
Flashback Continue
Keesokan paginya saat sarapan, Robert mau pun Riany hanya makan dalam diam, keduanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Sedangkan kedua gadis remaja yang bersama mereka hanya dapat bertukar pandang dan menatapi kedua orang tua mereka.
Setelah sarapan usai, Robert memanggil kedua putrinya dan mereka berkumpul di ruang keluarga. Dengan menahan kesedihan dan kegelisahan hatinya Robert pun menceritakan perihal yang telah terjadi tadi malam. Dan dengan tangan yang bergetar Robert memberikan dua barang yang di tinggalkan Frans untuk Lovandra.
Saat mendengarkan cerita yang keluar dari mulut sahabat ayahnya itu, Lova hanya dapat menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Tak percaya dengan apa yang telah di sampaikan oleh Robert. Lova hanya terus terdiam dan tek berhenti menitikkan air mata dari mata cantiknya.
Sesaat setelah menerima barang peninggalan almarhum ayahnya, Lova pun akhirnya tak kuasa menahan kesedihan dan kehancuran hatinya.
"Tidakkk..... Papaaa, Mamaaa...." Histeris Lova pada akhirnya.
Riany dan Siera yang duduk di sebelah kanan dan kiri Lova pun turut menangis, meraka hanya dapat memeluk Lova guna menyalurkan rasa prihatin mereka pada gadis itu.
Siang harinya mereka berempat pergi ke pemakaman. Robert dan Riany menepati amanah yang di tinggalkan Frans, dimana mereka tidak membiarkan Lovandra melihat jenazah kedua orang tuanya. Cuaca siang itu pun serasa ikut bersedih, awan mendung mengiringi para pengantar jenazah yang sedang berduka.
Selesai pemakaman para tamu yang mayoritas adalah karyawan, rekan bisnis dan beberapa kerabat keluarga Elvarette juga sebagian rekan-rekan keluarga Pratista, satu persatu mulai berpamitan dan meninggalkan area pemakaman.
Sejak mendengar cerita dari ayah sahabatnya, Lovandra hanya terdiam tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibir manisnya itu. Air mata pun tak berhenti mengalir dari tatapan mata yang kosong itu. Di pemakaman Lova hanya bersimpuh di depan pusara kedua orang tuanya, menangis dalam diam. Hancur dunianya yang kini Lova rasakan.
Saat area pemakaman telah sepi, Riany dan Siera perlahan mendekati Lova yang masih setia duduk di depan pusara kedua orang tuanya itu.
"Nak, hari sudah mulai gelap dan sepertinya sebentar lagi mau hujan. Sebaiknya kita pulang yuk." Ajak Riany sambil merengkuh tubuh Lova yang masih bergetar menahan tangisnya.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir mungil gadis itu. Lova hanya mengangguk kecil dan berusaha untuk bangkit dari posisinya. Tak tahan dengan semua kesedihannya, setelah gadis itu berhasil berdiri sempurna tak lama Lova pun terjatuh tak sadarkan diri.
Riany yang membantu memapah Lova pun terkejut dengan apa yang terjadi pada Lova, dan berteriak memanggil suaminya yang saat itu sedang berbicara dengan asistennya.
Mendengar jeritan panik istrinya, Robert segera mengalihkan perhatian dan reflek berlari menghampiri istrinya yang telah memangku kepala Lova. Tak membuang banyak waktu, Robert segera membopong Lova dan mereka segera pergi dari area pemakaman menuju Rumah Sakit terdekat.
Setibanya di Rumah Sakit, Lova segera mendapat perawatan. Gadis itu mengalami depresi ringan dan mau tak mau harus menjalani rawat inap malam itu. Robert beserta istri dan anaknya pun tetap tinggal, tak satu pun dari mereka yang berniat ingin pulang kerumah mereka. Kekhawatiran dan kasih sayang mereka pada gadis malang itu membuat mereka tinggal di sisi Lova, menunggu Lova sadar dari pingsannya.
