
"Selamat malam, apa kau sendirian? Boleh kami menemanimu?" Pertanyaan dari salah satu pemuda yang akhirnya mengembalikan kesadaran Lova dari lamunan panjangnya.
Masih dalam diamnya Lova mengamati satu persatu wajah para pemuda yang kini telah mengelilinginya. Tak lama kemudian Lova menghela nafasnya pelan dan bangkit berdiri.
"Malam semuanya, aku baru saja mau pulang. Kalau begitu aku permisi duluan ya." Jawab Lova berusaha tetap tenang walau sadar saat ini posisinya sedang dalam bahaya.
"Tunggu sebentar Nona, bagaimana bila kau menemani kami sebentar." Kata pemuda lain yang telah menahan pergelangan tangan Lova.
"Maaf tolong lepaskan tangan saya dan biarkan saya pulang." Kata Lova lagi seraya berusaha melepaskan cengkeraman tangan pemuda itu.
Gelak tawa pun akhirnya terdengar dari mulut ketujuh pemuda itu saat mendengarkan kata-kata Lova tadi. Ketujuh pemuda itu pun mulai menyeringai dan perlahan mendekati Lova yang kini telah melangkah mundur dan menjauh dari mereka.
Lova segera membalikkan badannya dan berlari menuju mobilnya. Melihat mangsa mereka melarikan diri, ketujuh pemuda itu mulai mengejar Lova dengan kecepatan yang mereka miliki dan segera mengepung Lova. Salah satu dari pemuda itu menagkap Lova dan membawa Lova menjauh dari jalan utama taman itu.
Setelah terasa jauh dari jalan utama, pemuda itu menghempaskan tubuh Lova dan membiarkan gadis itu tersungkur di rerumputan taman itu. Suasana taman yang sudah benar-benar sepi dari pengunjung menjadi begitu mencekam. Lova berusaha bangkit berdiri dan mencoba tetap tenang walau dia telah merasa begitu takut.
"Nona, kami sangat lapar dan haus saat ini, jadi biarkan kami bermain bersamamu." Kata salah satu pemuda itu lagi.
Para pemuda itu sudah menyeringai dan iris mata mereka pun sudah berubah merah. Taring mereka muncul dan terlihat saat sinar bulan menyinari mereka. Lova mulai merasakan aura ketakutan yang sangat luar biasa. Lova menyadari kalau yang berada di hadapannya saat ini bukanlah manusia biasa, entah makhluk apa mereka itu.
"Si...Siapa kalian....dan mau...apa kalian?" Tanya Lova terbata-bata.
Ketujuh pemuda itu pun tertawa lepas saat mendengar mangsanya yang telah begitu ketakutan. Satu persatu dari mereka mulai maju dan mendekati Lova. Lova yang telah begitu ketakutan tidak ingin menyerahkan dirinya begitu saja tanpa perlawanan, sehingga kini Lova telah memasang kuda-kudanya dan bersiaga.
"Wow sepertinya kau menyenangkan Nona, ingin mencoba melawan kami heh?" Kata salah satu pemuda itu yang menyadari sikap defense dari mangsanya.
Sedangkan pemuda lainnya hanya tertawa meremehkan gadis yang berada di hadapan mereka. Salah satu pemuda itu maju dan mulai menyerang Lova. Dengan sigap Lova menghindari serangan itu dan membalas serangan itu. Satu persatu dari para pemuda vampir liar itu pun mulai menyerang Lova bergantian. Lova melawan mereka satu persatu dengan kemampuan bela diri yang dimilikinya sejak kecil.
Tak jauh dari pertarungan antara Lova dan ketujuh pemuda vampir, ada tiga pasang mata yang mengawasi mereka.
"Wow, rupanya calon kakak iparku begitu tangguh." Kata seorang gadis yang tak lain adalah Grizelle.
"Kau benar Griz, calon Ratu terlihat tangguh." Kata Jimmy membenarkan.
"Kalian bersiap, kita akan membantunya. Tampaknya wanitaku sudah mulai kewalahan." Kata Gerald yang tak melepaskan pandangannya dari pertarungan yang tak jauh dari mereka.
