
Grizelle POV
Aku terbangun pagi ini dan meraba sisi tempat berbaringku mencoba memastikan calon kakak iparku masih terlelap di sisiku. Ya, saat ini aku ikut dengan Lova untuk ke acara camp yang di adakan oleh kampus Lova. Kosong??? Aku segera membuka mataku dan melirik ke sebelahku dimana Lova berbaring di sisiku. Benar-benar kosong, aku langsung menajamkan seluruhu inderaku dan mencari aura keberadaannya. Mengapa tidak dapat kurasakan lagi? Panik menderaku saat itu juga dan aku pun berteriak dan membuat semua yang masih tidur di dalam tenda yang kami tempati menjadi terbangun.
"Kyaaa.... Dimana Lova?" Teriakku panik.
"Grizelle, mengapa kamu berteriak seperti itu?"Kesal Siera yang terbangun kaget saat mendengar teriakkanku.
"Si, kemana Lova?" Aku mencoba menanyakan keberadaan calon kakak iparku pada Siera yang aku ketahui sebagai sahabat dekat Lova.
"Mungkin Lova sudah bangun dan berada di luar." Kata Siera asal sembari mengikat rambutnya.
Aku hanya terdiam dan memejamkan mataku, mencoba kembali memusatkan seluruh inderaku untuk mencari keberadaan calon kakak iparku. Aku mengabaikan perkataan Gladis yang ingin mencoba mengecek di luar tenda. Aku yakin usahanya pasti sia-sia, karena aku sendiri tidak merasakan keberadaan Lova.
Sepuluh menit kemudian Gladis kembali dengan tatapan panik dan cemasnya, aku yakin bahwa gadis itu juga tidak mendapatkan Lova di sekitar kami.
"Ada apa Gladis?" Tanya Meta dengan tenang.
"Lova tidak ada di luar dan tidak ada yang melihat Lova pagi ini." Kata Gladis dengan kecemasan yang terlihat dari raut wajahnya.
"APA??" Teriak kami bertiga bersamaan saat mendengar berita yang di sampaikan oleh Gladis.
Aku kembali mencoba mencari dan merasakan keberadaan Lova, tapi lagi-lagi aku tidak mampu menemukan keberadaan gadis itu. Aku segera me-mindlink kakakku untuk memberitahukan semua perihal yang terjadi saat ini.
"Kak...." Kataku lewat mindlink.
"Ada apa Grizelle?" Jawab Gerald kakakku yang juga melalui mindlink.
"Kak Lova hilang dan aku tidak dapat merasakan keberadaannya sekarang." Kataku memberitahukan kondisi saat ini.
"APA?? Jangan bercanda Grizelle." Kata Kakakku yang sudah meninggikan intonasi kata-katanya.
"Aku serius Kak. Dalam penglihatan terakhirku Kak Lova berjalan memasuki hutan dan berjalan semakin dalam, lalu semua penglihatanku hilang begitu saja." Kataku lagi menjelaskan pada kakakku.
"Di mana kalian saat ini? Kami akan menyusul kalian sekarang." Sahut kakakku yang sudah sangat cemas.
Aku mengikuti yang lainnya untuk berkumpul dan membahas langkah apa yang harus kami lakukan saat ini. Aku mengabaikan semua diskusi mereka dan tetap berbicara pada kakakku lewat mindlink.
"Kami berada di hutan H, Kak." Jawabku memberitahukan lokasi kami saat ini.
"APA??" Panik Kakakku semakin jadi.
"Kak, bisakah kau tidak berteriak seperti itu?" Tanyaku mulai kesal.
"Hutan H adalah tempat dimana keberadaan Shadow, Grizelle... Sebaiknya kalian kembali atau Shadow akan menjadikan teman-teman lova menjadi vampir ciptaannya." Jelas Kakakku.
"Kakak tidak bercanda khan?" Tanyaku mencoba memastikan apa yang Kakakku katakan.
"Kakak serius Grizelle. Sebaiknya kamu minta mereka semua untuk kembali dan membatalkan acara camp mereka sekarang. Kami akan segera menyusulmu dan kamu harus tetap waspada." Kata Gerald kepada Grizelle.
Samar-samar aku mendengar suara Gladis yang mulai mengambil keputusan tentang apa yang harus mereka lakukan saat ini.
"Baiklah Kak, cepatlah kemari dan ajaklah mereka." Kataku dan langsung memutuskan mindlink dengan Kakakku.
Aku meminta pada Kakakku untuk mengajak mereka, ya mereka kaum vampir dan werewolf yang waktu itu berkumpul bersama kami. Gladis telah memutuskan dan aku pun harus mencegah mereka saat ini.
