
Sinar bulan malam ini bersinar sangat terang, dengan di temani bintang-bintang yang juga memancarkan cahaya indahnya. Sedangkan beberapa orang yang berada di sebuah kediaman tampak bersukacita dengan acara malam mereka. Di iringi canda tawa dan kehangatan kasih sayang di antara mereka, malam yang dingin pun tak lagi mereka rasakan.
Tak jauh dari kediaman itu, beberapa pria juga melakukan hal yang hampir sama. Menikmati pesta malamnya, hanya cara mereka berbeda dari orang-orang pada umumnya. Berbeda kediaman, berbeda jenis pesta, berbeda juga makhluk yang berada di kedua kediaman itu.
Di salah satu kediaman, seorang pria tampan dengan wajah blasteran asia yang pucat sedang menuruni tangga mansionnya dengan santai. Pemuda itu tiba-tiba terdiam di salah satu anak tangga dan memejamkan matanya. Entah apa yang di pikirkan atau di rasakannya.
"Hey Ken... Cepatlah turun dan bergabung bersama kami" Kata salah satu temannya yang kebetulan melintas tangga itu.
Pemuda yang bernama Kenzo Julian Alvaro pun membuka matanya dan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga masih dengan santainya. Begitu tiba di lantai bawah, Pemuda yang biasa di panggil "Ken" oleh teman-temannya itu pun segera menghampiri semua teman-temannya yang telah berkumpul di ruang tengah di kediamannya.
"Hey Ken, ada apa denganmu, mengapa kau terlihat tidak seperti biasanya?" Sapa Allan salah satu temannya sambil merangkul pundak pemuda yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Tidak ada apa-apa" Sahut Ken singkat seraya menggelengkan kepalanya.
"Ken, tetanggamu para manusia itu sedang berpesta, sepertinya malam ini kita dapat menikmati mereka." Kata Jo teman yang lainnya, yang sedang duduk di sofa dan menikmati minuman yang berada di tangannya.
Mendengar kata-kata Jonathan salah satu temannya itu, reflek Ken mengepalkan kedua tangannya dan matanya berubah merah seketika.
Sontak teman-temannya yang melihat perubahan sikap Kenzo langsung keheranan dan saling melempar pandangan satu sama lain.
"Ken, ada apa denganmu? Tenanglah sedikit." Kata Allan yang masih berdiri di sisi Kenzo dan menyadari perubahan sikap sahabatnya itu.
"Jangan pernah salah satu dari kalian yang berani menyentuh dan mengganggu tetanggaku itu" Seru Ken dengan tegas dan berusaha memendam kemarahannya.
"Tapi Ken, aku merasakan hawa werewolf di sekitar kediaman tetanggamu itu." Celetuk teman yang lainnya.
Kenzo hanya terdiam. Seharian ini pemuda itu telah merasakan hawa werewolf Yang berada di kediaman tetangganya. Pemuda itu perlahan mengangguk kecil seraya duduk di sofa tunggal di ruangan itu.
"Aku tahu." Kata Kenzo singkat.
Semua teman-temannya yang mendengar hanya saling melempar pandangan satu sama lain kembali.
"Sudah sejak tadi pagi werewolf itu datang dan tinggal di mansion sebelah. Abaikan saja." Kata Kenzo lagi seraya kembali memejamkan matanya.
Semua teman-temannya tidak ada yang kembali berkomentar. Mereka pun melanjutkan pesta malam mereka.
_______________________________________
Di Kediaman Keluarga Elvarette
Acara barbeque yang di adakan di halaman belakang mansion begitu riuh, semua orang yang berada di sana sangat menikmati waktu malam dan acara barbeque keluarga itu. Walaupun sebagian besar para pelayan kediaman itu, mereka semua sangat menikmati kebersamaan keluarga itu.
"Non Lova mau mengeluarkan buah-buahannya sekarang?" Tanya Bi Sinah saat sajian barbeque sudah hampir habis.
"Oh iya, Bi. Keluarkan saja sekarang ya. Makasih ya Bi." Jawab Lova dengan senyuman manisnya.
"Baik Non, sama-sama." Kata Bi Sinah kembali seraya beranjak ke dalam mansion untuk mengambil buah-buahan yang sudah siap di sajikan.
