Four Husband'S From Different Clan'S

Four Husband'S From Different Clan'S
Part 18



PLAKKK.....


    Tamparan keras mendarat di pipi pucat pria itu dan memancing kemarahan pria itu pada sosok gadis yang baru saja menamparnya dan menatapnya dengan tatapan tajam dan angkuh.


    "Jangan pernah menyentuhku sembarangan, aku tidak suka kau memelukku seperti tadi." Peringat Lova masih dengan tatapan tajamnya.


   Lova segera beranjak hendak meninggalkan pria itu sesegera mungkin, sampai akhirnya dia harus terhuyung kebelakang karena tarikan keras dari Shadow yang membuatnya terpaksa berbalik kembali dan jatuh lagi ke dalam pelukan Shadow.


    Kali ini Shadow tidak akan melepaskan gadis yang telah berani menamparnya. Shadow mengencangkan pelukannya pada gadis itu dan menc**m bibir gadis itu dengan kasar.


    Lova yang kembali mendapatkan perlakuan tak senonoh itu meronta untuk melepaskan dirinya dari pria itu, tapi tenaganya kalah kuat dari tenaga pria itu.


    Setelah puas menc**m dan mel**at bibir gadis itu, Shadow melonggarkan pelukannya. Merasa pelukan yang mulai melonggar, Lova segera mendorong kuat Shadow dan melepaskan dirinya.


    Dengan kemarahan karena tidak terima dengan perlakuan dari pria itu, Lova kembali melayangkan tangannya dan hendak menampar pria itu kembali. Sayangnya kali ini gerakannya dapat di tahan oleh pria itu.


   "Lepaskan aku breng**k." Teriak marah Lova pada Shadow.


   "Kau sungguh gadis yang sangat berani rupanya. Aroma darahmu semakin menggiurkan untuk aku cicipi, ha...ha...ha...." Kata Shadow dan tertawa keras.


    Gelak tawa yang menakutkan itu menggema di ruangan itu. Mendengar tawa yang menyeramkan itu membuat bulu kuduk Lova merinding dan mulai menciutkan nyali gadis itu.


    "Le...Lepaskan aku." Kata Lova terbata seraya berusaha melepaskan tangannya yang masih di genggam erat oleh Shadow.


    "Melepaskanmu?" Tanya Shadow sinis


    Perlahan Shadow mendekati Lova, salah satu tangannya yang bebas membelai wajah cantik gadis itu. Shadow menyibakkan rambut gadis itu hingga terlihat leher putih jenjang milik gadis itu.


   Shadow memeluk pinggang ramping gadis itu dan mengunci pergerakan gadis itu. Aroma darah yang sangat memabukkan pun semakin menguar dan tercium oleh shadow yang membuatnya semakin ingin merasakan darah segar gadis itu.


    Shadow mendekatkan wajahnya ke leher jenjang Lova, mengendusi leher itu. Taringnya telah muncul dan iris matanya pun telah berubah. Lova yang mendapatkan perlakuan itu terus meronta dalam pelukan Shadow.


   Saat taring itu mulai menyentuh kulit Lova dan hendak tertancap di leher jenjang gadis itu, tiba-tiba Shadow terpental jauh hingga menabrak dan menghancurkan pintu ruangan itu.


    Lova yang tidak merasakan apa pun dan merasakan pelukan Shadow yang terlepas dari pinggangnya segera membuka matanya. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


    Pria menyeramkan yang sesaat lalu ingin menghisap darahnya kini tersungkur tak sadarkan diri setelah membuat pintu ruangan itu hancur.


   Para penjaga dan pelayan berdatangan saat mendengar suara keributan dari ruangan itu. Salah satu bawahan kepercayaan Shadow mulai memerintahkan anak buahnya untuk membawa Shadow ke ruangan pengobatan.


   Sedangkan para pelayan mulai mendekati Lova dan mengajak Lova untuk kembali ke kamarnya. Tak satu pun dari mereka yang tahu apa yang baru saja terjadi.


    Setibanya Lova di kamarnya, gadis itu melangkahkan kakinya ke arah balkon dan memandangi langit malam yang begitu gelap malam itu tanpa butiran bintang satu pun.


    Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tandanya hari sudah berganti. Hari ini adalah hari jadi Lova yang ke 23 tahun. Lova masih setia memandangi langit malam di teras balkon kamar itu.


