
Shadow POV
Sudah beberapa hari aku tidak keluar dari kastilku untuk mencari mangsa. Malam ini salah satu bawahanku melaporkan bahwa ada gadis yang memasuki areaku. Rupanya mangsaku datang sendiri malam ini.
Setelah aku memerintahkan bawahanku untuk membawa gadis itu kehadapanku. Sepeninggalan bawahanku, aku kembali memejamkan mataku. Bayangan beberapa tahun lalu melintas seperti sebuah film yang di putar berulang-ulang.
Kejadian beberapa tahun yang lalu membuat penyesalan dalam diriku, tapi egoku mengatakan bahwa itu adalah kepuasan dan tidak seharusnya aku menyesal.
Andai saja kejadian itu tidak terjadi mungkin saat ini aku dapat merasakan kembali menjadi manusia normal. Sayangnya kini aku tetaplah seorang Dracula yang terkenal kejam dan menakutkan. Dan ambisiku kini adalah ingin menguasai seluruh kaum immortal.
Sudah tiga puluh menit berlalu tapi bawahanku belum juga kembali. Baru saja aku membuka mataku dan hendak beranjak melihat suasana di luar kastilku, bawahanku telah kembali membawa seorang gadis dalam gendongannya.
Aku terpana saat melihat gadis itu pertama kali. Wajah putih dan sangat cantik, bibir pink yang mungkin sangat ranum bila ku cicipi, aroma darah manis yang menguar dan menggodaku. Aroma darah gadis ini berbeda dari manusia pada umumnya.
Aku segera memerintahkan bawahanku untuk membawa gadis itu ke kamarku. Aku pun beranjak untuk kembali ke kamarku menyusul bawahanku. Setibanya aku di kamarku, tak henti-hentinya aku memandangi wajah gadis yang sedang terlelap di kasurku. Bahkan aroma darahnya menggoda untuk segera aku cicipi. Tapi aku menginginkan mangsaku dalam keadaan sadar dan aku sangat menikmati wajah ketakutan dari mangsaku.
Malam ini aku lalui dengan memandangi wajah cantik gadis yang masih setia menutup matanya. Pagi menjelang tapi gadis ini masih tetap setia menutup matanya. Aku sungguh penasaran berapa banyak dosis obat bius yang di berikan oleh anak buahku untuk membius gadis ini.
Tak lama setelah aku bertanya pada bawahanku, mata gadis itu pun perlahan terbuka. Aku sungguh senang saat melihat gadis itu sudah sadar. Aku berbincang sebentar dengan gadis yang mengaku bernama Lova, dan memerintahkan gadis itu untuk membersihkan dirinya dan makan.
Tentu saja mangsa yang ingin aku nikmati harus siap dalam keadaan bersih. Aku membiarkan gadis itu menikmati waktunya beberapa saat sebelum aku memangsanya nanti. Sedangkan aku saat ini sedang membahas beberapa hal dengan para bawahanku yang melaporkan bahwa ada beberapa kaum immortal yang mulai memasuki hutan dan menuju ke arah kastilku.
Selesai aku dengan para bawahanku, aku melangkah cepat menuju kamarku dimana gadis itu berada. Saat memasuki kamar aku melihat gadis itu sedanng berdiri di balkon dan tidak menyadari kehadiranku.
"Menikmati waktumu Nona?" Tanyaku yang menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Apa tujuan anda, membawa saya kesini" Ketus gadis itu saat sudah sadar dari lamunannya.
"Tujuan? Ha...ha...ha.... Aku menginginkanmu Nona. Menginginkanmu untuk menjadi Ratuku." Jelasku sambil tertawa sinis padanya.
"Aku tidak tertarik untuk menjadi Ratumu, sebaiknya kembalikan aku ke perkemahan. Teman-temanku pasti sudah mencariku saat ini." Kata gadis itu lagi masih dengan nada sinisnya padaku.
