Fatma's First Love

Fatma's First Love
Perisai Fatma



..."Hati kita saling terpaut satu sama lain. Sehingga jika kamu merasa sakit maka saya juga akan merasakannya."...


..._Fatma's First Love...


Seperti pagi sebelumnya, Firman selalu mengantarkan Fatma ke sekolah dengan pajero kesayangannya. Sedangkan dirinya akan pergi ke cafe milik almarhum orang tuanya. Setelah gadis lugu itu menyalami punggung telapak tangan suami besarnya, Firman membalas dengan mengusap puncak kepala Fatma lembut. “Belajar yang rajin ya, Sayang. Jika ada yang menyakitimu bilang kepada saya. Karena kamu itu sekarang tanggung jawab saya.” Firman tersenyum lembut.


“Siapp Pak Suami!” Fatma memeragakan gaya hormat membuat suaminya terkekeh.


“Kalau ada yang jahat segera telpon saya!” Fatma mengangguk cepat.


“Kalau ada yang macam-macam bilang!” Gadis itu kembali mengangguk, sekarang menambahkan dengan senyuman yang manis.


“Kalau–-”


Ah, Fatma bisa telat jika pria itu terus berbicara. “Iya-iya Pak Guru Sayang. Jadi, intinya Pak Firman mau dikabari?” goda Fatma.


Firman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum. “Istri kecilnya saya sejak kapan memanggil dengan nama Firman?” Fatma mengalihkan atensinya.


Gadis itu semakin mendekat, bibirnya nyaris saja menyentuh daun telinga Firman. “Sejak di dalam kandungan ... Sayang.” Membeku. Suara itu membuat Firman bergidik ngilu. Ia membulatkan mata dengan sempurna. Semakin lama, Fatma semakin menakutkan saja. Namun, pria itu sangat mencintainya.


Fatma tersenyum miring dan memalingkan pandangannya. “Sudah ya, saya pamit,” kata Firman malu.


Fatma menahan lengan tangan suaminya. “Belum salim, sama belum kecup kening, pipi, sama dagu, Pak...,” rengeknya tidak lupa memajukan bibir andalannya.


Mereka pun melakukan ritual itu. Firman sengaja mengecup pipi Fatma kanan kiri. Gadis itu terlihat bersemu. “Pak Suami mah, menang banyak attu!”


****


Gadis dengan langkah tertatih-tatih terlihat sedang ditarik paksa oleh dua orang laki-laki menuju gudang. Debar jantung Fatma berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, tubuhnya bergetar hebat, napasnya terasa hilang. Sekarang apa kejadian yang akan siswi lain rasakan, apakah akan juga dirasakan Fatma?


Ya Allah lindungi Annisa. Pak Suami, Ciyil takut.


“Kak Denis, Kak Arka, saya mau dibawa kemana?” tanyanya penuh ketakutan.


“Berisik!” balas Arka membentak dengan tatapan yang siap membunuh.


Ketika gadis lugu itu mencoba memberontak, melepaskan genggaman erat tangan Kak Denis, pria itu malah meremas keras kedua pipi Fatma sampai membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tergugu. Ketika jemari itu dijatuhkan oleh Kak Denis, dari arah berlawanan seorang remaja yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba mengecup pipi Fatma tanpa permisi. Gadis itu membeku, jantungnya seperti telah berhenti berdetak, aliran darahnya berhenti mengalir. Seperti tersambar petir di siang bolong. Sengatan listrik itu terjadi beberapa detik, begitu cepat dan singkat.


Netra Fatma dipenuhi dengan cairan bening sehingga membuat penglihatannya buram. Hanya dengan sekali kedipan mata, bening itu kembali terjatuh. “Kak Denis. Apa yang baru saja kamu lakukan?”


Kak Denis hanya menyeringai tanpa menghiraukan teriakan Fatma. Ketika ia akan melangkah pergi, Fatma dengan berani menghadangnya. Gadis itu meremas kerah seragam milik Kak Denis. Sorot mata penuh amarah itu terlihat kentara. Bagaimana tidak marah ketika seseorang yang bukan siapa-siapa bagimu dengan sengaja mengecup pipimu.


“Kak Denis--”


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Kak Denis mendorong tubuh mungil Fatma hingga kepalanya terbentur dinding. Cairan merah kental terlihat sedikit demi sedikit mengalir. Baik itu dari hidungnya.


***


Firman memandang kosong kaca di depannya. Hatinya diselimuti rasa gelisah, rasa kekhawatiran bergejolak. Pria itu tidak tahu siapa yang sedang ia khawatirkan. Namun, firasatnya tertuju kepada Fatma.


