Fatma's First Love

Fatma's First Love
Serigala Berbulu Domba



...“Ketika masalah datang menerpa, kecewa menggores jiwa, meninggalkan luka yang tertera, tetapi hati tetap berlabuh ke orang yang sama, yakni kamu.”...


..._Fatma's First Love_...


Hari ini cuaca cukup terik. Gadis itu menghela napas yang kian menyesakkan, ada sedikit rasa takut untuk pergi sekolah. Namun, pria yang berstatus sebagai suaminya itu berulang kali meyakinkan hingga Fatma mengindahkannya dengan anggukan. Ya, walau ada sebuah perjanjian yang mau tidak mau harus Firman penuhi selepas sekolah.


Dari balik kaca mobil pajero, Fatma melihat kendaraan yang saling berkejaran, seperti biasanya Firman akan selalu mengantarkan Fatma, melakukan ritual pergi dan pulang bersama ke sekolah setiap harinya. Gadis itu terlihat sedikit manyun, mengerucutkan bibirnya lebih maju dari bisanya. Menyilangkan tangan di dada, sesekali ia mendengus kesal. Ah, ia hanya mencari perhatian Firman saja. Dasar gadis manja!


Benar. Hubungan mereka, hanya sedang diterpa sedikit ombak lalu yang tidak lama akan segera berlalu. Sepertinya badai tak menginginkan menerpa rumah tangga mereka. Meski begitu, ia sudah memiliki cara dan waktunya tersendiri untuk memulihkan suasana itu.


Mobil yang semula melaju dengan kecepatan sedang kini berhenti tepat di depan gerbang berwarna hitam, bangunan tua besar menjulang tinggi dengan lautan remaja yang lalu lalang masuk membuat lamunan Fatma buyar. Ia tersadar dan bergegas untuk turun. Hening, sepanjang perjalanan, Fatma hanya membisu, pun dengan Firman. Gadis itu melepas seat belt dan mencium punggung telapak tangan suaminya. Disaat Firman hendak mencium kening Fatma, gadis itu melengos, menepis dan membuka pintu mobil. Pria itu membatu dengan posisi semula, tak berubah. Melihat lirikan tajam istrinya membuat bulu kuduk Firman naik. Ia merapal istighfar tatkala Fatma menutup pintu mobil sedikit kasar. Namun, itu tak jadi masalah. Firman ini membawa mobil pajero itu untuk diparkir pada tempat yang telah tersedia.


Gadis itu menyusuri koridor kelas dengan mendekap beberapa buku paket miliknya. Ia memilih untuk menundukkan dalam, tak ingin menatap wajah siswa lainnya. Setelah menaiki beberapa anak tangga, Fatma kini telah sampai di kelasnya, mendudukkan pantatnya dan tak lama bel sekolah berbunyi begitu pula Pak Ali--guru agama telah memasuki kelas. Setelah berdoa kini Fatma mengikuti pelajaran dengan khitmad, dirinya bersyukur karena hari ini belum ada yang mengganggunya. Berkat guru sekaligus suaminya, Fatma menjadi lebih tenang, ia merasa terlindungi. Mengingat hal itu, ia sedikit tersenyum kecut.


Ketukan pintu mengalihkan atensi siswa-siswi yang tengah khitmad mendengarkan penjelasan Pak Ali. Suara seorang siswa yang samar-samar Fatma dengar menyapa guru tersebut. Ia mengabaikannya dan kembali memfokuskan atensinya pada papan berwarna putih di depan. Namun, ketika asmanya disebut, Fatma seketika terperanjat sedikit terkejut.


“Fatma, ada yang mencari kamu, silakan keluar!” cakap guru tersebut seraya netra yang memberi isyarat dengan menunjuk ke pintu.


Gadis itu dengan kaku mengangguk. Perlahan raga itu bangkit dari duduknya. Netra semua siswa menatap terarah ke Fatma penasaran. Raut wajah yang terus terang kehausan akan hal yang perlu digosipkan.


