Four Husband'S From Different Clan'S

Four Husband'S From Different Clan'S
Part 2



Seorang gadis berjalan dengan anggun dan santainya di sepanjang koridor-koridor kampus, langkah tenangnya menuju ruang latihan basket dan cheerleader yang sedang latihan saat ini.


     Setibanya di depan ruangan basket, gadis itu pun segera masuk dan memandang sekelilingnya guna mencari sosok sahabatnya yang sebagai bagian dari team cheerleader. 


     Begitu dia menemukan sahabatnya yang baru selesai latihan, dia bergegas menghampiri sahabatnya itu.


     "Siera, kau sudah selesai latihan?" Tanya Lova begitu tiba di depan sahabatnya. Ya, gadis itu adalah Lovandra sahabat Siera.


     "Oh Lova... Ya, aku baru saja selesai." Jawab Siera sambil meraih botol minumnya dan meneguknya cepat.


     "Hai Lova, apa kabarmu? Apakah kau sudah tertarik untuk bergabung dengan kami team cheer?" Sapa Gladis sang pemimpin team cheerleader sembari berjalan menghampiri Lova dan Siera.


     "Hai Gladis, kabarku baik. Maaf aku masih belum tertarik untuk bergabung dengan team saat ini, mungkin lain kali." Jawab Lova dengan senyuman manisnya.


     "Lova.... Awas...." Jerit panik Siera tiba-tiba saat melihat bola basket yang melayang ke arah Lova.


Brugh...Duk....


     Belum sempat Lova berbalik dengan sempurna dan menghindar, bola basket itu telah membentur pelipis Lova dan membuat Lova terjatuh tak sadarkan diri.


     "Lova... Lova... Hey sadarlah." Panik Siera sambil memangku kepala Lova.


     Seketika sekeliling kursi istirahat para team cheer pun mulai sesak dengan mahasiswa dan mahasiswi pemain basket dan anggota team cheer.


     "Maaf ini kesalahanku." Kata seorang pemuda yang menghampiri Lova dan Siera.


     "Sebaiknya kita segera membawanya ke ruang kesehatan agar dia segera mendapatkan perawatan." Kata pemuda itu lagi yang kali ini mengambil inisiatif untuk segera menggendong Lova yang masih tak sadarkan diri.


      Pemuda itu segera menggendong Lova ala bridal style, dan orang-orang yang berkerumun pun segera membuka jalan, memudahkan mereka untuk segera ke ruang kesehatan. Pemuda itu segera melangkah bahkan setengah berlari bergegas menuju ruang kesehatan yang terdekat dengan ruangan basket. Siera dan Gladis juga mengikuti langkah pemuda itu.


Setibanya mereka di ruang kesehatan, Lova pun segera di baringkan di brankar dan beberapa dokter yang bertugas saat itu segera memeriksanya.


     "Apa yang telah terjadi padanya?" Tanya salah satu dokter itu.


    "Dia baru saja terkena bola basket." Jawab Siera singkat.


     "Oke, dia tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan shock ringan saja." Kata Dokter Harun setelah memeriksa kondisi Lova.


     "Ku rasa sebentar lagi dia akan siuman." Kata Dokter Harun lagi.


     "Terima kasih Dok." Kata Siera, Gladis dan pemuda itu bersamaan.


     "Baiklah, saya akan meninggalkan kalian kalau begitu. Kalian dapat mencariku di ruangan sebelah jika teman kalian sudah sadar nanti." Kata Dokter Harun lagi seraya beranjak meninggalkan mereka.


     "Hmm... Aku mau membuatkan teh manis hangat dulu untuk Lova saat sadar nanti kalau begitu." Kata Gladis yang juga beranjak meninggalkan ruang kesehatan itu.


     "Oke, Thanks." Jawab Siera singkat.


     "Kau ini ceroboh sekali, kalau sampai terjadi apa-apa pada sahabatku kau harus bertanggung jawab." Kata Siera tertuju pada pemuda itu sambil berkacak pinggang dengan tatapan kesalnya.


     "Maaf, aku sungguh tak sengaja." Sahut pemuda itu sambil menunduk merasa bersalah.


     Suasana pun hening seketika setelahnya. Siera dan pemuda itu tidak saling berbicara lagi. Siera hanya memandang sedih pada Lova yang masih belum juga sadar. Sedangkan pemuda itu hanya memandang Lova dan sesekali melirik Siera. Beberapa menit kemudian Siera bangkit dari duduknya dan beranjak menuju pintu ruang kesehatan.


