Four Husband'S From Different Clan'S

Four Husband'S From Different Clan'S
Part 15



Lovandra POV


  Waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi waktu setempat. Setibanya aku di kampus dan sesaat mobilku sedang mencari parkiran aku melihat 2 bus besar yang dapat aku pastikan bus itu yang akan membawa kami ke lokasi berkemah hari ini. Tidak hanya itu saja para gadis team cheerleader's pun sudah banyak berkumpul di halaman kampus.


    Begitu mobil yang aku tumpangi sudah mendapat parkir dan berhenti sempurna, aku segera turun bersama dengan Grizelle, sedangkan supir mulai menurunkan tas bawaan kami berdua.


     "Wow Lova, kampusmu keren sekali." Seru Grizelle sambil memandangi sekeliling kampusku dengan mata yang berbinar-binar.


    Tak jauh dari kami aku melihat Siera yang berjalan dan melambaikan tangannya ke arah kami. Aku tersenyum ke arah sahabatku untuk membalas sapaan dari lambaian tangannya.


     "Lova, aku pikir kau tak jadi ikut. Kemarin Gladis bercerita padaku kalau dia mengajakmu untuk ikut camp hari ini. Maaf aku lupa mengatakan padamu tentang rencana camp ini." Kata Siera begitu tiba di hadapanku.


    "Tidak apa-apa, Si. Dan tentu saja aku akan ikut acara ini. Oh kenalkan ini Grizelle, saudara jauhku." Kataku mengenalkan Grizelle pada Siera.


     "Setauku kau tidak memiliki keluarga lagi?" Tanya Siera yang kebingungan.


     Siera beserta keluarganya memang sangat mengenalku dan keluargaku dengan baik, sehingga mereka tahu kalau aku memang tidak memiliki sanak keluarga lainnya. Aku hanya menanggapi Siera dengan cengiran saja untuk menjawab kebingungannya.


     "Grizelle"


     "Siera"


    Setelah mereka berkenalan dan aku meminta supirku untuk kembali pulang, kami bertiga segera berjalan dan menghampiri teman-teman lainnya yang sudah bersiap untuk masuk bus.


     "Hai Gladis." Sapaku menghapiri Gladis yang sedang sibuk mengatur team-nya untuk menaiki bus.


    "Oh hai Lova, kau sudah tiba rupanya." Sapa Gladis balik.


    "Gladis tidak apa-apa bila aku mengajak satu saudaraku?" Tanyaku sembari menunjuk ke arah Grizelle yang berjalan di belakangku bersama Siera.


    "Tidak apa Lova, masih tersisa beberapa kursi kog di bus nanti. Dan kamu sama Siera nanti di bus kedua ya." Terang Gladis padaku.


    "Baiklah, kalau begitu kami akan naik ke bus sekarang." Kataku sembari berbalik hendak meninggalkan Gladis yang masih sibuk.


     Gladis hanya menganggukkan kepalanya dan kembali dengan kesibukannya. Sedangkan aku segera membawa Siera dan Grizelle menuju bus kedua untuk menunggu waktu perjalanan kami.


    Beberapa menit setelah kami duduk di dalam bus akhirnya tiba waktunya keberangkatan kami. Pemandu perjalanan kami yang merupakan salah satu anggota pelatih team cheer's mulai memimpin kami untuk berdoa sebelum memulai perjalanan kami. Setelah itu bus pun mulai melaju dan meninggalkan area kampus kami.


    Alunan musik klasik yang terdengar dari earphoneku telah berhenti di tengah-tengah musik yang sedang aku nikmati. Aku membuka kedua mataku dan ku lirik tajam Siera yang duduk di sebelah kiriku. Ya, sepanjang perjalanan kami menempati kursi untuk bertiga dengan aku yang berada di tengah di antara Siera dan Grizelle.


     "Ada apa?" Ketusku pada Siera.


    "Kita sudah sampai, aku tahu kau tidak tertidur. Ayo kita bersiap turun." Kata Siera dengan cengiran usilnya yang khas.


     Aku melirik ke arah jendela bus dan melihat pepohonan yang menjadi pemandangan indah di kedua mataku. Benar kata Siera kalau kami sudah tiba di lokasi. Aku pun bangkit dan berkemas, memasukkan ponselku ke dalam kantung jaketku dan mengambil tasku. Setelahnya kami segera turun dari bus.


