Fatma's First Love

Fatma's First Love
Jaga Mata Jaga Hati



Langkah kaki terdengar ganjil, beradu menyerqng lantai saling bersahutan. Terlihat, seorang wanita tengah memasuki ruangan kepala sekolah. Setelah mengucap salam dan mendapatkan izin untuk masuk, Bu Aris duduk di sofa yang telah tersedia mensejajarkan tubuh dengan Firman. Sudah kesekian kalinya, wanita itu menghela napasnya.


"Ada apa ya, Pak?" tanyanya pelan.


Pak Jalil melirik sebentar ke arah Firman lalu menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Apakah benar kamu yang mencelakai Fatma, Bu?"


Nada bicaranya terdengar tidak bersahabat. Pertanyaan dengan nada sedikit mengintimidasi itu cukup menohok relung hatinya. Membatu, wanita itu meremas tangannya yang saling bertautan. Kakinya bergetar, netranya menatap ke sana-kemari seperti mencari pertolongan.


"Katakan, Bu Aris!" Ia terperanjat mendengar pria paruh baya itu meninggikan suaranya. Ia mengambil seputung rokok lalu menyalakannya. Perlahan asap mengepul ke udara, membuat ruangan terasa sesak.


"Bu--bukan saya, Pak," elaknya sembari menunduk.


Pria paruh baya itu mengeluarkan gawai miliknya, Pak Jalil menyodorkan ke hadapan Bu Aris. Bukti yang mampu membuat wanita itu mati kutu. "Ini, apa?" Telak. Seperti ditimpa bongkahan batuan es yang begitu besar. Dunianya hancur, wanita itu kini tak bisa mengelak. Dadanya terasa sesak, tanpa ia sadari tetesan demi tetes jatuh membasahi pipinya.


Ia berulang kali menggeleng-gelengkan kepala, mencoba untuk membela diri. Namun, entah mengapa bibirnya kelu dan kaku sehingga membuatnya sulit untuk mengeluarkan sepatah kata. Seolah-olah kamus dalam otaknya telah hirap. Tidak, ini bukan salah saya!


Wanita berjilbab instan itu menghampiri kepala sekolah. Ia berlutut di dekatnya. "Tolong, Pak. Itu bukan keinginan saya, tolong maafkan saya!"


Ia terisak, tergugu dengan posisi yang masih sama. Kemudian Bu Aris bangkit dan wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Benar kamu yang melakukannya?!" Pria itu kemudian berdecih.


"Saya menyesal menerima kamu jadi guru di sini. Jika terus seperti ini citra guru di sekolah ini bisa turun, dan bagaimana kalau siswa dan siswi lain meniru kelakuan kamu?" tanyanya dengan tegas.


Bu Aris semakin terisak. "Sa--saya juga punya alasan, Pak!" jerit wanita itu.


Matanya menatap nyalang Pak Jalil. "Bayangkan, bagaimana kalau anak Bapak harus diopersi dan biayanya tidak ada? Apa yang akan Bapak lakukan? Bagaimana perasaan Bapak?!" teriaknya menggebu-gebu.


Wanita itu berdiri. "Anak angkat saya mempunyai riwayat jantung bocor dan harus segera diopersi. Saya tidak punya biaya, Pak. Saya butuh uang, saya harus bagaimana? Lalu, ada seorang pria yang menurut saya baik hati, awalnya saya kira ia akan membayar biaya operasinya, tapi ...."


Wanita itu menghela napas berat. Ia menatap Firman yang sedari tadi diam. "Kamu tahu saat itu saya bahagia, Pak Bobby? Anak saya akan sembuh. Saya mempunyai harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Ketika dokter mendiagnosis anak saya terkena Ventricular Septal Defect, dunia saya hancur ...." Wanita itu terkekeh disela tangisnya.


Pak Jalil hanya diam, begitu pula dengan Firman, mereka menyaksikan dan mendengarkan penjelasan wanita malang itu.


"Tapi tidak disangka, pria itu memiliki motif tersembunyi. Saya diperintahkan untuk melakukan rencana itu." Semburan tawa dari Bu Aris kembali terdengar.


"Iya rencana itu, mencelakakan anak Pak Sabil. Fatma." Kata-kata itu terdengar penuh penegasan.


Firman sontak berdiri terkejut. Tangannya mengepal dengan mata yang melotot. "Tunggu, dia mengenal Ayah Sabil?!" Ia bertanya penuh penegasan.


Sebelum menjawab, Bu Aris menertawakan dirinya sendiri. "Dan kalian tahu soal nasib hidup saya? Setelah melakukan itu, saya diancam akan dibunuh jika saya membocorkan rahasia mereka. Lucu ya, hidup saya. Sudah yatim piatu, jadi kambing hitam lagi. Tujuan awal saya hanya satu waktu itu. Melihat anak saya sembuh dan setelah itu kami akan pergi jauh dari kehidupan pria tersebut."