     "Kau mau kemana?" Tanya pemuda itu saat melihat Siera yang hendak pergi keluar.


    "Aku mau ke kelas sebentar, mau mengambil tasku dan tas sahabatku. Kau tolong temani sahabatku dulu sebentar, aku akan segera kembali." Kata Siera menjelaskan.


     "Baiklah." Jawab pemuda itu singkat.


     Tak lama Siera meninggalkan ruangan itu, Lova pun perlahan sadar dan mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya di ruangan itu.


     "Ugh...." Lenguh kecil Lova sambil mencoba menyentuh pelipisnya yang masih terasa sedikit nyeri.


     "Hey... Kau sudah sadar. Tolong jangan banyak bergerak dulu. Apa ada yang terasa sakit?" Kata Pemuda itu yang langsung mendekati ranjang saat mendengar rintihan kecil Lova.


     "Emm.... Masih sedikit terasa pusing. Aku dimana dan kau siapa?" Jawab dan tanya Lova pada pemuda itu saat masih belum sepenuhnya mengingat apa yang baru terjadi padanya.


     "Kau di ruang kesehatan kampus. Namaku Daiva, Daiva Elfredo Jorell. Kau dapat memanggilku Daiva atau El. Maafkan aku, karena aku tak sengaja melempar bola basket dan membuatmu jadi seperti sekarang ini." Kata pemuda itu menjawab dan menjelaskan semuanya.


     "Hmm... Untung aku gak sampai amnesia, ya sudah ku maafkan lain kali kau harus lebih berhati-hati dan fokus pada lemparan bola basketmu itu. Oh iya namaku Lova." Jelas Lova sambil mengerucutkan bibir mungilnya karena merasa sedikit kesal saat memndengarka penjelasan tentang apa yang terjadi padanya.


     "Terima kasih kau sudah mau memaafkanku. Namamu hanya Lova?" Tanya Daiva sedikit mengeryitkan alisnya keheranan.


      "Lovandra Maulvi Elvarette, teman-temankku biasa memanggilku Lova." Jawab Lova yang menjelaskan nama panjangnya.


     "Nama yang cantik seperti orangnya, senang berkenalan denganmu Lova." Kata Daiva lagi sambil menyunggingkan senyumannya.


      Tak lama kemudian pintu ruangan itu pun terbuka, dan masuklah Siera yang membawa dua tas miliknya dan Lova. Di belakangnya menyusul Gladis dengan secangkir teh manis hangat untuk Lova.


     "Kau sudah siuman?" Tanya Siera sembari meletakkan kedua tas itu di atas nakas di samping ranjang yang di tempati Lova.


     "Hmm... Baru saja." Jawab Lova singkat sambil memijit kecil keningnya yang masih sedikit pusing.


     "Minumlah teh hangat ini dulu, aku akan memanggil dokter untuk mengecek kondisimu." Kata Gladis yang menyerahkan cangkir teh yang dibawanya pada Lova.


     "Thanks Gladis." Jawab Lova dengan senyuman manisnya sambil menerima dan menyeruput sedikit teh hangatnya.


Gladis pun mengangguk dan balas tersenyum pada Lova. Setelahnya dia bergegas memanggil dokter yang berada di ruang sebelah. Tak lama dokter Harun masuk diikuti Gladis di belakangnya.


     Dokter Harun tersenyum ke arah Lova saat melihat gadis itu telah sadar dan sudah duduk bersandar di ranjangnya.


     "Bagaimana keadaanmu, apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya dokter Harun sembari mengecek kondisi Lova.


     "Masih sedikit nyeri dan pusing, dok." Jawab Lova yang masih memijit pelan keningnya.


     "Hmm... Semuanya sudah bagus, kamu hanya masih perlu istirahat sebentar lagi untuk meredakan rasa pusingmu itu." Kata dokter Harun setelah selesai mengecek kondisi Lova.


     "Ya tentu saja boleh, tapi dia harus beristirahat lagi nanti ya." Kata dokter Harun sambil tersenyum tipis pada Lova.


     "Terima kasih dok." Kata Lova singkat.


     "Sama-sama. Saya tinggal dulu ya." Kata dokter Harun seraya berjalan meninggalkan mereka.