     Begitu kakiku menginjak rumput basah yang berada di sekelilingku, aku segera menghirup udara segar dengan rakus. Aroma rumput basah, kesejukkan dan kesegaran alam yang tidak tercemar polusi sungguh sangat menenangkan jiwa. Aku berharap perjalanan camp kami akan baik-baik saja.


____________________________________________


    Hari telah beranjak siang, matahari pun sudah sangat gagah di atas sana. Dua bus baru saja tiba di kawasan hutan H, setelah kedua bus itu berhenti sempurna dan mematikan mesinnya, turunlah para gadis team cheerleader's yang akan menghabiskan beberapa hari di kawasan hutan itu.


    Setelah mereka meregangkan otot lelah mereka sepanjang perjalanan, mereka segera berkumpul dan membagi team untuk bersama selama 3 hari 2 malam di sana. Keselurahan team cheer's dan beberapa mahasiswi yang bukan team yang juga ikut serta dalam acara camp ini total 50 orang, sehingga panitia membagi menjadi 10 team dengan masing-masing team berjumlah 5 orang.


    Usai pembagian team, mereka mulai mendirikan tenda untuk beristirahat nanti malam. Sebagian team yang sudah selesai mendirikan tenda mereka, mulai memasuki hutan untuk mencari ranting atau kayu bakar untuk membuat api unggun malam nanti. Sebagian lagi mencari buah-buahan yang bisa kami konsumsi, ada juga yang mengambil air dan semua team menjalankan tugasnya dengan baik. Lova, Siera, Grizelle, Gladis dan Meta adalah team terakhir yang selesai mendirikan tenda, sehingga mereka tidak memiliki tugas lain lagi.


    "Va, aku dengar beberapa gosip di kampus kalau saat ini ada 2 mahasiswa yang sedang memperebutkanmu, apa itu benar?" Tanya Meta tiba-tiba saat kami sedang melepas lelah setelah selesai mendirikan tenda untuk kami berlima nanti malam.


    "Met, jangan sembarangan dengerin gosip ga jelas gitu akh. Abaikan saja gosip-gosip itu." Celetuk Gladis yang merasa tidak enak hati dengan pertanyaan tiba-tiba dari Meta sahabatnya itu.


    "Va, maafin Meta ya. Dia emang suka ceplas ceplos kalau ngomong." Kata Gladis lagi seraya menepuk bahu Lova pelan.


    "Santai aja, aku gak masalah kog." Sahut Lova menenangkan Gladis yang telah merasa tidak enak hati pada Lova.


    "Met, ga ada cowok yang ga berebutan untuk mendapatkan perhatian Lova. Dan 2 cowok yang sedang hot di gosip itu hanya berteman dengan kami." Jelas Siera pada Meta.


    "Iya juga sih. Banyak cowok yang pada ngincer Lova. Jadi gosip itu ga seratus persen benar ya?" Tanya Meta lagi.


     Lova, Siera dan Gladis menganggukkan kepala mereka bersamaan untuk membenarkan pertanyaan Meta tadi.


    Usai melepas lelah dan para team yang berpencar dengan tugas mereka tadi telah berkumpul kembali, mereka mulai memasak makanan untuk makan siang mereka yang sedikit terlambat. Selesai mereka makan siang, mereka mulai melakukan acara demi acara yang telah di susun oleh panitia camp hingga malam.


    Hari yang telah berganti malam dan para peserta camp yang sudah kelelahan mulai memasuki tenda mereka masing-masing untuk beristirahat. Saat semua orang sudah terlelap dan terjatuh ke alam mimpi mereka masing-masing, seorang gadis masih tidak dapat memejamkan matanya dengan sempurna.


     Dengan gerakan perlahan gadis yang masih tidak dapat tidur itu pun mulai bergerak dan keluar dari tendanya. Gadis itu melihat sekelilingnya dan berjalan perlahan memasuki hutan.


Sementara itu di dalam hutan, di sebuah kastil yang gelap dan suram serta menyeramkan sesosok bayangan bergerak cepat menuju aula di mana Raja mereka berada.


    "Yang Mulia..." Kata sosok yang kini telah berlutut di hadapan Rajanya.