Malam semakin larut, acara barbeque juga sudah selesai. Para pelayan mulai membersihkan sisa-sisa pesta mereka. Kedua gadis muda yang masih menikmati malam di gazebo juga sudah mulai terlihat mengantuk.
"Lova, Siera, sebaiknya kalian masuk dan beristirahatlah." Kata Daiva saat melihat kedua gadis yang bersamanya terlihat kelelahan.
"Hmm... Baiklah, kau juga harus segera beristirahat juga ya." Sahut Lova seraya beranjak meninggalkan Daiva yang masih berada di gazebo. Tak lupa Lova menyeret Siera bersamanya.
"Good night and have a nice dream girl's." Kata Daiva lagi sebelum kedua gadis itu berlalu terlalu jauh.
Daiva berdiri di sisi gazebo, dalam diamnya dia memperhatikan mansion yang berada persis di sebelah mansion mate-nya. Tak lama kemudian pemuda itu beranjak perlahan meninggalkan kediaman keluarga Elvarette.
Daiva POV
Aura vampir itu semakin kuat aku rasakan malam ini. Sepertinya bukan hanya satu vampir yang berada di sekitar kediaman ini.
"El, kelihatannya para vampir itu sedang berpesta. Dan sepertinya mereka berada di mansion sebelah." Kata Dion wolf-ku.
"Ya, aku juga merasakan aura vampir itu ada di mansion sebelah. Kita tunggu sampai mate kita dan sahabatnya pergi tidur, setelah itu kita pergi kesana untuk mengeceknya." Sahutku pada Dion di mindlink dan langsung memutuskan mindlink tanpa menunggu jawaban dari wolf-ku itu.
Hari telah semakin larut, kedua gadis ini sudah harus segera beristirahat. Aku menoleh dan memperhatikan para gadis yang sudah mulai terlihat mengantuk. Tanpa membuang waktu lama lagi aku mengarahkan kedua gadis itu agar segera masuk mansion dan segera beristirahat.
Setelah kepergian kedua gadis itu ke dalam mansion, aku memandang mansion sebelah yang kurasakan aura vampir yang semakin menguat. Perlahan aku berjalan meninggalkan kediaman keluarga mate-ku dan menuju ke mansion sebelah.
_______________________________________
TOK...TOK....TOK....
Suara ketukan di pintu mansion membuat aktivitas para penghuni mansion yang masih berpesta segera menghentikan aktivitas mereka.
Seorang pelayan segera berjalan ingin membukakan pintu.
"Biar saya saja yang membukakan pintunya. Kau kembali ke dalam saja." Kata tuan rumah itu seraya beranjak ke arah pintu mansionnya.
"Baik Tuan." Sahut si pelayan dan kembali masuk ke dalam.
Saat pintu mansion terbuka, sang tuan rumah hanya terdiam dan menatap datar pada tamunya. Begitupun sang tamu juga menatap datar dan dingin kepada pemilik rumah.
"Anda mau bertemu siapa?" Tanya pemilik rumah beberapa saat kemudian.
"Apa anda pemilik mansion ini?" Tanya balik sang tamu.
Pemilik mansion yang tak lain adalah Kenzo itu pun hanya mengangguk masih dengan tatapan dingin dan datarnya. Tanpa berbasa-basi tiba-tiba sang tamu yang tak lain adalah Daiva langsung bergerak dan menyerang Kenzo. Reflek Kenzo menghindar dari serangan mendadak yang di berikan secara tiba-tiba itu.
"Apa masalahmu?" Tanya Kenzo dengan tatapan tajamnya.
"Apa niatmu berkeliaran di sekitar manusia saat ini?" Tanya Daiva yang tidak berniat memberikan jawaban melainkan bertanya balik.
"Kau sendiri berkeliaran di sekitar manusia juga, lalu apa masalahnya jika aku pun berkeliaran di sekitar manusia, sama sepertimu?" Kata Kenzo dengan nada sinisnya.
"Vampir memiliki aturan untuk tidak mengganggu para manusia, apa kau lupa akan hal itu? Berbeda dengan kami kaum werewolf." Sahut Daiva yang tak mau kalah.
"Aku tidak mengganggu para manusia, aku hanya tinggal di sekitar manusia. Apakah itu juga bermasalah?" Tanya Kenzo lagi yang mulai terusik dengan sikap lawannya.
