
Suasana yang hening mendadak membuat Lova mengeryitkan alisnya bertanya-tanya dan menantikan jawaban yang ingin dia ketahui. Mereka yang ada di ruangan itu pun bungkam dan hanya saling melirik satu sama lain tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Lova karena Lova mengeluarkan aura mengintimidasi yang sangat kuat saat mengajukan pertanyaan itu.
"Kak.... Aku...akan menunjukkan apa yang terjadi pada kakak tadi, jika.... kakak....tidak keberatan." Kata Grizelle terbata-bata karena takut dengan aura yang Lova miliki.
"Hmmm.... Bagaimana caramu untuk menunjukkan padaku?" Tanya Lova sembari memiringkan kepalanya untuk menatap lawan bicaranya yang sedikit bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
Grizelle menatap Gerald kakaknya untuk meminta pendapatnya. Gerald pun akhirnya menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang akan di lakukan oleh adiknya itu nanti. Grizelle bangkit dan berjalan menghampiri Lova yang masih duduk tenang di sofa tunggal yang berada di tengah ruangan itu.
"Bolehkah aku meminjam dan menyentuh tangan kakak?" Kata Grizelle begitu tiba di hadapan Lova.
Lova menganggukkan kepalanya pelan seraya mengulurkan tangan kanannya. Grizelle duduk bersila di hadapan Lova dan menyentuh tangan Lova. Sedangkan Lova yang melihat gadis di hadapannya tiba-tiba duduk di karpet dan berhadapan dengannya sedikit merasa kebingungan dengan apa yang hendak di lakukan oleh gadis itu.
"Kak, pejamkan mata kakak dan kosongkan pikiran kakak, biarkan aku masuk dalam pikiran kakak dan kakak akan melihat semua yang terjadi tadi pada kakak." Jelas Grizelle mengintruksikan apa yang harus Lova lakukan.
Lova kembali menganggukkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya. Sesaat setelah memejamkan matanya aura bercahaya putih mengelilingi kedua gadis itu dan Lova melihat kilasan setiap kejadian yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu.
Setelah melihat semua kilasan kejadian yang menimpa dirinya Lova kembali membuka matanya dan segera menarik tangannya yang membuat cahaya putih yang mengelilingi mereka berdua menghilang dalam sekejap.
Lova terengah-engah setelah melihat semua kilasan kejadian itu. Dalam benaknya kilasan setiap kejadian itu masih terus berputar dan mengulang semua kejadian itu. Beberapa kali Lova menggelengkan kepalanya, masih tidak mampu mempercayai apa yang telah terjadi pada dirinya beberapa waktu lalu.
"Cahaya terang itu apakah berasal dari liontin kalungku ini" Tanya Lova pelan sembari menggengam liontin kalung yang melingkar cantik di lehernya.
Mereka semua yang mendengar pertanyaan Lova itu pun menganggukkan kepala mereka bersamaan, mengiyakan pertanyaan itu. Satu persatu dari mereka di pandangi oleh Lova bergantian, setelah itu Lova menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak. Lova sungguh masih tidak dapat mempercayai apa yang telah di lihatnya. Dalam benaknya berbagai pertanyaan mulai bermunculan tanpa tahu jawabannya.
Sedangkan semua yang berada di ruangan itu tak mampu berbuat apa-apa saat mendengar isakan kecil dari Lova. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.
"Kak..." Panggil Grizelle pelan seraya menyentuh tangan Lova.
Grizelle bangkit dan memeluk Lova tiba-tiba, mencoba memberikan sedikit ketenangan pada calon kakak iparnya itu. Lova yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari Grizelle akhirnya luluh dan memeluk balik gadis itu dan kembali menangis di pelukan gadis itu tanpa ada satu kata pun yang terucap dari bibir manisnya.
Dua puluh menit Lova menangis tanpa henti, tanpa kata. Setelah itu Lova terdiam dan perlahan melepaskan pelukannya.
"Thanks Grizelle. Sebaiknya kalian kembali atau beristirahat di sini, kalian dapat memilih kamar kalian." Kata Lova seraya bangkit dan berjalan menuju kamarnya sendiri tanpa menoleh kebelakang kembali.
"Kami akan pulang saja." Kata Kenzo sepeninggalan Lova.
"Mungkin kami akan tetap di sini sementara waktu." Kata Gerald.