Jam dinding di ruangan itu telah menunjukkan pukul delapan malam, gadis malang itu masih setia menutup matanya. Mereka yang sedari tadi menemani gadis itu pun telah sangat gelisah karena menantikan gadis itu membuka matanya.
Kedua mata lentik yang sedikit membengkak itu perlahan terbuka dan mengerjap berkali-kali untuk menyesuaikan pencahayaan di ruangan itu.
Siera yang setia duduk di sisi ranjang Lova menyadari kalau sahabat sekaligus saudarinya itu telah sadar.
"Va...Lova.... Kau mendengarkan aku? Apa ada yang kau rasakan sakit?" Tanya Siera saat Lova telah berhasil membuka matanya dengan sempurna.
Robert dan Riany yang mendengar putrinya berbicara pada Lova, segera mendekati ranjang rawat Lova. Robert segera memencet tombol darurat yang berada di sisi ranjang Lova untuk memanggil dokter. Lova hanya terdiam dan memandang sekelilingnya keheranan.
"Aku ada di mana?" Kata Lova dengan suaranya yang serak akibat terlalu banyak menangis hari itu.
Belum sempat mereka menjawab gadis itu, dokter dan perawat telah masuk ke ruangan itu dann tersenyum pada Lova.
"Halo Lova, bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang kamu rasakan sakit atau tidak nyaman?" Sapa dokter itu lembut seraya memeriksa kondisi Lova.
Lova hanya menggelengkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan dokter itu.
"Semuanya sudah bagus, tapi kamu masih harus tetap beristirahat dan usahakan untuk tidak terlalu stress ya." Kata Dokter itu selesai memeriksa Lova.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit dokter itu.
"Dok..." Panggil Lova lirih
"Ya, ada yang bisa saya bantu lagi?" Jawab dokter itu dengan senyuman ramahnya.
"Apakah saya boleh pulang sekarang?" Tanya Lova.
"Hmm... Untuk sekarang belum bisa, kami harus memastikan kembali kondisimu. Jika besok pagi kondisimu telah sangat membaik, kemungkinan besok kamu sudah boleh pulang." Kata dokter itu menjelaskan.
"Tapi saya benar-benar ingin pulang sekarang." Lirih Lova lagi.
Sang dokter hanya memandangi keluarga itu satu persatu dan melihat Robert yang menangkupkan kedua tangannya seolah memohon pada dokter itu untuk mengijinkan Lova pulang malam itu.
Sampai pada akhirnya dokter itu pun mengangguk pelan, dengan berat hati mengijinkan pasiennya yang belum pulih benar itu untuk dapat pulang malam itu.
"Baiklah kamu boleh pulang malam ini. Tapi dengan catatan kamu harus tetap beristirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran ya." Kata dokter itu yang kembali tersenyum lembut pada Lova.
Lova pun akhirnya menyunggingkan senyuman kecilnya dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Baik Dok, terima kasih." Jawab Lova yang tersenyum kecil.
Suster telah melepaskan infus dari tangan Lova. Riany dan Siera pun telah dengan barang-barang mereka yang akan di bawa pulang. Salah satu suster datang dan membawakan kursi roda untuk membantu Lova menuju parkiran mobil. Malam itu Robert membawa keluarganya pulang ke rumah.
Saat di perjalanan Lova memanggil orang tua Siera, dengan panggilan seperti biasa yang sama seperti Siera sahabatnya itu.
"Papi, Mami..." Panggil Lova lemah karena masih belum pulih benar kondisinya.
"Ya sayang." Jawab Robert dan istrinya bersamaan.
"Bolehkah Lova pulang ke rumah Lova sendiri malam ini?" Tanya Lova pelan.
"Sayang, kamu belum pulih benar nak. Sebaiknya kamu tetap tinggal bersama kami dulu ya. Rumah Papi khan rumahnya Lova juga." Kata Robert yang berusaha menjelaskan dan membujuk gadis itu agar tetap tinggal bersama mereka.
"Benar kata Papi kamu, cantik. Lagian di rumah kamu nanti ga ada siapa-siapa. Jadi kamu tinggal sama Papi, Mami dan Siera aja ya sayang." Kata Riany yang membenarkan perkataan suaminya dan ikut membujuk Lova.
