
Matahari pagi telah menampakkan cahaya indahnya. Sosok gadis yang masih bergelung dalam selimut nyamannya perlahan membuka matanya. Usai mengembalikan kesadarannya dan meregangkan otot-ototnya, gadis itu pun bangun dan terduduk di kasur king sizenya yang empuk dan nyaman.
"Eh... Loh kog aku bisa tidur di kasur? Siapa yang mindahin aku ya? Seingatku semalam aku ketiduran di balkon deh? Apa aku jalan sendiri dan pindah ke kasur ya?" Gumam Lova yang keheranan karena terbangun di atas kasurnya.
"Akh sebaiknya aku bersiap dan berangkat kuliah." Pikir Lova lagi saat tidak berhasil mengingat bagaimana dia bisa pindah ke kasur tadi malam.
Selesai membersihkan diri dan bersiap-siap, Lova pun keluar kamar dan berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Setibanya di ruang makan, makanan pun telah tersaji di atas meja makan.
"Pagi Bi." Sapa Lova pada Bi Sinah yang sedang menuang segelas susu untuk Lova.
"Pagi Non, bagaimana tidur Non Lova semalam, apakah Non tidur dengan nyenyak?" Balas Bi Sinah sembari meletakkan segelas susu di hadapan Lova.
"Iya Bi, semalam aku tidur nyenyak." Kata Lova sambil mengambil sepotong roti sandwich yang sudah tersedia di meja makan.
"Makan yang banyak Non, biar ada tenaga dan semangat kuliah hari ini. Bibi tinggal ke dapur dulu ya Non." Kata Bi Sinah dan berpamitan untuk kembali ke dapur.
Lova pun hanya menganggukkan kepalanya dan mulai makan dengan santai. Selesai sarapan dan menghabiskan susunya, Lova bangkit dan mengambil tas yang berada di kursi sebelahnya.
"Bi Sinah, Lova pamit berangkat kuliah dulu ya." Teriak Lova karena Bi Sinah masih ada di dapur.
Bi Sinah yang saat itu sedang mencuci perabotan bekas memasaknya tadi, segera membilas tangannya yang masih benyak busa sabun. Setelah itu Bi Sinah segera keluar dan menghapiri nona-nya.
"Non mau di antar sama supir saja?" Tanya Bi Sinah begitu tiba di dekat Lova.
"Tidah usah Bi, aku mau nyetir sendiri hari ini." Kata Lova singkat.
Lova memeluk Bi Sinah sebentar dan setelah itu dia pun berpamitan dan keluar dari mansionnya menuju mobilnya. Bi Sinah mengantarkan Lova sampai di depan dan setelah mobil nona-nya tidak terlihat lagi barulah Bi Sinah masuk dan mengunci pintu utama kediaman itu.
Dua puluh menit perjalanan menuju kampusnya, begitu tiba di kampus dan memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mahasiswa, Lova segera turun dan berjalan menuju kelasnya.
"Va.... Lova... Tungguin aku ihh..." Panggil seorang gadis yang berlari kecil ke arah Lova.
Lova yang mendengar namanya di panggil pun akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata gadis yang memanggilnya adalah Gladis, salah satu temannya yang anak team cheerleaders.
"Hai Gladis, selamat pagi." Sapa Lova begitu Gladis sudah tiba di depannya.
"Pagi juga Lova, sorry aku jadi manggilin kamu gitu tadi." Sambut Gladis.
"Tidak apa-apa, ada apa kamu sampai mengejarku gitu?" Tanya Lova yang sedikit menaikkan alisnya.
"Ini kemarin itu aku mau nanya sama kamu, tapi aku ga bisa nemuin kamu pas hari Jumat kemarin. Aku mau nanya, kamu mau ikut acara camp ga sama anak-anak cheers?" Kata Gladis yang menyatakan keperluannya memanggil Lova.
"Tapi aku khan bukan bagian dari team cheers." Kata Lova lagi sembari melanjutkan langkahnya bersama Gladis menuju ke kelas mereka.
"Iya aku tau, tapi gak apa-apa kalau kamu ikut juga. Anak-anak juga pada ingin kamu bisa ikut bersama kami, makannya aku ngajakin kamu." Kata Gladis lagi.
"Siera ikut juga?" Tanya Lova lagi.
