
Daiva POV
Aku keluar dari mansion para vampir dengan langkah cepat dan kesal karena mereka tidak bisa aku telusuri apa niat mereka sebenarnya. Saat berjalan kembali ke arah mansion mate-ku, aku terus berpikir dan bertanya-tanya sendiri.
"Tidak perlu terlalu kau pikirkan apa maksud dan niat mereka, kita hanya perlu mengawasi mereka saja sekarang." Kata Dion di mindlink.
"Tapi aku tetap penasaran, sebenarnya mereka mau apa, lagi pula posisi mansion mereka tepat di sebelah mansion mate kita, aku sungguh khawatir bila mereka memiliki niat jahat pada mate kita nantinya." Jawabku menjelaskan kekhawatiranku pada wolfku.
"Aku juga sama khawatirnya sepertimu bodoh, tapi kita tetap harus tenang dan saat ini kita hanya bisa mengawasi dan menjaga mate kita saja." Kata Dion yang sedikit jengkel dengan perkataan manusianya itu yang terdengar begitu bodoh, karena mereka itu satu dan tentu saja apa yang mereka khawatirkan itu sama.
"Haist kau ini pemarah sekali, sudahlah aku akan segera kembali dan aku ingin langsung tidur saja." Sahut Daiva dan segera memutuskan mindlink-nya dengan Dion, wolfnya.
Aku segera mempercepat langkahku menuju mansion mateku dan mengendap dengan lincah untuk memasuki mansion. Setibanya aku di dalam mansion, aku berjalan menuju kamar mateku untuk sekedar memeriksa kamar itu. Ku buka perlahan pintu kamar Lova dan ku lihat mateku bersama sahabatnya masih tertidur pulas, aku segera menutup kembali pintu kamar dengan perlahan dan aku segera pergi ke kamarku sendiri yang telah di siapkan oleh pelayan di rumah ini.
Selesai aku membersihkan diriku, aku melangkah ke arah balkon kamar. Saat akan membuka pintu balkon kamar, tatapan mataku tak sengaja melihat sosok yang sedang berdiri di salah satu balkon kamara yang ada di mansion sebelah. Aku mengurungkan niatku untuk keluar ke balkon kamar, hanya mengintip dari balik gorden untuk memperhatikan sosok itu dengan lebih tegas lagi.
"Kenzo.... Sedang apa dia di sana dan terus memperhatikan ke arah kamar Lova?" Gumamku perlahan.
Tak lama kemudian sosok itu masuk kembali dan aku pun memutuskan untuk beristirahat saja. Setelah merebahkan tubuhku yang terasa sedikit lelah, akhirnya aku pun tertidur.
____________________________________________
Hari sudah mulai pagi, matahari masih terlihat malu-malu untuk memperlihatkan cahaya indahnya. Tetesan embun yang berada di helaian daun-daun terlihat sangat menyegarkan pemandangan. Sungguh minggu pagi yang cerah hari ini.
"Si, bangun... Katanya mau jogging." Kata Lova yang sudah siap dengan pakaian joggingnya dan mencoba membangunkan sahabatnya yang masih setia bergelung di balik selimut.
"Nanti saja ya Va, masih ngantuk nih." Jawab Siera sembari semakin mengeratkan selimut nyamannya.
"Keburu siang nanti. Ya sudah terserah kamu aja deh." Sahut Lova seraya bangkit dan mulai berjalan menuju pintu kamarnya.
Sekali lagi Lova membalikkan badannya dan melihat sahabatnya yang masih setia bergelung di balik selimutnya. Sembari menghela nafas singkat akhirnya Lova pun keluar kamar dan segera menuju pintu utama untuk melanjutkan niat joggingnya.
Sembari memasang headset di telinganya, seorang gadis mulai berlari ringan meninggalkan pelataran mansionnya. Gadis yang tak lain adalah Lova, memulai joggingnya dengan mengitari sekeliling mansionnya. Dan setelah itu dia pun sekarang sudah mulai meninggalkan mansion dan menuju taman yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Terlalu asyik dengan aktivitasnya yang berlari kecil sembari mendengarkan musik kesukaannya, tanpa sadar kalau ada seseorang yang sedang bersepeda sembari melamun dan hampir menabraknya, andai seorang pemuda tidak dengan cepat meraih tubuhnya dan melindungi gadis itu.
