Four Husband'S From Different Clan'S

Four Husband'S From Different Clan'S
Part 6



Lovandra POV


     Sejak kedatangan tetangga baru di sebelah kediaman keluargaku, kualitas istirahatku jadi sangat terganggu. Entah apa yang di lakukan oleh tetangga baruku itu, hampir setiap malam kediaman itu sangat berisik seperti ada pesta.


     Gila kalau tiap malam pesta terus seperti itu. Kadang ingin rasanya aku menghampiri dan memaki mereka yang sangat berisik dan menganggu waktu istirahat orang lain. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan keinginanku itu.


     Bukan hanya itu saja, bahkan rasanya aku mulai menjadi gadis yang sial karena aku jadi sering terlambat ke kampus hampir seminggu ini. Seperti hari ini, tidak hanya hampir terlambat saja, aku bahkan menabrak seseorang saat terburu-buru menuju kelasku. Oh tak lupa juga dengan insiden yang menimpaku hari ini, sehingga aku mendapatkan memar di pelipis kananku ini.


     Rasanya badanku sangat lelah dengan semua aktifitas hari ini. Begitu aku memasuki kamar kost-anku, aku segera merebahkan tubuhku di kasur kecil di ruangan kamar kost yang tidak sebesar kamarku di mansion. Malam ini aku benar-benar ingin mendapatkan kualitas tidur yang sangat baik.


     Puas aku berleha-leha sejenak, aku segera melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri aku pun kembali mengistirahatkan tubuhku. Aku memandangi langit-langit kamar kost-ku ini. Terlintas bayangan tentang yang terjadi hari ini.


     "Hmm.... Siapa nama mahasiswa baru itu ya?" Gumamku pelan.


     Entah apa yang aku rasakan, aku penasaran dengan setiap gerak gerik mahasiswa baru hari ini. Tak lupa tatapan mata dinginnya yang tak lepas menatapku saat dia memperkenalkan diri. Juga saat di kafetaria dia pun masih menatapku dengan tatapam mata elangnya yang dingin itu.


     "Eh...El juga orangnya baik dan asik." Gumamku lagi saat terlintas tentang Daiva.


     Aku pun tersenyum-senyum sendiri saat mengingat tawa canda kami saat di kafetaria dan di mall hari ini. Tak lama kemudian aku menjadi sedih saat mengingat pertanyaan Daiva tentang keluargaku. Bayangan tujuh tahun yang lalu pun perlahan berputar ulang di benakku.


     Bulir air mataku pun ikut terjatuh. Dengan kasar aku menghapus buliran air mataku, aku telah berjanji pada mendiang kedua orang tuaku bahwa aku akan selalu tegar.


     Tahun ini adalah tahun terakhir masa kuliahku. Dan usiaku pun memasuki 23 tahun, dimana nanti aku akan mulai mengambil alih perusahaan peninggalan ayahku. Ya, aku harus kuat dan mampu menjalani semua hari dan juga takdirku.


      Aku mencoba mengalihkan pikiranku ke masa-masa yang indah, tak ingin kembali larut dan terpuruk dalam kesedihan lagi. Tak lama kemudian karena aku yang sudah terlalu lelah akhirnya aku pun terlelap.


    Dering ponselku bergema ke seluruh ruangan kamar kost-anku. Cahaya matahari pun telah menerobos masuk melalui celah gorden yang belum aku buka. Dengan malas aku pun membuka mataku, mengucek mata sebentar dan memperjelas pandanganku.


    "Huaammm..... Jam berapa sih ini?" Gumamku ku sembari menguap karena masih mengantuk.


     "Ya ampun sudah jam setengah sembilan, aku khan janjian sama El jam delapan." Panikku saat aku melihat jam di ponselku.


      Bergegas aku mengambil handuk dan lari ke kamar mandi, menbersihkan diri dan bersiap-siap. Setelah selesai bersiap-siap aku mengambil ponselku yang masih tergeletak di atas nakas dan melihat sudah banyak panggilan yang tak terjawab dan pesan chat yang masuk. Panggilan dan pesan-pesan yang berasal dari Siera juga Daiva.


     Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal dan meringis kecil saat membaca semua pesan dari mereka. Segera aku membalas semua pesan mereka.


     Aku sungguh bersyukur memiliki sahabat seperti Siera, gadis itu tak pernah sekali pun meninggalkanku saat aku sedang sangat terpuruk, bahkan gadis itu juga keluarganya selalu mensupport dan mengkhawatirkan diriku. Sampai terkadang aku merasa kekhawatiran mereka ppadaku terlalu berlebihan, Tapi semuanya itu aku benar-benar sangat bersyukur. Tanpa adanya mereka aku mungkin tidak akan bertahan hingga saat ini. Mengingat itu semua aku hanya tersenyum haru.


