
Steven POV
Aku berjalan sambil mencari dimana letak kafetaria kampus ini. Perutku telah meronta minta di isi karena pagi tadi aku tidak sempat sarapan. Langkahku terhenti sejenak saat aku melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berkerumun di depan sebuah ruangan.
Sekilas aku melihat ruangan apa itu dan tertera di pintu ruangan itu yang lantas ku ketahui kalau itu adalah ruangan kesehatan. Ku perhatikan pakaian para mahasiswa yang berkerumun itu, tampaknya mereka adalah team basket.
"Hmm... Mungkin ada salah satu pemain basket yang cidera." Pikirku sambil melanjutkan langkahku menuju kafetaria.
Akhirnya aku menemukan letak kafetaria, begitu memasuki ruangan aku segera mengedarkan pandanganku mencari meja kosong. Ku dapati meja kosong di pojok ruangan, aku pun segera memesan makanan dan duduk di kursi kosong itu.
"Akh beruntung sekali mendapat tempat di pojok ruangan ini." Gumamku dalam hati. Ya aku tidak terlalu suka dengan keramaian sehingga aku merasa beruntung dapat menempati meja kosong di sudut ruangan kafetaria ini.
Sambil menunggu pesananku datang, aku mengeluarkan buku yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan dan aku mulai membaca buku tersebut. Tak lama kemudian pesananku pun datang, dan aku mulai menyantap makananku sembari tetap membaca buku.
Suasana kafetaria yang ramai seketika hening sesaat, aku tidak terlalu menhiraukan sekelilingku. Hanya beberapa menit hening dan suasana pun normal ramai kembali seperti sebelumnya. Entah kenapa aku mulai sedikit penasaran ada apa yang membuat suasana ramai ini bisa menjadi hening sesaat seperti tadi.
Aku letakkan bukuku dan aku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Pandanganku beradu dengan tatapan gadis itu. Aku pun sedikit mengeryitkan alisku saat ku lihat ada memar di pelipis gadis itu.
"Apa yang terjadi pada gadis itu? Kenapa pelipisnya bisa memar seperti itu?" Aku bertanya-tanya sendiri dalam benakku.
Tiba-tiba seorang pemuda menghampiri meja gadis itu yang bersama temannya. Pemuda itu juga melihat ke arahku. Sesaat aku merasa tidak senang denngan kehadiran pemuda itu di dekat gadis itu.
"Siapa pemuda itu?" Batinku bertanya-tanya.
Aku masih penasaran dengan apa yang telah terjadi pada gadis itu dan siapa pemuda yang bersama mereka. Saat aku melihat mereka sudah mulai menyantap makanan mereka dan berbincang-bincang, aku pun menyudahi acara makan siangku. Bergegas aku memasukkan bukuku ke dalam tas dan aku segera meninggalkan kafetaria ini.
Ku langkahkan kakiku menuju ruangan kesehatan, hanya ruangan itulah yang terlintas di benakku untuk aku mencari sedikit informasi tentang apa yang terjadi pada gadis itu.
Mengingat tadi sempat banyak orang yang berkerumun di depan ruangan kesehatan itu. Anehnya kenapa aku begitu penasaran dengan gadis itu, belum pernah aku seperti ini. Mengingat aku selalu acuh pada orang-orang di sekitarku, tapi gadis ini sangat berbeda.
Setibanya aku di depan ruang kesehatan, aku mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu saat di persilahkan masuk dari dalam ruangan.
"Siang dok, maaf saya ingin bertanya, beberapa saat lalu ada beberapa mahasiwa yang berkumpul di depan ruangan ini. Apakah ada yang telah terjadi tadi?" Tanyaku pada dokter jaga di ruangan itu.
"Oh iya, tadi ada salah satu mahasiswi yang pingsan karena terkena lemparan bola basket. Apakah dia salah satu temanmu?" Jawab dan tanya dokter itu kembali.
"Oh saya mahasiswa baru disini. Saya hanya sedikit penasaran saja karena melihat banyak mahasiswa yang sempat berkerumun di depan ruangan ini tadi." Jawabku pada dokter itu.
"Kalau begitu terima kasih atas informasinya dok, selamat siang." Kataku lagi seraya berjabat tangan dengan dokter itu. Dokter itu pun hanya mengangguk kecil dan tersenyum padaku. Aku pun segera keluar dan pergi menuju parkiran.