____________________________________________
"TUNGGU..... Sebaiknya kita kembali dan hentikan acara camp ini sekarang." Teriak Grizelle tiba-tiba.
"Jangan bercanda Grizelle, Lova masih hilang dan kita harus menemukannya sebelum kita kembali. Aku tidak mau kembali tanpa sahabatku." Geram Siera pada Grizelle.
"Aku serius Si, hutan ini berbahaya dan sebaiknya kita kembali sekarang juga." Kata Grizelle yang sangat serius menanggapi Siera.
Tak lama kemudian 3 mobil sport berhenti tak jauh dari bus kami dan kemudian turun para pemuda yang beberapa di antaranya cukup terkenal di kalangan para mahasiswi peserta camp.
"Hi Ladies...." Sapa Daiva seraya berjalan menghampiri peserta camp yang keheranan dengan kedatangan para pemuda itu.
"Daiva, Steven, apa yang kalian lakukan di sini dan siapa mereka?" Tanya Gladis yang sekarang menghampiri Daiva dan rekannya.
"Oh Hi Gladis, mereka adalah teman-temanku dan kebetulan kami melintasi daerah ini dan melihat bus kalian. Jadi kami mampir kesini." Jelas Daiva dengan santainya.
"Apa yang terjadi di sini? Mengapa raut wajah kalian terlihat begitu cemas?" Tanya Steven pada Gladis.
"Lova menghilang dan kami tidak tahu dimana dia saat ini. Kami berniat untuk mencarinya bersama, tapi Grizelle saudara Lova menyarankan kami untuk kembali dan menghentikan acara camp kita ini." Jelas Gladis pada Steven dan juga Daiva.
Sedangkan beberapa pemuda yang datang bersama Daiva dan Steven hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka. Walau sebenarnya mereka sedang memusatkan semua indera yang masing-masing mereka miliki untuk melacak keberadaan Lova saat ini.
"Grizelle ada benarnya, sebaiknya semuanya kembali saja dan hentikan acara ini, biarkan kami yang mencari Lova." Kata Steven dengan wajah dingin dan datarnya.
"Tapi...." Ragu Gladis yang merasa bahwa dia lah yang harus bertanggung jawab atas hilangnya Lova saat ini.
"Tenang saja Gladis, percayakan semuanya pada kami." Sambung Daiva mencoba menenangkan Gladis dan para gadis yang ada di sana yang saat itu sedang memperhatikan percakapan mereka.
"Daiva, Steven, benar tidak apa-apa kalian mencari dan kami meninggalkan kalian di sini?" Tanya seorang panitia penanggung jawab acara camp itu.
"Yes, Mrs.... Percayakan pada kami saja. Dan semuanya sebaiknya segera kembali." Jawab Daiva dengan tatapan meyakinkan kepada semuanya.
"Baiklah kalau begitu kita segera berkemas dan segera kembali. Maaf bila acara camp kita menjadi batal kali ini." Kata panitia penanggung jawab itu dengan lantang mengintruksikan para gadis untuk segera berkemas untuk kembali ke kampus.
Para gadis telah sibuk berkemas, di balik sebuah pohon beberapa pemuda dan seorang gadis sedang berbincang serius.
"Griz, sebaiknya kau ikut mereka kembali." Kata Gerald dengan tegas.
"Tapi kak, aku juga ingin mencari kakak ipar." Rajuk Grizelle pada kakaknya.
"Kamu tetap harus kembali bersama mereka. Saat kamu sudah kembali nanti, kamu bisa menyusul kami dan gunakanlah portal ruang untuk menemui kami." Jelas Gerald pada adiknya.
"Maksud kakakmu adalah untuk tidak membuat kecurigaan pada mereka." Daiva juga ikut menjelaskan sembari melirik ke arah para gadis yang masih sibuk berkemas.
"Akh, aku mengerti maksud kalian. Baiklah aku akan ikut mereka kembali dulu." Kata Grizelle yang akhirnya paham dengan maksud kakaknya.
"Sampai jumpa lagi ya Griz." Kata Daiva dengan senyuman manisnya.
"Kalian hati-hati ya, aku akan segera kembali." Sahut Grizelle yang sudah mulai berbalik dan berlari kecil menuju area perkemahan.
____________________________________________
Hari mulai beranjak siang, mata gadis itu masih setia terpejam tanpa ingin memperlihatkan netra cantik yang dimilikinya. Sedangkan pria yang bersamanya sejak semalam kini mulai tidak sabar menunggu gadis itu membuka matanya.
"Berapa banyak dosis obat bius yang kalian berikan? Mengapa gadis ini belum juga membuka matanya?" Tanya Shadow pada bawahannya.