Ponselnya bergetar, membuat pikirannya semakin bercabang dan tidak karuan. Dengan tangan gemetar dan napas tersengal-sengal, Firman meraih handphone miliknya. Ternyata yang menelponnya adalah Ayah Sabil.


“Halo, assalamualaikum Nak Firman,” salam Ayah Sabil ramah.


“Waalaikumus salam, Ayah,” jawabnnya tidak tenang.


“Nak Firman, ayah mau pergi ke luar kota untuk beberapa hari, tolong jaga Fatma ya, ayah sedang ada urusan.” Ah, ternyata dugaannya salah. Hanya pesan singkat yang ingin beliau katakan. Aih, kenapa pikirannya kini sedang tidak karuan? Namun, harap menguap seiring dengan berjalannya waktu. Cemas iku semakin membesar.


Firman mengangguk, lalu terkekeh canggung. “Siap Ayah, itu sudah pasti! Sekarang Fatma adalah tanggung jawab bagi Firman.”


“Baiklah. Sekarang ayah lega. Ayah yakin telah menitipkan anak gadis ayah ke orang yang tepat.” Firman tersenyum mendengar ucapan ayah mertuanya. Tidak. Sebenarnya ia sangat cemas akan kabar Fatma. Mengingat gadis itu tak kunjung memberi kabar kepada Firman.


“Kalau begitu ayah matikan ya, Nak Firman. Assalamualaikum.” Setelah Firman menjawab salam, panggilan itupun terputus.


Firman bergegas mengambil kunci mobilnya. Kemudian menelpon seseorang yang dekat dengannya. Saat deringan kedua, orang seberang telah mengangkatnya.


“Ha-–halo Bu Aris, saya boleh minta tolong? Tolong carikan Fatma ya, Bu, saya akan segera ke sana,” pinta Firman begitu telpon tersambung. Saking paniknya, pria itu sampai lupa mengucapkan salam. Ia khawatir kejadian pembulian kepada Fatma semakin menjadi-jadi.


“Loh, memangnya kenapa? Apakah kalian ada hubungan spesial?” Bu Aris yang merasa curiga bertanya.


Pria yang berada di seberang sana menghela napas sabar. “Ayahnya barusan menelpon dan menitipkan Fatma kepada saya,” jujur Firman.


“Tapi tidak ada hubungan, ‘kan, Pak? Tidak mungkin dong guru dan murid....” Ia kembali bertanya dengan nada menyindir. Ujung kalimatnya sedikit menggantung.


Firman terdiam. Memangnya tidak pantas jika siswi dan guru memiliki hubungan? Apalagi umur Fatma yang memang tergolong masih muda. Firman bisa menjadi guru pun karena saat itu sedang kekurangan guru, dan pria itu melamar pekerjaan berkat bantuan dari Om Wijaya sehingga ia bisa masuk.


“Bu, saya ke sana sekarang. Assalamualaikum!” Firman berkata setengah kesal. Siapa Bu Ani yang berhak mengatur hidupnya? Ia mengerti jika wanita itu mencintainya. Namun, haruskah ia sampai ikut campur ke dalam hidupnya?


Bu Ani menggerutu setelah panggilan itu dimatikan. “Awas aja kalau sampai saya mendapati info jika kalian ada hubungan. Saya mencintaimu, Firman. Sangat mencintaimu. Meskipun umur saya lebih tua dibandingkan kamu. Akan saya buktikan ... saya bisa mendapatkan kamu.” Tatapan Bu Aris menajam, dengan kasar ia melangkah kembali. Guru muda ini berpatroli untuk melihat siapa saja anak yang tidak masuk kelas dan telat. Jelas, ini pekerjaan guru BK.


Bu Aris berhenti melangkah saat melihat dua perempuan berjalan ke arahnya, dan menyapanya ramah. Mereka pun mengobrol di sana.


****


Fatma tergeletak lemas. Pandangannya sedikit demi sedikit kabur. Kepalanya mendadak pusing. Gadis itu merintih kesakitan. Saking sakitnya, kedua telinga Fatma sampai berdenging. Tak selesai sampai di situ, dalam keadaan lemah kedua pemuda tersebut kembali menarik tubuhnya paksa. Dengan sisa tenaga yang ada, Fatma mencoba memberontak. Ia tak ingin hal buruk terjadi kepadanya.


Pak Bobby ... tolong.


“Tolong Kak, lepaskan saya! Fatma tidak tahu salah saya apa!” ucapnya dengan sangat lirih.


“Tolong!” Koridor yang mereka pijak kini adalah tempat di mana ruangan-ruangan kosong seperti gudang berada.


“Kak..., tolong lepaskan Fat--Fatma...,” rengeknya disela isak tangis. Mimisan di hidung Fatma tak kunjung berhenti. Pusing menyergap membuat Fatma tak mampu membuka kelopak mata dengan sempurna.