"Di rumah khan ada bibi, Pi, Mi. Lova gak sendirian kog." Kata Lova lagi yang belum mau menyerah dan masih tetap ingin pulang ke rumahnya sendiri.
Robert beserta istri dan putrinya hanya bisa saling berpandangan, mereka sangat sedih dan prihatin melihat kondisi Lova yang terlihat hancur saat ini. Sampai akhirnya Robert memutuskan keputusan terbaiknya untuk gadis malang itu.
"Lova, malam ini kamu tetap bersama kami ya. Papi janji besok pagi Papi akan antar Lova pulang kalau Lova masih tetap ingin pulang ke rumah besok. Bagaimana, kamu setuju khan?" Kata Robert memutuskan.
Lova terdiam sejenak dan akhirnya mengangguk pelan dan memberikan senyuman kecilnya utuk keluarga itu.
"Iya, Lova setuju. Terima kasih Papi, Mami, Siera." Kata Lova dengan senyumannya.
Setibanya di kediaman keluarga Pratista, mereka segera menuju kamar masing- masing dan membersihkan diri kemudian beristirahat. Sembari menunggu Siera yang sedang membersihkan diri, Lova berdiri di balkon kamar Siera dan memandangi langit malam.
Memandang bintang yang bersinar malam itu dengan pikiran yang memutar setiap kejadian indah bersama kedua orang tuanya. Saking asyiknya Lova dengan lamunannya, sampai tak sadar Siera yang telah selesai membersihkan diri dan telah menghampirinya dan berdiri di sisinya ikut memandangi bintang-bintang malam itu.
"Va, bersihkan dirimu dulu setelah itu kita beristirahat." Kata Siera pelan, menyadarkan Lova dari lamunannya.
Lova hanya mengangguk dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai keduanya membersihkan diri, tak lama kemudian kedua gadis itu pun telah terlelap saking lelahnya dengan apa yang telah terjadi hari itu.
Perlahan pintu kamar Siera terbuka, menampakkan Riany yang berdiri di depan pintu kamar menatapi kedua gadisnya. Hanya melihat kedua gadisnya dan Riany kembali menutup pintu kamar itu perlahan-lahan dan meminggalkan kamar itu untuk kembali beristirahat bersama suaminya.
Keesokan paginya saat selesai sarapan bersama, Robert kembali menanyakan keputusan Lova.
"Lova, apakah kamu masih tetap ingin pulang kerumahmu nak?" Tanya Robert pelan.
"Iya Pi." Jawab Lova singkat.
"Kamu gak mau tinggal bersama kami disini nak? Ini khan rumah Lova juga." Tanya Riany yang berusaha untuk kembali membujuk Lova.
"Mami, Lova nanti masih bisa ke sini lagi. Untuk saat ini Lova ingin sendiri dulu, bolehkan?" Jawab Lova menegaskan keinginannya.
Mereka tak tahu harus berkata apa, mereka juga paham bahwa saat ini gadis itu membutuhkan waktunya sendiri untuk dapat lebih menerima kenyataan ini. Akhirnya mereka dengan terpaksa merelakan keinginan Lova dan mengantarkan Lova pulang ke rumahnya.
Setibanya Lova di kediaman Elvarette dan keluarga Pratista telah pamit pulang, Lova segera masuk ke kamarnya dan berdiam diri seharian.
Di kamarnya Lova mengeluarkan buku catatan kecil dan kalung peninggalan almarhum ayahnya.
Lama Lova menatapi kalung yang ada di tangannya, akhirnya Lova memutuskan untuk menggunakan kalung itu sesuai dengan keinginan terakhir almarhum ayahnya. Setelah mengenakan kalung itu, perlahan Lova membuka buku catatan kecil dan membacanya dengan seksama.
Saat membaca lembaran demi lembaran catatan almarhum ayahnya, Lova menitikkan air matanya tanpa menghentikan bacaannya. Terkadang tangan mungil gadis itu mengepal erat saat membaca catatan-catatan itu. Hingga selesai membaca semua catatan itu, Lova langsung menyimpan buku catatan kecil itu dengan baik dan aman.