Rasa penasaranku masih tetap ada sedikit, dan entah kenapa aku merasa sedikit khawatir dengan keadaaan gadis itu.
"Akh... Kenapa dengan diriku ini. aneh sekali, mengapa aku tak berhenti memikirkan gadis itu. Bahkan namanya saja saku belum tahu. Sebaiknya aku pulang sajalah." Pikirku sedikit frustasi dengan perasaan aneh yang muncul pada diriku.
Aku segera menuju mobil sportku dan begitu memasuki mobil, aku segera melajukan mobil untuk pulang kerumah. Ku rasa mandi dan tidur siang adalah hal yang tepat untuk menghapus segala macam pikiran yang berputar-putar di benakku ini.
Daiva POV
"Mate....Mate...." Teriak Dion wolfku di mindlink saat aku hendak melempar bola basket.
Aku pun mencium aroma rose yang sangat memabukkan dan pandanganku tertuju pada sosok gadis yang berjalan menghampiri para gadis team cheerleader. Aku mulai tak fokus dengan latihan basketku, mataku terus saja mengikuti gerak-gerik gadis itu. Karena fokusku yang hilang, tak sengaja lemparan bola basketku malah terarah kearah para gadis yang sedang mengobrol dan mengenai salah satu gadis itu.
"Ya ampun El, kau bodoh sekali. Kau malah melukai mate kita." Rutuk Dion dengan kesalnya.
"Kau sangat berisik dan mengganggu konsentrasiku." Balasku tak terima dan segera ku putuskan mindlink dengan Dion.
Aku segera berlari menghampiri kerumunan mahasiswa dan mahasiwi yang sudah berkumpul di sekitar gadis yang jatuh pingsan karena ulahku. Tak buang waktu lama aku segera mendekati gadis itu.
"Maaf ini kesalahanku." Kataku seraya mendekati dan berjongkok di sisi gadis itu.
"Sebaiknya kita segera membawanya ke ruang kesehatan agar dia segera mendapatkan perawatan." Kataku lagi dan segera aku menggendong mateku ala bridal style.
Aku bergegas membawa mateku ke ruang kesehatan, bahkan aku setengah berlari menuju ruang kesehatan. Aku hanya merutuki diriku sendiri yang sangat ceroboh dan telah membuat mateku tak sadarkan diri dalam gendonganku saat ini. Aku sungguh khawatir dengan kondisi mateku.
Setibanya kami di ruang kesehatan, Aku segera membaringkan mateku di atas brankar dan dokter segera memeriksa kondisinya.
Aku dapat bernafas sedikit lega saat dokter mengatakan kalau mateku tidak apa-apa. Aku hanya terdiam memandangi wajah cantik mateku dan mengabaikan percakapan dua teman gadis dari mateku ini.
"Untungnya mate kita gak apa-apa. Lain kali kau harus lebih berhati-hati El." Kata Dion yang juga merasa sedikit lega setelah mengetahui kondisi mate kami. Aku hanya mendiamkannya dan tetap memandangi mateku.
"Kau ini ceroboh sekali, kalau sampai terjadi apa-apa pada sahabatku kau harus bertanggung jawab." Kata salah satu gadis yang ikut bersama kami tadi.
"Maaf, aku sungguh tak sengaja." Kataku pelan dan menunduk karena merasa bersalah.
Gadis itu tak membalas kata-kataku lagi, suasana pun menjadi hening. Tak lama kemudian gadis itu bangun dari duduknya dan beranjak ke arah pintu ruang kesehatan.
"Kau mau kemana?" Tanyaku saat melihat gadis itu hendak meninggalkan kami.
"Aku mau ke kelas sebentar, mau mengambil tasku dan tas sahabatku. Kau tolong temani sahabatku dulu sebentar, aku akan segera kembali." Kata gadis itu menjelaskan.
"Baiklah" Kataku singkat.
Sepeninggalan gadis itu aku kembali memperhatikan mateku yang masih setia menutup mata lentiknya. Mateku sungguh sangat cantik, bibir merah muda yang kecil itu sungguh menggodaku untuk dapat mencicipinya. Namun aku masih waras dan tidak ingin mengambil kesempatan saat mateku tidak sadarkan diri seperti saat ini.
"Dia sangat cantik ya." Kata Dion di mindlink
"Ya, mate kita sangat cantik." Sahutku membenarkan perkataan wolfku.