Seperti yang di katakan Gerald, Lova sudah mulai kewalahan menghadapi ke tujuh vampir itu. Beberapa pukulan yang di terima tubuhnya mulai lebam dan berdarah. Bahkan fisiknya mulai kelelahan, tapi Lova tetap mencoba bertahan semampunya.
"Menyerahlah cantik, biarkan kami mengakhiri semuanya." Kata salah satu pemuda itu menyeringai meremehkan Lova.
"Cih... Sebenarnya apa mau kalian?" Tanya Lova geram.
"Kami inginkan darahmu, aromanya begitu manis dan memabukkan cantik." Kata pemuda yang lainnya.
Ketujuh pemuda itu mulai menghentikan serangan mereka saat melihat mangsanya mulai tak berdaya. Perlahan mereka maju dan memunculkan taring mereka kembali. Saat salah satu dari mereka sudah mulai mendekat dan hendak menancapkan taringnya, tiba-tiba bersinar cahaya putih yang sangat terang menghantam mereka menjauh dari gadis itu.
Lova yang telah tidak berdaya hanya menutup matanya dan menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya tanpa mengetahui ada cahaya terang yang melindungi dirinya. Di lain sisi Gerald, Grizelle dan Jimmy yang telah bersiap hendak membantu Lova pun terkesiap dengan cahaya yeng memancar sangat terang itu.
Bukan hanya ketiga klan penyihir yang terkesiap dengan cahaya itu. Klan vampir yang saat itu hendak berjalan-jalan dan berada tak jauh dari taman itu pun keheranan dengan cahaya terang itu.
"Ken, cahaya apa itu? asalnya dari tengah taman itu. Ayo kita kesana." Kata Allan mengajak Kenzo untuk menghampiri cahaya tadi.
"Aku merasakan aura dan aroma darah liebe-ku, Al." Sahut Kenzo.
"Sebaiknya kita segera kesana, karena aku juga merasakan aura vampir lainnya di sekitar sini." Celetuk Jonathan tiba-tiba.
Mereka bertiga pun segera melesat dan memasuki area taman hingga melihat bekas pertarungan dan beberapa vampir yang tergeletak tak sadarkan diri.
Rupanya cahaya terang itu bukan hanya membuat kaget klan vampir dan penyihir saja, klan werewolf yang merupakan Daiva CS yang tengah berjalan-jalan tak jauh dari sana dan dari sisi lain pun menyadari hal itu, dan mereka pun juga mendekati area taman bersamaan denga Kenzo CS dan Gerald CS.
Ketiga klan CS itu tiba bertepatan dengan Lova yang kehilangan kesadarannya. Luka dan lebam di tubuh Lova di tambah dengan fisiknya yang telah sangat kelelahan tak mampu menahan dirinya untuk tetap sadar.
"Kalian para penyihir, mengapa berada di sini?" Seru Lucas salah satu sahabat Daiva saat melihat kedatangan para penyihir.
"Vampir sialan beraninya menyakiti mateku." Geram Daiva saat melihat para vampir yang telah tergeletak tak sadarkan diri.
"Kau bilang apa waktu itu, kalian mengatakan tidak akan mengganggu manusia, tapi lihat apa yang terjadi pada mateku?" Kata Daiva lagi seraya menunjuk dan menatap tajam pada Kenzo dan rekannya.
"Kita dapat membicarakan perdebatan ini nanti, sebaiknya biarkan aku mengobati gadis ini dulu." Kata Grizelle yang sudah menghampiri Lova yang tak sadarkan diri.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Gerald yang cemas pada adiknya.
"Dia tidak baik-baik saja Kak, gadis ini kehilangan banyak darah dan beberapa tulang rusuknya retak." Jawab Grizelle setelah memeriksa kondisi Lova.
"Kau dapat menyembuhkannya khan?" Tanya Jimmy yang tak kalah cemasnya.