Aku terus meladeni setiap ucapan dari gadis itu, aku tahu sepertinya gadis itu sudah mengetahui siapa diriku. Dapat kulihat dari reaksi pura-pura terkejutnya gadis itu saat aku memberitahukan siapa diriku. Sampai akhirnya aku menunjukkan taringku, menunjukkan diriku yang sesungguhnya pada gadis itu.
Aura ketakutan dari gadis itu pun aku rasakan dan membuatku senang dan semakin menginginkannya. Aku berjalan perlahan dan mendekati gadis itu, semakin aku mendekat sikap siaga dan ketakutan dari gadis itu semakin menguar dan membuatku semakin ingin memangsanya.
"Mendekatlah manis." Kataku sembari menghipnotis gadis itu agar mendekat padaku dengan sendirinya.
"Jangan mendekat!!" Teriak gadis itu.
Mendengar teriakan gadis itu sontak aku langsung menghentikan langkahku untuk semakin mendekatinya. Pasalnya selama ini semua mangsa yang sudah aku hipnotis akan mendekat padaku dan pasrah menyerahkan diri mereka padaku.
Sungguh aneh mengapa gadis ini sama sekali tidak terpengaruh dengan hipnotisku? Aku memejamkan mataku dan meredam keinginanku untuk memangsa gadis itu, setelah aku berhasil meredam keinginanku, aku segera berbalik dan meninggalkan gadis itu seorang diri.
"Sebenarnya siapa gadis itu?" Gumamku dari balik pintu sebelum aku meninggalkan kamar itu.
____________________________________________
Sementara di hutan beberapa makhluk immortal melesat cepat memasuki hutan itu semakin dalam. Mereka seolah sedang berlomba siapa yang paling cepat untuk mencapai garis finish.
"Apa kalian ada yang sudah merasakan aura keberadaan Lova?" Tanya Daiva yang masih berlari kencang memasuki hutan.
"Sebaiknya kita berhenti di sini sembari menunggu kedatangan Grizelle." Kata Jimmy yang mulai memperlambat kecepatan langkahnya.
"Ya sebaiknya kita beristirahat sejenak disini." Sambung Damian terengah-engah.
"Haahhh.... Istirahat terus, payah sekali dirimu." Sinis Jonathan pada Damian.
"Hei, kau enak melesat sendirian sedangkan aku harus menggendong Steven juga. Tentu saja aku kelelahan, bagaimana jika bergantian denganku?" Sahut Damian yang membela dirinya sendiri.
"Maaf bila aku jadi merepotkan kalian dan membuatmu kelelahan Dam." Kata Steven menyela perdebatan kecil Jonathan dan Damian.
"Kau tidak merepotkan kami, lagian kau juga hanya manusia biasa. Tidak seperti kami yang memang memiliki speed berlari. Jadi kau tenang saja dan acuhkan perdebatan mereka yang tidak berguna itu." Jawab Allan cepat.
"Hei, apa maksudmu?" Teriak Jonathan dan Damian bersamaan.
Selagi mereka berdebat, yang lainnya hanya menyimak dan memutar bola mata mereka. Mereka lebih memilih beristirahat sejenak sembari memusatkan indera mereka untuk mencari keberadaaan Lova.
"Kak, aku kembali, bagaimana keadaan kalian? Apakah kalian telah menemukannya?" Kata Grizelle yang baru saja keluar dari portalnya di ikuti oleh si kembar Lexie dan Lexus.
"Grizelle? Kenapa kau mengajak mereka?" Tanya Gerald yang keheranan dengan keberadaan si kembar.
"Wow brother apakah kau tidak merindukan kami?" Tanya Lexus menyela kedua kakak beradik itu.
"Yang Mulia kami mencari anda untuk memberi laporan dan kami hanya bertemu dengan Nona Grizelle yang akhirnya membawa kami kesini bersamanya." Jelas Lexie dengan sikap hormatnya.