    Sosok yang sedang memejamkan matanya dan duduk di atas singgasananya perlahan membuka matanya. Mata merah darah itu telah terbuka dan menatap bawahannya dengan dingin tanpa berkata apa pun. Bawahannya yang telah paham dengan situasi yang di inginkan oleh Rajanya mulai menyampaikan maksud kedatangannya.


    "Di luar hutan beberapa manusia sedang melakukan acara kemah. Tidak hanya itu, kami merasakan ada kaum penyihir di antara mereka. Dan saat ini ada seorang gadis yang sedang sendirian memasuki hutan." Lapor dari sosok bawahan itu yang tak lain adalah vampir ciptaan sang Raja Dracula yang tak lain adalah Shadow.


   "Tunjukkan padaku." Kata Shadow kepada bawahannya yang memiliki keahlian khusus yang dapat menunjukkan semua penglihatannya.


    Bawahan itu segera bangkit dan mendekati Rajanya seraya mengulurkan tangannya. Shadow segera menyambut uluran tangan bawahannya dan memejamkan matanya untuk melihat setiap kilasan yang telah di lihat oleh bawahannya itu. Tak lama kemudian Shadow membuka matanya dan menyeringai.


     "Bawa gadis itu ke sini sekarang dan aku inginkan gadis itu dalam keadaan hidup." Kata Shadow dingin.


   Gadis itu berjalan tenang dengan tatapan kosongnya. Dalam benak pikirannya tersimpan bermacam pertanyaan yang tercipta karena kondisi yang baru-baru ini terjadi pada dirinya. Gadis itu adalah Lova yang terlalu larut dalam lamunannya sehingga dia tidak sadar kalau sudah memasuki hutan semakin dalam.


    KREEKKKK.....


    Suara patahan ranting yang terinjak membuyarkan lamunan Lova saat itu juga. Lova mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya sedikit bingung dimana dia saat  ini.


    "Dimana aku? Ya ampun sepertinya aku memasuki hutan terlalu jauh. Aku harus segera kembali ke area camp." Gumam Lova saat menyadari keberadaannya saat itu.


     KRESSEEEKKKK......


    Lagi-lagi suara daun kering yang terinjak, dan hal itu membuat Lova menajamkan pendengarannya dan meningkatkan kewaspadaannya sembari melangkah cepat berbalik untuk kembali keluar hutan.


    Langkah gadis itu terhenti saat beberapa pria menghadang langkahnya. Memasang sikap waspadanya, gadis itu bergerak mundur perlahan saat para pria yang menghadangnya perlahan maju untuk mendekatinya.


     "Siapa kalian?" Tanya Lova tajam dan penuh waspada.


    "Tidak penting siapa kami Nona, tapi kami minta Nona mau ikut bersama kami untuk menemui tuan kami." Sahut salah satu pria itu sambil terus mendekati Lova.


    "Aku tidak akan ikut dengan kalian." Teriak Lova yang semakin waspada.


     "Tolong jangan memaksa kami bertindak kasar pada anda, Nona." Kata pria itu lagi.


     "Jangan mendekat!!" Seru Lova yang mulai merasa terpojok.


     Sekelebat bayangan bergerak dari salah satu pria itu dan berdiri di belakang Lova, kemudian membekap Lova dengan kain yang telah di beri obat bius, hingga gadis itu tak sadarkan diri.


    "Bawa gadis itu sekarang, Yang Mulia telah menunggu." Kata pria yang merupakan pimpinan kawanan itu dan yang tak lain adalah bawahan kepercayaan Shadow yang tadi melapor.


    Lova di bawa ke kastil yang suram itu dan setibanya mereka di aula, mereka menunggu perintah selanjutnya.


     "Bawa gadis itu ke kamarku." Kata Shadow tegas dan mulai beranjak meninggalkan singgasananya.


      Lova yang masih tak sadarkan diri di baringkan di kasur luas di dalam kamar yang sangat luas di kastil itu. Sosok pria berjalan perlahan mendekati ranjang yang di tempati Lova dengan seringaiannya.


     "Gadis yang sangat cantik, aroma darahmu sungguh manis, membuatku ingin memilikimu." Kata pria yang tak lain adalah Shadow sembari mengelus wajah cantik Lova.