"Aku juga akan pulang." Sambung Steven seraya beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Sebaiknya kita juga pulang dan kembali lagi nanti." Kata Lucas seraya merangkul Daiva dan Damian.
Mereka pun akhirnya membubarkan diri, kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat.
____________________________________________
Lovandra POV
Aku sungguh tidak dapat mempercayai apa yang telah aku lihat dalam penglihatan yang Grizelle berikan tentang setiap kronologis kejadian yang aku alami malam ini. Setelah puas menangis dalam pelukan gadis itu, aku membiarkan mereka tinggal atau pulang tanpa perlu aku perdulikan lagi. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamarku.
Setibanya aku di kamarku, aku mengambil foto kedua orang tuaku yang aku pajang di atas nakas di samping ranjangku. Ku peluk dan ku bawa foto itu ke balkon kamarku. Aku menatap langit yang masih gelap, masih setia memeluk foto kedua orang tuaku dan menggenggam liontin kalungku.
"Pa, Ma, sebenarnya apa yang kalian rahasiakan padaku selama ini? Liontin ini, mengapa dapat memancarkan cahaya yang begitu terang dan membuat para vampir itu tak sadarkan diri?" Aku berguman seolah sedang bertanya pada kedua orang tuaku.
Berkali-kali aku menghela nafas, waktu bergulir sangat cepat, cahaya mentari pagi mulai memunculkan warnanya. Semakin keras aku memikirkan tentang semua hal yang terjadi pada diriku, semakin rumit dan aku sama sekali tidak mendapatkan jawabannya.
Ku langkahkan kakiku perlahan menuju ranjangku. Seluruh tubuhku terasa sangat lelah saat ini. Perlahan aku baringkan tubuhku dan ku pejamkan mataku. Tak lama kemudian aku pun tertidur.
Aku berada di suatu tempat yang tidak aku ketahui dimana tempat itu. Hamparan rumput terbentang luas di hadapanku saat ini. Dimanakah aku berada saat ini? Batinku bertanya-tanya, sembari kuedarkan pandanganku ke sekeliligku. Aku berjalan perlahan tanpa arah.
Tak lama aku berjalan aku melihat dua sosok yang aku sangat kenali. Aku mempercepat langkahku, sesekali aku berlari kecil tak sabar untuk menghampiri kedua sosok yang teramat aku rindukan.
"Papa, Mama...." Teriakku memanggil mereka, membuat kedua sosok itu memalingkan wajah mereka untuk melihatku.
Senyuman hangat mereka yang sangat aku rindukan pun terbit di bibir mereka masing-masing saat mereka melihatku. Papa sudah merentangkan tangannya siap menangkap tubuhku, sedangkan Mama tak berhenti menebarkan senyuman hangatnya untuk menyambutku.
Begitu aku tiba di hadapan mereka aku langsung masuk ke dalam pelukan hangat Papa yang sangat aku rindukan itu. Mama juga ikut memelukku seraya mengusap perlahan rambutku. Kami bertiga saling berpelukan melepas kerinduan kami selama ini.
"Papa, Mama mengapa kalian meninggalkan aku sendirian?" Tanyaku setengah terisak karena tak sanggup kehilangan mereka lagi.
"Sayang, kenapa kau ada di sini nak?" Tanya Mama penuh kelembutan.
"Princess, kami tidak pernah meninggalkanmu, kami selalu ada bersamamu disini." Kata Papa sembari meletakkan tangannya di perut kananku dimana letak hatiku berada.
"Benar kata Papamu nak, kami selalu ada di dalam hatimu." Kata Mama membenarkan apa yang di katakan Papa.
"Tapi aku merasakan kesepian tanpa kalian." Rengekku pada kedua orang tuaku masih dalam dekapan hangat Papa tanpa ingin aku lepaskan.
"Apa princess Papa nakal selama ini?" Tanya Papa yang berusaha mencairkan suasana haru kami.
"Pa, aku sudah besar dan dapat menjaga diriku sendiri sekarang." Kataku berpura-pura merajuk.
"Hahaha.... Kau benar, princess Papa sekarang sudah hampir berusia 23 tahun, bukan?" Kata Papa lagi.
"Ayo kita duduk dulu di sana." Ajak Mama sembari menunjuk kursi panjang yang tak jauh dari kami.
Kami pun berjalan bersama dengan aku yang masih menempel dalam dekapan Papa. Seolah aku takut bila mana aku melepaskan pelukanku, mereka akan menghilang kembali.