"Apa yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Gerald lagi pada si kembar.
"Beberapa fenomena alam muncul di wilayah kita, memang tidak membahayakan. Aku berusaha menyelidiki apa yang sedang terjadi dan ternyata...." Jawab Lexie yang mengantungkan kalimatnya dan melirik ke arah orang-orang di sekitar mereka.
"Tidak apa, kau dapat memberitahukan padaku." Ucap Gerald yang sadar pada sikap sahabatnya itu.
"Emm... Itu muncul karena... karena..." Sambung Lexie terbata-bata.
Semua yang sedang mendengarkan penjelasan si kembar menjadi tidak sabar untuk mendengar kelanjutan penjelasan itu. Lexus yang juga tak sabaran akhirnya memotong ucapan adik kembarnya.
"Karena suasana hati sang Ratu yang tidak menentu, tepatnya ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan sang Ratu yang meningkat dan membuat semua fenomena alam itu muncul." Sela Lexus cepat.
"Apa maksud kalian?" Sela Kenzo yang terdian sejak tadi.
"Jadi begini, aura Ratu yang begitu besar dapat mengacaukan alam penyihir. Itu pun setelah kaum penyihir tepatnya Raja penyihir sudah menyadari siapa Ratunya. Karena Yang Mulia Gerald telah mengetahui siapa Ratunya begitupun sebaliknya, maka secara tak langsung Ratu memiliki andil dalam suasana di alam kaum witch." Jelas Jimmy panjang lebar.
"Apa kalian dapat merasakan di mana Ratuku berada saat ini?" Tanya Gerald lagi pada si kembar.
Double Lex yang mendapat pertanyaan dari pemimpin sekaligus sahabatnya itu hanya saling berpandangan dan kemudian mereka berdua bergerak dan menyatukan kekuatan mereka dan berkonsentrasi untuk mencari keberadaan calon Ratu mereka.
"Ratu berada di balkon salah satu kamar di kastil Shadow. Dan beberapa vampir ciptaan Shadow saat ini sedang bergerak kesini." Jelas si kembar yang masih sibuk berfokus dengan keahlian yang mereka miliki.
"Ratu saat ini benar-benar kebingungan dan ketakutan sekarang." Sambung Lexie cepat setelah mereka berdua menyelesaikan ritual pencarian mereka.
"Kalian sebaiknya tetap di sini untuk membantu kita." Tegas Gerald pada si kembar.
"Baik Yang Mulia." Jawab si kembar bersamaan.
Mereka mulai berpencar, bersembunyi juga berjaga-jaga sambil mengamati situasi sekitar setelah mereka mengatur rencana mereka untuk menghadapi para vampir ciptaan Shadow yang sudah mulai mendekat.
Para penyihir mereka menggunakan kekuatan alam sekitar untuk memperlambat gerakan para vampir ciptaan Shadow, sedangkan para vampire murni dan werewolf mulai membunuh semua vampir ciptaan tanpa memberikan kesempatan sedikit pun pada mereka.
Tiga jam sudah pertarungan itu berlangsung tentunya dengan kemusnahan para vampir ciptaan Shadow. Pertarungan itu juga membuat Kenzo, Daiva, Gerald dan rekan-rekannya mengalami luka yang lumayan parah.
Steven yang hanya manusia biasa pun tak luput mendapatkan beberapa cakaran di tubuhnya. Grizelle dan Lexie yang memiliki sihir penyembuhan terbaik segera membantu semua teman dan saudarnya untuk menyembuhkan luka mereka.
"Grizelle, bagaimana kondisi Steven?" Tanya Gerald saat Grizelle sedang fokus untuk menyembuhkan luka-luka yang ada di tubuh Steven.
"Untungnya Steven tidak mengalami luka dalam, Kak. Jadi madih bisa di sembuhkan walau agak lama dari kita yang kaum immortal." Jelas Grizelle tentang kondisi Steven pada kakaknya.