     Suasana seketika hening, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Tak lama kemudian Lova kembali berbaring dan memejamkan matanya guna menghilangkan rasa pusing yang masih di rasakannya.


     "Hmm... Guys, aku duluan ya. Aku baru ingat kalau aku masih ada kelas lagi hari ini." Kata Gladis tiba-tiba memecahkan suasana hening itu.


     Lova membuka matanya dan mengangguk dan tersenyum pada Gladis.


     "Baiklah, terima kasih atas bantuanmu Gladis." Jawab Siera mewakili semuanya.


     "Iya, sama-sama. Dan Lova, cepat pulih ya." Kata Gladis lagi sambil menepuk pundak Lova dengan lembut.


     "Iya, sekali lagi trims ya Gladis." Sahut Lova kembali dengan senyumannya.


     Gladis pun berlalu meninggalkan mereka bertiga yang masih setia berada di ruangan kesehatan itu. Sekitar tiga puluh menit berlalu sangat hening tanpa ada yang memulai percakapan. Lova juga tetap berbaring dan setia memejamkan matanya. Tak tahan dengan suasana Hening itu, akhirnya Siera bangkit dan mendekati Lova yang masih memejamkan matanya.


     "Lova, apakah kau tertidur?" Tanya Siera pelan, khawatir mengagetkan Lova bima benar sedang tidur.


     "Hmm... Tidak. Aku hanya memejamkan mata saja untuk menghilangkan rasa pusingku. Ada apa Si?" Sahut Lova sedikit serak.


     "Apakah masih terasa sangat pusing?" Tanya Siera lagi sedikit khawatir.


     "Sudah lebih baik sekarang." Jawab Lova menyunggingkan senyuman manisnya.


     "Kau mau pulang sekarang?" Tanya Siera lagi.


     "Masih terlalu dini untuk pulang, aku bosan di rumah. Dan aku lapar, bagaimana kalau kita makan dulu di kafetaria kampus?" Jelas Lova dengan sumingrahnya mengajak sahabatnya ke kafetaria.


     "Ya ampun, aku sampai lupa kalau kita belum sempat makan siang. Ayolah kita ke kafetaria dl, aku juga sudah lapar." Sahut Siera dengan antusiasnya sambil mengambil tas miliknya dan milik Lova.


     "Ekhem.... Ladies, gimana kalau aku yang mentraktir makan siang kalian kali ini. Anggap saja sebagai bentuk permintaan maafku atas kejadian hari ini." Kata Daiva memecahkan keasyikan dua sahabat itu.


     Lova dan Siera saling berpandangan dengan tatapan mereka yang seperti sedang berembuk satu sama lainnya. Pada akhirnya kedua gadis itu pun mengangguk bersamaan dengan senyuman manis mereka. Daiva segera bergerak ke dekat brankar hendak membantu Lova yang terlihat sedikit kesulitan untuk bangun. Tak lama kemudian ketiganya telah berjalan meninggalkan ruangan kesehatan dan menuju ke kafetaria.


     Sepanjang perjalanan ketiganya menuju kafetaria, terdengar bisik-bisik mahasiswi yang berpapasan dengan mereka. Mereka bertiga seolah acuh untuk menanggapi suara bisik-bisikan yang keluar masuk di telinga mereka masing-masing. Sekalipun bisikan-bisikan itu hampir seratus persen kalimat negatif tentang kedua gadis yang berjalan bersama Daiva sang idola para mahasiswi kampus, Mereka tetap tidak memperdulikannya.


     Daiva sendiri merasa sangat tidak nyaman dengan kalimat bisikan-bisikan itu, sesekali pemuda itu memperhatikan kedua gadis yang berjalan bersamanya. Melihat respon kedua gadis yang begitu tenang dan tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu, Daiva dapat tenang  dan bernafas lega.


     Setiba ketiganya di depan kafetaria, suasana kafetaria yang ramai seketika menjadi hening dan tak berselang lama kembali ricuh dengan bisikan-bisikan para penghuni kafe. Ketiganya meneruskan langkah mereka dan mencari meja kosong untuk mereka tempati.


     "Kalian ingin memesan apa, biar aku pesankan." Tawar Daiva saat mereka sudah duduk di kursi kosong di kafe itu.


     "Aku nasi goreng spesial sama jus jeruk ya." Sahut Siera cepat.


Lova hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya saat melihat ulah sahabatnya.


