
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya sosok yang muncul dari balik pohon. Sosok yany kini telah berjalan dengan tenang dan menghampiri mereka.
"Lovaaaa....." Panik sosok itu begitu melihat Lova yang berada di pangkuan seorang gadis.
"Hei, tenanglah Steve. Kau dapat membangunkan istirahatnya nanti." Kata Daiva yang mencegah Steven untuk mendekati Lova.
Ya, sosok yang datang tiba-tiba itu adalah Steven yang saat itu sedang jenuh tak dapat tidur dan memilih berjalan-jalan di taman yang sudah sepi seorang diri.
Steven yang di cegah oleh Daiva hanya menatap tajam ke arah Daiva dan kemudian dia memperhatikan wajah-wajah asing lainnya yang berada di sekitarnya.
"Griz, buatlah dia beristirahat sampai besok pagi. Kita akan membawanya kembali untuk beristirahat di kediamannya." Kata Gerald memberi perintah pada adiknya.
"Baik Kak." Jawab Grizelle dan mulai menyalurkan energi sihirnya pada Lova.
"Hei apa yang kau lakukan?" Kata Steven yang kaget melihat tindakan dari gadis yang memangku Lova.
"Kau diam saja dan ikuti kami." Kata Daiva seraya menarik Steven untuk menjauh menuju mobil mereka.
Selesai Grizelle membuat Lova tenang dan tetap terlelap, Gerald segera mengendong Lova ala bridal stlye dan berjalan menuju mobil Lova. Sedangkan Jimmy sudah berlari ke arah mobil Lova dan menghidupkan mesin mobil itu. Kenzo CS pun beranjak ke mobil mereka yang terpakir tak jauh dari mobil Lova.
Ketiga mobil sport mewah telah meninggalkan area taman dan meluncur tenang membelah jalanan malam menjelang dini hari. Setibanya ketiga mobil itu di mansion keluarga Elvarette, mereka memarkirkan mobil dan segera keluar dan menuju pintu utama.
Saat memasuki mansion itu suasana sudah gelap dan sepi. Ya tentu saja sudah pukul setengah dua dini hari semua pelayan juga sudah terlelap.
"Ke lantai atas, kamar yang di tengah, itu kamarnya." Kata Kenzo tiba-tiba memberitahukan Gerald letak kamar Lova.
"Thanks, aku akan membawanya ke sana." Kata Gerald dan menganggukkan kepalanya berterima kasih.
Gerald membawa Lova ke kamarnya dan meletakkan Lova perlahan di atas kasurnya. setelah itu Gerald mengganti pakaian Lova yang kotor dengan sihirnya. Tak lupa Gerald menyelimuti gadis itu dan memastikan gadis itu tetap nyaman dalam tidurnya.
Setelah memastikan gadis itu masih terlelap dengan nyaman, Gerald pun meninggalkan Lova dan kembali keruang tamu dan menghampiri semuanya.
"Sebaiknya kita tidak berbincang di sini. Aku khawatir akan membangunkan para pelayan di rumah ini." Kata Allan tiba-tiba.
"Tenang saja, aku akan membuat semuanya terlelap dalam mimpi mereka." Sahut Jimmy tenang, kemudian pemuda itu merentangkan kedua tangannya dan cahaya biru gelap keluar dari kedua telapak tangannya untuk sesaat.
"Penyihir sangat santai rupanya." Ketus Damian yang melihat semuanya.
"Penyihir?" Sela Steven dengan raut bertanya-tanya.
"Apakah kau adalah kaum alchemist?" Tanya Gerald pada Steven dengan tenang.
"Bagaimana kau tahu tentang kaum itu?"Tanya balik Steven.
"Kenalkan namaku Gerald, aku adalah penyihir, biasa disebut kaum witch." Kata Gerald mengulurkan tangannya.
Steven menatap Gerald tajam dan penuh pertanyaan dalam benaknya. Sesaat kemudian dia melirik ke arah Daiva yang dia kenal di sana. Daiva hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan Steven untuk membalas uluran tangan dari Gerald.
"Steven." Kata Steven singkat seraya membalas uluran tangan Gerald.
Setelah berkenalan dengan Gerald, Steven juga berkenalan dengan yang lainnya dan dari perkenalan itu Steven pun mengetahui bahwa Daiva yang dia kenal adalah seorang werewolf. Masih tak percaya dengan orang-orang yang berada di sekitarnya namun memaksa Steven untuk mempercayai bahwa kaum immortal itu ada di sekelilingnya saat ini.