"Tidak banyak Yang Mulia." Jawab bawahannya sedikit ketakutan.
"Akhirnya kau sadar juga, Nona." Sapa Shadow dengan seringaiannya.
"Si...siapa kamu?" Kata Lova terbata-bata dengan suaranya yang sedikit serak karena tenggorokannya terasa sangat kering saat itu.
"Apa kau menginginkan sesuatu?" Tanya Shadow tanpa menjawab pertanyaan Lova tadi.
"A...air...." Kata Lova lagi.
"Ambilkan minum untuk gadis ini segera." Perintah Shadow pada bawahannya.
Tak lama kemudian beberapa pelayan masuk dan membawakan segelas air dan beberapa makanan yang langsung mereka letakkan di meja yang berada di dekat ranjang di kamar itu.
"Ini, minumlah, setelah itu kau makan dan bersihkan dirimu. Para pelayan akan membantumu nanti." Kata Shadow seraya memberikan segelas air yang dia dapat dari salah satu pelayannya barusan.
Lova segera meneguk habis air dalam gelas itu untuk membanjiri kerongkongannya yang terasa sangat kering. Setelah itu Lova meletakkan gelas di atas nakas dan kembali menatap ke arah pria yang masih terduduk di sisi ranjag berhadapan dengannya.
"Aku berada dimana?" Tanya Lova lagi sembari kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.
"Kau berada di kamarku dan di kastilku."Jelas Shadow pada Lova.
"Kastil?? Lalu siapa kau?" Tanya Lova lagi.
"Apa penting siapa aku Nona? Bisakah kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?" Tanya Shadow balik tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Lova.
"Aku Lovandra, panggil saja aku Lova." Kata Lova mengalihkan tatapannya ke arah makanan yang telah tersaji di meja yang terletak tidak jauh dari ranjang yang di tempatinya.
Shadow menyadari kalau gadis yang berada di hadapannya saat ini sudah sangat kelaparan. Dan Shadow hanya menyeringai kecil melihat setiap pergerakan gadis yang menarik di hadapannya itu.
"Kau lapar? Makanlah dulu." Kata Shadow seraya bangkit dan hendak meninggalkan Lova di kamar itu.
"Hey tuan, kau belum memberitahukan siapa namamu." Ketus Lova karena sejak tadi pertanyaannya di acuhkan oleh pria itu.
"Shadow itu namaku." Jawab Shadow tanpa berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar itu.
"Shadow?? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana?" Gumam Lova dalam hati sembari mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar nama itu.
Lova beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum dia manikmati hidangan untukny. Baru saja dia memasuki kamar mandi kemudian dia teringat kalau dia tidak memiliki pakaian ganti. Akhirnya Lova keluar kembali dan mengurungkan niatnya untuk mandi.
"Maaf Nona, apakah anda ingin mandi." Tanya salah satu pelayan yang masih berada di sana.
"Ya, tapi aku tidak memiliki pakaian ganti, jadi aku tidak jadi mandi." Jawab Lova acuh.
"Kami sudah menyiapkan pakaian ganti untuk anda, Nona." Kata pelayan itu sembari menunjuk ke arah dress yang sudah teronggok cantik di atas ranjang.
"Oh, terima kasih. Kalau begitu aku akan mandi dulu." Kata Lova seraya berbalik dan kembali masuk ke kamar mandi.
Usai membersihkan dirinya, Lova segera mengenakan bathrobe yang tersedia di dalam kamar mandi itu. Begitu Lova keluar dari kamar mandi para pelayan telah siap membantu Lova untuk mengenakan pakaiannya dan merias Lova. Awalnya Lova merasa sungkan dengan setiap yang di lakukan oleh para pelayan itu, tapi akhirnya Lova pasrah dengan apa yang ingin para pelayan itu lakukan.
Setelah Lova sudah selesai dan sudah menghabiskan makanannya juga, Lova pun kebingungan karena tidak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang. Lova juga tidak berani keluar dari kamarnya itu. Lova hanya memandangi sekeliling ruangan itu dan melihat ada satu pintu yang dia tidak tahu pintu apakah itu.
"Pintu itu untuk menuju kemana?" Tanya Lova pada salah satu pelayan yang masih berjaga di dekatnya.
"Itu pintu balkon, Nona. Apakah Nona ingin bersantai di balkon?" Jelas pelayan itu.
"Apakah boleh?" Tanya Lova lagi.
"Tentu saja boleh Nona, mari saya antar." Kata pelayan itu sembari berjalan ke arah pintu balkon dan membukakan pintu itu untuk Lova.