     "Aku mie bakso sama es alpukat saja. Terima kasih ya El." Jawab Lova yang tersenyum manis pada Daiva.


     "Oke, aku pesankan dulu ya." Kata Daiva seraya beranjak untuk memesan makanan untuk mereka.


     Sambil menunggu Daiva yang memesankan makanan untuk mereka, Siera mengambil novelnya dari tasnya dan melanjutkan membaca novel kesukaannya. Sedangkan Lova hanya terdiam memperhatikan sekitarnya.


      Tiba-tiba pandangan Lova terhenti pada sosok pemuda yang duduk menyendiri di meja pojokan kafe itu. Tatapan mereka pun bertemu dan pemuda itu sedikit terkejut dan mengeryitkan alisnya.


      Daiva baru saja tiba setelah memesan makanan untuk mereka bertiga. Saat melihat Lova yang terpaku pada satu titik, reflek Daiva mengikuti arah pandangan gadis itu. Sekilas tampak raut tidak senang pada wajah Daiva juga hal sama sama pada wajah pemuda itu saat keduanya beradu tatapan.


     "Ekhem..." Daiva berdeham guna menyadarkan kedua gadis itu. Sontak kedua gadis itu menoleh pada Daiva yang sudah duduk kembali bersama mereka.


     Tak lama pesanan mereka pun datang dan ketiganya mulai menyantap makanan mereka dengan tenang dan lahap. Selesai makan, mereka bertiga mengobrol tentang aktifitas kuliah mereka dan hal remeh temeh lainnya. Ketiganya pun juga saling bertukar nomer kontak mereka.


     Waktu terasa begitu cepat kala mereka terlalu asyik berbincang dan bercanda bertiga. Seolah hanya mereka saja yang berada di ruangan itu. Tak terasa hari sudah mulai beranjak sore.


     "Kalian berdua di jemput?" Tanya Daiva yang menyadari hari yang sudah mulai sore.


      "Mungkin kami pulang naik taksi nanti. Biasanya supirku yang menjemput, tapi tadi Papaku mendadak harus keluar kota dan supirku mengantar Papa pergi keluar kota." Kata Siera menjelaskan pada Daiva dengan sedikit mencebikkan bibir mungilnya sedikit kesal karena harus pulang menggunakan jasa taksi.


     "Oh ayolah Si, jangan cemberut gitu. Papamu mungkin memang sedang ada keperluan mendesak. Tidak apa-apa kita khan bisa mampir ke mall dulu sebentar mungkin. Lagian besok khan weekend, jadi kita bisa sedikit bersantai malam ini." Kata Lova yang berusaha menghibur Siera.


     "Memangnya kau sudah tidak pusing lagi?" Tanya Siera yang spontan terkejut dengan ajakan Lova, mengingat sahabatnya masih belum pulih benar setelah insiden hari ini.


     "Aku sudah jauh lebih baik sekarang, kau tenang saja." Jawab Lova mengedikkan bahunya santai.


     "Apa kalian selalu pulang bersama setiap hari?" Tanya Daiva memecahkan percakapan kedua sahabat itu.


      "Yup, kami selalu pergi dan pulang bersama." Sahut Siera senang sambil merangkul pundak Lova.


      "Kebetulan rumah kami berdekatan, hanya berbeda beberapa blok saja." Jelas Lova dengan senyuman lembutnya.


     "Oh begitu." Kata Daiva seraya mengangguk-anggukan kepalanya tanda memahami kedua gadis itu.


     "Kalau begitu bagaimana jika aku mengantarkan kalian dan menemani kalian ke mall juga. Kebetulan aku sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi hari ini." Tawar Daiva pada kedua gadis itu.


     Kedua gadis itu kembali berpandangan sebelum mereka menjawab.


     "Baiklah, ayo kita berangkat sekarang." Sahut kedua gadis itu bersamaan.


     "Oh ya ampun, kalian berdua ini kompak sekali, seperti anak kembar saja." Respon Daiva sambil menggelengkan kepalanya pelan dan mereka bertiga pun tertawa bersamaan.


     Ketiganya bangkit dan beranjak hendak meninggalkan kefetaria dan menuju ke parkiran mobil. Sebelum keluar dari kafetaria, Lova sempat melirik sekilas ke meja di pojok ruangan dan mendapati meja itu sudah kosong.


     Dengan sedikit kecewa hati, Lova pun bergegas menyusul kedua temannya.