     "Bermimpilah yang indah sebelum kau aku jadikan Ratuku." Kata Shadow lagi dan perlahan mendekatkan bibirnya dan menc**m bibir Lova singkat.


      Shadow memposisikan dirinya di sisi Lova yang masih tak sadarkan dirinya. Memandangi wajah cantik Lova sembari mengelus wajah cantik gadis itu. Hari pun sudah mulai terang tapi Lova masih setia memejamkan matanya.


     Sementara itu di lokasi camp saat matahari mulai mengintip dan mulai menunjukkan cahayanya, para gadis mulai terjaga dan mulai kembali bersiap untuk melanjutkan serangkaian acara mereka hari itu.


    "Kyaaa.... Dimana Lova?" Panik salah satu gadis dari salah satu tenda yang membuat beberapa gadis yang berada di sekitar tenda itu mulai menghampiri tenda itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.


    "Grizelle, mengapa kamu berteriak seperti itu." Kesal Siera yang terbangun karena teriakan Grizelle.


     Ya, Grizelle lah yang berteriak panik saat terbangun dan tidak mendapati calon kakak iparnya di sisinya. Dan teriakan Grizelle pun membangunkan para gadis yang berada satu tenda dengannya.


    "Si, kemana Lova?" Tanya Grizelle dengan raut wajah yang sangat cemas.


    "Mungkin Lova sudah bangun dan berada di luar." Jawab Siera santai sembari mengikat rambutnya asal.


    Grizelle yang tidak dapat merasakan aura Lova di sekitar dirinya hanya terdiam dan semakin cemas. Grizelle segera memejamkan matanya dan mencoba berkonsentrasi untuk mencari keberadaan Lova.


     "Coba aku lihat di luar." Kata Gladis yang berinisiatif untuk mengecek keberadaan Lova.


     Sepuluh menit kemudian Gladis kembali dengan raut wajah panik dan cemasnya. Ketiga gadis yang menunggu di dalam tenda bersamaan menatap ke arah Gladis dengan tatapan bertanya-tanya mereka.


    "Ada apa Gladis?" Tanya Meta yang masih tetap tenang.


    "Lova tidak ada di luar dan tidak ada yang melihat Lova pagi ini." Ungkap Gladis dengan gundahnya.


    "APA??" Teriak ketiga gadis itu bersamaan.


    Grizelle kembali memejamkan matanya dan kembali fokus dan berusaha mencari keberadaan Lova. Tapi sayangnya Grizelle tidak dapat menemukan keberadaan Lova. Hal yang dapat di lihatnya hanya Lova yang berjalan memasuki hutan dan semakin dalam, setelahnya semua penglihatannya terputus begitu saja.


    Grizelle segera berkomunikasi lewat mindlink kepada kakaknya dan menyampaikan apa yang sedang terjadi saat itu.


    "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kata salah satu panitia setelah mengumplkan semua anggota peserta camp.


    " Mungkin  sebaiknya kita memasuki hutan dan mencari Lova." Seru salah satu gadis peserta camp.


    "Bagaimana kalau nanti ada yang kembali hilang?" Seru gadis lainnya.


    "Gladis bagaimana menurutmu?" Tanya salah satu panitia meminta pendapat pada Gladis.


     Gladis hanya terdiam dan melihati Siera dan Grizelle bergantian. Gladis sadar semua ini adalah tanggung jawabnya, apa lagi dia yang mengajak Lova untuk ikut acara camp ini. Dan Gladis juga tahu bahwa Siera dan Grizelle lah kedua orang terdekat Lova yang pantas untuk di mintai pendapat.


    "Siera, Grizelle bagaimana menurut kalian, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Gladis pada kedua sahabat Lova yang dia ketahui itu.


    "Kita harus segera mencarinya." Kata Siera cepat.


    Grizelle hanya terdiam karena dia masih berkomunikasi dengan kakaknya.


    "Baiklah kalau begitu kita akan mencarinya, dan masing-masing anggota team tidak boleh ada yang berpencar dan terpisah dari teamnya." Kata Gladis memutuskan.


    "TUNGGU..... Sebaiknya kita kembali dan hentikan acara camp ini sekarang." Kata seorang gadis dengan tegas.