"Yang Mulia, kita tidak memiliki banyak waktu untuk memutuskan, apakah kita akan tetap membiarkan ingatan peristiwa tadi masih melekat pada calon Yang Mulia Ratu atau tidak?" Sela Jimmy mengingatkan Gerald.
"Apa maksud kalian ini?" Tanya Steven yang tidak tahu menahu dengan situasi saat ini.
Allan yang selalu tenang dan bijak dalam bersikap langsung menceritakan kejadian yang telah terjadi pada Lova beberapa saat yang lalu. Jimmy pun ikut menceritakan setiap kronologis kejadian karena Jimmy yang melihat semua kejadian itu bersama Gerald dan Grizelle.
Saat Allan dan Jimmy sedang menjelaskan semua kejadian pada Steven, Grizelle yang kelelahan karena telah mengeluarkan energi besar untuk menyembuhkan Lova pun tertidur di pangkuan kakaknya.
"Jadi Lova di serang vampir? Dan kalian juga vampir khan?" Tanya Steven sembari menunjuk ke arah Kenzo CS.
"Kami memang vampir, tapi vampir yang menyerang Lova itu berasal dari klan vampir lainnya. Mereka tidak sama seperti kami." Kata Allan lagi mencoba menenangkan Steven yang mulai geram setelah mendengar keseluruhan cerita yang menimpa Lova.
"Ken, menurutmu mereka berasal dari mana?" Tanya Daiva tiba-tiba memecahkan suasana yang sedikit panas itu.
"Shadow, mungkin. Jo, bagaimana menurut hasil pengamatanmu?" Tanya Kenzo melirik pada Jonathan yang duduk di sebelahnya.
"Kau benar, Ken. Aku mendengar kalau Shadow mulai menyerang manusia dan menjadikan para buruannya menjadi vampir." Kata Jonathan membenarkan asumsi Kenzo.
"Bukankah dia dracula?" Tanya Lucas.
"Kau benar. Hanya saja mangsa yang di gigitnya akan menjadi vampir. Bila vampir ciptaannya meminum darahnya barulah vampir itu akan menjadi dracula seperti dirinya. Hanya saja keangkuhan Shadow tidak pernah ingin menciptakan dracula di sekitarnya." Jelas Allan pada Lucas dan semuanya hanya diam mendengarkan penjelasan itu.
Apa perbedaan kalian dengan vampire bawahan Shadow?" Tanya Steven yang tidak mengerti tentang hal itu. Menurutnya semua vampir itu sama saja.
"Kami adalah vampir murni yang terlahir dari pasangan vampir, sedangkan mereka hanya vampir ciptaan, dari manusia menjadi vampir." Jelas Allan lagi.
Kenzo hanya terdiam dan memejamkan matanya. Bukan tidur, melainkan menelusuri setiap aura vampir yang berada di sekitar mereka.
"Baj**an." Umpat Kenzo tiba-tiba membelalakkan matanya.
Allan yang mendengarkan umpatan sahabatnya langsung menghampiri Kenzo dan menahan pundak Kenzo yang hendak berdiri.
"Tenang bro. Rileks. Apa yang kau lihat?" Tanya Allan tetap tenang dan tahu apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya itu.
Jonathan juga tak jauh berbeda dari Allan, kini dia telah menahan lengan Kenzo dan memastikan sahabatnya tetap duduk tenang di sisinya. Netra Kenzo yang telah memerah perlahan kembali seperti semula dan menatap satu persatu orang yang berada di sekitarnya dan menatap dirinya keheranan.
"Maafkan aku yang lost control." Kata Kenzo pada semuanya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Daiva yang penasaran dengan sikap Kenzo yang tiba-tiba marah itu.
"Kenzo dapat melihat semua aktifitas para vampir. Bukan hanya Vampir murni saja, vampir ciptaan pun dapat dia lihat." Jelas Jonathan.
"Katakan pada kami apa yang kau lihat." Kata Damian yang juga penasaran.
"Shadow mulai membangun kerajaannya dan menciptakan banyak vampir." Jelas Kenzo singkat.
"Ini pertanda yang tidak baik, apa kau tahu apa tujuannya?" Tanya Allan lagi.