"Iyalah dia juga ikut, memang dia gak bilang sama kamu?" Kata Gladis lagi yang sedikit keheranan karena sepengetahuannya, mereka berdua adalah sahabat baik yang saling tau kegiatan mereka masing-masing.
"Gak tuh, mungkin itu anak lupa cerita sama aku kali." Kata Lova acuh.
"Jadi gimana? Kamu mau khan ikut camp sama kita?" Tanya Gladis lagi dengan memasang wajah berharapnya.
"Memang kapan rencananya dan berapa lama? Terus rencana mau camp kemana?" Tanya Lova akhirnya.
"Rencananya kita mau ke Hutan H hari Jumat sore selesai perkuliahan. Dan kita balik lagi hari Minggu sore." Jelas Gladis tentang rencana perjalanannya.
"Baiklah kalau gitu aku ikut. Lagian aku juga tidak ada kegiatan akhir minggu ini." Kata Lova yang akhirnya menyetujui untuk ikut bersama para team cheerleaders.
"Anak basket ikut juga?" Tanya Lova lagi.
"Oh, enggak. Cuma anak cheers aja yang pergi. Time for Girl's only, hahaha...." jawab Gladis yang tertawa riang.
"Okelah kalau gitu. Aku sudah sampai di kelasku. Sampai jumpa nanti lagi ya, Dis. Thanks ya atas ajakannya." Kata Lova yang dirinya sudah tiba di depan kelasnya.
"Oke, sama-sama Lova. Have a nice day.... Bye,Va...." Sahut Gladis seraya melambaikan tangannya dan melanjutkan langkahnya menuju kelasnya sendiri.
Begitu memasuki kelasnya tanpa sengaja tatapan mata Lova bertemu dengan Steven, tak lama saling menatap, Lova pun memutuskan tatapannya dan melanjutkan langkahnya ke kursinya yang biasa di dekat jendela, tepatnya kursi di depan Steven.
"Pagi, Si." Sapa Lova saat tiba di kursinya dan mendapati sahabatnya sejak asyik dengan bacaan novel di tangannya.
"Oh hai, pagi juga Va." Sahut Siera dan menghentikan bacaannya.
"Novel baru?" Tanya Lova sambil melirik ke arah judul novel yang masih berada dalam genggaman Siera.
"Iya, sepupuku membawakan banyak novel kemarin. Jadi aku bawa beberapa novel untuk aku baca nanti. Kau mau pinjam?" Jelas Siera.
"Tidak, terima kasih. Sebaiknya kau simpan novelmu, sebentar lagi kelas akan di mulai." Kata Lova mengingatkan sahabatnya.
Baru saja Siera menyimpan buku novelnya ke dalam tasnya, tak lama kemudian Mrs Lidya pun memasuki kelas. Pagi itu berlalu begitu saja dengan segala rutinitas perkuliahan seperti biasanya. Selesai kelasnya hari itu, kedua gadis itu merapikan dan menyimpan kembali buku mereka ke dalam tas dan berniat makan siang ke kafetaria.
"Va, makan dulu yuk di kafetaria. Laper nih." Kata Siera sembari bangkit dari duduknya.
"Kamu duluan aja ya Si, sepertinya ada beberapa catatan yang aku lupa catat deh. Aku periksa catatanku dulu sebentar, nanti aku susul." Jawab Lova dan kembali membuka bukunya.
"Ya udah kalau gitu aku duluan, nanti kamu nyusul ya, jangan lama loh." Kata Siera lagi seraya beranjak keluar kelas.
Lova hanya menggelengkan kepalanya sembari memperhatikan sahabatnya yang menghilang di balik pintu.
"Hai.... Ada yang ketinggalan catatan?" Sapa seseorang dari arah belakang Lova.
"Oh... Hai... Iya, aku hanya mengecek saja." Jawab Lova sedikit terbata karena terkejut dengan sapaan yang tiba-tiba.
"Apa aku mengagetkanmu? Oh iya kita belum berkenalan langsung, namaku Steven Lakeswara Raynar, kau dapat memanggilku Steven atau Steve." Kata Steven yang kini sudah berpindah duduk di sisi Lova, tepatnya di kursi milik Siera.
"Oh tidak, kau tidak mengagetkanku. Namaku Lovandra. Lovandra Maulvi Elfarette, kamu dapat memanggilku Lova seperti teman-temanku yang lainnya." Balas Lova sedikit tersenyum kepada Steven.