***


Setelah menjelaskan semuanya, Bu Aris tetap diberhentikan menjadi guru. Ia memang sadar jika dirinya telah menjerumuskan raganya ke dalam lubang yang salah.


"Saya tetap harus memberhentikan kamu, bagaimanapun juga kamu lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum itu kurang tepat." Itulah yang Pak Jalil katakan padanya.


Wanita dengan mata yang memerah itu keluar dari ruangan kepala sekolah. Saat melewati kerumunan siswa dan siswi yang sedang beristirahat, bisikan-bisikan menyayat hati terdengar di gendang telinganya.


"Oh, jadi guru itu yang nyelakai Fatma? Kok tega banget sih? Dasar gak bisa memanusiakan manusia!"


"Iya, gak nyangka gue kalau tindakannya serendah itu. Aku kira hanya pelajar yang bisa ngebuli, ternyata guru pun bisa rupanya."


"Katanya guru itu contoh, tapi Bu Aris ...." Para siswi tertawa meremehkan. Tidah hanya sekali mereka menggunjing Bu Aris denhanynada yang sangat pedas.


"Guru juga manusia!"


"Gak semua guru gitu!"


"Gue jadi takut sekarang."


"Ekh udah, nanti Bu Aria dengar!"


Sesaat untuk mengalihkan agar cairan bening tak menetes, Bu Aris memandang atap dan sesekali menyekanya. Cibiran demi cibiran ia terima, walau semua itu membuat dadanya terasa amat sangat sesak. Mereka hanya ingin tahu, bukan peduli. "Mereka hanya bisa menilai tanpa merasakan." Wanita itu bergumam lirih.


Dengan cepat, ia berlari memasuki ruangannya. Membereskan barang-barangnya yang harus ia bawa. Kenapa? Kenapa Allah timpakan ini kepada saya?


Wanita itu tertawa melampiaskan kebodohan dirinya. "Mungkin ini balasan dari sifat dengki, iri, dan kebodohan saya, yaitu kehancuran ...."


Bu Aris menatap lurus ke depan, tatapannya kosong. "Saya memang bodoh, bisa-bisanya sifat egois saya dan bisikan setan mampu memengaruhi dan mengendalikan saya. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Rela melakukan kejahatan hanya demi kepentingan pribadi."


"Apakah saya masih pantas merasakan nikmatnya kebahagiaan setelah melakukan perbuatan ini?"


Perempuan itu menghentikan kendaraan berdoa empat yang melaju dengan kecepatan sedang. Setelah menghembuskan napasnya yang berat, wanita itu masuk.


***


Firman keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah yang suram. Entahlah, jangan ditanya terlebih dahulu. Pikirannya saat ini sedang berkecambuk, tatapannya kosong. Penjelasan Bu Aris tadi membuatnya merasa pusing. Ia harus bertindak meskipun wanita itu telah menyakiti kekasihnya.


Mengingat kejadian tadi, Firman juga heran mengapa Bu Aris ingin membantu kasus ancaman itu. Namun, jawaban wanita itu diluar dugaannya. Sebelum menjawab, Bu Aris menyeringai dengan cairan bening yang menganak pinak di pelupuknya. "Percuma Pak Bobby, percuma. Semuanya sudah terlambat, kamu tidak perlu melakukan apapun!"


Firman mengernyitkan dahinya, bingung. "Memangnya kenapa, Bu?"


Bu Aris menggeleng-gelengkan kepala seraya menunduk. "Kamu tahu alasan pertama saya setuju atas bantuan itu, padahal ada syarat yang membahayakan diri saya sendiri?" Firman terdiam. Menunggu wanita tersebut merampungkan kalimatnya.


"Sebenarnya saya bisa saja meminjam uang, tapi saya setuju karena saya iri kepada Fatma. Saya tau kok kalau kalian ... sudah menikah."


Telak. Firman membulatkan matanya tidak percaya. Pak Jalil yang sedari tadi hanya diam mendengarkan ikut menimpali.


"Bu Aris tahu dari mana?" tanya pria paruh baya itu dengan menaikkan salah satu alisnya, karena setahunya, para guru tidak ada yang diberi tahu selain dirinya.


Bu Aris tertawa mengabaikan pertanyaan kepala sekolah. Dengan memukul pelan dadanya, wanita itu berkata. "Saya mencintai kamu, Bobby. Saya tidak ingin melihat kalian bahagia. Maka dari itu saya menyetujui syarat tersebut!" jeritnya, wanita itu mengusap wajahnya kasar.


"Saya mencintai kamu. Kamu dengar?!" Membisu. Firman hanya bisa menatap nanar ke arah depan dengan mulut yang sedikit terangah. Pengakuan itu masih terngiang di telinga Firman. Sungguh, hal tersebut rasanya membuat gendang telinganya pecah.