Fatma dengan jalan menunduk perlahan memandang dari bawah perawakan siswa tersebut. Dengan rasa gugup ia mulai menilai tubuh yang menjulang tinggi, seragam sekolah yang ditata tidak begitu rapi, tidak memakai dasi, baju lengan pendek, dan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya ....


Fatma menahan napas kala netranya teralihkan menatap wajah siswa itu. Dagu yang terbelah dua, dengan warna kulit sawo matang, netra berwarna biru. Tidak lain adalah ....


"Yusuf." Fatma membelalak. Seperkian detik gadis itu menahan napas dengan bola mata yang membulat sempurna. Ia terperanjat sedikit terkejut bukan main. Dengan jemari yang gemetar, bibir kelu, dan lidah yang kaku, Fatma melangkah begitu saja keluar melewati pemuda itu beberapa langkah.


“Eh, tunggu-tunggu gua mau ngomong!” Yusuf menggamit pergelangan tangan Fatma dengan cepat dan kasar ketika gadis itu akan menghindarinya.


Yusuf sedikit dengan paksa menarik pergelangan tangan Fatma, membuat tubuhnya terpelintir. Tatapan itu begitu dekat sehingga Yusuf bisa melihat dengan jelas bola mata indah milik gadis berparas ayu itu. Sedangkan Fatma yang mengernyitkan dahi, menyatukan kedua alis dapat merasakan dengusan napas Yusuf. Ilahi, debar jantung itu rasanya akan menembus dadanya. Seluruh tubuhnya terasa dingin, persediaan oksigen seakan-akan habis untuk dihirup. Oh tidak, apakah pemuda itu akan mengecup Fatma?


"Bisa mundur beberapa langkah dari hadapan gua? Napas lo bau!" Fatma mengerjap. Yusuf melepaskan tangannya dan gadis itu melangkah mundur sedikit menjauh dari posisi Yusuf. Kini ia bisa bernapas lega dan bebas menghirup udara segar sekitar.


“Ka–-kak Yusuf mau apa?” nada suara Fatma berubah khawatir dan masih terdengar gemetar.


Melihat raut wajah Fatma dihadapannya, Yusuf menghela napas. Ia mengangkat dua jarinya tanda janji. “Gua beneran gak bakal ngapa-ngapain lo, suueer deh!”


Fatma menelisik sekujur tubuh Yusuf yang masih dengan gaya mengangkat kedua jari tangannya. Ia menatap dari ujung rambut hingga ujung kuku. Merasa bahwa gadis itu menatapnya seperti orang yang tengah menelanjangi membuat Yusuf tersenyum kecut, tak lama ia menurunkan jemarinya.


"Gua serius, lo masa iya nggak percaya sama gua?" Fatma melangkah mundur ketika telapak kaki Yusuf selangkah maju ke depan. Di menit kedua, Fatma menghela napas berat.


"Lo kenapa sih ... mundur terus? Alergi ya lihat wajah gua yang tampan?" Lagi dan lagi, langkahnya perlahan mundur. Saat Yusuf maju, gadis itu mengangkat jemari telunjuknya ke depan. “Jaga jarak ya?!” pintanya takut.


Menyadari itu semua, Yusuf terdiam. Baiklah, mungkin dirinya harus berbicara seperti ini. Memang harus ada jarak yang memisahkan antar aku dan dia. Yusuf menelisik ke setiap sudut sekitar, memastikan bahwa aman tidak ada orang. Lalu netranya memandang kembali ke arah Fatma. “Gua ... mau ngomongnya di taman boleh?” tanyanya ragu.


Tatapan Fatma diam-diam menyelidiki. Perlahan kepalanya mengangguk ragu. Yusuf mulai berjalan duluan diikuti oleh gadis lugu itu. “Gak bakalan ngapa-ngapain 'kan, ya?”