"Aku akan berusaha." Sahut Grizelle yang telah meletakkan tangannya di kening Lova dan menyalurkan energi sihir pengobatannya.
Grizelle penyihir yang memiliki kekuatan penyembuhan. Masing-masing penyihir memiliki kekuatan spesialis mereka selain kekuatan untuk bertarung. Sama seperti Grizelle, tidak hanya mampu untuk menyembuhkan, gadis itu juga mampu bertarung dengan beberapa sihir pertarungan yang di milikinya.
Sementara Grizelle sedang mengobati Lova, Daiva dan Kenzo saling melemparkan tatapan dengan aura permusuhan yang pekat. Sedangkan Gerald dan Jimmy hanya mengawasi sekeliling mereka.
"Katakan dan jelaskan padaku, mengapa vampir-vampir itu mengincar mateku?" Kata Daiva membuka pembicaraannya dengan menahan amarahnya.
Bukan hanya Daiva, Dion wolfnya pun telah mencoba untuk mengambil alih tubuh Daiva saking marahnya saat melihat mate mereka terluka parah.
"Tenang dulu, biar aku jelaskan. Pertama kami tidak mengenal para vampir itu. Kedua, kami pun baru saja tiba dan tidak tau apa-apa." Kata Allan menjawab pertanyaan Daiva.
"Kelihatannya mereka vampir baru, dan tampaknya mereka anak buah si baj**gan itu, Ken." Kata Jonathan setelah menyelidiki para vampir yang masih tak sadarkan diri.
"Kak...." Panggil Grizelle tiba-tiba.
"Ada apa Griz, bagaimana kondisinya?" Sahut Gerald sangat cemas.
"Dia sudah baik-baik saja sekarang, tapi menurutku sebaiknya kita harus menghilangkan ingatannya tentang kejadian malam ini." Kata Grizelle menjelaskan pemikirannya.
Mereka yang mendengarkan perkataan Grizelle serempak terdiam dan menatap Lova yang berada di pangkuan Grizelle.
"Kapan dia akan sadar?" Tanya Kenzo memecah keheningan sejenak itu.
"Besok pagi. Aku mengistirahatkan jiwanya." Jawab Grizelle.
"Sebaiknya kita bicara dulu mengenai kejadian ini agar tak ada salah paham." Kata Jimmy yang mencoba menengahi suasana panas itu.
"Apa maksudmu penyihir?" Geram Damian yang terdiam sejak tadi.
"Namaku Jimmy, gadis itu Grizelle (menunjuk ke arah Grizelle yang masih memangku kepala Lova), dan ini Gerald Raja klan penyihir. Bagaimana dengan kalian? Bukankah sebaiknya kita saling memperkenalkan diri kita dulu?" Kata Jimmy memperkenalkan diri dan sahabatnya dengan tenang.
"Tidak perlu banyak ba...." Kata Damian yang terputus omongannya karena tanda dari tangan Daiva yang mengisyaratkan untuk diam.
"Aku Daiva, Pangeran klan werewolf, ini sahabatku sekaligus asistenku Lucas (menunjuk kesebelah kanannya), dan ini Damian (menunjuk ke sebelah kirinya)." Kata Daiva yang mulai tenang.
"Aku Allan, sahabat dari Kenzo, pangeran vampir (sembari merangkul Kenzo), dan di sana adalah Jonathan sahabat kami ( menunjuk ke arah Jo yang masih memeriksa parah vampir yang tak sadarkan diri itu)." Kata Allan dengan tenang.
"Senang bisa bertemu klan lain dan berkenalan dengan kalian. Kami melihat semua kejadian tadi dan maksud kedatangan kami di dunia manusia adalah karena kami ingin menjemput calon Ratu kami." Kata Jimmy lagi menjelaskan kepada mereka semua.
"Hei Ken, harus kita apakan mereka?" Teriak Jo tiba-tiba.
"Bakar mereka." Sahut Kenzo singkat tanpa menoleh sedikit pun.
"Wohoo.... Dengan senang hati buddy." Balas Jonathan lagi dan langsung bergerak mengeksekusi para vampir itu dan membakar mereka.