     Getar dan dering ponselku membuyarkan lamunan sesaatku. Segera aku angkat panggilan itu yang ternyata dari Siera.


     "Halo Lova, apa kamu baik-baik saja?" Sapa panik Siera ketika aku mengangkat panggilan darinya.


Sekali lagi aku hanya bisa meringis kecil.


     "Ya, Si. Aku baik-baik saja. Maaf tidurku terlalu lelap sampai tak mendengar panggilan darimu dan Daiva." Kataku menjelaskan agar sahabatku tidak khawatir lagi.


     "Ya ampun, aku khawatir kamu kenapa-napa. Daiva menelponku berkali-kali karena kamu tidak menjawab panggilannya. Katanya kalian janjian mau ke mansionmu ya?" Kata Siera yang terdengar lebih lega setelah mendapatkan penjelasan dariku.


     "Iya, El menawarkan untuk mengantarku pulang ke mansion pagi ini. Aku malah kebablasan tidur." Kataku lagi.


     "Huaa... Pasti menyenangkan, aku ikut ya." Kata Siera lagi dengan antusiasnya.


     "Ya sudah kamu ikut aja. Aku hubungi El dulu. Nanti kami jemput ya, oke." Kataku tak kalah antusiasnya.


     Sepertinya malam minggu ini akan sangat menyenangkan pikirku.


      "Si, kamu sekalian nginep aja di rumahku. Besok pagi kita jogging bareng." Kataku mengutarakan ideku.


     "Wuah, ide bagus tuh, sudah lama aku gak nginep di rumahmu. Ya sudah aku bilang Papi, Mami dulu ya. Aku tunggu kalian menjemputku ya. Bye Lova." Kata Siera yang kegirangan dan mengakhiri panggilannya.


     Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan ulah sahabatku ini. Siera yang sudah seperti saudariku sendiri sangatlah manja. Usianya memang lebih muda beberapa bulan dari usiaku, tapi karakternya sangatlah manja. Bukan hanya pada kedua orang tuanya saja, Bahkan keseringan Siera sangat manja kepadaku. Aku pun senang dan tak pernah merasa keberatan bila Siera menjadi sangat manja kepadaku, sampai terkadang Papi dan Mami Siera suka merasa tak enak hati karena ulah Siera.


     Tak lama setelah menutup panggilan Siera, aku segera menghubungi Daiva.


     "Halo El." Sapaku ketika panggilanku sudah di angkat olehnya.


     "Halo Va, kamu gak apa-apa? Apa kamu masih sakit, pusing atau apa gitu?" Panik Daiva saat mendengar suaraku.


     "Emm... Aku baik-baik saja kog El. Maaf tidurku terlalu lelap sehingga aku tidak mendengar panggilan darimu." Jawabku menjelaskan.


     Terdengar helaan nafas panjang dan lega dari seberang sana saat aku selesai menjelaskan kondisiku.


     "Ya sudah tidak apa-apa. Kamu jadi mau ku antar pulang ke mansionmu?" Tanya Daiva balik.


     "Iya jadi, itu pun kalau tidak merepotkanmu." Sahutku yang sudah kembali meringis walau Daiva tidak dapat melihatnya.


     "Tentu saja sama sekali tidak merepotkan. Kalau begitu aku jemput kamu di kost-an ya." Kata Daiva dengan nada senangnya.


     "Emm...El... Siera mau ikut sekalian, apa kamu lebih dekat untuk menjemput Siera dulu atau aku dulu?" Tanyaku sebelum Daiva menutup panggilannya.


     "Sepertinya aku jemput kamu dulu deh. Bukannya rumah Siera dekat dengan Mansionmu? Jadi biar nanti kita jemput Siera bersama-sama ya." Sambung Daiva cepat.


     "Baiklah, kalau begitu aku tunggu kamu di teras depan kost-an aku ya. Bye El, hati-hati di jalan." Kataku lagi dan segera mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Daiva.


     Setelah menutup panggilan itu, aku menatap wajahku di cermin meja rias kecilku. Merapikan sedikit penampilanku, memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas, juga beberapa keperluan yang ingin aku bawa pulang ke mansion. Setelah ku rasa semuanya sudah siap, aku segera keluar kamar dan mengunci kamar kost-anku, dan aku pun segera menuju teras untuk menunggu Daiva yang akan menjemputku.


Deg.....


     "Perasaan apa ini? Aduh kog jantungku tiba-tiba berdebar gak karuan gini sih..." Gumamku pelan seraya memegang dadaku yang berdebar-debar tidak karuan.