"Auu...." Pekik Lova yang kaget karena sosok seseorang yang menubruknya dan memeluknya untuk mencoba melindunginya.
"Hey, jangan melamun kalau sedang bersepeda, kau dapat melukai orang lain dengan caramu itu." Teriak pemuda yang masih memeluk Lova.
Sedangkan orang yang di tegur menghentikan laju sepedanya dan meminta maaf dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Kau tidak apa-apa Nona?" Tanya pemuda itu seraya melepaskan pelukannya.
"Hmm... Ya, Aku tidak apa-apa. Terimakasih kau telah menolongku." Jawab Lova dengan senyuman manisnya.
"Syukurlah... Sama sekali tidak masalah Nona, kalau begitu saya permisi dulu, lain kali lebih berhati-hatilah Nona." Kata pemuda itu sembari melangkah hendak meninggalkan Lova.
"Hey, tunggu dulu, siapa namamu?" Kata Lova yang reflek menahan pergelangan tangan pemuda itu.
Pemuda itu pun berbalik kembali dan melihat ke arah Lova dengan tatapan datarnya.
"Namaku Kenzo, kau boleh memanggilku Ken." Kata pemuda itu singkat.
"Aku Lovandra. Lovandra Maulvi Elvarette. Kau dapat memanggilku dengan Lova." Kata Lova memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
"Senang bisa mengenalmu Nona Elvarette." Sahut Kenzo dan membalas uluran tangan Lova.
"Jika kau tidak keberatan, apakah kau mau menemaniku melanjutkan jogging pagi ini?" Tanya Lova kembali.
Kenzo hanya terdiam dan menaikkan alisnya, kemudian dia mengangguk, mengiyakan ajakan Lova. Keduanya pun berjalan santai di sisi taman tanpa saling berbicara lagi.
Hari mulai semakin terang, matahari pun sudah mulai menampakkan dirinya. Bulir-bulir keringat mulai membasahi wajah dan leher putih gadis itu. Terlihat raut lelah di wajah manisnya.
"Nona, sebaiknya kita duduk di sana dulu, kelihatannya kau sudah lelah." Kata Kenzo yang melihat wajah lelah Lova sembari menunjuk salah satu kursi taman yang sedang kosong yg berada di bawah pohon yang rindang.
"Ya, baiklah..." Sahut Lova mengiyakan ajakan Ken.
Setelah mereka berdua duduk, tak lama kemudian Kenzo beranjak berdiri kembali.
"Kau ingin minum sesuatu? Aku ingin membeli minuman di sana, kau mau sekalian?" Tanya Kenzo pada Lova.
"Aku titip air mineral saja, ini uangnya." Kata Lova seraya menyodorkan selembar uang kertas.
"Simpanlah..." Ucap Kenzo singkat dan segera pergi meninggalkan gadis itu sendiri di kursi taman yang di dudukinya.
Tak lama kemudian, Kenzo kembali dan menyodorkan sebotol air mineral untuk Lova. Mereka pun minum dan tetap terdiam satu sama lain, sembari memperhatikan aktivitas orang-orang di sekitar mereka berdua.
"Ken... Apakah kau yang menempati mansion yang bercat abu-abu itu?" Tanya Lova tiba-tiba saja.
Kenzo melirik sekilas ke arah gadis yang duduk di sebelahnya.
"Ya, aku yang membeli dan menempati mansion itu." Jawab Kenzo singkat.
"Hmm... Jadi kau adalah tetanggaku." Kata Lova lagi yang kini sudah memandangi wajah Kenzo sambil tersenyum manis.
"Boleh aku tau tentang sesuatu hal?" Kata Lova lagi.
"Hmm... Tentang apa?" Tanya Kenzo balik.
"Mengapa setiap malam di mansionmu selalu ramai? Apakah kau mengadakan pesta setiap malam?" Lova mencoba memberanikan diri untuk bertanya tentang hal yang selalu mengusik waktu istirahat malamnya itu.
Kenzo mengernyitkan alisnya dan sekarang dia menatap datar gadis itu. Kenzo hanya terdiam dan memperhatikan setiap tatapan mata teduh dan indah milik gadis itu saat tatapan mata mereka bertemu.
"Tidak ada pesta, hanya teman-temanku yang suka berkunjung dan berkumpul di rumahku setiap malam." Jawab Kenzo akhirnya.
"Memangnya kalian tidak beristirahat?" Tanya Lova lagi.