"Hmm.... Senang dapat berkenalan langsung denganmu. Aku harap kita dapat menjadi teman baik." Kata Steven lagi.
"Hahaha.... Tentu saja kita dapat berteman." Balas Lova yang tertawa kecil.
Setelah obrolan singkat itu, Lova melanjutkan memeriksa catatannya, sedangkan Steven hanya duduk diam dan memperhatikan setiap gerakkan gadis yang duduk di sebelahnya. Merasa terus di perhatikan membuat Lova menjadi sedikit salah tingkah.
"Hmm... Aku sudah selesai, aku permisi duluan ya." Kata Lova sembari bangkit dan memasukkan bukunya.
"Kamu mau kemana setelah ini? Apakah masih ada kelas lainnya?" Tanya Steven tiba-tiba, yang juga ikut berdiri.
"Aku mau ke kafetaria, sahabatku Siera pasti sudah menunggu lama di sana." Jawab Lova.
"Boleh aku ikut dan bergabung bersama kalian?" Tanya Steven lagi.
"Oh.... Ya, tentu saja." Balas Lova yang sedikit gugup.
Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan kelas menuju kafetaria. Setibanya di kafetaria, Lova mencari keberadaan sahabatnya.
"Itu sahabatmu?" Tanya Steven sembari menunjuk ke arah meja yang telah di tempati oleh Siera dan Daiva.
"Oh iya, kau benar, ayo kita hampiri mereka." Kata Lova antusias dan langsung menarik lengan Steven tanpa sadar.
Steven yang di tarik lengannya oleh Lova tersentak kaget dan akhirnya mengikuti langkah gadis yang masih belum sadar dan tetap menarik lengan Steven sampai di meja yang di tempati sahabatnya.
"Maaf Si, kamu jadi menunggu lama." Kata Lova begitu tiba di meja mereka.
Siera dan Daiva yang tadinya sedang fokus makan pun mengangkat kepala mereka dan melihat ke arah Lova yang masih menggandeng lengan Steven. Siera menaikkan alisnya dan memandangi arah tangan Lova dan bergantian menatap Lova juga Steven.
Lova yang sadar akan tatapan kedua temannya itu pun akhirnya ikut melihat ke arah tatapan teman-temannya dan reflek langsung melepaskan genggamannya pada lengan Steven.
"Akh... Maaf Steve." Kata Lova yang merasa seperti baru saja kepergok.
"Tidak apa-apa. Kamu mau pesan apa, biar aku yang pesankan." Tawar Steven pada Lova.
"Tidak usah, biar nanti aku yang pesankan untuk Lova." Sambar Daiva cepat seraya langsung berdiri dan mendekati Lova.
"Va, kamu mau makan apa? Mau pesan yang seperti kemarin itu?" Tawar Daiva cepat.
"Ehmm... Boleh. Maaf jadi merepotkanmu El." Kata Lova yang kini sudah duduk di sebelah Siera.
"Kalau gitu, kamu tunggu sebentar, aku akan segera memesankan makananmu dan membawanya kesini." Kata Daiva lagi seraya berjalan meninggalkan mereka.
Steven pun akhirnya mengikuti Daiva karena hendak memesan makanan untuk dirinya. Kedua pemuda itu berjalan bersisian dan sesekali saling melemparkan tatapan tajam mereka.
"Apa kau mahasiswa baru itu?" Tanya Daiva yang memulai percakapannya.
"Ya, benar itu aku." Jawab Steven singkat.
"Sebaiknya kamu jauhi Lova dan jangan berani-beraninya kamu mengganggu dia." Kata Daiva memperingati Steven dengan tatapan tajamnya.
"Memangnya kau siapa yang dapat mengatur dengan siapa Lova bisa berteman?" Balas Steven yang tetap tenang.
"Tidak penting siapa aku, yang jelas kamu tidak boleh mendekati Lova lagi." Kata Daiva begitu protektifnya.
"Aku tidak perduli dengan kata-katamu, kalau aku suka berteman dengannya, itu adalah urusanku." Balas Steven lagi masih dengan sikap dinginnya yang tenang.
"Mas-mas, ini pesanan kalian." Kata penjual makanan yang memutuskan percakapan kedua pemuda itu.
Sementara di meja mereka, kedua gadis sedang mengobrol sembari menunggu pesanan Lova tiba.
"Va, kog bisa bareng sama Steven?" Tanya Siera dengan raut ingin taunya.
