Fatma's First Love

Fatma's First Love
PPKM



Riuh angin menyapa sejuknya saat baskara belum sempurna menampakkan diri. Sunrise terukir begitu indah di atas langit sana. Daun-daun tertipu ke sana kemari, saat angin menjumpai tanpa henti. Bentangan langit tanpa garis tepi hanya dipenuhi warna biru muda tanpa adanya gumpalan kapas putih selembut sutera.


Allah ... sebegitu indah 'kah ciptaan-Mu ini? Meskipun, pagi ini cuaca dingin yang datang menerpa. Tidak mendung, pun tidak hujan pula. Tidak berpisah, pun tidak bisa bersatu, umpama cinta. Seperti cinta yang sering diucapkan dengan tutur kata sahaja.


Menatap dengan gugup bangunan tua berwarna hijau muda di depannya, Firman melangkah pelan. Saat ia masih kecil, sering kali datang ke rumah tersebut bersama kedua orang tuanya yang saat ini telah dijemput oleh Sang Ilahi. Rumah itu tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Masih sama.


Gerbang yang tidak terlalu tinggi, taman kecil bersama sepasang ayunan berukuran sedang nangkring di pinggir rumah tersebut. Firman mengembangkan senyumnya, ini rumah seorang gadis yang dulu hingga saat ini masih ia kagumi. Siapa lagi kalau bukan Syarifah Fatmawati. Wanita yang selalu dipandang Firman secara diam-diam di pojok bangunan maupun koridor kelas. Serta gadis yang membuat Firman merasa gemetar dan gugup tidak bisa menjawab ketika ia tidak sengaja bersanding dengannya.


Dengan langkah yang sangat pelan, Firman menghampiri sang penjaga. Pria itu hanya bisa datang di pagi hari, karena setelah mengajar nanti Firman mempunyai agenda kuliah dan membantu mengembangkan usaha cafe milik almarhum sang ayah dan ibunya.


“Semangat Firman! Kamu pasti bisa." Pria dengan kemeja putih dipadukan dengan celana hitam dan sepatu pantofel membuat Firman terlihat semakin nampak gagah. Jangan lupa lengan baju yang digulung hingga siku-sikunya. Dengan menghela napas dan membenarkan baju, pria itu melangkah perlahan dengan kondisi jantung yang berpacu di atas ambang normal. Aliran darah seperti berhenti mengalir. Namun, sebisa mungkin Firman menampilkan wajah yang sumringah.


Ia mengucapkan salam kepada pak satpam yang berjaga saat itu. “Assalamualaikum. Pagi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Bapak Sabil Maulana, apakah benar ini rumah kediamannya?" tanya Firman hanya sekedar basa-basi saja.


Pak satpam mengangguk. “Iya, Mas. Apakah Anda sudah membuat janji dengan Pak Sabil?”


Gelengan Firman menjadi jawaban. “Saya anak sahabat lamanya dulu waktu kecil, Pak." Pria itu mengiringi dengan senyuman.


“Ohh, Nak ... Firman, ya?" tanyanya sedikit diambang keraguan.


Pak satpam merasa familiar dengan wajah pria yang sedang berdiri di hadapannya dengan seluas senyum simpul yang terbit di bibirnya. Tidak asing, tapi lupa apakah pernah ketemu atau tidak. Dan ketika saat diingat-ingat lagi. Ternyata, ini adalah anak kecil yang dulu sering mengusilinya. Masih sama dengan kacamata hitam dan tubuh kecil nan tinggi. “Iya, Pak. Bapak melupakan saya, hiks ... sedih deh." Drama yang dibuat pria dengan kumis tipis itu pura-pura mengusap air mata.


Pak satpam terkekeh lalu memeluk Firman. Melepas rindu satu sama lain. “Alhamdulillah, Nak Firman sekarang sudah besar, ya? Padahal baru lima belas tahun kemarin kita bermain."


Keduanya pun terus mengobrol sana sini tanpa henti. Saling bercerita dan mengulang kenangan masa kecil ketika pria itu dalam asuhan pak satpam. Bertahan-tahun tidak bertemu membuat mereka ingin rasanya mengulang masa indah bersama yang pernah terjadi di masa lalu. Jika ada yang mengatakan, kenangan selalu pahit, maka orang itu belum pernah merasakan indahnya cinta karena Allah. Ya, apakah semua orang akan mengalami kenangan pahit? Tidak bukan?