    Dalam benak gadis itu bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi tadi? Mengapa dracula itu terpental jauh hingga menghancurkan pintu ruang makan? Banyak pertanyaan mulai muncul dalam benak cantik gadis itu.


    Lova mengeluarkan kalung dari balik bajunya dan menggengam erat kalung itu. Perlahan Lova memejamkan matanya dan membayangkan dirinya saat ini sedang bersama dengan Grizelle yang ceria.


    "Akh... Aku merindukan gadis penyihir itu." Kata Lova dalam hati.


    Tanpa Lova sadari tubuhnya berpendar dan perlahan menjadi transparan dan menghilang.


____________________________________________


    Sementara itu di dalam hutan Kenzo, Gerald, Daiva, Steven dan rekan-rekannya yang kelelahan mulai terlelap satu persatu. Lelah tubuh mereka setelah pertarungan membuat mereka tertidur pulas guna memulihkan stamina mereka.


    Tak lama setelah mereka semua terlelap, seberkas cahaya muncul di dekat Grizella yang sudah tertidur pulas. Cahaya itu perlahan memunculkan sosok seorang gadis yang berdiri sembari memejamkan matanya dan salah satu tangannya menggengam erat liontin kalung yang melingkar di lehernya.


    Setelah sosok gadis itu sudah terlihat sempurna, cahaya itu pun menghilang. Tak lama kemudian perlahan gadis itu membuka matanya dan kebingungan dengan keberadaan dirinya di tempat lain yang bukan tempatnya semula.


    "Ech aku ada di mana ini?" Sontak gadis yang terkejut itu sembari memperhatikan sekelilingnya.


    Mendengar suara gadis itu mereka yang baru saja terlelap sontak terbangun dan melihat ke arah gadis itu.


    "Lovaa...." Teriak mereka semua bersamaan saat melihat gadis yang berdiri di dekat Grizelle.


    "Kalian?" Tanya Lova yang masih kebingungan dan mengamati satu persatu mereka yang ada di sana.


    "Ini....Ini... ada di mana?" Tanya Lova tergagap, masih dalam kebingungannya.


    "Oh syukurlah kau kembali kakak ipar. Ini ada di hutan." Kata Grizelle seraya bangkit dan memeluk Lova dengan erat.


    "Bagaimana kau bisa berada di sini Lova?" Tanya Daiva yang berjalan menghampiri Lova di ikuti oleh yang lainnya.


   "Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini." Jawab Lova yang masih terlalu bingung dengan situasinya.


    "Sebenarnya apa yang telah terjadi pada dirimu?" Tanya Gerald.


    "Sebaiknya kita kembali secepatnya sebelum Shadow menyadari kalau Lova menghilang dari kediamannya." Sela Allan dengan bijak.


    "Kau benar Allan, sebaiknya kita kembali sekarang." Kata Kenzo seraya mendekati Lova dan hendak menggendong Lova untuk melesat keluar hutan.


    "Hei kau mau apa?" Panik Lova saat melihat pergerakan Kenzo.


    "Menggendongmu." Jawab Kenzo acuh.


    "Aku bisa jalan sendiri, tidak perlu kau gendong." Kata Lova ketus.


    "Jika kau berjalan sendiri, maka kita tidak dapat keluar hutan dengan cepat." Kata Kenzo yang mulai kesal.


    "Sudah...sudah sebaiknya Lova menunggangiku saja." Sela Daiva yang bersiap merubah wujudnya menjadi serigala.


    "Tunggu.... Sebaiknya kita menggunakan teleportasi saja agar kita cepat tiba di luar hutan." Sela Gerald yang kini sudah membuka lubang teleportasi untuk keluar hutan itu.


    Grizelle segera menggandeng Lova dan menarik Lova untuk memasuki lubang teleport itu. Para pria mengikuti langkah kedua gadis itu. Setelah mereka semua memasuki lubang itu oun perlahan menghilang dan muncul di luar hutan di mana mobil mereka terparkir rapi.


    "Ayo kita segera pulang." Kata Grizelle dengan cerianya.


    Mereka semua masuk kedalam mobil dan setelah itu mobil pun mulai bergerak meninggalkan lokasi hutan itu.


    Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


    Lova yang merasa sangat lelah dengan semua pikirannya dan mulai mengantuk perlahan gadis itu jatuh tertidur. Kepala Lova terjatuh di pundak Grizelle saat Lova sudah terlelap.