Pemuda itu tidak menjawab. Kaki keduanya menapaki taman dekat lapangan yang kini sepi, mungkin karena masih ada jam pelajaran di kelas. Pohon yang rindang menaungi keduanya, menjadi saksi bisu akan pembicaraan mereka berdua. Bangku panjang berwarna putih yang sedari tadi seperti tengah memanggil-manggil keduanya akhirnya Yusuf duduki. Sedangkan Fatma memilih untuk berdiri seraya meremas erat jemari yang saling menaut satu sama lain. Ia tak berani menatap Yusuf, benar. Gadis itu memilih untuk menunduk dalam.


“Biar gampang kabur,” gumamnya, melirik ke sana kemari.


“Gak mau duduk?” Fatma menggeleng cepat. Yusuf sedikit membungkuk, cahaya mentari di siang hari yang begitu kuat membuat penglihatannya silau. Ia menyipitkan matanya, dan menajamkan penglihatannya. Kemudian, pemuda itu ikut menggeleng tidak mengerti.


“Kok ngikut sih?” gumam Fatma kesal sembari menghentakkan kaki kirinya ke rerumputan hijau.


Yusuf yang mendengar gumaman Fatma bertanya, “Ngikut apa?” Ia kembali menggeleng. Pun juga dengan Yusuf, ia ikut menggeleng heran saat melihat tingkah laku aneh Fatma.


“Tuh 'kan!”  Fatma berseru dengan nada pelan dan tertahan.


Pemuda itu menghela napas panjang. Gadis ini, huh Yusuf memang benar menyukainya, tetapi ternyata menyebalkan juga. “Tolong, biarin gua bicara dulu. Terus setelah itu, mau lo gulung-gulung di aspal gua juga nggak peduli!” Yusuf memasang wajah memelasnya. Jika terus tidak diberi kesempatan untuk berbicara, kapan dirinya akan menjelaskan?


“Maaf gua kemarin engga ada maksud apa-apa, kecuali untuk memberitahu lo tentang hal ini. Gua gak tahu harus dengan cara apa, bicara biar engga ketahuan siapapun di sekitar lo, Fat. Akhirnya gua ngelakuin hal itu kemarin, tadinya gua cuma mau bisikin sesuatu aja, tapi eh malah jadi salah paham.” Yusuf menjelaskan dengan nada kecewa.


“Jaga diri dari mereka ya, terutama para perempuan itu.” Yusuf memperingati. Akan tetapi kalimatnya terdengar ambigu membuat Fatma mendongak sembari memicingkan mata.


“Ini lebih berbahaya, dari Keke ataupun Sinta," lanjutnya, dengan wajah kentara khawatir.


Gadis itu memasang raut wajah terkejut. Netranya membulat sempurna, mengapa hidupnya sering dikelilingi oleh orang-orang yang membenci dirinya? Ilahi, Fatma salah apa? Ia tidak pernah berniat menyakiti hati siapapun.


“Si–-siapa? Katakan ... jangan membuat saya penasaran!” tanyanya mulai resah.


“Gua gak bisa sebut namanya. Yang jelas mereka itu bukan dia.” Yusuf menjawab ikut prihatin. Ah, pemuda itu suka sekali bermain tebak kata. Memikirkan semua itu membuat kepala Fatma sakit. Otaknya jadi kerja dua kali lebih keras dari biasanya. Ia sangat membenci itu!


“Mereka ... bukan dia? Maksudnya apa?” Fatma kini sudah seperti burung beo saja. Mengikuti setiap kata demi kata dari sang tuannya, tetapi gadis lugu itu tetap tidak mengerti.


Yusuf menepuk jidat pelan. Oh Allah, sebenarnya gadis ini memang lugu atau bagaimana? “Rencana yang berjalan pelan, melahirkan plot twist jebakan.”


Kejutan, kapasitas otak Fatma yang kurang terasah membuatnya tidak begitu paham apa yang dimaksud dalam oleh Yusuf. Tubuh Yusuf bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan gadis yang kini tengah ditatapnya lekat. “Fatma, orang yang kamu sangka baik, belum tentu begitu adanya. Dunia ini banyak tipu muslihat, hati-hati dalam menilai!”


“Mereka mau membuat lo terlena akan keharmonisan yang tercipta, melalui itu juga mereka ingin membuat lo perlahan menderita.” Yusuf menjelaskan.