Lova dan sahabatnya Siera hendak ke kafetaria, dan aku segera menawarkan diri untuk mentraktir mereka sebagai tanda permintaan maafku. Mereka pun tak menolak tawaranku dan kami bertiga segera keluar dari ruang kesehatan dan menuju ke kafetaria.
Sepanjang perjalanan menuju kafetaria aku mendengar bisik-bisik para mahasiswi yang berpapasan dengan kami. Aku sebagai werewolf memiliki pendengaran yang sangat tajam sehingga bisikan para gadis-gadis itu dapat terdengar sangat jelas di pendengaranku.
Sungguh aku merasa sangat tak nyaman dengan semua bisikan tentang mateku, bukan hanya aku saja bahkan Dion wolfku pun sudah menggeram karena kesal dengan bisikan-bisikan itu.
"Rasanya aku ingin mencabik-cabik mulut-mulut kotor para gadis itu, El." Geram Dion
Aku melihat sekilas mateku dan sahabatnya yang berjalan di sisiku. Mereka sangat tenang dan sama sekali tak terpengaruh dengan segala aktifitas bisikan itu.
"Tenanglah Dion, mate kita saja tidak menghiraukan bisikan iri para gadis itu." Kataku pada Dion, berusaha menenangkan wolfku yang sangat sensitif ini.
Setelah kami tiba di kafetaria, aku langsung menawarkan diri untuk memesankan makanan untuk mereka. Setelah mereka manyebutkan pesanannya masing-masing aku pun meninggalkan mereka untuk memesan pesanan makanan kami.
Saat aku kembali setelah memesan makanan, ku dapati tatapan mateku yang tertuju pada satu titik, sadangkan sahabatnya asyik membaca novel di sebelah mateku. Aku pun mengikuti arah pandang mateku, dan ku lihat seorang pemuda di pojok ruangan yang juga menatapku dengan tatapan tak sukanya.
"Siapa dia, El?" Tanya Dion sedikit menggeram tak suka.
"Entahlah..." Kataku singkat.
Aku berdehem untuk menyadarkan keasyikan aktifitas kedua gadis itu. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang dan kami segera menyantap makanan kami masing-masing dengan lahap. Selesai makan kami masih tinggal di sana dan kami mengobrol hal-hal remeh dan bertukar nomer kontak kami.
Aku menyadari hari sudah mulai sore dan aku segera menanyakan aktifitas kedua gadis itu selanjutnya. Mateku dan sahabatnya yang ingin pergi ke mall dulu, tanpa berpikir dua kali lagi aku segera menawarkan diri untuk mengantar dan menemani mereka. Pada dasarnya aku masih belum puas menghabiskan waktuku dengan mateku yang baru saja aku temui.
Kami bertiga segera meninggalkan kafetaria dan menuju parkiran kampus. Setelah kami masuk ke dalam mobilku, kami segera meluncur ke arah mall yang tak jauh dari lokasi kampus kami.
Sore hingga malam kami habiskan waktu berjalan-jalan keliling mall dan waktu kami banyak di habiskan di toko buku. Aku dan Dion merasa puas karena dapat menghabiskan waktu bersama mate kami hari ini.
Malam telah tiba dan kami telah kembali ke parkiran, tentunya aku telah siap untuk mengantarkan kedua gadis ini untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Lova..." Panggil Siera saat kami berjalan menuju parkiran mall.
"Hmm..." Sahut Lova yang terlihat enggan berbicara banyak karena sudah merasa lelah seharian ini.
"Besok khan weekend, kau menginap di rumahku saja ya malam ini. Lagian aku masih khawatir dengan kondisimu." Kata Siera lagi.
"Aku sudah gak apa-apa, Si. Aku mau pulang ke rumah aja." Kata Lova seraya tersenyum tipis pada Siera.
"Va, mendingan kamu nginep di rumahku aja ya, lagian kamu juga mau ngapain coba sendirian juga. Besok kita bikin kue bareng kayak biasa." Bujuk Siera yang belum mau menyerah.
"Aku tetap mau pulang ke rumah aja,Si. Tenang aja akku beneran sudah gak apa-apa kog, dan aku juga sudah biasa sendiri." Kata Lova lagi yang tetap kekeuh ingin pulang ke rumahnya sendiri.
"Baiklah kalau begitu, tapi nanti setelah kamu sampai rumah, kamu langsung kabarin aku ya." Sahut Siera yang akhirnya menyerah untuk membujuk Lova.