    "Ech.... Kakak ipar tertidur rupanya." Kata Grizelle pelan saat merasakan kepala Lova yang terjatuh di pundaknya.


    Dengan perlahan Gerald memindahkan kepala Lova agar bersandar pada pundaknya.


    "Kak, biarkan saja, nanti kakak ipar terbangun." Kata Grizelle mencegah kakaknya.


    "Aku hanya membuatnya lebih nyaman, kalau dia bersandar padamu yang ada nanti lehernya sakit." Kata Gerald pada adiknya.


   "Huhh kakak beralasan aja. Bilang aja mau nempel-nempel sama kakak ipar." Cibir Grizelle meledek kakaknya.


    Gerald mengacuhkan kata-kata adiknya. Perjalanan itu memang agak lama sehingga Lova dapat tertidur dan mengistirahatkan dirinya.


____________________________________________


     "Lova.... Lova.... Bangunlah Nak."


     "Princess.... Happy birthday."


    "Ehm.... Aku ada dimana? Papa, Mama?" Gumam Lova dan membuka matanya perlahan.


    Suasana putih terang terlihat jelas saat Lova baru saja membuka matanya. Lova memperhatikan sekelilingnya sampai pandangannya berhenti di kedua orang tuanya yang berdiri di hadapannya.


    "Papa, Mama, ini di mana?" Tanya Lova kebingungan.


    "Princess Papa sudah bertambah usia lagi sekarang." Kata Frans tanpa berniat menjawab pertanyaan anak gadisnya.


    "Selamat ulang tahun sayang." Kata Chintya seraya memeluk putri kesayangannya.


    "Terima kasih Pa, Ma. Tapi kalian belum menjawab pertanyaanku tadi." Kata Lova yang pura-pura merajuk pada orang tuanya.


    "Tidak penting dimana kita saat ini Nak. Papa ingin berbicara padamu, maukah kamu mendengarkan Papa?" Kata Frans lagi.


    "Ya Papa. Apa yang ingin Papa bicarakan padaku?" Jawab Lova.


    "Lova putri kesayangan Papa dan Mama, hari ini usiamu genap 23 tahun. Di mana semuanya yang ada dalam dirimu akan mulai muncul. Dan saat semua itu sudah sempurna, maka tugasmu adalah menjaga kedamaian dunia ini. Berbuat adil dan bijaksanalah dalam bersikap Nak. Kami tidak dapat terus mendampingimu. Tapi kami selalu ada bersamamu di dalam hatimu Nak." Jelas Frans panjang lebar.


    "Sebenarnya apa yang ada di dalam diriku, Pa? Aku tidak mengerti semua maksud Papa ini." Tanya Lova yang masih mencerna setiap kalimat Papanya.


    "Kau tidak harus mengerti saat ini sayang, perlahan kau akan paham dengan semua maksud dari penjelasan Papamu." Kata Chintya sembari mengelus puncak kepala putrinya dengan lembut.


    "Benar kata Mamamu Nak. Yang harus kamu ketahui saat ini adalah kamu harus selalu waspada dan jaga dirimu baik-baik." Kata Frans lagi seraya menggandeng tangan istrinya dan bergerak menjauhi Lova.


    "Pa, Ma, kalian mau kemana? Bisakah kalian menjelaskan dengan baik padaku agar aku paham dengan maksud kalian?" Tanya Lova seraya berjalan dan mengejar kedua orang tuanya yang terus menjauh darinya.


    "Sudah waktunya untuk kami kembali, Nak. Dan kamu juga harus kembali ke duniamu." Kata Frans dan melambaikan tangannya di ikuti oleh Chintya istrinya.


    "Jaga dirimu baik-baik dan ingat pesan Papamu, Princess." Sambung Chintya.


    "Papa....Mama.... Tunggu aku, ajak aku bersama kalian." Panggil Lova yang melihat kedua orang tuanya semakin menjauh dan mulai tak terlihat.


    "Papa.....Mama....." Teriak Lova dengan keras.


    "Va... Lova bangun... Apakah kau bermimpi buruk?" Panggil Grizelle sembari mengguncang pelan bahu Lova untuk membangunkan gadis itu.


    Beberapa saat lalu Lova yang terlelap mulai gelisah dalam tidurnya dan membuat kakak beradik yang ada di sisinya mulai panik. Beberapa kali Lova bergumam tidak jelas dan terakhir berteriak memanggil papa dan mamanya dengan peluh yang sudah membanjiri keningnya.