Di detik selanjutnya, Fatma mendongak, melihat laki-laki berbeda yang telah ada di depannya. Walaupun tak begitu jelas, perawakan tubuh itu tidaklah asing baginya. Laki-laki itu berjongkok. “Gua suka sama lu dari lama, Fatma,” bisiknya tepat di telinga Fatma.


Napas Yusuf membuat tubuh Fatma merasa terkuliti. Orang yang kemarin menolongnya, apa kini akan mencelakainya? Gadis itu tidak pernah melihat Yusuf berbuat hal keji seperti yang dilakukan Denis dan Arka kepada perempuan. Yusuf memiliki sifat yang lebih pendiam. Namun, kini di luar dugaannya.


Dengan tubuh yang gemetar, lengan sebagai tumpuan badannya untuk duduk, Fatma bangkit dengan tubuh yang sedikit doyong. Gadis malang itu bergerak mundur. “Se–sekarang Kaka ma–mau apa?” tanyanya dengan getaran tubuh yang hebat.


“Gua mau lu jadi milik gua seutuhnya!”


Denis dan Arka yang berada di belakang Yusuf tersenyum sinis. “Setelah lu, gua ya, Bro yang gilir!” Arka mengingatkan.


“Sisain juga buat gua, Bro!” Denis menimpali dengan menatap lapar ke arah Fatma. “Bosen gua Salwa mulu yang dicicipi,” lanjutnya dengan kekehan devil.


Yusuf tidak menanggapi ucapan mereka. Ia semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Fatma. Gadis itu beringsut mundur, sampai tubuhnya mentok disudut tembok.


“Kak Yu--suf ma–mau apa? Jangan, Kak. Fatma sudah tidak kuat.” Yusuf tidak menjawab.


“Mundur! Jangan mendekat! Jangan sentuh Fatma, saya cuma milik Pak Bo--” perkataannya terpangkas oleh dobrakan pintu.


Brak!


Sosok yang sedari tadi Fatma tunggu-tunggu kini muncul. Sudah lama Yusuf menantikan momen ini. Namun, semuanya gagal. Pemuda itu menggeram marah dan membalikkan kasar tubuhnya.


Di sana sesosok berbadan tegap dengan kemeja biru laut menatap tajam ke arah mereka semua. Telapak tangan Firman mengepal erat. Ia sempat melirik ke arah istri kecilnya yang sebagian wajahnya diselimuti oleh cairan merah. Amarah itu semakin memuncak. Pria itu berjalan maju, menarik kasar Denis dan Rayyan. “Dasar anak tidak berpendidikan!” teriaknya murka, lalu mendorong kasar tubuh kedua laki-laki itu, hingga tubuhnya menapaki lantai dengan sangat keras.


Kini Firman mendekati Yusuf yang mematung, tatapan menghunus seperti pisau tajam itu membuat Yusuf tidak siap dengan serangan yang tiba-tiba Firman daratkan tepat di rahangnya. Pemuda itu tersungkur dengan ujung bibir berdarah.


“Apa yang kalian bertiga lakukan, hah?! Apa yang sudah kalian lakukan kepada Fatma sampai dia terluka seperti itu?” Firman menarik Yusuf bangun lalu mendorong kasar lagi menimpa tubuh Denis dan Arka yang belum bangun dan sedang mengusap pantatnya.


“Kalian di sini untuk belajar bukan untuk berbuat seperti bajingan! Percuma Ayah kalian pengusaha, jika anak saja tidak dididik dengan benar! Kalian mau jadi apa hah?! Dasar sampah sekolah!” Pria itu berubah menjadi mahluk yang paling menyeramkan saat ini. Ia sangat murka kepada siswa-siswanya apalagi ini menyangkut Fatma.


Wajah merah padam, gigi yang terus bergemuruh, dan mata coklat dengan tatapan tidak biasa, serta hidung mancung yang terpahat indah berkembang kempis. Firman sangat marah, ini lebih dari tindakan pembulian yang kemarin-kemarin ia lihat.


Pandangan kini beralih kepada Bu Aris, Zulaikha, dan Zahra yang memandang terkejut ke arahnya. “Bu Aris, silakan bawa anak-anak yang berpikiran sempit serta penuh nafsu ini pergi!” titahnya tegas.


Bu Aris tak bisa menyanggah titah itu, ia terkesiap. Lantas ia ikut menatap tajam ke arah tiga orang dihadapannya. “Berdiri kalian! Ikuti saya ke ruang BK segera!”


Wanita itu pergi dan mereka pun mengikuti dari belakang, dengan jalan tertatih dan pincang. “Saya tidak suka kalian bertindak seperti jagoan!” peringatnya, sebelum tiga siswa itu menjauh.


