
Di sisi lain di sebuah kastil di dalam Hutan ilusi tampak sosok pemuda tampan yang sedang duduk di kursi singgasananya sambil memejamkan matanya. Seorang gadis berlari kecil di koridor kastil dan segera membuka pintu besar sebuah ruangan dengan terburu-buru.
"Kak, apa kau sudah menemukannya?" Tanya gadis itu begitu tiba dan melihat kakaknya yang terduduk diam di singgasananya.
"Ya, aku sudah menemukannya." Jawab pemuda itu tanpa membuka matanya.
"Kak segera bawa dia kesini, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." Kata gadis itu lagi dengan antusiasnya.
"Tidak semudah itu dear." Jawab pemuda itu lagi sembari menghela nafas pelan.
"Apa yang kau tunggu hah?" Bentak gadis itu tiba-tiba.
Pemuda itu membuka matanya dan melihat pada gadis yang kini sedang berkacak pinggang dan melototkan matanya di depannya. Tanpa berbicara apa pun pemuda itu menghela nafas kasar beberapa kali. Masih dalam diamnya pemuda itu pun bangkit berdiri dan menghampiri gadis itu dan memeluk gadis itu untuk mencurahkan kegelisahan dalam dirinya.
"Maafkan kakak, Princess. Kakak belum dapat membawanya sekarang." Kata pemuda itu pelan di telinga gadis itu.
"Maafkan aku, Kak. Karena sudah memaksamu. Apakah ada masalah yang tidak bisa kau atasi? Ceritakanlah padaku, mungkin aku dapat membantumu." Kata gadis itu seraya mengeratkan pelukannya pada Kakaknya yang sangat dia sayangi.
"Entahlah Princess, saat ini aku benar-benar bingung dengan apa yang harus aku lakukan." Sahut pemuda itu dan lagi-lagi menghela nafasnya kasar.
Kemudian pemuda itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis manis yang berada di depannya, kemudian pemuda itu menyunggingkan senyumannya untuk memberikan ketenangan pada adik kesayangannya.
"Maaf Yang Mulia." Sapa seorang pemuda yang tiba-tiba datang dan membungkukkan badannya memberi hormat pada Rajanya.
"Bangkitlah." Jawab Rajanya.
"Bagaimana hasil pengamatanmu?" Tanya sang Raja pada bawahannya, tepatnya pada asisten aka tangan kanannya.
"Calon Yang Mulia Ratu masih seperti biasa, hanya saja...." Kata pemuda itu menyampaikan hasil pengamatannya dan terputus tanpa berani melanjutkan kalimatnya.
"Hanya saja apa?" Tanya sang gadis tidak sabaran untuk mendengar kelanjutan laporan dari asisten kakaknya.
"Maaf Yang Mulia Putri, hamba bingung harus menyampaikan ini bagaimana." Kata pemuda itu menundukkan kepalanya.
"Duduklah dulu Jim, baru kau lanjutkan bicaramu. Ceritakan semuanya pada kami tidak perlu terlalu formal, karena hanya ada kita bertiga saja di sini." Sahut sang Raja sembari melangkah dan kembali duduk di atas singgasananya.
Pemuda yang bernama Jimmy itu pun duduk tak jauh dari Raja dan adik perempuannya dari sang Raja. Jimmy bukan hanya sekedar asisten atau tangan kanan sang Raja. Sejak kecil Jimmy tumbuh besar bersama pemuda dan gadis itu, sehingga mereka sudah bersahabat lama bahkan sudah seperti saudara.
"Maafkan aku Ger, aku merasa sulit menyampaikan ini pada kalian." Kata Jimmy masih tetap menundukkan kepalanya.
Gerald Fritz Erchanhardt nama dari sang Raja yang saat ini hanya diam memandangi sahabatnya dan kemudian dia menghembuskan nafasnya kasar. Raja dari kaum penyihir itu pun sudah mulai kebingungan bagaimana caranya dia mendekati pasangan abadinya, calon Ratunya yang saat ini berwujud sosok manusia biasa.
"Kau bisa menceritakan semuanya pada kami, Kak Jimmy." Kata gadis yang bernama Grizelle Kyra Erchanhardt, yang tak lain adalah adik perempuan satu-satunya yang sangat di sayangi oleh Gerald.