     Lima belas menit kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu halaman kost-anku. Siapa lagi kalau bukan Daiva pemilik mobil tersebut.


     Aku segera bangkit dari dudukku dan melangkahkan kakiku menghampiri Daiva yang sudah keluar dan berdiri di sisi mobilnya.


     "Hai princess, sudah siap berangkat sekarang?" Sapa Daiva dengan senyuman manisnya.


     Owh jantungku malah berdebar semakin kencang saat melihat senyuman dan mendengar sapaan dari Daiva.


     Daiva hanya terkekeh ringan mendapati pukulan kecil dariku, dan kemudian membukakan pintu penumpang dan mempersilahkan aku masuk dengan gestur yang membuatku semakin salah tingkah.


setelah menutup pintu penumpang Daiva berlari kecil ke arah pintu mobil satunya dan segera masuk dan menghidupkan mesin mobilnya. Sembari memasang seatbelt-nya dia melirikku sekilas.


     "Va, kamu benar baik-baik saja?" Tanya Daiva dengan tatapan penasaran dan sedikit cemas.


     Aku hanya menganggukkan kepalaku dan memberikan senyuman terbaikku untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku sadar jika mereka begitu mencemaskanku, mengingat cidera yang aku alami kemarin di kampus.


     Begitu melihat responku, Daiva pun ikut tersenyum dan mulai melajukan mobilnya untuk menjemput Siera.


      Tak lama di rumah Siera, kami pun pamit dan segera menuju mansionku yang tidak jauh dari kediaman Siera.


     Setibanya kami di mansionku, para pelayan sudah menyambut dan membawakan beberapa barang bawaanku. Aku melihat ke arah Daiva yang masih terdiam di sisi mobilnya dengan tatapan waspada yang sulit aku artikan.


     Perlahan aku menghampiri Daiva untuk mengajaknya masuk kedalam mansionku.


     "El... Ayo kita masuk." Kataku seraya menepuk pelan pundak pemuda itu.


     "Ehh...Iya. Ayo kita masuk." Sahut El yang sedikit terkejut, namun pemuda itu segera menetralkan tatapannya padaku.


     Kami bertiga masuk ke mansion peninggalan keluargaku dan beristirahat sejenak di sofa sambil mengobrol ringan.


     "El, malam ini aku nginep di sini, kamu ikutan juga ya." Ajak Siera tiba-tiba.


     Eh... Tuan rumahnya siapa, yang ngajak nginep siapa. Ya ampun Siera memang kebiasaan banget. Aku hanya dapat tersenyum dan menggelengkan pelan kepalaku melihat tingkah sahabatku ini. Sedangkan Daiva hanya mengangguk mengiyakan ajakan Siera.


     "Wuah... Besok pasti seru kita jogging bertiga." Kata Siera yang sudah kesenangan mendapatkan apa yang dia inginkan.


     Sejak memasuki mansionku, Aku memperhatikan gerak gerik Daiva yang berubah. Seolah mencemaskan sesuatu hal dan terlihat sangat waspada. Walau terkadang Daiva mencoba menutupi perubahan gerak geriknya itu dengan canda tawa dan senyumannya. Entah hal apa yang membuat perubahan pada pemuda itu.


     Hari ini kami menghabiskan waktu berkeliling mansionku, memasak bersama dan menonton film sambil bersenda gurau. Saat kami sedang menonton film di salah satu stasiun televisi, tiba-tiba terlintas keinginanku untuk barbeque malam ini. Akh rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati malam dan barbeque-an di halaman belakang mansion.


     "Hmm... Guys kayaknya enak nih kalau nanti malam kita barbeque-an." Kataku mengusulkan ideku ini.


     Sontak Siera yang tadinya sedang duduk malas-malasan langsung duduk tegap dan melotot ke arahku kesenangan.


      "Ayo Va kita barbeque-an, rasanya sudah lama banget deh kita gak barbeque bareng." Sahut Siera dengan sangat antusias.


     "Tapi kita harus belanja dulu." Kataku lagi dengan jahil dan mencoba mematahkan semangat Siera.


     "Alah gampang, khan ada El, pasti El mau nganterin kita belanja." Kata Siera denngan santainya sambil melirik ke arah Daiva.


Sedangkan yang di bahas malah hanya tersenyum. Ya ampun senyumannya lagi-lagi membuat jantungku berdebar tidak karuan lagi.


     "Ya sudah, ayo ladies kita berbelanja sekarang." Ajak Daiva seraya beranjak bangun dan mematikan siaran televisi yang sedang kami tonton.