Pak satpam mengacak-acak rambut Firman dan menjewernya pelan. “Anak usil bin jail, ayo bapak anterin. Makin ganteng aja, padahal dulu kucel dan hitam banget kaya lele goreng kecap!" serunya mengejek.


"Padahal kamu dulu dijuluki seperti batu hajar aswat. Hitam legam." Firman terkekeh dan sedikit malu ketika mengingat hal tersebut. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Enak dong Pak kalau seperti lele goreng kecap!" antusias Firman. Ia sendiri jadi ngiler saat mendengar kata lele goreng. Ah, jika terus dibayangkan, cacing di perutnya akan memainkan alat musik keroncong.


“Bukan enak, tapi warna hitamnya yang dituju!" tawanya pecah apalagi ketika melihat anak usil itu nyengir paksa.


“Yang penting ta’atnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pak. Zaman sekarang modal ganteng doang sudah banyak, Pak. Bahkan di shoope aja dijual, malah gratis ongkir ke seluruh dunia lagi," ujarnya dengan santai.


“Hahahaha bisa aja kamu. Ngomong aja kamu iri, pakai acara basa-basi segala!"


Firman terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iri itu penyakit hati, Pak. Buat apa iri sama mereka yang ganteng? Definisi ganteng itu tidak harus putih, mulus, bersih, dan perfect, tapi mereka yang hitam, berkulit sawo matang itu juga ganteng. Tampannya orang bisa dilihat dari hati dan ucapan seseorang." Firman menjelaskan panjang lebar sehingga membuat pak satpam kagum mendengarkan penuturan Firman yang berubah menjadi pria dewasa yang bijaksana.


“Kita harus mencontoh Bilal bin Rabah. Meskipun parasnya kalah ganteng dengan Abu Lahab, tetapi Bilal dirindukan bidadari surga. Ma syaa Allah, beruntung gak tuh, Pak? Bisa poligami lebih dari lima nanti di surga padahal jatah laki-laki cuma empat kali doang," jelas Firman penuh kemenangan.


Niat hati mengusili malah diceramahi. “Iya deh, anak usil udah pinter!" puji pak satpam seraya merangkul pundak anak majikan lamanya.


“Doain ya, Pak," kata Firman tiba-tiba saat tepat di depan pintu.


Dahi pak satpam dengan nama Bagus yang tertempel di seragamnya itu mengernyit. “Seperti mau melamar anak gadis saja!" jawabnya diiringi kekehan.


“Memang iya, “ jawab Firman dengan enteng dan menaikkan kedua alisnya.


“Hah?!" Pak Bagus membulatkan matanya tidak percaya. Sedangkan Firman tersenyum geli tanpa dosa.


***


Rintik hujan berdenting bersatu dengan genting rumah menjadi pola nada yang abstrak. Fatma terdiam, ia teringat kejadian tadi, di mana Firman mengantarkannya pulang sekolah. Senyum itu terbit begitu manis. Fatma senang, boleh tidak ia baper dan salah tingkah jika mengingat kejadian itu kembali?


Fatma tidak tahu rasa apa ini yang tengah menyelimuti hatinya, entah hanya bisikan syaiton berkedok cinta ataukah memang benar-benar cinta dari Sang Pemberi Cinta? Fatma menjadi resah sekarang. Memangnya pria itu mau bersama dengan gadis seperti Fatma?


Di detik kemudian, terdengar ketukan dari balik daun pintu kamarnya yang membuat lamunan Fatma buyar seketika. Ketukan itu terdengar mengalun melewati gendang telinga Fatma. Kemudian, gagang pintu terlihat perlahan bergerak, dan di detik yang sama munculah sesosok bidadari tanpa sayap yang selama ini sering memberikan kasih sayang tiada henti kepada Fatma.


“Sayang, Nisa...," panggil Bunda Naumi dengan lemah lembut dan menghampiri putri semata wayangnya itu.


Nisa membenarkan posisi duduknya. “Bunda," jawabnya dan memeluk badan bundanya yang kini tengah berdiri di hadapannya. Gadis itu terbuai oleh nyamannya dekapan dari sang rahim kehidupan. Ia mengendus-endus bau khas dari wanita paruh baya itu.