Semua yang ada di sana hanya menatap Jonathan yang bersenang-senang memutuskan leher para vampir yang tak sadarkan diri dan membakar kepala mereka sehingga tubuh para vampir itu ikut terbakar dengan sendirinya.
"Kau bilang maksud kedatangan kalian ingin menjemput calon Ratu kalian? Siapa calon Ratu kalian dan apakah kalian telah menemukannya?" Tanya Lucas tiba-tiba.
"Tentu saja kami telah menemukannya." Sahut Grizelle dengan senyuman riangnya.
"Lalu kenapa kalian masih berada disini?" Tanya Damian sinis karena masih kesal.
"Kau tidak lihat kalau calon kakak iparku sedang terluka hahh?" Sahut Grizelle lagi mulai geram mendengar nada sinis dari Damian.
"Hahh.... Apa maksudmu?" Serentak mereka di sana bertanya kecuali Gerald dan Jimmy.
"Gadis ini adalah calon kakak iparku sekaligus calon Ratu kami." Jelas Grizelle dengan santainya.
"Jangan bercanda Nona, gadis itu calon Luna kami." Kata Lucas.
"Hei, gadis itu adalah calon Ratu kami." Kata Jonathan yang baru selesai membakar para vampire dan menghampiri sahabatnya.
Gerald, Jimmy dan Grizelle yang mendengar pengakuan yang berbeda itu saling berpandangan dengan beribu pertanyaan di benak mereka masing-masing.
"Apa maksud kalian?" Kata Gerald begitu sudah mendapati kewarasannya kembali.
"Gadis itu adalah mateku." Kata Daiva singkat.
"Dia adalah liebeku." Kata Kenzo sembari menatap tajam pada Daiva.
"Tunggu sebentar apakah ada kesalahan disini?" Tanya Jimmy mencoba menengahi.
"Ger, kau lihat cahaya tadi khan, menurutmu cahaya apa itu?" Tanya Jimmy pada Gerald begitu mengingat kejadian tadi.
"Kak, sepertinya cahaya tadi berasal dari kalung itu." Kata Grizelle menunjuk ke arah kalung yang di kenakan Lova.
Gerald menghampiri adiknya dan berjongkok di sisi mereka, hendak menyentuh bandul kalung yang di kenakan oleh calon Ratunya.
"Jangan di sentuh, Kak." Cegah Grizelle seraya menarik tangan kakaknya.
Gerald menatap adiknya dengan tatapan penuh pertanyaan. Sedangkan yang lainnya hanya terdiam dan memperhatikan setiap interaksi itu.
"Kalung itu memiliki kekuatan yang mematikan, aku rasa cahaya itu muncul dari kalung itu untuk melindunginya." Jelas Grizelle yang mengerti dengan tatapan pertanyaan dari kakaknya.
Semua yang mendengarkan penjelasan Grizelle langsung terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Kalau kalung itu yang melindungi gadis ini, mengapa kau baik-baik saja berada di dekatnya? Mengapa Kenzo dan Daiva juga baik-baik saja saat berada di dekatnya?" Tanya Allan memecahkan keheningan di sana.
"Sepertinya kalung itu akan bereaksi saat ada sesuatu yang sangat mengancam jiwa pemiliknya. Dan kita kaum immortal tidak dapat menyentuh kalung itu." Jelas Grizelle lagi.
"Apa yang akan terjadi bila kita menyentuhnya?" Tanya Damian yang kini sudah mulai penasaran dengan penjelasan gadis penyihir yang ada di hadapannya.
"Terluka, atau mungkin akan mati." Jawab Grizelle singkat.
"Sepertinya kita harus segera mengambil keputusan apakah kita akan menghilangkan ingatan gadis ini atau tidak?" Kata Grizelle lagi yang merasa mulai bosan dengan situasi saat itu.
Belum sempat mereka mengambil keputusan terbaik untuk situasi saat itu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menginjak ranting patah tak jauh dari lokasi mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya sosok yang muncul dari balik pohon yang tak jauh dari mereka.