Gadis itu memutar otaknya, cinta atau keluarga yang pemuda itu maksud? “Kamu tahu dari mana dan siapa?” Ia mulai menyelidiki, takut Yusuf hanya modus semata. Hal seperti ini tidak boleh percaya dengan ucapan semata, bukan?


“Gua dengar Bu–-” Kedatangan dua orang membuat mulut Yusuf yang akan melanjutkan perkataannya berhenti. Raut wajahnya berubah menjadi datar kembali.


“Saya sudah menyuruh kamu untuk segera pergi dari sekolah. Kenapa masih ada di sini, Yusuf Maulana?” Suara Bu Aris mengintruksi dengan tatapan tajam memperingati.


“Ya, gua pergi.”  Yusuf menjawab dengan memandang Fatma penuh arti. Begitu juga dengan Fatma, ia membalas memandang Yusuf tidak mengerti.


“Ehem.” Dehaman memperingati kini berasal dari pria berkaca mata dengan kumis tipis menyerupai lele. Suara bariton itu, dehaman itu? Menyadari pemilik suara itu, Fatma terperanjat, atensinya langsung teralihkan.


Yusuf langsung pergi meninggalkan tiga orang itu tanpa sepatah kata lagi. Tatapan intimidasi Bu Aris membuat Fatma seperti bocah yang meringkuk ketakutan. Kepala gadis itu tertunduk menatap tanah dengan menggenggam erat telapak tangannya satu sama lain.


“Jangan pacaran diwaktu jam pelajaran sekolah, Fatma ... jika tidak ingin orang tua kamu saya panggil juga!”  Fatma mengangguk cepat.


“Ya sudah, kembali ke kelas!” titahnya dengan nada sinis.


Seiring kaki Fatma melangkah. Dirinya tidak mendengar sedikitpun pembelaan dari Firman. Apakah pria itu masih sama seperti tadi pagi, mendiamkannya dalam waktu yang lumayan cukup lama? Rasa nyeri tiba-tiba melanda relung hatinya. Cairan itu ingin sekali segera menetes, tetapi Fatma segera menyekanya.


“Pak Bobby kenapa engga bela, Fatma?”  lirihnya sendu dengan suara parau.


“Ayo, kita lanjutkan kembali Pak Bobby. Ada hal yang lebih penting yang ingin saya katakan,” ujar Bu Aris dengan manis, membuyarkan lamunan pria itu.


Ia mengangguk, lalu perlahan berjalan di depan wanita yang usianya terpaut tidak terlalu jauh dengan Firman, untuk menuju ke kantin sekolah.


****


Bel sekolah berbunyi nyaring, memekakkan telinga siapa saja yang berada di sekitar bel dipasang. Senyuman mengiringi langkah Fatma. Meskipun tidak punya satu pun temen, gadis lugu itu tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia percaya bahwa dirinya bisa melalui semuanya sendiri. Fatma menjadi rindu kepada suami besar itu, sikap Firman tadi berbeda entah kenapa.


Langkah Fatma membawanya ke kantin sekolah. Kakinya mematung ketika netranya menangkap dua orang yang terlibat pembicaraan seru diiringi tawa renyah.


Ia terus memandang dua sosok guru yang sedang makan siang bersama itu, hingga kesadarannya kembali setelah tabrakan disengaja dari Zahra. Gadis itu merintih seraya mengaduh kecil, tangganya terasa sedikit sakit. Apakah terluka?


“Sakit ya, lihat suami sendiri makan sama orang lain?” ejeknya diiringi tawa. “Cup cup ... Fatma-Fatma mau aja dimanfaatkan Kak Aiman,” lanjut Zahra dengan nada sinis prihatin. Jangan lupakan gelengan kepala pelan dengan bibir yang sedikit mengerucut ke depan. Seperti mengejek.


“Pak Bobby itu cinta ya sama Fatma makanya dia nikahin Fatma, bukan ... manfaatin kok.” Ia berusaha mengelak dan menyangkal semua perkataan Zahra.