"Apakah itu menganggu istirahatmu Nona?" Tanya Kenzo balik.
"Hmm... Sebenarnya cukup menganggu, aku tidak bisa tidur karena keberisikan dari arah mansionmu." Jawab Lova dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Owh... Maafkan kami bila hal itu menganggumu. Aku pastikan kami tidak akan membuat keributan lagi." Sahut Kenzo lagi.
" Ehh... Bukan begitu maksudku. Maaf... Itu hakmu bila ingin menerima kedatangan teman-temanmu. Hanya saja bila kalian bisa lebih tenang, mungkin lebih baik untuk semuanya." Jelas Lova yang menjadi merasa tidak enak hati karena takut menyinggung perasaan pemuda yang berada di sampingnya.
"Tidak apa-apa, memang kami yang salah karena telah membuat keributan dan mengganggu waktu istirahat para tetangga kami." Jelas Kenzo lagi dengan memperlihatkan senyuman kecilnya.
Lova terpana melihat senyuman pemuda yang berwajah tampan dan datar itu. Semula Lova berpikir kalau pemuda itu terlalu serius dan tidak pernah tersenyum.
"Nona, kau tidak apa-apa? Apakah kau baik-baik saja?" Kata Kenzo yang melihat Lova sedikit melamun dan otomatis langsung membuyarkan lamunan gadis itu.
_______________________________________
Daiva menegur salah satu pelayan dan bertanya dimana tuan rumah mereka.
"Maaf, apakah Lova dan Siera sudah bangun?" Tanya Daiva yang menghentikan langkah salah satu pelayan.
"Nona Lova sudah keluar rumah sejak subuh tadi, kalau Nona Siera belum bangun, mungkin masih di kamar. Saya permisi dulu, Tuan." Jawab pelayan itu seraya pamit dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Kemana Lova sepagi itu?" Gumam Daiva yang baru menyadari bahwa dia tidak dapat merasakan keberadaan aura mate-nya.
"Apakah mate kita dalam bahaya?" Kata Dion di mindlink.
"Entahlah, aku hanya tidak dapat merasakan keberadaannya. Aku coba membangunkan Siera dulu, mungkin gadis itu tau kemana mate kita pergi." Jawab Daiva pada wolfny.
Daiva segera beranjak ke kamar Lova untuk membangunkan Siera.
TOK... TOK.... TOK....
"Siera, apakah kau sudah bangun?" Tanya Daiva yang masih berada di luar kamar.
"Bolehkah aku masuk?" Tanya Daiva lagi.
Tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar, akhirnya Daiva pun perlahan membuka pintu kamar itu.
Saat matanya melihat sosok yang masih setia bergelung di balik selimut, Daiva hanya menggelengkan kepalanya.
"Siera, ayo bangun. Kemana Lova?" Panggil Daiva saat sudah berada di sisi ranjang gadis itu.
Erangan kecil dari Siera yang masih malas bangun pun terdengar.
"Kau berisik sekali El." Sahut Siera dengan suara serak karena baru bangun tidur.
"Kemana Lovandra?" Tanya Daiva lagi.
"Hah... Lova kemana?" Reflek Siera dan langsung terbangun saat mendengar pertanyaan Daiva tadi.
"Kau yang bersamanya, kenapa kau malah bertanya lagi padaku? Jadi kemana Lova?" Tanya Daiva yang mulai sedikit kesal dengan ulah sahabatnya itu.
"Ya ampun, El... Aku lupa kalau kami punya rencana jogging pagi ini. Jam berapa sekarang?" Tanya Siera lagi saat sudah ingat dengan apa yang ingin mereka lakukan hari itu.
"Sekarang sudah jam 7 pagi, lalu kalau kau masih tidur begini, terus Lova kemana?" Jelas Daiva yang masih berusaha menahan kekesalannya.
"Aku gak tau Lova kemana. Atau jangan-jangan dia malah pergi jogging sendiri dan tidak membangunkan aku." Jawab Siera sembari mengerucut bibirnya karena merasa di tinggal jogging oleh Lova.
"Hahh... Percuma aku bertanya padamu dari tadi." Kata Daiva sembari menepuk keningnya dan beranjak keluar kamar.
Siera segera bangun dan membersihkan dirinya, setelah itu gadis itu pun langsung keluar kamar dan turun kebawah. Setibanya di bawah, Siera mendapati Daiva yang sedang berjalan mondar mandir di ruang tamu seperti gelisah menunggu seseorang.