    Gerald dan Grizelle berusaha membangunkan Lova berkali-kali sampai akhirnya gadis itu terbangun juga dengan terengah-engah.


    "Hei minumlah dulu." Kata Gerald menyodorkan sebotol air mineral untuk Lova.


   "Thanks Ger." Kata Lova mengambil botol itu dan segera meneguknya hingga habis setengah botol.


    "Kakak ipar kenapa? Apakah habis bermimpi buruk?" Tanya Grizelle perlahan setelah Lova mengembalikan botolnya ke tangan Gerald.


    "Aku tidak apa-apa. Maaf membuat kalian panik." Jawab Lova dan kembali memejamkan matanya dan memijat pelipisnya pelan.


    Grizelle yang hendak bertanya lagi mengurungkan niatnya saat melihat kakaknya yang menggelengkan kepalanya seolah mengatakan untuk membiarkan Lova untuk tenang dulu saat ini.


   Setelah menempuh tiga jam perjalanan untuk kembali akhirnya mereka tiba di kediaman Lova. Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, matahari mulai mengintip dan menampilkan warna jingganya.


   "Wuah akhirnya kita sampai juga." Kata Grizelle yang baru saja keluar dari mobil sembari meregangkan otot-otot lelahnya sepanjang perjalanan.


   "Ayo kita masuk dan kita harus kembali beristirahat. Aku masih lelah dan ngantuk." Kata Lova yang mulai berjalan memasuki pelataran rumahnya.


    Setibanya di dalam Lova segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Usai membersihkan dirinya Lova langsung membaringkan dirinya di atas kasur empuk yang sangat di rindukan oleh gadis itu.


    Sedangkan yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Selain lelah mereka masih perlu memulihkan energi mereka. Akhirnya mereka semua kembali tertidur dan mengistirahatkan diri mereka hingga hari menjelang siang hari.


    Sementara itu di kastil yang suram, Shadow yang baru saja membuka matanya saat hari sudah mulai pagi, segera beranjak ke kamar yang di tempati Lova karena tidak merasakan aura dari gadis itu lagi.


   BRAAKKK....


    Shadow membuka pintu kamar itu dengan kasar dan melihat sekeliling kamar itu. Mendapati kenyataan bahwa gadis itu sudah tidak ada lagi disekitar kastilnya Shadow langsung mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya.


    "Di mana gadis itu? Bagaimana kalian bisa lalai untuk mengawasi satu gadis lemah itu?" Teriak murka Shadow pada para bawahannya.


    Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Shadow bergegas kembali ke aula dan duduk di atas singgasananya dengan angkuh.


    Shadow memejamkan matanya dan memfokuskan semua inderanya untuk mencari keberadaan gadis itu, tapi semua yang di lakukan olehnya nihil hasilnya.


    Dalam benak Shadow beribu pertanyaan tentang gadis itu pun bermunculan.


   "Siapa gadis itu sebenarnya? Mengapa gadis itu dan membuatku terpental begitu jauh dan sampai membuatku tak sadarkan diri?" Gumam Shadow dalam benaknya.


   Malam itu saat Shadow hendak menancapkan taringnya ke kulit leher jenjang Lova, tiba-tiba ada energi penolakan yang sangat kuat yang membuat Shadow terlempar jauh sampai tak sadarkan diri.


    Energi itu tidak hanya menolak tubuh Shadow saja, tapi energi itu juga menguras kekuatan dan energi yang Shadow miliki hingga hal itulah yang membuat Shadow tak sadarkan diri karena kehabisan energinya.


    "Akhhh.... Siapa gadis itu sebenarnya dan kekuatan apa yang dimilikinya? Apakah gadis itu adalah kutukan yang berasal dari ramalan itu?" Teriak Shadow dengan segala kegundahannya.


    Kata-kata terakhir yang di ucapkan wanita itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pun kembali terngiang-ngiang dalam pikiran Shadow.


    "Akan ada seorang gadis yang akan menghancurkanmu, saat tiba waktunya gadis itu akan datang dan menghancurkanmu. Memusnahkan keturunan dracula dari muka bumi ini." Kata wanita itu dan kemudian wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya.


    "Aakkkhhhhhh........" Teriak Shadow kembali.


    "Aku harus mencari tahu di mana gadis itu dan aku akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum gadis itu menghancurkanku." Seringai Shadow.