Gadis dengan alis setajam sabit itu terkekeh meremehkan. “Huffht! Gue sebenernya mau kasih tahu sesuatu tentang kenapa Kak Aiman mau nikahin lo. Asal lo tahu ya, dia mau nikah sama lo itu bukan tanpa alasan. Siapa juga yang mau nikah sama bocah tengil kayak lo. Wait, tapi ... karena lo sombong, gue gak jadi kasih tahu lo deh.” Zahra berlalu pergi dari kantin begitu saja.


Gejolak penasaran itu bangkit. Fatma memutuskan mengejar sepupu yang tidak pernah suka kepadanya itu. Hidupnya kini seperti banyak dihinggapi teka-teki. Tadi Yusuf sekarang Zahra. Argh!


“Kamu tau apa, Zah?” tanya Fatma.


Zahra tertawa menyeramkan. “Butuh juga lo sama gue?” balasnya memandang sinis. “Ya, tanya sendiri 'lah sana sama suami tercinta lo!”


Fatma merasa kesal saat Zahra pergi lagi meninggalkannya dengan segudang pertanyaan. Ia berulang kali mendengus kesal. “Niat ngasih tahu gak sih, dasar Nenek Lampir?!” Fatma menggerutu kesal.


Gadis itu semakin pusing hari ini. Banyak hal yang terjadi, tetapi tidak satu pun yang ia mengerti. Kaki yang akan kembali melangkah lagi-lagi diurungkan. Siluet dua orang itu akan berjalan melewati Fatma.


Bu Aris memandang sinis dan berlalu begitu saja. Malangnya, gadis itu hanya mampu menunduk kala netra Firman memandang Fatma. “Ke ruangan saya, Sayang!” bisiknya saat melewati Fatma.


Deg!


Hati Fatma berdegup kencang. Ternyata suami besar tidak berubah, rona merah itu memancar menyemburat di wajahnya. Firman terkekeh, menampakkan sederet giginya yang rapi. Pria itu mengedipkan mata genit disaat setelah berbisik kepada Fatma, kemudian berlalu pergi. Rona itu semakin kentara, ah darimana suaminya itu berguru? Gawat, jika seperti ini terus bisa-bisa warga sekolah akan mengetahuinya.


“Pak Bobby mah gitu, seenaknya aja ngejungkir balikin perasaan Fatma. Liat aja Zauj, Ciyil akan balas!” Ia bertekad dengan senyuman penuh arti. “Pura-pura ngambek kayaknya ide bagus tuh,” monolognya lalu tergelak pelan.


“Sebanyak apapun orang yang mengatakanmu buruk, aku akan tetap memilihmu. Karena dasarnya seseorang tidak akan terlalu paham isi hati orang lain. Nah, itu kata Bundanya Fatma waktu ke Ayah,” celotehnya kembali ceria.


Siswa dan siswi yang melihat itu memandang Fatma dan berbisik-bisik menyangkanya sudah terkena penyakit jiwa. Ia tidak peduli, toh tidak membuat mereka rugi. Gadis bermata bulat itu menjurkan lidahnya saking senangnya ia kembali mengejek mereka. Kata Firman juga, Fatma harus berani. Kini gadis itu menunjukkannya.


“Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang.” Fatma bersenandung seraya berlari kecil. Langkahnya menuntun untuk menuruti perintah Firman.


Seseorang yang menyaksikan itu, menatap penuh kebencian. “Fatma gak boleh sampai bahagia.” Ia tertawa seperti orang kerasukan.


“Fatma ... ini akan lama, kau akan menderita! Keluarga gua menderita, karena keluarga lu!” desisnya tajam, hatinya kini tengah dipadati kedengkian.


Setelah bergumam seperti itu, wanita itu pergi ke ruangan orang yang akan kembali ia kunjungi. Kejahatan selain karena niat, juga karena adanya kesempatan dan kini wanita itu sedang mendapat keberuntungan untuk melancarkan aksinya.


Bersambung ....


Pasuruan, 28 April 2023