"El, apakah Lova sudah kembali?" Tanya Siera yang menghampiri Daiva.
"Belum, kemana dia, hari sudah mulai terang." Kata Daiva yang terdengar sangat cemas.
"Aku tidak bisa berdiam di sini, aku akan keluar mencarinya. Tolong kabari aku kalau Lova sudah kembali." Kata Daiva lagi seraya beranjak ke pintu utama.
Saat membuka pintu, Daiva pun tersentak kaget ketika melihat Lova yang baru saja hendak membuka pintu.
"Ehh... Pagi El. Kamu mau kemana?" Tanya Lova dengan santainya.
Reflek Daiva langsung menarik dan memeluk Lova ke dalam dekapannya.
"Kamu dari mana saja, mengapa pergi tanpa memberitahu kami." Kata Daiva yang terdengar cemas.
"Ekhem...." Dehaman keras Siera.
"Woi... Lepasin anak orang itu. Maen di peluk-peluk aja." Tegur Siera sembari menahan tawanya.
"Ehh.... Maaf Lova, aku reflek tadi." Kata Daiva seraya melepaskan pelukannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Tidak apa-apa. Maaf membuat kalian cemas. Aku hanya jogging di sekitar sini dan di taman dekat sini kog." Kata Lova menjelaskan kemana dia tadi.
"Kamu jahat,Va. Kenapa gak bangunin aku?" Kata Siera yang kembali mengerucutkan bibirnya.
"Ya ampun, Siera.... Aku dah bangunin kamu yaaa.... Kamu aja yang malah narik selimut lagi tadi." Kata Lova gemas dan mencubit perlahan hidung Siera.
"Sudah aku mau mandi dulu, habis itu kita sarapan bareng." Kata Lova lagi seraya beranjak ke arah kamarnya.
Siera pun mengikuti Lova kembali ke kamar. Sedangkan Daiva keluar menuju teras dan memperhatikan pergerakan sesosok pemuda di mansion sebelahnya. Tatapan mereka pun bertemu dan saling memberikan tatapan peringatan tanpa kata-kata. Daiva kembali masuk ke dalam mansion dan mengunci pintu utama itu. Setelahnya pemuda itu melangkah ke arah ruang makan dan menunggu para gadis itu turun dan bergabung bersamanya.
"Maaf membuatmu jadi menunggu kami." Kata Lova yang baru saja tiba dan membuyarkan lamunan Daiva.
"Tidak apa-apa, santai saja." Sahut Daiva seraya memberikan senyuman teduhnya.
Mereka bertiga pun mulai sarapan mereka dengan tenang tanpa kata-kata. Selesai sarapan mereka berkumpul di ruang keluarga dan bersantai sembari menonton televisi.
"Apa kalian ada yang mau jalan-jalan keluar?" Tanya Daiva memecahkan suasana yang tenang itu.
"Hmm.... Aku lagi malas kemana-mana deh. Rasanya aku pengen tidur lagi." Jawab Siera yang sudah kembali menguap karena masih merasa mengantuk.
Lova dan Daiva hanya menggelengkan kepala mereka melihat ulah sahabat mereka.
" El... Apakah kamu keberatan kalau mengantarkan aku ke suatu tempat?" Tanya Lova hati-hati.
"Tidak. Kamu mau kemana? Ayo aku antarkan." Kata Daiva dengan antusiasnya.
"Kalian pergi saja deh, aku mau tidur lagi saja." Kata Siera seraya bangun dan beranjak menuju kamar kembali.
"Ya ampun Siera tukang tidur." Celetuk Daiva sembari tertawa dan spontan membuat Lova juga tertawa bersamanya.
"Aku bersiap dulu kalau begitu ya." Kata Lova yang kemudian meninggalkan Daiva sendiri, menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Tak lama kemudian Lova sudah siap dan mereka berdua pun pergi menggunakan mobil Daiva dan meninggalkan area mansion itu.
"Kamu sebenarnya mau kemana?" Tanya Daiva saat sudah meninggalkan area mansion.
"Kamu jalan saja, nanti aku akan mengarahkan jalannya." Kata Lova dengan senyuman manisnya.
Daiva hanya mengangguk dan membalas senyuman Lova. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, hanya sesekali Lova mengarahkan jalan menuju tempat yang ingin dia tuju. Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka hari itu.