"Ya, untuk saat ini kau dan teman-temanmu yg berada di dalam memang tidak mengganggu manusia. Tapi aku yakin, cepat atau lambat kalian akan mengusik para manusia." Terang Daiva lagi.
Terlalu lama Kenzo tak kembali ke dalam, teman-temannya pun akhirnya menyusul Kenzo dan mereka sempat mendengar sedikit perdebatan dari Kenzo dan tamunya.
"Oh, rupanya ada tuan werewolf rupanya." Kata Jonathan yang menghampiri mereka dan berdiri di sisi Kenzo.
"Sebaiknya kita masuk dan berbicara di dalam, agar tidak menimbulkan kecurigaan para petugas keamanan yang sebentar lagi akan lewat sini." Kata Allan dengan bijak.
Para mahkluk immortal itu pun bergerak masuk ke dalam. Mereka tiba di ruang tengah dan mengambil posisi masing-masing. Daiva tetap berdiri dan menatap para vampir yang berada di ruangan itu. Allan salah satu teman Kenzo yang selalu bijak dalam hal apa pun bergerak ke sisi Daiva dan mengkode untuk Daiva duduk di sofa bersama mereka.
"Ayo duduklah, kita mengobrol baik-baik bersama-sama di sini." Kata Allan dengan kode kepada Daiva. Daiva pun akhirnya duduk di salah satu sofa tunggal yang tersisa di ruangan itu.
"Sebenarnya ada apa dan apa maksud kedatanganmu ini?" Tanya Allan dengan tenang.
"Akh, kita belum berkenalan bukan. Namaku Allansyah Mervino Radzar, kau dapat memanggilku Allan. Dan siapa namamu?" Kata Allan lagi.
"Aku Daiva. Apa maksud kalian berkeliaran di sekitar manusia saat ini?" Jawab Daiva dan mengulangi pertanyaan yang tadi dia berikan pada Kenzo.
"Kami hanya ingin berbaur, tidak memiliki niat apa pun di sini." Sahut Allan tetap dengan ketenangannya.
"Saat ini kalian tidak memiliki niat apapun, tapi nanti kalian akan mulai mengganggu mereka." Kata Daiva dengan suara yang mulai sedikit meninggi.
"Hey, apa maksudmu menuduh kami seperti itu?" Kata Jonathan menyela percakapan dengan emosi yang mulai terpancing.
Allan hanya mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Jonathan tetap tenang. Terlihat di wajah-wajah para vampir yang ada di sana mulai terusik dan mulai terpancing emosi. Kenzo sendiri hanya diam di sofa kebesarannya dan memejamkan matanya, seolah tidak terlalu perduli dengan percakapan itu. Kenzo mempercayakan Allan yang akan menyelesaikan masalah malam itu, selain Allan adalah teman dan sahabat baiknya, Allan juga asisten sekaligus tangan kanannya Kenzo.
"Dengar Daiva, kami di sini memang hanya ingin berbaur dengan manusia, tapi kami tidak berniat menganggu manusia sampai kapan pun, seperti dugaanmu terhadap kami itu." Kata Allan mencoba menjelaskan dengan tetap menjaga ketenangannya.
Daiva hanya diam dan memandang mereka dengan tatapan yang meremehkan. Melihat tatapan Daiva, beberapa vampir di sana kembali tersulut emosi. Allan mengedarkan pandangan kepada teman-temannya dengan tatapan memperingatkan mereka untuk tidak bertindak gegabah.
"Kau tidak percaya apa yang telah aku jelaskan tadi?" Tanya Allan kembali.
"Apa kalian para vampir dapat di percaya?" Tanya balik Daiva dengan tatapan sinis dan mengejeknya.
"Kau......" Teriak Jonathan dan bergerak cepat ke arah Daiva dan memukul pemuda itu.
Daiva yang selalu siaga dengan situasi sekitarnya pun reflek menghindari pukulan yang Jonathan berikan. Kenzo membuka matanya dan menggebrak meja di depannya dengan tatapan mata merahnya. Semua yang ada disana pun kembali diam dan duduk di tempat mereka kembali.
"Duduk tenanglah Jo." Kata Kenzo dingin.
"Dan kau (menunjuk ke arah Daiva), percaya atau tidaknya dengan apa yang telah Allan katakan itu adalah urusanmu. Kami di sini memang hanya ingin berbaur dengan manusia tanpa ada niat apa pun dan sampai kapan pun kami tidak berniat mengganggu manusia. Apa kau sudah cukup dengan penjelasan dari kami. Jika sudah silahkan meninggalkan tempat ini." Kata Kenzo final, panjang lebar menjelaskan dan menutup pertemuan mereka.