Apapun takdir yang tergores di Lauhul Mahfuz, kita patut mensyukuri. Walau bagaimanapun Rabb kita tahu yang terbaik untuk kita jalani.


“Turun yuk, Nak. Ada tamu!" ajak Bunda Naumi seraya melepaskan pelukannya.


Bunda Naumi yang melihat anaknya tidak mengerti pun berbicara lembut, “Nanti juga Cipah tahu siapa orang yang bunda maksud." Fatma mengernyitkan dahi, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh bundanya. Begitu ambigu, memahami kalimat bundanya membuat Fatma kembali menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Rumah berukuran sedang itu jarang sekali kedatangan tamu malam, tetapi malam ini kedatangan tamu dan Fatma juga ikut dipanggil. Mana mungkin teman Fatma yang datang berkunjung. Ah, tapi mustahil mengingat bahwa ia tidak punya teman di sekolah saat itu. Begitu pula di sekitar rumahnya juga temannya hanya sedikit. Malah sebaliknya, mereka menjauhi Fatma untuk alasan yang tidak jelas.


Gadis lugu itu menghela napas ketika Bunda Naumi merangkul bahunya dan tersenyum tipis. “Siap deh, apa pun akan Fatma lakukan untuk Bundaku tersayang."


“Dasar modus, pasti ini mau cokelat." Bunda Naumi mencubit pipi bulat Fatma seraya mendekatkan keningnya.


Nisa terkekeh pelan. “Tempe mendoan saja, Bun."


Saat sudah berada di ruang tamu, Fatma terkejut saat melihat sesosok pria yang ia kagumi kini tengah duduk di antara paman dan ayahnya. “Loh, Pak Firman?" Fatma terpaku, tubuhnya membeku begitu pula dengan lidahnya yang kelu. Berbeda dengan pria itu, detak jantung Fatma berdetak dengan pelan. Namun, gelenyar aneh menyelimuti seluruh tubuhnya.


Atensi mereka pun kini tertuju kepada Fatma. Gadis itu hanya membalas sekilas dengan senyuman manis. Hatinya terasa berpacu sedikit demi sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Apakah Fatma sedang berada di alam kabulnya doa?


Ia dan Bunda Naumi ikut duduk. Perasaan Fatma semakin gelisah, diliputi juga rasa senang. Bolehkah ia berharap kedatangan pria tampan berkaca mata yang duduk tak jauh dari tempatnya untuk meminang dirinya? Astagfirullah ... Fatma tidak bisa mengendalikan dirinya. Ya Rabb, ampuni gadis kecil itu, ia tahu bahwa ini salah. Namun, ia juga tak tahu bagaimana caranya untuk bisa mengendalikan emosionalnya. Apakah salah jika ia berharap?


“Kedatangan saya ke sini mewakili Nak Furman ingin meminang putri dari Bapak Sabil, yaitu Nak Fatma yang jika diterima akan disandingkan dengan keponakan saya Firman. Apakah Nak Fatma berkenan?" Pak Wijaya--paman Firman mengutarakan niatnya mewakili pria yang sedang duduk di samping Pak Wijaya.


Deg!


Perasaan Fatma kini campur aduk. Seperti tersambar petir di siang bolong. Seperti mimpi. Namun, terasa nyata. Siapa pun, tolong cubit lengan Fatma, barang kali semua ini hanyalah tipu daya syaiton saja. Mengingat bahwa belakangan ini gadis lugu itu selalu memikirkan pria yang saat ini tengah bertamu ke rumahnya. Fatma menebalkan wajahnya, mencoba agar tetap terlihat anggun di depan Firman. Namun, apakah ini benar adanya, Fatma ini sedang dipinang oleh gurunya sendiri? Sekali lagi, jika ini mimpi maka tolong bangunkan Fatma segera! Ia tidak ingin berlanjut dengan harapan yang semu.


“Bagaimana Fatma, apakah kamu mau menjadi pelengkap imam saya?" Fatma lantas mendongak mendengar suara itu. Ah, mengapa setiap kali ia mendengar suara bariton dari Firman jantungnya selalu berdebar-debar? Dan ya, Jangan lupakan senyuman manis yang tidak luntur sejak tadi.