Lova mengikuti pelayan itu hingga sampai di balkon kamar itu. Setibanya di teras balkon kamar itu, Lova memandangi sekitarnya yang terlihat olehnya. Dalam benaknya dia bertanya-tanya dan masih mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar nama 'Shadow'.
"Akh, aku ingat." Gumam Lova pelan sekali saat dia sudah berhasil mengingat dimana dia mendengar nama itu.
"Jadi pria tadi adalah sang Dracula itu, tapi apa tujuannya dia membawaku kesini?" Pikir Lova yang penasaran.
"Menikmati waktumu Nona?" Tanya seorang pria di belakang Lova tiba-tiba.
Lova yang sedang melamun dan bergumul dengan pikirannya pun tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari pria itu. Lova segera berbalik dan menatap tajam ke arah pria itu.
"Apa tujuan anda, membawa saya kesini?" Tanya Lova dengan ketus.
"Tujuan? Ha..ha..ha... Aku menginginkanmu Nona. Menginginkanmu untuk menjadi Ratuku." Jawab Shadow dan tertawa sinis pada Lova.
"Aku tidak tertarik untuk menjadi Ratumu, sebaiknya kembalikan aku ke perkemahan. Teman-temanku pasti sudah mencariku saat ini." Sinis Lova lagi.
"Tenang saja, teman-temanmu nanti bisa kita jadikan budak kita." Kata Shadow dengan tenang seraya duduk di kursi yang berada di teras balkon.
"Apa maksudmu?" Teriak Lova yang mulai geram dengan sikap dari pria yang ada di hadapannya saat itu.
"Apa kau tahu siapa aku, Nona?" Tanya Shadow dengan senyuman sinisnya.
"Memangnya siapa dirimu?" Tanya Lova balik yang pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Bukannya kau bersama salah satu kaum penyihir? Apakah kamu juga tidak mengetahui siapa dia sebenarnya?" Tanya Shadow semakin menyeringai sinis.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." Kata Lova lagi dengan ketus dan masih tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Aku adalah Dracula terakhir dan satu-satunya. Dan bawahanku mengatakan kalau di antara teman-temanmu ada seorang penyihir." Jelas Shadow pada Lova.
Lova yang sudah mengetahui siapa Shadow sebenarnya hanya berpura-pura terkejut dan shock saat mendengar penjelasan dari pria itu. Lova harus memainkan sandiwara itu agar dia bisa keluar dari kastil yang terasa mengerikan itu.
"Ka...kau benar-benar Dracula? Yang...yang aku tahu...Dracula itu hanya mitos atau cerita fiksi novel saja." Kata Lova yang berpura-pura terbata-bata karena shock.
"Apa kau tidak percaya Nona? Apa perlu aku membuktikan kepadamu? Kebetulan aku sedang haus dan sangat menginginkan untuk mencicipi darahmu yang sepertinya sangat menyegarkan." Kata Shadow lagi sembari menunjukkan taringnya.
Sejak tersadar tadi Lova tidak terlalu memperhatikan manik mata Shadow yang lain dari manusia pada umumnya, sehingga hal itu membuat Lova terlambat menyadari bahaya dirinya saat itu.
"Aku mohon jangan sakiti aku. Lagian darahku terasa pahit karena aku baru sembuh dari sakit dan banyak mengkonsumsi obat-obatan saat aku sakit." Dusta Lova.
"Benarkah? Sayang sekali.... Tapi aku tetap ingin mencicipi darahmu." Kata Shadow lagi yang kini sudah berdiri dan melangkah mendekati Lova.
"Ja...ja...jangan mendekat!" Panik Lova yang mulai melangkah mundur dan mencoba mencari celah untuk kabur dari sana.
Tentu saja saat itu Lova mulai benar-benar panik karena Shadow telah memanjangkan taringnya dan siap untuk memangsanya. Saat itu Lova benar-benar harus memutar otaknya untuk dapat bertahan dari situasi saat ini.
"Mendekatlah manis." Kata Shadow lagi dengan hipnotis yang sudah dia aktifkan untuk menghipnotis mangsanya.
"Jangan mendekat!!" Teriak Lova lagi.
Shadow menghentikan langkahnya saat mendapati peringatan dari gadis sedang ketakutan yang berada di hadapannya. Dalam benak pria itu muncul berbagai macam pertanyaan yang menbuatnya kebingungan saat ini. Shadow akhirnya meredam keinginan untuk memangsa gadis itu dan langsung berjalan meninggalkan gadis itu di kamarnya.
"Huftt.... Untunglah." Gumam Lova pelan sembari menghela nafas leganya.
"Sebenarnya siapa gadis itu?" Gumam seseorang di balik pintu kamar itu.