"Tadi dia masih di kelas dan mengobrol sebentar denganku, habis itu dia minta ijin ikut dan bergabung dengan kita." Jelas Lova pada Siera.
"Sambil pegangan tangan gitu?" Kata Siera lagi sambil mengerlingkan matanya jahil.
"Apaan sih Si, tadi aku reflek dan ga sengaja menggandeng dan menyeret dia." Balas Lova yang kini sedikit tersipu malu.
"Ya, gak apa-apa juga kali Va. Secara Steven khan ganteng, iya gak?" lagi-lagi Siera mengerjap-gerjapkan matanya semakin jahil.
"Udah akh, mereka sedang menuju kesini tuh." Kata Lova yang akhirnya sedikit kesal dam memukul pelan lengan Siera.
"Keliatannya Daiva cemburu deh." Kata Siera lagi yang pura-pura berpikir dan tidak mendengarkan apa yang Lova katakan.
"Siiiiiii....." Geram Lova akhirnya.
"Hahaha.... Oke-oke....." Tawa Siera sambil menggerakkan tangannya seolah mengunci mulutnya.
"Girl's lama menunggu? Ini makananmu Va." Kata Daiva begitu tiba di dekat mereka dan menyodorkan nampan yang berisi makanan pesanan Lova.
"Terima kasih ya El. Gak lama nunggu kog." Balas Lova dan mengambil nampan makanannya.
Mereka pun duduk berhadapan dan kembali menikmati makanan mereka masing-masing. Selesai makan mereka mengobrol hal remeh temeh dan tertawa bersama. Sedangkan kedua pemuda itu masih tetap setia dengan pelototan peringatan mereka satu sama lain.
"Lova, habis ini kamu masih ada kelas lagi?" Tanya Daiva tiba-tiba.
"Enggak, aku sudah gak ada kelas lagi." Jawab Lova.
"Mau pulang bareng?" Tawar Daiva lagi.
"Makasih El, kebetulan aku bawa mobil tadi." Balas Lova.
"Yaa Va, kalau tau kamu bawa mobil, khan aku bisa bareng kamu pulangnya." Kata Siera yang langsung mengerucutkan bibirnya.
"Bukannya sepupumu yang mau jemput kamu seperti yang tadi kamu bilang?" Kata Lova mengingatkan ucapan Siera tadi saat masih di kelas.
"Ya ampun aku lupa, untung kamu ingatkan." Balas Siera sembari merogoh tasnya dan mencari ponselnya.
"Va, aku duluan ya, Kenny sudah di depan rupanya." Kata Siera yang langsung mengemasi tasnya dan beranjak meninggalkan kafetaria.
"Hati-hati di jalan Si, sampaikan salamku untuk Kenny." Kata Lova sebelum Siera benar-benar pergi.
Siera hanya menganggukkan kepalanya dan menyatukan jempol dan telunjuknya membentuk tanda ok, setelah itu gadis itu berlari kecil dan meninggalkan kafetaria. Teman-teman yang di tinggalkannya pun hanya dapat menggelengkan kepala karena ulah cerobohnya Siera.
"Woi Daiva, ayo latihan. Anak-anak yang lain dah pada nungguin tuh." Sapa salah seorang anggota team basket.
"Ya ampun, aku lupa kalau masih mau latihan ya hari ini." Sahut Daiva pada temannya.
"Ya sudah duluan deh sana, nanti aku nyusul." Kata Daiva lagi.
"Oke, jangan lama ya." Sahut temannya seraya meninggalkan meja mereka.
"Lova, maaf aku ternyata masih harus latihan basket. Kamu mau langsung pulang?" Kata Daiva yang menggaruk belakang kepalanya karena merasa tak enak hati.
"Gak apa-apa kog El, kamu latihan aja dulu sana. Iya aku mau langsung pulang aja." Jawab Lova.
"Kamu pulang kemana? Nanti aku mampir ke rumahmu." Kata Daiva lagi.
"Belum tau pengen kemana. Mungkin ke kost-an dulu sebentar baru nanti ke mansion. Kamu gak usah mampir lagi, pasti kamu capek khan habis latihan basket. Santai aja, aku baik-baik aja kog." Kata Lova dengan senyumannya.
"Ya sudah kalau gitu aku duluan ya." Pamit Daiva akhirnya. Dan sebelum meninggalkan Lova, Daiva sempat melirik tajam kepada Steven dengan tatapan memperingati pemuda itu agar pemuda itu tidak berbuat macam-macam pada Lova.