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya lemah. Pemuda itu cukup pusing dengan ulah yang di buat oleh musuh bebuyutan keluarganya.
"Kami tidak dapat menjelaskan saat ini. Sekarang yang harus kita utamakan adalah gadis itu." Kata Allan seraya melirik ke arah kamar di mana Lova berada.
"Sepertinya untuk saat ini kita hilangkan semua kejadian tadi agar Lova tidak shock dengan apa yang telah terjadi padanya." Kata Daiva memutuskan.
"Mengapa tidak di biarkan saja? Agar nanti gadis itu dapat mengetahui tentang kita semua." Tanya Jonathan yang memiliki pendapatnya sendiri.
"Daiva benar, belum saatnya gadis itu mengetahui tentang kita." Kata Kenzo yang juga memutuskan pendapatnya.
"Baiklah kalian sudah memutuskan, maka aku akan menghapus memori gadis itu sekarang sebelum gadis itu terbangun." Kata Gerald yang bangkit dan hendak beranjak menuju kamar Lova.
"Apa yang harus di hapus??" Kata seorang gadis yang muncul dari balik pilar.
____________________________________________
Lovandra POV
Aku terbangun saat ku dengar seseorang menutup pintu kamarku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, ya ini adalah kamarku dan bagaimana aku bisa berada di sini?
"Ugh...." Rintihku pelan sambil memegangi kepalaku yang terasa sedikit pusing.
Kini aku terduduk di kasurku dan mencoba mengingat apa yang terjadi padaku beberapa saat lalu. Setelah aku mengingatnya, aku segera memeriksa sekujur tubuhku. Tidak ada luka sama sekali? pikirku keheranan. Aku bangun dan beranjak ke cermin untuk melihat luka lebam yang kuingat sempat memenuhi wajahku.
Saat aku melihat diriku di cermin aku kembali keheranan karena aku tidak mendapati satu luk pun. Bukan hanya itu aku pun melihat pakaian yang aku kenakan sudah berganti dan ini bukanlah pakaian milikku.
Aku berjalan menuju pintu kamarku dan membuka perlahan pintu kamarku. Sayup-sayup aku dengar ada beberapa orang yang sedang berbincang di ruang tamuku. Perlahan aku mendekati mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Aku cukup shock saat tau bahwa orang-orang yang aku kenal dan mulai dekat denganku saat ini bukanlah manusia biasa. Masalah apa lagi saat ini yang sedang menghampiri diriku? Aku tetap terdiam di balik pilar saat ini dan tetap mendengarkan setiap kata dari percakapan mereka.
Mulai dari perkenalan Steven dengan yang lainnya sampai semua masalah yang tidak masuk di akala bagiku. Aku diam dan memegangi liontin kalungku. Ternyata liontin inilah yang menolongku tadi.
Tapi bagaimana bisa liontin ini menolongku? Sebenarnya apa yang Papa persiapkan untukku dan apa yang kedua orang tuaku sembunyikan dariku selama ini? Akh, kepalaku terasa semakin sakit memikirkan tentang semua yang terjadi pada diriku saat ini.
Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar salah satu pemuda memutuskan dan bangkit dari duduknya, aku menyadari kalau pemuda itu hendak menuju ke kamarku. Dan aku harus segera menunjukkan diriku saat ini.
____________________________________________
"Jelaskan padaku, apa yang harus di hapus?" Kata Lova yang kini telah berjalan menghampiri semua yang berada di ruang tamunya.
Kemunculan Lova yang tiba-tiba membuat semua yang ada di ruang tamu saat itu berdiri dan menatap setiap pergerakan gadis itu. Grizelle yang tertidur di pangkuan kakaknya juga terbangun dan menatap gadis yang kini berjalan dan mulai duduk dengan anggun di sofa tunggal di tengah-tengah ruangan itu.
"Mengapa kalian semua terdiam?" Tanya Lova lagi memecahkan keheningan yang tiba-tiba karena kedatangannya.
"Ba...Bagaimana kau...bisa terbangun dan berada disini?" Tanya Grizelle terbata-bata.
Gadis itu yakin kalau Lova tidak akan terbangun karena sihirnya. Tapi gadis itu tidak tahu kalau Lova tidak dapat di pengaruhi oleh sihir miliknya. Kesembuhan diri Lova sebenarnya bukan berasal dari energi sihir yang di salurkan oleh Grizelle, melainkan dari diri Lova sendiri dan kekuatan dari kalungnya. Sedangkan energi yang di keluarkan oleh Grizelle hanya membantu sedikit untuk menambah kekuatan murni milik Lova.