     "Kalau begitu aku ambil tasku dulu ya." Kataku kemudian dan segera menuju kamarku untuk mengambil tasku. Siera juga melakukan hal yang sama denganku. membuntutiku ke arah kamarku.


     Sebelum kami bertiga berangkat ke supermarket terdekat, aku memanggil kepala pelayan di mansionku.


     "Bi Sinah...." Panggilku.


     "Ya Non, ada yang bisa bibi bantu?" Jawab Bi Sinah yang tergopoh menghampiriku.


Aku tertawa kecil melihat tingkah kepala pelayanku yang terburu-buru menghampiriku.


     "Ya ampun bibi tidak usah berlari dan terburu-buru gitu, santai aja sih." Kataku yang masih tertawa kecil. Sedangkan Bi Sinah hanya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali.


     "Bi, Lova minta tolong ya siapkan peralatan buat barbeque di halaman belakang. Nanti malam kita barbeque-an bareng-bareng ya bi." Kataku menjelaskan maksud dari panggilanku tadi.


     "Wuah Non, sudah lama banget kita tidak barbeque-an. Baik Non, bibi akan segera siapkan." Kata Bi Sinah dengan senyuman lebarnya.


     "Kalau gitu kami pergi dulu sebentar ya Bi, mau belanja buat barbeque-an nanti malam. Oke Bi... Dah Bi Sinah, kami pergi dulu ya." Kataku lagi seraya berlari kecil menuju pintu utama mansion.


     Bi Sinah yang memperhatikan tingkahku hanya tersenyum kecil dan berlalu segera menyiapkan keperluan barbeque di halaman belakang mansion.


      Bi Sinah telah bekerja di keluargaku sejak usiaku tiga tahun. Bahkan Bi Sinah juga tidak menikah, sedari muda mengabdikan hidupnya di keluargaku. Aku sendiri sudah menganggap Bi Sinah seperti ibuku sendiri. Kadang saat aku teringat kedua orang tuaku dan kembali sedih, Bi Sinah lah yang senantiasa menemani juga menghiburku.


     Rasanya aku benar-benar bersyukur di kelilingi orang-orang yang perduli dan mau membagikan kasih sayang dan perhatian mereka untukku.


      Meskipun aku tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian, tapi bagiku terkadang tetap merasa hampa karena kehilangan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuaku.


     Oh... Jangan lupakan tragedi yang menyebabkan kematian kedua orang tuaku, yang hingga saat ini aku masih tetap belum menemukan titik terang siapa yang telah membuat kedua orang tuaku harus kehilangan nyawa mereka.


Daiva POV


     Pagi ini Aku telah berjanji akan mengantarkan mateku pulang ke mansionnya. Tapi entah kenapa perasaanku jadi tidak nyaman saat aku tiba di depan kost-an mateku, bahkan aku menelponnya berulang kali pun tetap tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya aku pulang lagi ke rumahku dan menghubungi Siera. Aku dan Siera berulang kali menghubungi Lova, tapi masih tetap tidak mendapatkan respon dari gadis itu.


     Setengah jam kemudian handphoneku bergetar dan berbunyi nyaring. Aku segera melihat siapa yang menghubungiku. Dan ternyata mateku, tak ingin membiarkan mateku menunggu lama maka aku segera mengangkat panggilan darinya.


     Aku dapat bernafas lega saat mengetahui kalau mateku baik-baik saja. Dan aku segera meluncur ke tempat kost mateku untuk menjemputnya.


     Setelah menjemput mateku dan juga sahabatnya Siera, kami pun segera meluncur ke mansion mateku.


      Begitu memasuki mansion mateku dan turun dari mobil, aku merasakan aura kaum yang berlawanan denganku. Vampir... Satu kata itu yang terlintas di benakku. Tapi di mana mereka? Mataku hanya memandang ke sekeliling dan aku berusaha sewaspada mungkin.


      Aura vampir yang aku rasakan memang tidak terlalu dekat, tapi masih dapat ku rasakan. Sepanjang hari kami lewati dengan berbagai aktivitas dan aku berusaha untuk menyamankan diriku berada di dekat mateku. Aku pun menyadari kalau mateku dapat merasakan perubahan sikapku dan juga kegelisahanku.


     "El, semakin malam aura vampir ini semakin terasa." Kata Dion memindlink aku.


     "Ya, aku juga dapat merasakannya, kita harus tetap waspada." Jawabku yang masih tidak mengurangi kewaspadaanku.


      Acara barbeque malam ini memang menyenangkan, hanya saja aura vampir yang kuat membuat aku merasa sangat tidak nyaman.


     Dimana mereka, aku harus dapat menemukan mereka.