Steven yang mendapatkan tatapan tajam dari Daiva sama sekali tidak merasa terintimidasi, bahkan dia hanya melirik acuh tak acuh untuk membalas tatapan Daiva.
"Ehmm.... Lova, kamu nyetir sendiri?" Tanya Steven setelah mereka saling diam beberapa saat.
"Iya, aku nyetir sendiri." Sahut Lova.
"Sebaiknya aku juga langsung pulang aja sekarang." Kata Lova lagi seraya meraih tasnya yang tadi di letakkan di kursi kosong di sebelahnya.
"Kamu masih ada kelas lainnya lagi?" Tanya Lova lagi pada Steven.
"Oh, enggak ada, kalau gitu ayo kita bareng ke parkiran." Kata Steven yang langsung berdiri dan mereka pun berjalan bersisian menuju parkiran mobil.
Setibanya di parkiran, Steven mendapati ban mobil belakangnya kempes. Sedangkan Lova sudah masuk ke dalam mobilnya yang berada tak jauh dengan mobil Steven.
"Akh... Sial, kog bisa kempes gini sih." Gerutu Steven sembari mengeluarkan ponselnya hendak menelpon asistennya.
Tin....Tin....
"Steve, kenapa?" Tanya Lova dari balik jendela mobilnya saat mobilnya melewati mobil Steven.
"Ban mobilku tiba-tiba kempes, aku sedang menghubungi asistenku." Kata Steven menjelaskan.
"Ron, cepat ke kampus dan jemput aku. Ban mobilku kempes." Kata Steven begitu panggilannya di angkat oleh asistennya.
---------------
"Apa? Masih berapa lama?" Tanya Steven lagi saat mendapatkan jawaban dari asistennya bahwa sang asistennya masih rapat.
--------------
"Ya sudah kau suruh orang untuk mengambil mobilku, biar aku naik taksi saja nanti." Kata Steven lagi setelah mengetahui bahwa rapatnya baru saja di mulai.
Setelah menutup panggilannya dan menyimpan ponselnya ke saku, Steven hanya mengacak rambutnya frustasi. Pemuda itu lupa kalau Lova masih belum meninggalkan area kampus.
"Steve..." Panggil Lova pelan.
Steven yang mendengar panggilan itu akhirnya tersadar dengan keberadaan Lova dan menoleh ke arah gadis itu.
"Ehh.... Maaf Va. Aku kira kamu sudah pulang tadi." Kata Steven yang langsung sedikit salah tingkah. Sedangkan Lova hanya tersenyum lembut menanggapi kata-kata Steven.
"Mau bareng denganku?" Tawar Lova akhirnya.
"Apa tidak merepotkanmu nanti?" Kata Steven yang merasa sedikit tidak enak hati.
"Tidak sama sekali, lagi pula aku juga gak ada rencana kemana-mana lagi kog." Jawab Lova yang masih tetap tersenyum ramah.
"Baiklah. Biarkan aku yang menyetir." Kata Steven akhirnya menerima tawaran Lova.
"Oke." Kata Lova sembari keluar mobil dan berpindah ke sisi penumpang.
Mobil Lova akhirnya melaju meninggalkan area kampus, dengan Steven yang mengemudikan mobil itu. Setelah berada di jalan raya, Steven yang kebingungan ingin kemana akhirnya bertanya pada Lova.
"Lova, rumahmu dimana? Biar aku antar kamu pulang dulu. Nanti aku bisa naik taksi saja dari rumahmu." Kata Steven yang masih merasa sedikit tidak enak hati karena merepotkan gadis yang mulai di sukainya.
"Kamu sendiri mau kemana, Steve? Sebaiknya kita pergi ke arah tujuanmu saja, biar nanti aku menyetir pulang sendiri." Kata Lova akhirnya mencoba memutuskan tujuan mereka.
"Gak apa-apa Lova, aku antar kamu pulang saja dulu, nanti aku bisa naik taksi buat pulang ke rumahku. Jadi rumahmu di mana?" Jelas Steven yang masih tetap ingin mengantarkan Lova pulang ke rumahnya dulu.
Akhirnya Lova pun menyebutkan alamat mansionnya. Yang ternyata mansion Lova berada tidak jauh dari kediaman Steven.