"Lovandra, sebentar lagi kamu akan genap 23 tahun. Saat itu seluruh kekuatanmu perlahan akan muncul dan kamu harus benar-benar menggunakan kekuatanmu untuk hal yang terbaik untuk seluruh alam semesta ini." Kata Papa saat kami sudah duduk di kursi panjang itu.
"Apa maksud Papa? Kekuatan apa yang Papa maksudkan? Sebenarnya ada rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanyaku bertubi-tubi meminta penjelasan dari kedua orang tuaku.
"Maafkan kami nak, saat ini kami tidak dapat memberitahukan tentang dirimu. Cepat atau lambat kamu akan dapat mengetahui semuanya. Dan ingatlah pesan kami, jangan jadikan dendammu tentang apa yang telah terjadi pada Papa dan Mama menjadi bumerang bagi dirimu sendiri nantinya." Jelas Papa lagi.
"Sayang, waktu kami tidak banyak. Dengarkan apa kata Papamu saat ini." Kata Mama dengan lembut.
"Princess Papa, bila saatnya telah tiba, kamu akan tahu siapa dirimu dan ingatlah pesan Papa tadi, jangan kamu sia-siakan waktumu untuk mencari mereka. Jagalah dirimu dan orang-orang yang kamu sayangi dengan baik." Kata Papa lagi seraya mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.
"Sudah waktunya kami kembali nak, dan kamu juga harus kembali." Kata Mama seraya bangkit berdiri dan menarik tangan Papa dengan lembut.
Kedua orang tuaku berjalan mundur perlahan, kembali meninggalkan diriku.
"No.... Papa, Mama, kalian jangan pergi meninggalkan aku lagi." Teriakku sembari bangkit dan berlari mengejar kedua orang tuaku yang menjauh dengan cepat dan mulai menghilang secara perlahan sembari melambaikan tangan mereka dan memberikan senyuman hangat mereka untukku.
"Kak.... Kak Lova, sadarlah." Samar-samar aku mendengar panggilan cemas dari Grizelle.
Perlahan aku membuka mataku, menyesuaikan penglihatanku dengan cahaya di ruangan kamarku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Akh...rupanya tadi aku hanya bermimpi. Mimpi yang terasa nyata buatku.
Setelah sepenuhnya aku tersadar, ku rasakan lembab di kedua pipiku. Ternyata aku menangis dalam mimpiku. Aku kembali melihat sekitarku. Tatapan-tatapan mata cemas yang menantikan penjelasan dariku.
"Kakak habis bermimpi buruk?" Tanya Grizelle perlahan yang masih dapat aku dengar.
Aku menggelengkan kepalaku pelan untuk menjawabnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Kali ini Gerald yang bertanya tentang kondisiku dengan tatapan matanya yang sangat cemas.
Aku menganggukkan kepalaku pelan, lagi-lagi tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirku. Tenggorokanku terasa sangat kering saat ini, aku melirik nakas di sampingku, tak kudapati gelas minumku seperti biasanya. Akh, aku lupa mengambil minumanku sebelum aku tidur tadi.
"Yang Mulia menginginkan sesuatu?" Tanya Jimmy saat melihat arah tatapanku.
"Air." Ucapku lirih sembari kembali menganggukkan kepalaku pelan.
Jimmy tidak lagi membalas kata-kataku, pemuda itu langsung keluar dari kamarku dan tak lama dia telah kembali membawakan segelas air untukku. Setelah aku menerima segelas air dari Jimmy, langsung aku teguk air dalam gelas sampai habis tak tersisa.
"Thanks Jim, dan bisakah kau memanggil namaku saja?" Kataku pelan.
Jimmy hanya terdiam dan menunduk sembari menggaruk tengkuknya yang ku rasa tak gatal sama sekali. Aku yang memperhatikan tingkahnya hanya tertawa kecil.
"Lupakanlah Jim. Tapi aku akan sangat senang bila kau memanggil namaku saja, bukan Yang Mulia." Kataku lagi dan memberikan senyuman manisku kepadanya.
Jimmy hanya menganggukkan kepalanya pelan dan kembali menundukkan kepalanya lagi.
Aku melirik jam dinding yang tak jauh dari ranjangku. Rupanya aku tertidur cukup lama dan sekarang aku sudah terlambat untuk pergi ke kampus.