"Baiklah, aku akan mencoba percaya pada kalian, jika sampai aku mendengar ada masalah yang kalian perbuat, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan kalian." Ancam Daiva dan kemudian pemuda itu pun bergerak meninggalkan kediaman itu.
Para vampir yang berada di ruangan itu pun geram saat mendengar ancaman yang di berikan oleh Daiva. Mereka tidak dapat menerima apa yang sudah Daiva katakan tadi.
"Sebaiknya kalian juga kembali ke kediaman kalian, tinggalkan aku sendiri. Dan Allan, ke ruang kerjaku sekarang." Kata Kenzo setelah kepergian Daiva dan beranjak menuju ruang kerjanya.
"Apa yang mau kau bicarakan, Ken?" Tanya Allan begitu mereka tiba di ruang kerja milik Kenzo.
"Aku minta padamu untuk mengontrol dan menasehati semua kaum kita terutama teman-teman dekat kita untuk tidak mengganggu para manusia." Kata Kenzo sembari duduk di sofa di ruangan kerjanya.
"Tanpa kau pinta pun itu sudah pasti akan ku lakukan, Ken." Jawab Allan sembari memutar bola matanya malas.
"Bukan hal itu saja yang ingin aku bicarakan padamu, Al. Gadis itu juga masuk dalam prioritas utama untuk kita tidak mengganggunya, bila perlu kita harus menjaganya." Kata Kenzo lagi yang terdengar begitu ambigu dengan pernyataannya.
"Gadis mana yang kau maksud?" Tanya Allan yang mengeryitkan kedua alisnya.
"Yang tinggal di mansion sebelah." Jawab Kenzo singkat.
"Apa urusannya dengan kita sehingga kita juga harus menjaga gadis itu?" Tanya Allan yang sudah mulai kesal karena pernyataan Kenzo yang sepotong-sepotong tidak jelas.
"Ehmm.... Sebenarnya... Sebenarnya...." Dengan terbata-bata dan tidak jelas Kenzo seperti enggan melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya apa Ken? Mengapa kau begitu tidak jelas seperti sekarang sih?" Sela Allan yang sudah mulai jengkel dengan sikap sahabatnya itu.
"Sebenarnya dia adalah liebe-ku." Kenzo menjawab dengan pelan nyaris tak terdengar.
"What?? Are you seriously?" Kaget Allan yang mendengar pernyataan dari sahabatnya itu.
"Ya... Saat tiba di sini beberapa waktu lalu, aku sempat bertemu dengannya, aroma darahnya berbeda dengan aroma darah manusia lainya. Begitu memabukkan dan sangat menggodaku, dan aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya saat berada di dekat gadis itu." Jelas Kenzo tentang apa yang dia rasakan.
"Wow.... Calon Ratu kita dan gadis itu sangat cantik, begitu menggoda." Sahut Allan dengan menyeringai jahil.
BRUGH....
Spontan satu pukulan mendarat tepat di wajah tampan Allan tanpa sempat pemuda itu hindari.
"Hey.... Ini sakit kawan, mengapa kau memukulku?" Kata Allan seraya bangkit dan meringis kesakitan.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh atau menggoda gadis itu, bodoh." Marah Kenzo yang masih setia dengan sikapnya yang sudah siap ingin memberikan pukulan susulan kepada sahabatnya.
"Wow... wow.... Tenanglah, aku tidak akan berani menggoda calon Ratu-ku itu. Kau tenang saja, aku akan memerintahkan beberapa kaum kita untuk menjaga calon ratu kami." Kata Allan yang sedikit ngeri dengan sikap sahabatnya yang mulai berubah posesif itu.
Selesai berbincang di ruang kerja Kenzo, Allan pun berpamitan dan pergi meninggalkan mansion Kenzo. Sedangkan Kenzo kembali ke kamarnya dan berdiri di balkon, menatap tajam pada salah satu balkon kamar tetangganya yang dimana sudah gelap dan tidak ada aktivitas lagi. Ya, tentu saja balkon kamar Lovandra yang saat itu sedang di perhatikan oleh Kenzo.