Firman melirik ke belakang di mana istri kecilnya berada, gadis itu memeluk tubuhnya dan menyembunyikan wajah diantara kedua lututnya. Firman perlahan mendekati Fatma, memeluknya dengan secepat kilat.


“Kak Yusuf tolong pergi...,” katanya sambil terisak.


“Maafkan saya Fatma. Saya datangnya telat, maafkan saya!" Tergugu. Cairan bening itu tak kuasa mengantri. Pria itu berusaha menenangkan jiwa Fatma yang sedang terguncang.


Fatma melerai pelukan itu dan berusaha menatap manik suaminya. “Pak Bobby,” gumamnya.


Firman mengangguk. “Iya, Sayang..., ini saya. Tidak usah takut lagi ya!”


Melihat darah yang menetes dari hidung Fatma, pria itu meraba saku celananya dan mengambil sapu tangan putih. Ia mengusapnya dengan pelan. Ilahi, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sampai seperti ini?


"Kita ke rumah sakit, ya? Saya takut--"


"Pak Bobby ...." Hening.


“Fatma pengin nangis di depan Pak Bobby boleh engga? Tapi Pak Suami, jangan bilang Fatma lemah ya!” pintanya dengan air mata yang menganak di pelupuknya.


Firman mengangguk. “Menangislah, Sayang dan berjanjilah setelah ini kamu akan selalu bahagia!”


Keduanya kembali berpelukan. Fatma menangis tergugu di pelukan suaminya. Tidak lama setelah itu tubuhnya lunglai. Yang terakhir kali gadis itu dengar adalah Firman menangis dengan memanggil-manggil namanya seraya mengguncangkan tubuh Fatma.


“Fatma, Sayang?” panggilnya. Saat melerai pelukannya, Firman tersadar jika istri kecilnya sudah tak sadarkan diri. Pria itu langsung menggendong tubuh Fatma.


Jarak antara cafe dan sekolah yang tidak terlalu jauh membuatnya datang lebih cepat ke sekolah. Pria itu tadi tengah mengunjungi taman belakang sekolah, tempat di mana Fatma sering dibuli. Namun, tidak ada. Lalu mengunjungi kelasnya dan juga mendapati hasil absen Fatma. Lalu, pikirnya teringat gudang sekolah yang sangat jarang dikunjungi. Ternyata benar, Fatma di sana.


Zahra yang melihat adegan pagi itu memutar bola matanya jengah. “Kak, gue duluan deh, akh! Males lihat kaya gituan. Drama banget deh.” Lalu ia melenggang pergi dengan gerutuan iri.


Zulaikha yang melihat Firman membopong tubuh Fatma keluar dari ruangan itu melangkah dan mengikutinya dari belakang. Bukan. Lebih tepatnya ia hanya ingin cari perhatian saja. Mungkin. “Hati-hati, Aiman! Apa aku ikut juga?” Zulaikha bersimpati.


Firman menggeleng. “Jangan, makasih.” Ali membalas singkat.


Pria itu pun meninggalkan Zulaikha. Bu Aris yang melihat itu merasakan hatinya semakin sakit. Panas menjalar di hatinya melalui setiap inci urat nadi. Apa benar Firman dan Fatma adalah sepasang suami istri?


“Saya tidak suka diginiin Firman! Apa saya harus terima tawaran itu?” tanya Bu Aris kepada dirinya sendiri.


Hahaha, Fatma-Fatma, dasar gadis polos, manja. Ini akan terjadi lama di kehidupan kamu.


Firman dipandang heran leh guru-guru yang berpapasan dengannya. “Pak Firman, dia kenapa?” tanya salah satu guru perempuan senior.


Firman yang sedang berjalan setengah lari menjawab, “Tidak kenapa-kenapa, Bu. Saya izin membawa Fatma ke rumah sakit, ya.”


Tidak lama Firman kembali berpapasan dengan seorang guru laki-laki. “Loh, Pak Firman. Fatma ya? Kenapa?”


“Kecelakaan kecil, Pak.” Firman menjawab sekenanya. Ia tidak ingin banyak yang menghalanginya pun berlari mendekap tubuh kecil istrinya.


“Bertahanlah, Fatma. Saya mohon!” Bahkan, hanya sekedar pingsan pun Firman sangat mengkhawatirkan. Ia yang terkenal sabar, ternyata jika menyangkut istri kecilnya bisa seberingas tadi. Dirinya tidak bisa berpikir jernih, jika sudah mencakup miliknya.


Siapapun dia, yang berani melukai istri kecilnya, maka Firman akan menjadi orang pertama yang akan memberinya pelajaran. Jika dirinya sendiri yang melakukan itu, apakah yang akan dilakukan Firman?


Tanpa ia sadari, luka yang diderita Fatma, menjadi awal petaka dalam hidupnya.