Aku mengambil ponselku di atas nakas dan ku buka satu persatu pesan yang masuk ke ponselku. Sangat banyak panggilan dari Siera dan Gladis yang masuk ke ponselku, lalu aku membaca pesan chat yang di tinggalkan oleh mereka. Aku membelalakkan mataku saat membaca semua pesan-pesan itu.
"Ya ampun aku lupa kalau ini hari Jumat dan aku belum bersiap-siap." Gumamku panik dan bangkit dari ranjangku menuju walk in closet.
Aku segera mengambil koper kecilku dan mulai memilih dan memasukkan beberapa potong pakaianku untuk ganti nanti saat camp.
"Kakak mau kemana?" Tanya Grizelle yang menghampiriku.
Bagaimana aku bisa melupakan mereka yang saat ini masih berada di kamarku dan memperhatikan setiap tingkah laku-ku yang panik dan tergesa-gesa. Aku menggaruk tengkuk belakangku yang tak gatal sama sekali, aku benar-benar salah tingkah di perhatikan oleh mereka bertiga saat ini.
"Grizelle, aku baru ingat kalau aku ada janji akan camp bersama beberapa taman kampusku. Dan aku belum bersiap-siap untuk membawa perlengkapanku." Jawabku dan menjelaskan pada Grizelle.
"Kalau begitu kami akan ikut denganmu." Sela Gerald tiba-tiba.
"Ech... Kalian tidak bisa ikut, karena ini acara khusus team cheerleader yang semuanya adalah perempuan." Kataku yang tidak ingin mereka mengikutiku.
"Berarti aku bisa ikut dengan kakak khan?" Tanya Grizelle dengan tatapan puppy eyes-nya yang sangat menggemaskan.
"Hmmm.... Baiklah, kamu bisa ikut denganku." Kataku setelah berpikir beberapa saat.
"Apa yang bisa aku bantu Kak?" Tanya Grizelle lagi.
"Tidak ada, kau hanya perlu bersiap-siap membawa perlengkapanmu sendiri. Dan aku mau mandi dulu setelah itu kita berangkat ke kampus." Ucapku menjelaskan.
"Ohh... Baiklah semuanya sudah siap Kak." Sahut Grizelle dengan santainya.
Aku memperhatikan gadis yang berada di hadapanku saat ini. Gadis ini dengan santainya mengatakan sudah siap padahal dia tidak membawa apa-apa. Aku sedikit kesal meladeni gadis ini.
"Mana tas dan perlengkapanmu?" Tanyaku sembari berkacak pinggang di hadapan gadis itu.
Dengan tersenyum manis, Grizelle menjentikkan jarinya dan seketika tas beserta perlengkapannya sudah berada di atas kasurku. Aku yang lupa bahwa gadis ini adalah penyihir hanya bisa menepuk keningku perlahan. Tak mampu berkata-kata lagi, aku meninggalkan mereka menuju ke kamar mandi dan membersihkan diriku.
Selesai mandi aku keluar kamar dan mendapati kamarku sudah sepi. Aku pun segera berias dan merapikan tatanan rambutku. Setelah kurasa semuanya siap aku keluar kamar dan menuju ke ruang tamu, di sana sudah duduk manis Gerald, Grizelle dan Jimmy.
"Yang lainnya pada kemana?" Tanyaku begitu tiba di depan mereka.
"Pulang." Jawab mereka bertiga serempak.
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu. Kami kembali hari Minggu nanti. Ayo Grizelle kita berangkat sekarang." Kataku berpamitan dan mengajak Grizelle untuk segera berangkat.
"Bi Sinah, Lova berangkat dulu ya." Teriakku berpamitan pada Bi Sinah.
Bi Sinah yang berada di taman belakang segera menghampiriku.
"Non mau kemana?" Tanya Bi Sinah.
"Ada acara camp, Bi. Aku pulang hari Minggu ya Bi. Mereka biarkan saja di sini." Jawabku sembari mengunjuk ke arah kedua pemuda yang masih duduk manis di tempatnya semula.
"Baik Non. Non Lova hati-hati di jalan ya." Kata Bi Sinah mengingatkanku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan berjalan menuju mobilku. Aku dan Grizelle pun berangkat meninggalkan kediamanku.
Entah kenapa aku merasakan perjalananku kali ini tidak akan baik-baik saja. Atau semua yang aku rasakan mungkin karena kondisiku yang masih banyak beban pikiran. Aku berusaha mengabaikan perasaan tak nyaman yang tiba-tiba melanda diriku.