Semua yang ada di ruangan itu keheranan mengapa Lova bisa terbangun. Kemampuan Lova juga tidak di sadari oleh Lova sendiri saat ini. Sehingga Lova hanya menatap satu persatu wajah-wajah yang sedang keheranan melihat kehadiran dirinya.
"Aku bangun karena aku ingin bangun. Sekarang jelaskan semua maksud dari percakapan kalian tadi!" Jawab dan perintah Lova dengan aura yang mulai mengintimidasi.
Mereka yang berada di ruangan itu merasakan aura mengintimidasi yang kuat yang menguar dari diri Lova, sedangkan Lova sama sekali tidak menyadari hal itu semua.
"Va, apa yang kamu rasakan saat ini?" Tanya Daiva mencoba memecahkan kecanggungan itu.
"Baik-baik saja, hanya sedikit pusing. El, jelaskan semua maksud dari percakapan kalian, aku telah mendengar semuanya dan telah mengetahui siapa kalian!!" Kata Lova lagi memerintahkan dan menginginkan penjelasan dari Daiva.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan padamu saat ini? Aku tidak tahu harus memulai penjelasan darimana?" Kata Daiva mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu jelaskan semuanya secara rinci padaku. Aku akan mendengarkan semuanya." Kata Lova lagi.
"Apa kamu sudah mengetahui siapa kami?" Tanya Daiva sebelum memulai penjelasannya.
"Hmm..." Gumam Lova seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Lova, kamu adalah mateku." Kata Daiva mencoba menjelaskan perlahan.
"Kamu adalah liebeku." Sambung Kenzo yang membuat Lova memalingkan wajahnya dan menatap tajam Kenzo.
"Kamu adalah Ratuku." Sambung Gerald yang tak mau ketinggalan.
"Tunggu sebentar, apa maksud kalian dengan pernyataan kalian itu? Bagaimana bisa aku adalah pasangan kalian secara bersamaan?" Tanya Lova yang sangat bingung dengan situasi itu.
"Kau adalah soulmateku." Sambung Steven cepat.
"What??" Teriak Lova membelalakan kedua mata cantiknya.
"Maaf Nona Lova tapi itu adalah kenyataannya bahwa anda adalah pasangan dari mereka yang telah terpilih oleh Moon Goddess." Jelas Lucas yang mencoba untuk menjelaskan pada Lova.
"This is so crazy, I don't believe it." Kata Lova sembari memijit keningnya yang saat ini semakin terasa bertambah pusing dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Semula aku berpikir bahwa werewolf, witch, vampir hanyalah mitos yang ada dalam cerita novel, aku masih tidak dapat mempercayai ini semua sampai tadi aku melihat dia (menunjuk ke arah Jimmy) mengeluarkan cahaya sihir di tangannya." Kata Lova pelan yang masih dapat di dengar oleh semua yang ada di sana.
"Kami nyata, apakah anda ingin melihat perubahan wolf kami?" Tanya Damian yang terdiam sejak tadi.
"Tidak perlu untuk saat ini." Sahut Lova sembari kembali menggelengkan kepalanya pelan.
"Kak, bolehkah aku melihat kedalam dirinya?" Bisik Grizelle pada Gerald tiba-tiba.
"Apa maksudmu, princess?" Tanya Gerald yang belum memahami maksud pertanyaan adiknya.
"Ku rasa dia memiliki sesuatu yang tidak biasa dalam dirinya, aku ingin mencoba melihatnya." Bisik Grizelle lagi menjelaskan pada kakaknya.
"Sepertinya jangan sekarang, biarkan dia tenang dan menerima kita dulu saat ini." Jawab Gerald sambil berbisik juga.
"Boleh aku tahu nama kalian?" Tanya Lova tiba-tiba.
Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri mereka pada Lova, kecuali Daiva, Kenzo dan Steven yang Lova sudah kenal sebelumnya. Setelah mereka mengenalkan diri mereka, mereka pun kembali berbincang ringan dengan Lova yang masih terdiam menatap mereka satu persatu bergantian tanpa mau ikut dalam perbincangan mereka.
"Bagaimana nasib ketujuh vampir yang menyerangku tadi?" Tanya Lova tiba-tiba yang membuat suasana langsung hening.