang bersamanya.
Bunyi alat-alat penunjang kehidupan terdengar di telinga mereka, saat mereka memasuki ruangan itu. Dokter Andre segera mengarahkan pasangan suami istri itu untuk melihat pasiennya. Saat melihat dua brankar di ruangan itu, Riany hanya menekap mulutnya menahan jerit tangisannya. Sedangkan Robert pun hanya mampu menatap sahabatnya dengan pandangan yang begitu hancurnya.
Satu brankar berisikan sesosok orang yang telah di tutupi kain putih, yang dapat di pastikan itu adalah almarhumah Chintya. Sedangkan di brankar satunya lagi, terbaring seorang pria dengan luka-luka yang terlihat sangat mengenaskan. Pria yang tak lain adalah Frans sahabat Robert, suami Chintya dan tentunya ayah Lova.
"Tuan, Nyonya. Saya tinggal dulu sebentar ya." Pamit Dokter Andre seraya beranjak meninggalkan meraka.
Robert hanya mengangguk, tak ada lagi kalimat yang dapat di ucapkan olehnya saat itu. Setelah Dokter Andre meninggalkan mereka, Robert segera menarik kursi yang ada di dekat ranjang Frans dan memapah istrinya untuk duduk di kursi itu. Setelah menenangkan istrinya, Robert mendekati ranjang Frans dan menatapi sahabatnya itu. Sangat mengerikan saat melihat seluruh luka di sekujur tubuh Frans. Banyak luka seperti bekas cakaran dan kaki kanan yang di gips, kemungkinan Frans mengalami patah tulang kaki kanannya. Wajah tampan Frans pun tak luput dari luka cakaran.
Sungguh ironis melihat kondisi Frans saat itu. Robert dan Riany tak sanggup untuk melihat jenazah Chintya yang berada di sebelah Frans. Dengan melihat kondisi Frans saja, mereka dapat membayangkan bagaimana kondisi jenazah Chintya. Walau pada akhirnya nanti mereka tetap akan melihat kondisi Chintya yang pada kenyataannya tak jauh berbeda dengan kondisi suaminya Frans.
Tak lama setelah mengamati kondisi Frans, perlahan Frans pun membuka matanya. Saat Frans telah membuka matanya dengan sempurna, dia menatap sahabat dan istri sahabatnya itu bergantian. Frans masih sempat menyunggingkan senyumannya pada sahabatnya itu.
"Rob..." Lirih Frans menyapa Robert dan mengisyaratkan Robert untuk lebih mendekat kepadanya.
"Apa yang terjadi pada kalian sebenarnya?" Tanya Robert yang menahan kesedihannya.
Frans perlahan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan seuntai kalung dengan bandul bulan dan bintang. Perlahan Frans menyerahkan kedua benda itu ke tangan Robert.
"Waktuku tak banyak untuk bercerita pada kalian. Terimalah ini dan tolong berikan pada putriku Lovandra." Kata Frans yang sudah mulai melemah kondisinya.
"Rob, pastikan putriku selalu mengenakan kalung itu. Hanya kalung itu yang dapat melindunginya sampai waktunya tiba." Pesan Frans lagi.
Robert hanya mampu menggelengkan kepalanya, dan menangis dalam diam saat mendengar semua pesan yang Frans utarakan.
"Kau pasti bisa bertahan sobat, dan kembali pulang dan berkumpul bersama putrimu." Kata Robert yang mencoba menenangkan dirinya.
Riany hanya mendengarkan dan tak berhenti menangis saat mendengar setiap ucapan Frans.
Frans hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya lemah.
"Tidak Rob. Ini sudah hampir tiba waktuku." Kata Frans lagi.
"Rob, Riany tolong jaga putriku. Perlakukan dia seperti putri kalian sendiri. Aku mempercayakan putriku pada kalian." Kata Frans pada pasangan itu.
"Kami selalu menyayangi Lova seperti putri kami sendiri, Frans. Kau harus tetap bertahan untuknya Frans." Sahut Riany yang terbata-bata diselingi isak tangisnya.
"Ri, jangan menangis. Aku tak apa-apa. Dan aku percaya kalau kalian memiliki kasih sayang yang sangat besar untuk putriku." Kata Frans dengan senyumannya yang semakin lemah.
"Rob, ku titipkan perusahaanku juga sampai usia Lova genap 23 tahun dan siap untuk mengambil alih perusahaanku. Pengacaraku akan mengurus semuanya." Kata Frans lagi.
"Pastikan Lovandra tidak melihat jenazah kami berdua." Pesan Frans lagi yang terlihat semakin lemah.
Tak lama setelah mengucapkan pesan terakhirnya, Frans pun menyunggingkan senyumannya dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Frans....." Histeris Riany saat melihat Frans yang telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Para dokter yang baru saja ingin mengecek kondisi Frans, bergegas masuk dan memeriksa Frans saat mendengar teriakan histeris Riany. Robert memapah dan terus memeluk istrinya, memberi ruang pada team dokter untuk memeriksa kondisi sahabatnya itu.
"Maaf Tuan, kami telah berusaha semaksimal mungkin." Kata salah satu dokter yang menangani Frans.
Robert hanya terdiam dan mengangguk lemah untuk menjawab pernyataan dokter itu. Riany pun hanya mampu menangis, tak kuasa menahan kesedihannya. Mereka tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Lovandra saat mereka menyampaikan berita ini.
Tak lama keduanya pun meninggalkan Rumah Sakit setelah Robert menyelesaikan urusan administrasi dan menitipkan kedua jenazah sahabatnya.
Setibanya mereka di rumah, Riany segera masuk ke kamar putrinya. Riany mendapati kedua putrinya itu sudah terlelap. Dia berjalan mendekati sisi ranjang dimana Lova tertidur dengan damainya. Perlahan Riany duduk di sisi ranjang, khawatir pergerakannya dapat membangunkan mimpi gadis itu. Riany hanya menatap sendu pada Lova, perlahan tangannya membelai rambut Lova dan merapikan sedikit anak rambut gadis itu.
"Yang tabah ya nak. Sekarang kau juga adalah putriku." Gumam Riany pelan.
Setelah itu perlahan Riany bangkit dan meninggalkan kamar putrinya. Saat melangkah hendak keluar kamar, Riany mendapati Robert yang berdiri terpaku di depan pintu kamar putri mereka. Robert hanya memandang kedua putrinya yang sudah terlelap. Riany segera menghampiri suaminya dan menutup pintu kamar itu perlahan-lahan.
Mereka meninggalkan kamar putri mereka, menuju kamar mereka untuk beristirahat juga.