Aku hanya berjalan di belakang kedua gadis ini dan menyimak percakapan mereka. Dalam benakku bertanya-tanya, mengapa Siera mengatakan kalau mateku sendirian di rumahnya? Memangnya kemana keluarganya?
Aku sungguh sangat penasaran dan aku memberanikan diri untuk bertanya pada mereka.
"Ekhem.... Ladies, bolehkah aku bertanya? Kenapa Lova hanya akan sendirian di rumah, memangnya kemana keluarganya?" Tanyaku to the point.
Siera segera mundur dan menyejajarkan langkahnya dengan langkahku, gadis itu juga menyikut lenganku seolah memberi tanda untuk aku mendekatinya. Aku sedikit membungkuk saat aku paham Siera hendak membisikkan sesuatu padaku. Tatapan mataku masih tak lepas mengawasi mateku yang tetap berjalan di depan kami dengan sedikit menundukkan kepalanya tanpa sedikit pun menjawab pertanyaanku tadi.
"Kamu jangan pernah bertanya tentang keluarga Lova lagi nanti ya." Bisik Siera saat aku sudah mendekatinya.
"Kedua orang tuanya telah tiada. Nanti aku akan menelponmu untuk menceritakannya padamu. Yang pasti kamu jangan pernah bertanya lagi ya." Lanjut Siera masih tetap membisikiku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan penjelasan Siera. Gadis itu juga telah kembali berjalan di sisi mateku. Sedangkan aku masih setia mengekori langkah kedua gadis itu.
Setelah meninggalkan lokasi mall, aku pun mengantarkan Siera terlebih dahulu dan setelahnya mengantarkan mateku yang ternyata mateku memilih untuk pulang ke kost-annya.
Aku juga sempat menanyakan mengapa mateku ngekost di dekat kampus, dan mateku berencana pulang ke rumahnya besok pagi. Tentu saja aku kembali menawarkan untuk mengantarkan mateku besok. Walau mateku sempat menolak dan akhirnya mateku menyetujui untuk ku antar besok pagi.
Selesai mengantarkan kedua gadis itu pulang, aku bergegas melajukan mobilku ke arah mansionku karena aku juga sudah sangat penasaran dengan cerita Siera yang gadis itu janjikan tadi.
Setibanya aku di mansion aku segera masuk dan melangkahkan kakiku ke arah kamarku yang berada di lantai dua. Aku pun segera membersihkan diri dan merilekskan tubuh dan pikiranku di bawah guyuran shower.
Selesai membersihkan diri, aku memilih berbaring sambil mengecek ponselku. Beberapa pesan masuk dan pesan-pesan itu semuanya berasal dari Siera. Segera aku membaca dan membalas pesan Siera. Tak berselang lama setelah aku membalas pesannya, Siera pun langsung menelponku.
"Halo" Kataku menjawab panggilan gadis itu.
"Hai El, kamu baru sampai rumah?" Tanya Siera begitu mendapat jawabanku.
"Iya. Jadi gimana ceritanya?" Tanyaku langsung saking penasarannya.
"Ish... Kau ini gak sabaran banget. Jawab dulu pertanyaanku, tadi kau mengantarkan Lova pulang kemana?" Tanya Siera sedikit gemas karena aku yang tak sabaran untuk mendengarkan ceritanya.
"Dia minta di antar pulang ke kost-annya, memangnya dia tedak bilang sama kamu?" Tanyaku lagi.
"Dia tadi hanya bilang kalau dia sudah sampai di rumah dan ingin langsung beristirahat. Jadinya aku ga bertanya apa-apa lagi padanya." Jelas Siera padaku.
"Hmm... Ya tadi juga sepanjang perjalanan dia hanya terdiam. Aku pikir dia kelelahan." Kataku yang teringat dengan setiap gerak-gerik mateku saat aku mengantarkannya pulang.
"El... Berjanjilah padaku setelah aku menceritakan tentang keluarga Lova, kamu jangan pernah bertanya apa-apa lagi ya. Walau pun masih banyak pertanyaan yang akan tercipta nantinya, karena sampai saat ini pun aku dan keluargaku masih memiliki banyak pertanyaan yang tak pernah kami tanyakan pada Lova karena kami berusaha untuk menjaga perasaannya." Mohon Siera panjang lebar.
"Hmm... Baiklah. Memang apa yang telah terjadi pada keluarganya?" Jawabku mengiyakan permintaan Siera.