"Begini saja, aku akan memberitahukan intinya. Saat ini gadis itu di kelilingi oleh tiga orang laki-laki dan dua diantaranya berasal dari klan vampir dan werewolf. Dan aku cukup sulit untuk lebih dekat dengan gadis itu, karena aku khawatir mereka akan merasakan kehadiranku." Jelas Jimmy cepat dengan satu tarikan nafas, dan setelahnya dia menghela nafas kasar seraya menghapus peluh yang berada di dahinya.
"Vampir dan werewolf? Lalu yang satunya dari klan mana? Bagaimana dia bisa bersama ketiga pria itu?" Tanya Grizelle penasaran tanpa memperdulikan kakaknya yang sedang menatap dirinya dan Jimmy bergantian.
"Aku telah menyelidiki pemuda yang satunya. Pemuda itu hanya manusia biasa, hanya saja pemuda itu sedikit istimewa. Dia tidak akan bisa mati atau bisa kita sebut abadi seperti kita. Dia dapat mati karena kecelakaan atau terkena senjata yang dapat membunuh nyawanya. Menurut hasil penyelidikanku pemuda itu menyebut dirinya dan kerabat yang sama seperti dirinya dengan sebutan kaum Alchemist." Jelas Jimmy lagi dan menatap kakak beradik itu bergantian.
"Apa kau tau apa hubungan gadis itu dengan ketiga pemuda itu?" Tanya Gerald akhirnya membuka suaranya.
"Saat ini aku belum tahu tentang hal itu. Menurutku sebaiknya kau sendiri yang turun dan mendekatinya langsung." Jawab Jimmy cepat.
"Sepertinya Kak Jimmy benar, Kak Ger. Kakak saja yang mendekatinya. Agar kakak dapat cepat membawanya kesini." Kata Grizelle dengan antusianya membenarkan perkataan Jimmy.
"Hemm.... Panggil Lexie dan Lexus sekarang, aku memerlukan si kembar itu." Titah Gerald kepada Jimmy yang langsung di kerjakan oleh Jimmy.
"Dan kau princess bersiaplah, kita akan tinggal di dunia manusia untuk beberapa waktu di sana." Sambung Gerald lagi.
"Wohoo... Kita akan berpetualang Kakak, akh senangnya. Aku akan segera bersiap, Kak." Sahut Grizelle cepat dan langsung berlari menuju kediamannya untuk bersiap-siap.
Sepeninggalan adik dan sahabatnya, Gerald memejamkan matanya kembali. Pemuda itu tidak berusaha untuk tidur, melainkan sedang melihat masa depan. Tepatnya melihat setiap aktifitas calon Ratunya. Tak lama kemudian Jimmy dann si kembar pun telah berada di hadapannya dann bersujud memberikan salam hormat mereka. Lexie dan Lexus adalah pemuda kembar yang sama seperti Jimmy. Posisi mereka sebagai tangan kiri Gerald.
"Bangkitlah." Sahut Gerald dan membuka matanya.
"Ada keperluan apa Yang Mulia memanggil kami?" Kata Lexie mewakili saudara kembarnya.
"Aku membutuuhkan bantuan kalian Double Lex." Sahut Gerald santai.
"Tidak biasanya kau memerlukan bantuan kami tiba-tiba seperti sekarang ini. Jadi apa yang bisa kami kerjakan untuk membantumu sobat?" Kali ini Lexus yang menjawab Gerald tanpa basa basi dengan sikap hormatnya.
Kembar Lex yang selalu ceria itu selalu bersikap santai saat hanya bersama sahabat- sahabat mereka, tapi akan berubah menjadi sangat serius dan dingin saat berada di lingkungan yang formal. Sedangkan Gerald tidak pernah memusingkan sikap semua sahabat terbaiknya, sehingga para sahabatnya pun nyaman berbincang santai dengannya.
"Lex's, aku minta kalian mengantikan posisiku dan laporkan semua yang terjadi di kerjaan saat aku tidak ada di sini. Aku akan pergi ke dunia manusia bersama Jimmy dan Grizelle." Kata Gerald menjelaskan maksud memanggil mereka.
"Kami akan selalu siap membantumu sobat. Jangan khawatir, serahkan semuanya pada kami." Kata si kembar bersamaan.
"Ugh... Bagaimana bisa kalian menjawab bersamaan seperti itu?" Gerutu Jimmy tiba-tiba.