Fatma tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Ia hanya diam dan berkali-kali menundukkan kepala. Adakah dari kalian yang bisa membantu Fatma untuk menjawab pertanyaan sakral itu?


“Pa--Pak Firman ... kenapa mau sama Fatma? Padahal saya masih sekolah belum bisa apa-apa." Gadis itu meremas rok cokelat mudanya. Seperti diguyur oleh air es. Panas dingin sekujur tubuhnya. Seperti mati rasa, lututnya pun mendadak lemas.


Firman menunduk. “Afwan sebelumnya, karena saya sering mencuri nama kamu di setiap doa yang saya panjatkan. Keteguhan matamu, kesalehanmu membuat saya merasa bahwa surga begitu dekat." Firman menatap Fatma intens. Telak. Artinya, selama ini cinta yang Fatma pendam dalam-dalam mendapatkan balasan yang setimpal pula? Seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya. Ia ingin sekali terbang saat mendengar penuturan Firman.


“Fatma ... saya tulus mencintai kamu. Saya tidak ingin terlalu lama memendam ini, saya tidak mau syaitan melerai perasaan ini menjadi melewati batasan." Wajah Fatma perlahan memerah. Oh tidak. Jangan sampai Paman Wijaya dan Firman melihat rona merah itu. Ah, memalukan. Mengapa harus di waktu yang tidak tepat seperti saat ini? Argh!


Senyuman manis khas dari Fatma tidak bisa lagi ia tahan. Hatinya sungguh merasa terbang melayang jauh. “Fatma, saya In Syaa Allah akan berusaha menjadi imam yang baik buat kamu. Bukankah pernikahan itu termasuk sunnah Rasulullah? Saya tidak ingin menunda niat baik, padahal saya sudah siap."


Fatma sebelumnya belum siap, Pak, tapi jika jodohnya Pak Firman, Fatma akan belajar untuk siap.


“Jadi, bagaimana, Sayang? Kamu mau?" Bunda Naumi meletuskan gelembung lamunan Fatma. Gadis itu tersentak dan sontak menatap sang bunda. Hening. Tak ada jawaban, gadis itu hanya mengerjakan mata. Sebenarnya ia ingin sekali menjawab iya. Namun, mulutnya seperti terkat oleh lem. Silih berganti kamus dalam otaknya menghilang. Membuatnya sudah dalam merangkai kalimat.


Pria itu telah menjelaskan semuanya kepada Fatma, kini dirinya tinggal menunggu jawaban dari gadis lugu itu saja. Atmosfer ruangan ini terasa sangat mencegah dada Firman. Tidak bisa dipungkiri lagi jika Firman takut penolakan itu terlontarkan. Pastinya ia akan hancur jika itu benar-benar terjadi.


Firman tidak ingin menjadi laki-laki yang mengorbankan harga dirinya hanya untuk mengajak seorang gadis berpacaran. Ia mempunyai impian untuk menikah muda, dan hatinya telah menemukan pilihannya. Sekarang pilihannya itu jatuh kepada siswinya yang manis ini.


Oh Allah ... saya mohon lancarkanlah. Jika kini saya terjatuh, semoga saya bisa bangkit kembali.


Pria itu tidak ingin kecewa dengan pencapaian yang ia perjuangkan. Maka, setiap apapun yang ia lakukan, tidak lupa Allah selalu ia libatkan. Firman tidak ingin membuat Rabb-Nya cemburu, yang bisa membuat kekecewaan nantinya datang menghampiri.


“Fatma masih banyak kekurangan, Pak Firman," jawab lesu dari bibir merah muda Fatma. Gadis itu semakin lama semakin menunduk dalam. Ia meremas jemarinya yang saling mentaut satu sama lain.


“Cinta yang sesungguhnya, akan selalu menerima apapun kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya. Sedangkan, cinta yang datangnya dari bisikan syaitan atau cinta yang hanya ditimbulkan karena hawa nafsu semata saja akan selalu menginginkan kesempurnaan." Dengan cepat Firman membalas.


Sebelum menjawab, Fatma mendongak dan menampilkan raut wajah yang sendu. Begitu pula senyumannya, begitu palsu dan kecut. “Maaf Pak Firman, tapi Fatma tidak bisa ...."


Bersambung....


Pasuruan, 11 Maret 2023