"Kalian tenang saja, kami para alchemist memiliki regenerasi sel yang cukup baik untuk menyembuhkan luka kami." Kata Steven menjelaskan tentang kaumnya.
"Tapi kalian tetap saja manusia biasa." Kata Jimmy yang baru muncul dan berdiri di samping Gerald.
"Ya, aku tahu. Walau kami masih manusia tapi kami memiliki regenerasi sel yang lebih baik dari manusia biasa pada umumnya." Jelas Steven lagi.
"Jadi kau juga dapat menyembuhkan dirimu sendiri seperti kami?" Tanya Allan yang juga bergabung bersama mereka di ikuti yang lainnya.
"Bukan begitu maksudku. Kami tetap butuh penanganan medis, hanya saja kami bisa sembuh lebih cepat dari manusia lainnya." Kata Steven lagi.
"Oh, jadi antibodimu lebih baik dari pada manusia biasa pada umumnya?" Kali ini Grizelle yang bertanya.
"Ya, kurang lebih seperti itu." Jawab Steven sembari memejamkan matanya.
"Sebaiknya kita beristirahat sebentar sembari kita memulihkan diri. Lagian hari juga sudah malam." Kata Kenzo sembari beranjak meninggalkan mereka dan mencari tempat untuk dia beristirahat.
Setelah Grizelle membantu Steven menyembuhkan dirinya, mereka semua mulai membubarkan diri mencari tempat untuk mereka beristirahat.
___________________________________________
Sementara itu tak jauh dari mereka di kastil yang terlihat menyeramkan itu seorang gadis sudah mulai bosan terkurung di kamar yang sangat luas itu tanpa dia bisa melakukan apa pun.
"Huft... Hari sudah malam lagi, aku benar-benar bosan di sini. Kapan Dracula bodoh itu akan mengembalikan aku ke perkemahan, bahkan seharian ini dia juga tidak muncul lagi." Gumam Lova yang kembali duduk di sisi ranjangnya.
Seharian itu Lova hanya mondar mandir di kamar dan balkon, berdiri, mengitari kamar, termenung di balkon dan duduk di ranjang lagi, begitu seterusnya berulang-ulang.
Tok....Tok....Tok....
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Lova. Tak lama kemudian seorang pelayan masuk dan menyampaikan pesan untuk gadis itu.
"Selamat malam, Nona. Yang Mulia menunggu anda untuk makan malam bersama." Kata Pelayan itu begitu tiba di hadapan Lova.
"Baiklah, tunjukkan jalannya padaku." Kata Lova seraya bangkit dan berjalan keluar kamar mengikuti langkah pelayan itu.
Lova mengikuti langkah pelayan itu menyusuri lorong demi lorong yang remang di sepanjang jalan yang di laluinya tanpa berkata apa pun. Gadis itu mengamati setiap ruangan yang dia lalui.
"Hmm... Dimana pintu keluarnya ya?" Gumam Lova dalam hati.
Gadis itu memperhatikan setiap ruangan dan mengingatnya satu persatu, dia merencanakan untuk kabur dari kastil yang suram itu.
Tak sadar mereka telah tiba di salah satu ruangan. Pelayan itu berhenti di depan pintu hitam besar dan mulai mendorong pintu itu hingga terbuka perlahan.
"Silahkan Nona." Kata pelayan itu mempersilahkan Lova untuk masuk ke dalam ruang makan itu.
Lova berjalan pelan dan memasuki ruangan itu. Setibanya di dalam ruangan itu pelayan itu kembali menutup pintu ruangan itu. Lova mengamati setiap sudut ruang makan yang sangat besar itu dengan takjub.
Meja panjang dengan kursi yang terjejer rapi di kanan kirinya. Juga satu kursi yang berada di kedua ujung meja itu. Lilin yang menyala di atas meja dan vas kecil berisi setangkai mawar merah darah menghiasi meja itu.