"Mereka kembar, Jim. Jadi jelas otak mereka saling terhubung." Celetuk Gerald yang tertawa ringan mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
"Baiklah Double Lex, aku mempercayakan kerajaan pada kalian. Dan Jimmy bersiaplah, kita berangkat setengah jam lagi." Kata Gerald lagi.
Mereka pun membubarkan diri dan kembali ke tugas mereka masing-masing. Setengah jam kemudian ketiganya pun berangkat meninggalkan kerajaan dan hutan ilusi itu dengan di antar si kembar sampai perbatasan hutan ilusi.
____________________________________________
Di mansion kediaman keluarga Elvarette seorang gadis yang baru saja selesai membersihkan dirinya tampak duduk di sofa yang berada di kamarnya dengan segelas wine di tangannya. Tangan lainnya tampak menggengam bandul kalung yang dia kenakan. Gadis itu hanya terdiam dan sesekali menghela nafasnya pelan. Tampak ada banyak hal dalam pikirannya.
Tak lama kemudian gadis itu bangkit dan berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Gadis itu memutuskan untuk keluar berjalan-jalan sejenak, mencoba menghilangkan sedikit beban pikirannya.
Selesai berganti pakaian, gadis itu pun segera turun dan melangkah keluar rumah menuju ke mobilnya setelah sebelumnya berpamitan pada kepala rumah tangga di kediamannya.
"Bi Sinah, Lova mau keluar dulu sebentar ya." Kata Lova saat menemukan Bi Sinah yang berada di dapur.
"Non Lova mau di antar supir? Biar Bibi panggilkan ya." Sahut Bi Sinah.
"Tidak usah Bi, aku mau menyetir sendiri." Jawab Lova cepat dan kemudian berjalan keluar rumah.
"Hati-hati di jalan ya Non." Kata Bi Sinah mengingatkan Nona mudanya.
"Oke Bi, Lova jalan dulu ya." Sahut Lova sembari melambaikan tangannya.
Maybach Exelero hitam meluncur di jalan utama malam itu setelah keluar dari komplek perumahan elit. Jalanan malam yang sepi tidak membuat si pengemudi meningkatkan kecepatan kendaraannya. Mobil itu tetap melaju santai membelah jalanan malam. Tak lama kemudian mobil itu berhenti di sebuah taman yang sudah sepi pengunjung.
Seorang gadis turun dari mobilnya dan berjalan santai menuju kursi yang berada di taman itu. Rambut coklat kepirangan yang panjang sepinggangnya pun berayun-ayun mengikuti langkah kakinya dan sesekali angin malam mengacak tatanan rambut itu.
Lova duduk diam di kursi taman dan memandangi langit malam dengan tenangnya. Tanpa gadis itu sadari ada beberapa pasang mata yang kini sedang memperhatikan setiap pergerakannya.
Waktu bergulir tanpa terasa, sedikit demi sedikit pengunjung taman yang tersisa mulai meninggalkan area taman itu. Lova masih setia duduk tenang di tempatnya semula, tidak menghiraukan setiap aktifitas orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Gadis itu hanya terlarut dalam pikirannya, dimana dirinya sebentar lagi akan menginjak usia 23 tahun dan saat itu tiba dia akan mulai di bebani dengan semua tanggung jawabnya. Semua teka teki yang berada di benaknya pun masih belum dapat dia pecahkan, sehingga membuat dirinya kesulitan untuk mengambil langkah selanjutnya untuk jalan kehidupannya.
Tenggelam dalam lamunannya da tanpa sadar beberapa pasang mata yang dari tadi mengawasinya kini mulai mendekatinya. Aura mencekam yang menguar dari mereka yang mulai mendekati Lova sama sekali tidak dirasakan oleh gadis yang terlalu larut dalam lamunannya.
"Selamat malam, apa kau sendirian? Boleh kami menemanimu?" Tanya sosok pemuda yang telah berdiri di hadapan Lova.
Sontak lamunan Lova buyar dan kembali pada kenyataan yang ada di hadapannya, di mana saat ini ada tujuh orang pemuda yang berdiri di sekitarnya dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang sangat kuat.
Lova pun kehilangan suaranya seketika dan hanya menatapi satu persatu pemuda yang mengelilinginya.