Setelahnya gadis itu membenamkan wajahnya di balik bantal untuk meredam jerit tangisnya.
Entah apa yang tertulis dalam buku catatan kecil peninggalan ayahnya itu, yang membuat gadis itu menjadi semakin rapuh. Sorot matanya terkadang kosong, terkadang penuh amarah.
Selama sebulan Lovandra absen dari sekolahnya. Gadis itu hanya diam di dalam rumahnya dan tak menerima tamu siapa pun. Bahkan berkali-kali Siera dan keluarganya harus menelan rasa kecewa dan khawatir mereka pada gadis itu. Gadis yang biasanya ceria menjadi pendiam dan pemurung, tak ada lagi binar keceriaan di mata dan wajah gadis itu.
Pada suatu malam seorang gadis berdiri di balkon kamarnya. Memandang bulan yang bersinar terang malam itu beserta banyak bintang-bintang di sekitarnya. Malam purnama yang sangat cerah namun tak dapat membuat gadis itu kembali seperti semula. Perlahan tangan mungil nan lembut gadis itu menggapai dan menggengam bandul kalung yang di kenakannya. Wajahnya menunduk perlahan menatapi bandul kalung tersebut dan tak lama gadis itu bergumam kecil.
"Papa, Mama kalian tenanglah di sana. Mulai hari ini Lova akan bangkit dan akan mencari pembunuh kalian dan membalaskan dendam kalian." Gumam gadis itu perlahan dengan sorot mata yang menajam.
Flashback Off
Back to Daiva POV
"Jadi begitulah ceritanya. Kamu sudah janji ya jangan pernah bertanya apa pun lagi tentang keluarganya." Kata Siera yang mengakhiri ceritanya.
"Hmm... Jadi sampai sekarang kamu dan keluargamu juga masih belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada kedua orang tua Lova?" Tanya Daiva yang masih sedikit penasaran.
"Tidak ada yang tahu hingga saat ini. Tapi menurutku Lova mengetahui apa yang terjadi pada orang tuanya, mungkin dari buku catatan kecil itu." Kata Siera yang masih menerka-nerka.
"Ya sudah El, ini sudah terlalu larut malam. Sampai jumpa besok ya El." Kara Siera lagi dan mengakhiri panggilan setelahnya tanpa menunggu balasan dari Daiva.
Daiva hanya melongo dan melihat layar ponselnya yang sudah gelap, perlahan pemuda itu menggelengkan kepalanya kecil karena kelakuan teman dan juga sahabat dari matenya.
Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas, Daiva beranjak ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Kemudian Daiva menuju balkon kamarnya dan memandangi malam yang cerah hari itu.
Pikiran pemuda itu terus berputar-putar pada cerita Siera tadi, tentu saja pemuda itu menjadi sangat penasaran.
Tak lama kemudian Daiva masuk kembali dan menutup pintu balkon kamarnya. Setelahnya dia membaringkan tubuh lelahnya. Mata tajamnya memandangi langit-langit kamarnya.
"El, mate kita kasihan sekali nasibnya." Kata Dion, wolf Daiva yang ikut sedih setelah mendengarkan cerita dari Siera.
"Hmm..." Gumam Daiva menyahuti wolfnya.
"Aishh... Kau ini tak punya perasaan kasihan apa sama mate kita?" Kata Dion lagi yang sedikit kesal dengan sikap Daiva yang menanggapinya acuh tak acuh.
"Memang aku harus bagaimana?" Kata Daiva yang sedikit tersulut emosi karena protesan dari wolfnya itu.
"Setidaknya kau bersimpatilah sedikit pada mate kita." Sahut Dion lagi.
"Aku tidak perlu mengatakannya bodoh. Aku hanya akan menunjukkannya pada mate kita nanti. Sudah aku mau tidur saja." Balas Daiva lagi dan memutuskan mindlinknya. Dan tak lama kemudian Daiva pun telah terlelap ke alam mimpinya.