Lova terlalu takjub mengamati setiap sudut ruang makan itu sampai tak menyadari tatapan seseorang yang berada di ujung meja.
"Sampai kapan kamu akan terus berdiri di situ?" Kata sosoak yang duduk di ujung meja sembari menggoyang-goyangkan gelas emas yang ada di genggamannya dan kemudian menyeruput minuman itu perlahan.
"Oh... Ehh... Maafkan aku." Kata Lova yang menjadi salah tingkah saat di tatap intens oleh sosok di ujung meja.
"Duduklah dan nikmatilah makan malammu." Kata sosok itu lagi seraya mengunjuk tempat duduk yang berada di ujung meja satunya berhadapan langsung dengan dirinya.
Lova berjalan pelan dan menarik kursi kemudian duduk di ujung meja satunya berhadapan dengan Shadow yang berada di ujung meja yang lainnya. Lova mengamati setiap hidangan yang tersaji di hadapannya.
Beberapa kali Lova harus menelan ludahnya kasar saat memperhatikan setiap hidangan yang menggugah selera dan membuat perutnya meronta-ronta untuk segera di isi.
Setelah melihat semua hidangan di hadapannya, Lova melirik ke arah ujung di mana Shadow sedang menikmati minumannya dan mengeryitkan alisnya.
"Mengapa kau tidak makan juga?" Tanya Lova keheranan karena tidak melihat satu hidangan pun di hadapan Shadow.
"Aku tidak perlu makan, aku hanya butuh ini." Jawab Shadow sembari mengunjuk gelas yang di pegangnya sejak tadi.
"Oh maaf aku lupa kau khan dracula yang hanya butuh minum darah." Sinis Lova dan mulai menyendok makanan ke piringnya.
Lova mulai menikmati makan malamnya, sedangkan Shadow terus menatap gadis itu, memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu tanpa sedikitpun melepaskan tatapan tajamnya.
Lova menyadari selama dia makan, Shadow memperhatikannya. Tapi Lova mengabaikannya, gadis itu acuh tak acuh dan terus asyik mencicipi semua hidangan yang ada di hadapannya.
Selesai makan Lova beranjak berdiri dan hendak kembali ke kamar yang dia tempati seharian ini. Shadow yang melihat pergerakan Lova pun segera berdiri dan melesat cepat ke belakang tubuh gadis itu.
"Duduklah dulu, tidak perlu terburu-buru." Kata Shadow yang berada di belakang Lova seraya menekan pundak gadis itu pelan untuk memaksa gadis itu untuk duduk kembali.
Lova yang mendapatkan perlakuan itu hanya menaikan alisnya keheranan, tapi dia juga menuruti apa yang diinginkan oleh pria itu. Setelah memastikan Lova duduk kembali, Shadow duduk di samping Lova dan menggengam tangan mungil gadis itu.
"Seharian ini aku sedikit sibuk, maaf tidak menemanimu seharian ini." Kata Shadow lembut sembari mengecup punggung tangan Lova.
Lova yang mendapatkan perlakuan seperti itu sontak terkejut dan menarik tangannya dengan cepat.
"Aku tidak perlu kau temani, aku hanya perlu kau biarkan aku kembali ke perkemahan untuk menemui teman-temanku." Ketus Lova dan memalingkan wajahnya.
"Kau tidak akan pernah kembali. Sudah aku katakan kau akan segera menjadi Ratuku." Kata Shadow yang menaikkan intonasi suaranya.
"Kau tidak dapat menahanku, karena aku tidak ingin menjadi Ratumu. Aku hanya ingin kembali." Teriak Lova yang kemudian bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan itu.
Shadow yang melihat reaksi Lova sontak langsung menggenggam tangan gadis itu untuk menghentikan langkahnya dan menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Lova yang mendapatkan perlakuan seperti itu segera melepaskan dirinya dari pelukan Shadow dan berbalik menatap tajam ke dalam manik mata Shadow dan kemudian.....