Setelah merasa lelah wanita itu berkata lagi. "Jika kamu ingin membantu saya, cukup dengan tidak mengungkit kembali masalah ini." Ia menatap dengan tatapan intimidasi yang membuat Firman tidak bisa berkutik.


Fiemany tahu Bu Aris sudah lama menyukainya, tetapi ia tidak tahu dengan kesalahannya itu mampu berakibat fatal. Setelah melamun terlalu lama, netranya menelisik ke seluruh penjuru sekolah.


Indra penglihatannya menangkap sosok penghuni hatinya sedang mengobrol dan tertawa dengan Yusuf. Melihat itu Firmany mendengus kesal. Istrinya tidak mempedulikan amanatnya.


****


Hari demi hari telah Fatma lalui, asam pahit manisnya kehidupan telah gadis lugu itu arungi. Siapa sangka dengan dirinya yang beberapa hari tidak masuk terbaring di rumah sakit, kini sesosok pemuda tampan berdiri tegak di hadapannya. Ya, skors yang dijalani Yusuf telah usai, tiba saatnya untuk pemuda itu memulai lembar baru dengan kembali masuk sekolah. Pemuda itu dengan sangat lihai mengoper bola kepada timnya, tanpa bisa direbut kaki lawan.


Dengar-dengar Yusuf adalah ketua ekstrakurikuler futsal, dari cara bermainnya pemuda itu memang terlihat keren, sangat cocok dengan jabatannya. Wajahnya yang tampan tidak menutup kemungkinan bahwa alasan itulah yang membuat siswi di sekolahan mendamba-dambakan Yusuf.


Tanpa sadar gadis itu tersenyum dan menyemangati dalam hati. Ia tidak akan berani menyemangati secara terang-terangan seperti gadis lainnya. Yusuf itu berbeda dari ketiga temannya, mengingat tempo hari pemuda itu memberinya peringatan, Fatma jadi mempunyai ide untuk membelikannya sebotol air mineral.


Tanpa pikir panjang, gadis itu menuju kantin. Waktu istirahat telah tiba, tidak heran jika Fatma harus berdesak-desakan. Tubuh mungilnya terbawa ke sana kemari oleh lautan manusia. Ada juga yang menatapnya dengan tatapan iba, tatapan tidak suka, dan benci serta masih banyak tatapan lainnya yang membuatnya menghela napas berat.


Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Abaikan mereka Fatma, abaikan!


Setelah selesai mambeli minuman gadis itu langsung keluar dari dalam kantin. Di pinggir lapangan, netranya mencari keberadaan Yusuf. Namun, netranya tak kunjung menemukan pemuda tersebut.


"Ah, apa mungkin dia lagi pergi ke kantin buat beli air minum ya?" gerutunya. Namun, beberapa detik kemudian ujung netranya tak sengaja menangkap sesosok pemuda yang sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang, keringatnya menetes menambah kadar ketampanannya. Ia mengibas-ibaskan ujung atas baju olahraganya karena hati ini baskara tak malu menampakkan sinarnya.


Lapangan yang berada di tengah-tengah bangunan membuat semua orang bisa melihat ke arahnya. Dengan riang kaki kecil itu menghampiri Yusuf.


"Hai, Kak Yusuf," sapa ceria Fatma seraya menyodorkan sebotol minuman kepada Yusuf.


"Habis olahraga gak baik kalau minum yang dingin, ya?" lanjutnya sambil terkekeh malu.


Yusuf ikut terkekeh. Ma syaa Allah, sesaat Fatma terbuai oleh ketampanan pemuda itu.


Ma syaa Allah, Kak ... kamu tampan sekali. Tidak heran jika banyak siswi yang menyukai kamu.


"Udah nggak takut lagi ya, sama gue?" Sontak lamunan singkat Fatma pecah. Gadis itu mengerjap beberapa kali seraya merapalkn istigfar.


Setelah itu Fatma menggeleng disertai senyum simpul yang terbit dari bibir manisnya. "Tidak dong, ternyata Kak Yusuf baik, udah kasih tahu Fatma meskipun engga beres." Lagi-lagi gadis itu mengerucutkan bibirnya.


Yusuf tertawa. Ia mengulurkan tangannya. "Maafin gue ya, waktunya mepet sih. Lu baik-baik aja 'kan?"


Fatma menatap jabatan tangan itu. Ia membeku, sampai tiba-tiba terlihat tangan lainnya yang menurunkan tangan Yusuf sebelum Fatma meriahnya.


Kedua lawan jenis itu menatap sang pelaku. Annisa terperanjat di tempatnya. Sedangkan di samping Firman tengah menatap penuh peringatan. Seketika kata-kata pria itu terngiang di kepalanya.


Jaga mata jaga hati jangan dekat bocah ingusan itu lagi!


"Sudah lupa sama kata-kata saya tadi pagi?"


Bersambung ....


Pasuruan, 18 Juli 2023